Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Vegetasi di Kawasan Inti Kawasan Cekungan Bandung, Tahun 2013 dan 2023

12 February 2024

By: Yaumi Khoirunnisa

Open Data

Batas Administrasi Kota Bandung dan Cimahi

Open Data

Perubahan Bangunan Kota Bandung dan Cimahi Tahun 2013−2023

Open Data

Perubahan Vegetasi Kota Bandung dan Cimahi Tahun 2013−2023

Open Data

Titik Survei Kesesuaian Identifikasi Lahan Terbangun dan Vegetasi Kota Bandung dan Cimahi

Open Data

Identifikasi Lahan Terbangun Kota Bandung dan Cimahi Tahun 2013

Open Data

Identifikasi Lahan Terbangun Kota Bandung dan Cimahi Tahun 2023

Open Data

Identifikasi Lahan Vegetasi Kota Bandung dan Cimahi Tahun 2013

Open Data

Identifikasi Lahan Vegetasi Kota Bandung dan Cimahi Tahun 2023

Open Project

Identifikasi perubahan lahan terbangun dan vegetasi di Kawasan inti Kawasan cekungan bandung tahun 2013 dan 2023

Pendahuluan

Kawasan Cekungan Bandung ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional berdasarkan Peraturan Presiden No.45 Tahun 2018. Kawasan Cekungan Bandung ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional karena memiliki potensi ekspor, pertumbuhan ekonomi yang cepat, sektor unggul penggerak ekonomi nasional, jaringan prasarana dan fasilitas penunjang ekonomi yang mendukung, mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal, memanfaatkan teknologi tinggi, dan berperan dalam mewujudkan ketahanan energi nasional (Wawan, 2019). Namun, isu utama yang dihadapi oleh Kawasan Cekungan Bandung yaitu pembangunan yang tidak sesuai dengan peruntukan lahan sehingga berdampak pada meningkatnya kejadian banjir, longsor, limbah dan pencemaran lingkungan, kemacetan, dan peningkatan jumlah lahan kritis (Brilyana, 2022).

Pertumbuhan penduduk yang tinggi diikuti dengan kebutuhan akan lahan permukiman yang dapat memicu alih fungsi lahan hijau yang menyebabkan potensi bencana alam seperti banjir, longsor, dan peningkatan pencemaran lingkungan. Kota Bandung dan Kota Cimahi yang saat ini merupakan pusat Kawasan permukiman di Kawasan Cekungan Bandung mengalami perubahan kawasan lahan terbangun dan vegetasi, berdasarkan perubahan tersebut ditunjukkan dengan data tutupan lahan pada tahun 2020, yaitu 90,66% wilayah Kota Bandung dan 88,35% dari wilayah Kota Cimahi sudah merupakan kawasan terbangun (CEKUNGAN BANDUNG, 2022). Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan pemantauan perubahan lahan terbangun dan vegetasi yang ada di kawasan inti Kawasan Cekungan Bandung yaitu Kota Bandung dan Cimahi untuk menjaga fungsi jasa ekologi dan lingkungan dari kawasan lindung dan kawasan penyangga, dan pembangunan yang terdistribusi di kawasan sekitarnya. Hal tersebut juga didukung berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Barat No.86 Tahun 2020 tentang Badan Pengelola Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang salah satu fokusnya yaitu menangani penataan ruang karena belum optimalnya pengendalian pemanfaatan ruang (Brilyana, 2022).

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan perubahan lahan terbangun dan vegetasi yang ada di Kota Bandung dan Cimahi, menganalisis distribusi spasial perubahan lahan terbangun dan vegetasi yang ada di Kota Bandung dan Cimahi, dan menganalisis korelasi antara lahan terbangun dan vegetasi yang ada di Kota Bandung dan Cimahi.

