[GEODATA] Emisi Karbon

20/03/2023 • MAPID

[GEODATA] Emisi Karbon (NO2) di Indonesia Tahun 2019

[GEODATA] Emisi Karbon (NO2) di Indonesia Tahun 2020

[GEODATA] Emisi Karbon (NO2) di Indonesia Tahun 2021

[GEODATA] Emisi Karbon (NO2) di Indonesia Tahun 2022


Emisi Karbon
Emisi Karbon

Sobat MAPID, pernahkah kalian mendengar tentang emisi karbon? Emisi berkaitan dengan proses perpindahan suatu zat atau benda yang umumnya digunakan untuk emisi panas, emisi cahaya, maupun emisi karbon. Pengertian dari emisi karbon atau jejak karbon yaitu gas yang dikeluarkan dari hasil pembakaran segala senyawa yang mengandung karbon seperti CO2, solar, bensin, LPG, serta berbagai bahan bakar lainnya. Pada tahun 2021, Indonesia menempati peringkat ke-17 negara dengan penghasil emisi karbon terbesar di dunia.

Dear MAPID friends, have you ever heard about carbon emissions? Emissions are related to the process of transferring a substance or object, which is commonly used for heat emissions, light emissions, or carbon emissions. The definition of carbon emissions or carbon footprint is the gas released from the combustion of all compounds that contain carbon, such as CO2, diesel, gasoline, LPG, and various other fuels. In 2021, Indonesia ranked 17th among the countries with the largest carbon emissions in the world.

Fenomena emisi karbon adalah proses pelepasan karbon ke lapisan atmosfer bumi. Emisi karbon menjadi salah satu penyumbang terjadinya perubahan iklim dan pemanasan selain emisi gas rumah kaca yang menaikkan suhu bumi. Perhitungan besaran emisi karbon dilakukan dengan mengukur jejak karbon atau carbon footprint. Jejak karbon yakni jumlah emisi CO2 dan zat-zat rumah kaca seperti metana, nitrous oxide (N20), NO2, dan chlorofluorocarbons (CFC) yang berhubungan dengan segala jenis aktivitas manusia dan entitas sekitarnya. Kuantitas emisi karbon dihitung dengan satuan ton ekuivalen karbon dioksida (CO2).

The phenomenon of carbon emissions is the process of releasing carbon into the earth's atmospheric layer. Carbon emissions are one of the contributors to climate change and global warming, in addition to greenhouse gas emissions that raise the Earth's temperature. The calculation of the amount of carbon emissions is done by measuring the carbon footprint. The carbon footprint is the number of CO2 emissions and greenhouse gases such as methane, nitrous oxide (N20), N2), and chlorofluorocarbons (CFC) related to all types of human and surrounding entity activities. Units of carbon dioxide equivalent (CO2) are used to calculate the number of carbon emissions.

Penyebab Emisi Karbon

  1. 1.
    Aktivitas pembakaran senyawa-senyawa yang mengandung unsur karbon yang mengakibatkan emisi gas rumah kaca baik secara perseorangan, bangunan, perusahaan, negara, dan lainnya.
  1. 2.
    Pembakaran bahan bakar fosil di banyak kegiatan industri, manufaktur, transportasi, dan emisi yang diperlukan untuk keperluan barang dan jasa yang dikonsumsi manusia.
  1. 3.
    Penggunaan alat elektronik seperti Personal Computer (PC), laptop, monitor, smartphone, tablet, serta infrastruktur pusat data dan jaringat telekomunikasi yang memengaruhi tingkat emisi karbon di udara.

Causes of Carbon Emissions

  1. 1.
    Burning compounds that contain carbon results in greenhouse gas emissions, either individually, or in buildings, companies, countries, and others.
  1. 2.
    Burning fossil fuels in many industries, manufacturing, transportation activities, and emissions are required for goods and services consumed by humans.
  1. 3.
    The amount of carbon emissions in the atmosphere is influenced by the use of electronic devices such as Personal Computers (PC), laptops, displays, smartphones, and tablets as well as by data center infrastructure and telecommunications networks.

