Dinamika Populasi Ternak dan Produksi Daging Sapi di Indonesia Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19

29/03/2022 • Satria Bayu Setyoaji

Dinamika Populasi Ternak dan Produksi Daging Sapi di Indonesia Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19

Latar Belakang

Populasi sapi potong di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam 5 tahun terakhir. Peningkatan tersebut terjadi karena berbagai macam usaha yang dilakuan para stakeholder untuk mencari solusi. Salah satu Program yang memberikan dampak positif adalah Artificial Insemiantion (AI) atau Inseminasi Buatan (IB). Program inseminasi buatan juga didukung pengawinan silang sapi lokal dengan sapi dari luar negeri untuk menghasilkan sapi jenis baru yang lebih produktif. Pengurangan jumlah pemotongan sapi indukan produktif di seluruh Indonesia juga mulai berhasil dilakukan. Peningkatan jumlah populasi sapi potong belum tentu diikuti oleh peningkatan produksi daging sapi potong dalam negeri.

Daging sapi potong di Indonesia berasal dari penyediaan dalam dan luar negeri. Jawa Timur sebagai daerah sentra populasi sapi dan produksi daging sapi memproduksi daging sapi untuk kebutuhan Provinsi lain. Jika Daerah sentra produksi tidak dapat memenuhi permintaan Daerah lain, maka harus dilakukan impor daging sapi. Impor daging sapi memliki efek positif yakni dapat menjaga volatilitas harga pasar lokal pada saat tertentu dan menjaga populasi sapi di Indonesia. Namun, Impor daging sapi di Indonesia telah dilakukan dalam periode yang panjang. Impor daging sapi pada era Presiden ke-7 yang secara keseluruhan mulai dikelola BUMN agar dapat dibatasi dan diawasi, tetapi pada kenyataannya usaha tersebut tidak menurunkan jumlah impor daging sapi Indonesia.

Analisa terkait perubahan pada populasi ternak dan daging sapi pada masa sebelum dan selama pandemi Covid-19 akan menggunakan analisis statistik yang digabungkan dengan Geographic Information System(GIS). Analisis statistik ini dilakukan dengan lebih sederhana dengan adanya tambahan sudut pandang yang lebih luas melalui peta. Pentingnya analisa ini dilakukan karena Indonesia harus mulai untuk mengurangi ketergantungan terhadap daging sapi impor. Masalah ketergantungan impor jika diibaratkan sama seperti ketergantungan terhadap obat pada pasien dengan penyakit kanker stadium satu. Penyakit kanker stadium satu yang sulit untuk lepas dari ketergantungan obat sama seperti impor daging sapi Indonesia yang telah dilakukan sekitar 30 tahunan tanpa adanya kecenderungan penurunan. Penurunan jumlah impor daging sapi harus diusahaan secara perlahan dengan melihat potensi populasi ternak dan produksi daging sapi di Indonesia.

Metode Penelitian

Penelitan ini menggunakan data sekunder. Jenis data sekunder adalah data gabungan antara data cross section dan time series atau data panel. Data panel digunakan untuk mengetahui karakteristik populasi ternak dan produksi daging sapi di 34 Provinsi Indonesia. Data sekunder didapatkan dari publikasi resmi Ditjen PKH dan Pusdatin Kementerian Pertanian.

Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan populasi ternak dan produksi daging sapi di Indonesia. Karakteristik populasi sapi ternak dan produksi daging sapi mendeskripsikan populasi sapi dan produksi daging sapi yang dilakukan pada tahun 2017-2021 dengan menggunakan Microsoft Excel dan Geographic Information System (GIS) GEO MAPID.

Hasil dan Pembahasan

Dinamika Populasi Ternak dan Produksi Daging Sapi di Indonesia Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19 Dinamika Populasi Ternak dan Produksi Daging Sapi di Indonesia Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19

Gambar 1 dan Gambar 2 secara umum menjelaskan jumlah populasi sapi potong di Indonesia yang berbeda antar Provinsi. Jumlah populasi sapi potong tertinggi di Indonesia adalah 17.440.393 ekor tahun 2020 dengan rata-rata sapi potong setiap Provinsi di Indonesia adalah 530.991 ekor tahun 2020. Sentra populasi sapi utama di Indonesia menurut provinsi tahun 2020 adalah Jawa Timur dengan kontribusi nasional mencapai 27,66 persen. Daerah dengan kontribusi nasional terbesar kedua adalah Jawa Tengah sebesar 10,53 persen dan terbesar ketiga adalah Sulawesi Selatan sebesar 8,06 persen. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur memiliki konstribusi secara berurutan sebesar 7,37 persen dan 6,74 persen (Ditjen PKH, 2021). Gabungan provinsi lain memberikan kontribusi 21,81. Provinsi dengan populasi sapi terbesar yang tidak tergantikan adalah Jawa Timur karena hampir seluruh daerah di Provinsi Jawa Timur merupakan daerah sentra peternakan sapi. Selanjutnya dijelaskan hasil analisis trend populasi sapi potong.

Dinamika Populasi Ternak dan Produksi Daging Sapi di Indonesia Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19

Gambar 3 Trend populasi sapi potong Indonesia pada tahun 2017-2021 dengan rata-rata meningkat 2,39 persen per tahun. Trend populasi sapi Indonesia diramalkan terus meningkat pada tahun 2022-2025 dengan rata-rata 2,27 persen. Trend populasi sapi potong terus mengalami peningkatan sebelum dan selama pandemi Covid-19. Peningkatan tersebut disebabkan pembatasan kegiatan masyarakat selama masa pandemi Covid-19. Pembatasan aktivitas keagamaan seperti hari raya idul fitri dan idul adha untuk masyarakat islam, membuat pemotongan sapi jauh lebih sedikit daripada kondisi normal. Harga sapi potong menjadi turun pada masa pandemi dapat memberikan kerugian besar jika sapi dipaksa untuk dijual karena sebagian besar peternak sapi di Indonesia bertujuan investasi. Pemotongan sapi untuk produksi industri makanan sangat berkurang karena masyarakat sangat mengurangi untuk konsumsi makanan jadi seperti bakso, soto, gule, sop, rawon, sate, daging bakar, dan lainnya dengan bahan dasar daging sapi diluar rumah.