Metodologi

Data Penelitian

Data citra yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Vegetasi di Kawasan Inti Kawasan Cekungan Bandung, Tahun 2013 dan 2023

Metode Penelitian

Pengolahan data citra penelitian ini menggunakan dua jenis transformasi spektral Normalized Difference Built-up Index (NDBI) dan Soil Adjusted Vegetation Index (SAVI). NDBI adalah transformasi spektral untuk mendeteksi indeks bangunan menggunakan dua reflektansi pita spektral citra berbeda yang ditentukan berdasarkan rumus berikut (Zha et al., 2003):

Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Vegetasi di Kawasan Inti Kawasan Cekungan Bandung, Tahun 2013 dan 2023

SAVI adalah transformasi spektral untuk mendeteksi kerapatan vegetasi menggunakan dua reflektansi pita spektral citra berbeda dan faktor koreksi tanah yang ditentukan berdasarkan rumus berikut (Huete, 1988):

Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Vegetasi di Kawasan Inti Kawasan Cekungan Bandung, Tahun 2013 dan 2023

Keterangan:

SWIR : Reflektansi pita spektral Short Wavelength Infrared

NIR : Reflektansi pita spektral Near-Infrared

RED :Reflektansi pita spektral Red

L : Faktor koreksi tanah. 0.5 = kerapatan vegetasi menengah

Setelah data citra diolah menjadi transformasi spektral baru, dilanjutkan dengan melakukan klasifikasi dan menghitung perubahannya dengan menggunakan raster calculator yaitu operasi matematika berdasarkan nilai piksel data citra. Klasifikasi yang digunakan untuk NDBI terdiri dari dua kelas yaitu bukan bangunan (-1−0,15) dan bangunan (-0,15–1). Serta untuk SAVI, kelas yang digunakan terdiri dari dua, yaitu bukan vegetasi (-1−0,3) dan lahan vegetasi (0,3−1) (Hardyanti dkk., 2017).

Selanjutnya, dilakukan analisis korelasi menggunakan metode Korelasi Pearson. Metode ini menghasilkan koefisien korelasi yang berperan dalam mengukur tingkat kekuatan hubungan linier antara dua variabel (Firdaus, 2009 dalam Safitri, 2016). Pola hubungan antara variabel dapat dilihat menggunakan diagram pencar. Korelasi Pearson dinotasikan dengan r atau koefisien korelasi yang mempunyai interval koefisien korelasi antara -1 dan 1, yaitu (Boediono & Wayan, 2002):

  1. 1.
    Jika 0,90 < r < 1,00 atau -1,00 < r < -0,90 ; artinya hubungan yang sangat kuat.
  1. 2.
    Jika 0,70 < r < 0,90 atau -0,90 < r < -0,70 ; artinya hubungan yang kuat.
  1. 3.
    Jika 0,50 < r < 0,70 atau -0,70 < r < -0,50 ; artinya hubungan yang moderat.
  1. 4.
    Jika 0,30 < r < 0,50 atau -0,50 < r < -0,30 ; artinya hubungan yang lemah.
  1. 5.
    Jika 0,0 < r < 0,30 atau -0,30 < r < 0,0 ; artinya hubungan yang sangat lemah.

Setelah korelasi, dilakukan pula survey validasi untuk melihat keadaan sebenarnya yang selanjutnya digunakan untuk analisis. Tahapan pelaksanaan yang dilakukan pada penelitian ini dapat dilihat pada diagram alir berikut:

Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Vegetasi di Kawasan Inti Kawasan Cekungan Bandung, Tahun 2013 dan 2023

Hasil dan Analisis

Identifikasi lahan terbangun dan vegetasi

Hasil Identifikasi lahan terbangun dan vegetasi di Kota Bandung dan Cimahi sebagai bagian inti dari Kawasan Cekungan Bandung menunjukkan peningkatan sebesar 6% dalam perubahan lahan terbangun dan penurunan pada pada lahan vegetasi dari total luas wilayah.

Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Vegetasi di Kawasan Inti Kawasan Cekungan Bandung, Tahun 2013 dan 2023

Perubahan lahan terbangun dan vegetasi

Perubahan lahan terbangun yang meningkat terjadi akibat dari alih fungsi lahan dari lahan vegetasi menjadi lahan terbangun. Lahan vegetasi yang menjadi perubahan alih fungsi lahan seperti tanah terbuka dan sawah menjadi lahan terbangun seperti permukiman dan perkantoran. Dari 30 titik survei, 23 titik di antaranya merupakan vegetasi seperti kebun, ladang, sawah, lahan kosong, dan padang rumput. Sedangkan 7 titik survei merupakan bangunan. 