[GEODATA] Emisi Karbon

Dampak Negatif Emisi Karbon

Pelepasan senyawa-senyawa karbon ke lapisan atmosfer bumi atau peningkatan emisi karbon berdampak pada lingkungan, kesehatan, dan ekonomi, antara lain:

Negative Impact of Carbon Emissions

The release of carbon compounds into the earth's atmospheric layer or an increase in carbon emissions has an impact on the environment, health, and economy, among others:

A. Dampak Lingkungan

Terjadi peningkatan suhu bumi tiap tahunnya. Salju, bongkahan es, dan gletser yang ada di belahan bumi bagian kutub akan berkurang dan meningkatkan tinggi permukaan air laut. Hal ini akan meningkatkan potensi banjir wilayah pesisir dan abrasi pantai. Di daratan, peningkatan curah hujan dan potensi hujan lebat atau bahkan badai akan lebih sering terjadi. Perubahan iklim dan pemanasan global juga membuat cuaca yang tidak stabil. Di alam liar, risiko terjadinya kebakaran hutan akibat frekuensi dan besaran gelombang panas akan semakin meninggi. Di sisi lain, para satwa bisa memiliki kemungkinan stres akibat iklim habitat mereka yang tidak menentu.

A. Environmental Impact

Every year, the temperature of the Earth rises. Snow, ice blocks, and glaciers in the polar regions will decrease and increase sea-level height. This will increase the potential for flooding in coastal areas and coastal erosion. On land, an increase in rainfall and the potential for heavy rainfall or even storms will occur more frequently. Climate change and global warming also create unstable weather conditions. In the wild, the risk of forest fires due to the frequency and magnitude of heat waves will increase. On the other hand, animals may experience stress due to their uncertain habitat climate.

B. Dampak Kesehatan

Masih karena adanya peningkatan suhu bumi, banyak cuaca ekstrem yang bermunculan akan menimbulkan berbagai penyakit baru yang berevolusi. Bagi makhluk hidup terutama manusia, permasalahan penyakit serius terkait pernapasan dan kardiovaskuler akan lebih sering terjadi akibat kualitas udara yang memburuk. Risiko lainnya seperti dehidrasi akibat sengatan panas dan penularan penyakit yang lebih cepat melalui perantara air dapat berakibat fatal.

B. Health Impact

Still, due to the increase in global temperature, many emerging extreme weather conditions will cause various new evolving diseases. Deteriorating air quality increases the risk of major respiratory and cardiovascular diseases in living things, notably in humans. Other risks such as dehydration due to heatstroke and faster disease transmission through water intermediaries can be fatal.

C. Dampak Ekonomi

Aktivitas perekonomian manusia dalam pertanian, kehutana, pariwisata, dan lainnya tidak bisa diprediksi karena ketidakpastian pola cuaca. Di sisi kesehatan, emisi karbon bisa menambah beban dan tekanan pada ekonomi dan keadaan sosial. Dari segi infrastruktur seperti jalan, jembatan, tiang telepon, dan listrik bisa lebih rentan kondisinya terhadap kerusakan. Kenaikan permukaan air laut dan pencairan permafrost bisa ikut berdampak pada eksistensi populasi lokal dan kesulitan dalam pengembangan sumberdaya.

C. Economic Impact

Due to unpredictable weather patterns, human economic activities such as agriculture, forestry, tourism, and others cannot be forecast. On the health side, carbon emissions can add to the burden and pressure on the economy and social conditions. In terms of infrastructure, such as roads, bridges, telephone poles, and electricity, they may become more vulnerable to damage. The rise in sea level and permafrost melting can also have an impact on the existence of local populations and the difficulty of developing resources.

Indonesia pada Conference of the Parties (COP) 26 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Glasgow, Inggris, berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon dengan menaikkan target Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC) menjadi 31.89% atau setara dengan 912 juta ton CO2 di tahun 2030. Diikuti dengan target dukungan internasional sebesar 43.20%, Pemerintah mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Untuk mendukung hal ini, transisi energi yang berfokus pada pengurangan intensitas karbon dan memberi manfaat bagi setiap rumah tangga dalam bentuk investasi hijau. Carbon pricing dan carbon trading adalah dua dari banyak skema yang diterapkan untuk menuju masyarakat Indonesia dengan pola pikir kehidupan lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan.

At the Conference of the Parties (COP) 26 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) in Glasgow, Indonesia committed to reducing carbon emissions by increasing the target of Enhanced Nationally Determined Contributions (E-NDC) to 31.89% or equivalent to 912 million tons of CO2 by 2030. Followed by a 43.20% international support target, the government passed a Presidential Regulation (Perpres) on Carbon Economic Value (NEK). To support this, energy transition focuses on reducing carbon intensity and benefiting every household in the form of green investments. Carbon pricing and carbon trading are two of the many schemes applied to achieving an Indonesian society with a cleaner, greener, and more sustainable way of life.