Dinamika Populasi Ternak dan Produksi Daging Sapi di Indonesia Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19 Dinamika Populasi Ternak dan Produksi Daging Sapi di Indonesia Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19

Gambar 4 dan Gambar 5 secara umum menjelaskan jumlah produksi daging sapi potong di Indonesia yang berbeda antar Provinsi. Jumlah produksi daging sapi potong tertinggi di Indonesia adalah 504.802,31 ton tahun 2020 dengan rata-rata sapi potong setiap Provinsi di Indonesia adalah 14.847 ton tahun 2020. Sentra produksi sapi utama di Indonesia menurut provinsi tahun 2020 adalah Jawa Timur dengan kontribusi nasional mencapai 20,08 persen. Daerah dengan kontribusi nasional terbesar kedua adalah Jawa Barat sebesar 17,86 persen dan terbesar ketiga adalah Jawa Tengah sebesar 13,22 persen (Ditjen PKH, 2021). Gabungan provinsi lain memberikan kontribusi 21,81. Provinsi dengan produksi daging sapi terbesar adalah Jawa Timur. Selanjutnya dijelaskan hasil analisis trend produksi daging sapi potong di Indonesia.

Dinamika Populasi Ternak dan Produksi Daging Sapi di Indonesia Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19

Gambar 6 Trend produksi daging sapi potong Indonesia pada tahun 2017-2021 berfluktuasi dengan rata-rata yang cenderung turun 2,46 persen. Trend produksi daging sapi Indonesia dengan rata-rata tahun 2022-2025 diramalkan turun sebesar 3,38 persen. Trend produksi daging sapi potong yang cenderung berfluktuasi sebelum dan selama pandemi Covid-19 disebabkan oleh harga karkas tingkat grosir dan harga daging sapi tingkat konsumen yang semakin meningkat. Peningkatan tersebut membuat daya beli konsumen turun. Pendapatan masyarakat Indonesia terus mengalami penurunan didasarkan nilai PDB yang mengalami penurunan pada tahun 2020. Gap antara harga dan pendapatan yang semakin lebar membuat permintaan terhadap daging sapi semakin kecil. Masalah ini membuat produsen daging sapi perlu mengurangi produksi daging sapi untuk memperkecil kerugian selama masa pandemi Covid-19.

Harapan untuk mengurangi impor daging sapi secara perlahan semakin sulit untuk direalisasikan. Oleh karena itu, cara termudah adalah dengan menghitung populasi dan produksi daging sapi di Indonesia secara lebih detail, selanjutnya dilakukan pemotongan yang dibatasi sehingga jumlah populasi diakhir tahun 2022 tidak lebih kecil dari jumlah populasi sapi diakhir tahun 2021. Cara ini tetap beresiko meningkatkan harga ternak dan daging sapi pada masa atau tahun berikutnya meskipun volume impor dapat diturunkan sehingga struktur populasi sapi juga harus diperhatikan. Meski sulit tetapi jumlah populasi dan produksi lebih mungkin dikendalikan oleh Pemerintah daripada konsumsi masyarakat.

Penelitian tidak melibatkan variabel-variabel seperti harga daging sapi pasar domestik, harga daging sapi impor, harga sapi impor, harga sapi potong pasar domestik, harga karkas pasar domestik, kurs, konsumsi, harga barang subtitusi (daging ayam), dan variabel penting lainnya. Peneliti juga tidak melakukan analisis untuk mencari penyebab utama dari masalah dan analisis yang dapat memberikan solusi dan strategi kepada Pemerintah lebih dalam. Peneliti hanya ingin para stakeholder menyadari bahwa penelitian terkait produksi, konsumsi, harga, ketersediaan, perdagangan, kebijakan dan lainnya terkait ternak dan daging sapi sudah banyak dilakukan oleh para peneliti. Namun, masalah terkait sapi potong dan daging sapi di Indonesia masih perlu adanya penelitian terbaru yang juga menggunakan cara berfikir dan metode baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Kesimpulan

Sebelum masa pandemi Covid-19 terjadi peningkatan jumlah populasi sapi dan produksi daging sapi potong secara bersamaan, pada masa pandemi Covid-19 populasi sapi potong tetap mengalami peningkatan tetapi produksi daging sapi potong yang mengalami penurunan. Populasi sapi potong tahun 2017-2021 meningkat dengan rata-rata 2,39 % dan diramalkan terus mengalami peningkatan dengan rata-rata 2,27 % tahun 2022-2025. Produksi daging sapi potong tahun 2017-2021 turun dengan rata-rata 2,46 % dan diramalkan terus mengalami penurunan dengan rata-rata 3,38 % hingga tahun 2022-2025.

Daftar Pustaka

Ditjen PKH. 2021. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2021. Jakarta: Kementerian Pertanian.

Pusdatin. 2021. Outlook Daging Sapi Tahun 2021. Jakarta: Pusdatin Sekretariat Jendral Kementerian Pertanian.

Data Community

Social Media
(022)54420880
contact@mapid.co.id

mapid logo

© - PT. Multi Areal Planing Indonesia