Perubahan yang terjadi dengan wilayah yang relatif kecil terjadi karena kekurangan dari identifikasi lahan terbangun menggunakan NDBI. NDBI memiliki kekurangan yaitu tidak dapat membedakan antara bangunan dengan tanah kosong yang tandus/kering. Sehingga terdapat beberapa wilayah yang terlihat mengalami perubahan menjadi lahan terbangun namun perubahan yang terjadi bukan karena menjadi lahan terbangun melainkan lahan pertanian yang sedang mengalami masa tanam atau lahan kosong yang sedang tandus. Hal tersebut juga yang menyebabkan terjadi perubahan lahan terbangun yang menurun atau lahan vegetasi yang meningkat karena perbedaan waktu masa tanam di lahan pertanian atau lahan kosong yang menjadi hijau pada tahun pengamatan. 

Persebaran perubahan lahan terbangun dan vegetasi terjadi banyak di bagian utara dan timur wilayah pengamatan. Di bagian utara, perubahan terutama terjadi pada lahan pertanian produktif, sementara di bagian timur, terdapat perubahan signifikan yang mengubah wilayah tersebut menjadi kawasan permukiman. Terjadi perubahan alih fungsi lahan dari vegetasi menjadi lahan terbangun di Kota Bandung dan Cimahi. Peningkatan lahan terbangun mencakup area properti seperti Summarecon Bandung di Kota Bandung dan pembangunan perkantoran baru, atau seperti PT. China Railway Group Limited (CREC) Indonesia di Kota Cimahi.

Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Vegetasi di Kawasan Inti Kawasan Cekungan Bandung, Tahun 2013 dan 2023

Perubahan lahan terbangun yang terjadi di wilayah timur karena adanya lahan yang bisa menjadi peluang pembangunan properti di pusat kota. Pembangunan properti tersebut beriringan juga dengan permintaan akan tempat tinggal akibat dari pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Lokasi yang strategis dekat dengan pusat kota serta fasilitas umum yang mendukung sekitarnya seperti Stasiun Kereta Cepat Tegalluar dan Stadion Gelora Bandung Lautan Api menyebabkan harga lahan yang mahal. Sehingga perubahan lahan terbangun yang terjadi akibat dari adanya peluang bisnis properti yang menggiurkan. Harga lahan atau tanah dapat diakses melalui GEODATA MAPID.

Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Vegetasi di Kawasan Inti Kawasan Cekungan Bandung, Tahun 2013 dan 2023

Perubahan lahan terbangun di wilayah timur, yang kini menjadi kawasan properti, didukung oleh Peraturan Presiden No.45 Tahun 2018. Dalam peraturan tersebut, terdapat ketentuan untuk Kawasan Perkotaan di Sekitar Kawasan Inti, termasuk Kawasan Perkotaan Cileunyi−Rancaekek. Tujuan dari penetapan ini adalah menciptakan kesejahteraan wilayah melalui optimalisasi potensi dengan upaya keserasian dalam pembangunan berkelanjutan. Kawasan Perkotaan Cileunyi−Rancaekek direncanakan sebagai pusat perdagangan dan jasa, kegiatan industri, layanan angkutan umum penumpang dan angkutan barang regional, kegiatan pertanian, serta kegiatan pariwisata.

Korelasi lahan terbangun dan vegetasi

Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Vegetasi di Kawasan Inti Kawasan Cekungan Bandung, Tahun 2013 dan 2023