Pengguna juga dapat menggabungkan data emisi karbon dengan fitur location profiling yang tersedia di GEO MAPID seperti SINI. Fitur SINI memungkinkan mereka untuk mengetahui demografi penduduk, seperti jumlah dan kepadatan penduduk, profesi, tingkat pendapatan, pendidikan, penggunaan lahan, dan harga tanah. Selain itu, SINI juga menyediakan Point of Interest (POI) dari fasilitas-fasilitas umum mulai dari sekolah, mall hingga taman atau ruang terbuka hijau. Hal ini berguna bagi para pengguna GEO MAPID misalnya dalam memilih properti berdasarkan lokasi. Tidak hanya mempertimbangkan faktor radius dengan fasilitas umum, tetapi juga kenyamanan lingkungan yang berdampak pada kesehatan.

Users can also combine carbon emissions data with location profiling features available in GEO MAPID such as SINI. The SINI feature allows them to know the demographics of the population. Such as population size and density, profession, income level, education, land use, and land price. In addition, HERE also provides a Point of Interest (POI) of public facilities ranging from schools and malls to parks or green open spaces. This is useful for GEO MAPID users for example in choosing properties based on location. Not only considering the radius factor with public facilities, but also environmental comfort that has an impact on health.

[GEODATA] Emisi Karbon

Dalam skala yang lebih luas, data emisi karbon dapat membantu dalam pengambilan keputusan dan perencanaan kebijakan untuk mengurangi emisi karbon di wilayah tersebut. Misalnya, data ini dapat digunakan untuk memetakan wilayah yang memiliki tingkat emisi karbon tinggi dan menentukan sumber emisi karbon tersebut. Dengan mengetahui sumber emisi karbon, maka dapat dilakukan tindakan untuk mengurangi emisi karbon tersebut. Selain itu, data geospasial emisi karbon juga dapat digunakan untuk menghitung nilai ekonomi karbon. Nilai ekonomi karbon dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan perencanaan kebijakan untuk mengurangi emisi karbon.

On a broader scale, carbon emission data can help in decision-making and policy planning to reduce carbon emissions in the region. For example, this data can be used to map areas with high carbon emission levels and determine the source of these carbon emissions. Knowing the source of carbon emissions allows for the implementation of mitigation measures. Moreover, the economic worth of carbon can be determined using geospatial data on carbon emissions. The economic value of carbon can be used as a basis for decision-making and policy planning to reduce carbon emissions.

[GEODATA] Emisi Karbon

Referensi/Reference:

  • DITPPU Kementrian LHK. 2020. INDEKS STANDAR PENCEMAR UDARA (ISPU) SEBAGAI INFORMASI MUTU UDARA AMBIEN DI INDONESIA. https://ditppu.menlhk.go.id/portal/read/indeks-standar-pencemar-udara-ispu-sebagai-informasi-mutu-udara-ambien-di-indonesia (diakses 1 Maret 2023)
  • Lindungi Hutan. 2022. Emisi Karbon: Penyebab, Dampak dan Cara Mengurangi. https://lindungihutan.com/blog/emisi-karbon/ (diakses 3 Maret 2023)
  • Kristina. 2021. Apa Itu Emisi Karbon? Kenali Penyebab, Dampak, dan Cara Menguranginya. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5796741/apa-itu-emisi-karbon-kenali-penyebab-dampak-dan-cara-menguranginya (diakses 3 Maret 2023)
  • MIGAS Kementrian ESDM. 2022. Tekan Emisi Karbon, Indonesia Naikkan Target E-NDC Jadi 32 Persen. https://migas.esdm.go.id/post/read/tekan-emisi-karbon-indonesia-naikkan-target-e-ndc-jadi-32-persen (diakses 3 Maret 2023)
  • Siaran Pers Kemenko Perekonomian. 2022. Akselerasi Net Zero Emissions, Indonesia Deklarasikan Target Terbaru Penurunan Emisi Karbon. https://ekon.go.id/publikasi/detail/4652/akselerasi-net-zero-emissions-indonesia-deklarasikan-target-terbaru-penurunan-emisi-karbon (diakses 3 Maret 2023)

Data Publications