Hasil dari identifikasi lahan terbangun dengan vegetasi menggunakan nilai indeks NDBI dan SAVI yang kemudian dihubungkan dengan rumus matematika untuk mencari hubungan antara dua variabel. Hasil korelasi antara lahan terbangun dan vegetasi menunjukkan bahwa sebaran titik-titik mengikuti pola linier dengan kemiringan negatif dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,8531 dan 0,8587. Hasil tersebut menjelaskan korelasi relatif sangat kuat yang berbanding terbalik, artinya semakin tinggi indeks NDBI yang menunjukkan bangunan, maka semakin rendah indeks SAVI yang menunjukkan bukan vegetasi atau sebaliknya semakin rendah indeks NDBI, maka semakin tinggi indeks SAVI. Korelasi sangat kuat menunjukkan adanya hubungan yang sangat jelas, konsisten, dan hampir sempurna antara dua variabel. Hal tersebut juga menunjukkan NDBI dan SAVI dapat digunakan untuk identifikasi perubahan lahan terbangun.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian identifikasi perubahan lahan terbangun dan vegetasi di kawasan inti Kawasan Cekungan Bandung tahun 2013 dan 2023 dapat disimpulkan bahwa, terjadi perubahan lahan terbangun karena adanya perubahan alih fungsi lahan dari vegetasi menjadi kawasan permukiman dan industry. Perubahan ini juga didukung oleh ketetapan fungsi kawasan perkotaan. Ketetapan Kawasan Perkotaan dibuat dengan harapan terwujudnya kesejahteraan wilayah sekitarnya melalui pembangunan yang berkelanjutan. Namun pembangunan yang dilakukan sebaiknya disesuaikan dengan peruntukan lahan serta mitigasi bencana sebagai upaya pencegahan mengurangi resiko akibat dari suatu bencana alam.

Saran

Berdasarkan penelitian identifikasi perubahan lahan terbangun dan vegetasi di kawasan inti Kawasan Cekungan Bandung tahun 2013 dan 2023 dapat diberikan saran, yaitu:

  1. 1.
    Menambahkan transformasi spektral lain dalam identifikasi perubahan lahan terbangun dan vegetasi dapat mengguna untuk hasil yang lebih optimal sepertiModified Difference Water Index (MNDWI).
  1. 2.
    Menggunakan data citra penelitian dalam periode yang lebih pendek selama tahun pengamatan untuk hasil perubahan yang lebih terlihat.

Referensi

CEKUNGAN BANDUNG. (2022, November 2). KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SISTEM PUSAT PERMUKIMAN DI KAWASAN PERKOTAAN CEKUNGAN BANDUNG. https://cekunganbandung.jabarprov.go.id/kebijakan-pengembangan-sistem-pusat-permukiman-di-kawasan-perkotaan-cekungan-bandung/

Boediono, & Wayan, K. (2002). Teori dan Aplikasi Statistika dan Probabilitas (Sederhana, Lugas, dan Mudah Dimengerti). Remaja Rosdakarya.

Brilyana, Y. A. (2022). Pemkot Bandung dan Pemprov Jabar Bahas Isu Utama Kawasan Cekungan Bandung. https://www.bandung.go.id. https://www.bandung.go.id/news/read/6877/pemkot-bandung-dan-pemprov-jabar-bahas-isu-utama-kawasan-cekungan-band

Hardyanti, L., Wibowo, A., & Sobirin. (2017). VARIASI SPASIAL TEMPORAL SUHU PERMUKAAN DARATAN DI KOTA JAKARTA TAHUN 2015 DAN 2016. 8th Industrial Research Workshop and National Seminar Politeknik Negeri Bandung, 704.

Huete, A. R. (1988). A soil-adjusted vegetation index (SAVI). Remote Sensing of Environment, 25(3), 295–309. https://doi.org/10.1016/0034-4257(88)90106-X

Safitri, W. R. (2016). ANALISIS KORELASI PEARSON DALAM MENENTUKAN HUBUNGAN ANTARA KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DENGAN KEPADATAN PENDUDUK DI KOTA SURABAYA PADA TAHUN 2012—2014. Jurnal Ilmiah Keperawatan, 2(2), 9.

Wawan. (2019). Cekungan Bandung Kawasan Strategis Nasional – Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (hlm. 5). Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang. http://dbmtr.jabarprov.go.id/cekungan-bandung-kawasan-strategis-nasional/

Zha, Y., Gao, J., & Ni, S. (2003). Use of normalized difference built-up index in automatically mapping urban areas from TM imagery. International Journal of Remote Sensing, 24(3), 583–594. https://doi.org/10.1080/01431160304987

Apa itu Kawasan Cekungan Bandung?

Kawasan Cekungan Bandung ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional berdasarkan Peraturan Presiden No.45 Tahun 2018

Apa itu Normalized Difference Built-up Index (NDBI)?

Normalized Difference Built-up Index adalah transformasi spektral untuk mendeteksi indeks bangunan menggunakan dua reflektansi pita spektral citra berbeda yang ditentukan berdasarkan rumus berikut (Zha et al., 2003)

Apa itu Soil Adjusted Vegetation Index (SAVI)?

Soil Adjusted Vegetation Index adalah transformasi spektal untuk mendeteksi kerapatan vegetasi menggunakan dua reflektansi pita spektral citra berbeda dan faktor koreksi tanah yang ditentukan berdasarkan rumus berikut (Huete, 1988)

Data Publications

Analisis Kesesuaian Lokasi dan Peluang Pasar untuk Ekspansi Gerai HokBen Berbasis Location Intelligence di Kota Surabaya

Food & Beverages

06 Sep 2026

Ridhwan Saputra

Analisis Kesesuaian Lokasi dan Peluang Pasar untuk Ekspansi Gerai HokBen Berbasis Location Intelligence di Kota Surabaya

Analisis site selection ekspansi gerai HokBen di Kota Surabaya menggunakan GIS untuk mengintegrasikan land suitability, market opportunity, demografi, POI, aksesibilitas, dan harga lahan. Hasil analisis QGIS dibandingkan dengan GEO MAPID Site Selection untuk mengidentifikasi area potensial berdasarkan kesesuaian lokasi dan peluang pasar.

24 min read

251 view

Evaluasi Keterjangkauan dan Usulan Rerouting Angkutan Kota Berbasis Location Analytics di Kota Malang, Jawa Timur

Transportation

04 Sep 2026

Meutia Amirotun Nuha

Evaluasi Keterjangkauan dan Usulan Rerouting Angkutan Kota Berbasis Location Analytics di Kota Malang, Jawa Timur

Penelitian ini mengevaluasi keterjangkauan pelayanan angkutan kota di Kota Malang dan menyusun alternatif rerouting berbasis location analytics. Keterjangkauan dianalisis menggunakan buffer 400 meter terhadap jaringan trayek eksisting, kemudian distribusi penduduk pada kawasan permukiman digunakan untuk mengidentifikasi population service gap. Kawasan yang belum terlayani dikelompokkan menjadi 27 cluster dan lima cluster dengan service gap terbesar dipilih sebagai Priority Service Area. Analisis selanjutnya mempertimbangkan jaringan jalan, pusat aktivitas, keterhubungan terhadap trayek eksisting, dan akses transportasi regional untuk menyusun koridor kandidat. Hasil menunjukkan bahwa pelayanan angkot eksisting menjangkau sekitar 616.575 jiwa atau 69,33% penduduk Kota Malang, sementara 272.784 jiwa belum terlayani. Skenario rerouting pada lima kawasan prioritas mampu menambah jangkauan terhadap sekitar 145.101 penduduk sehingga coverage meningkat menjadi 85,64%. Selain itu, 53 dari 56 POI prioritas berada dalam jangkauan pelayanan setelah skenario diterapkan. Temuan menunjukkan bahwa penanganan service gap secara terarah dapat meningkatkan keterjangkauan tanpa harus memperluas jaringan ke seluruh kawasan residual. Hasil penelitian merupakan screening spasial awal yang masih memerlukan validasi teknis dan operasional sebelum implementasi.

26 min read

232 view

12 Data

1 Projects

LOCATION ANALYTICS UNTUK PEMILIHAN LOKASI OPTIMAL GERAI RITEL BAHAN BANGUNAN DAN PERALATAN RUMAH TANGGA DI KOTA TANGERANG SELATAN

Retail

04 Sep 2026

Aditya Jaelawijaya

LOCATION ANALYTICS UNTUK PEMILIHAN LOKASI OPTIMAL GERAI RITEL BAHAN BANGUNAN DAN PERALATAN RUMAH TANGGA DI KOTA TANGERANG SELATAN

Pertumbuhan sektor properti dan permukiman di Kota Tangerang Selatan mendorong peningkatan permintaan terhadap produk perbaikan rumah (home improvement) dan bahan bangunan. Namun, penentuan lokasi gerai ritel modern kerap dihadapkan pada ketidakpastian spasial dan risiko kegagalan investasi akibat keterbatasan analisis konvensional yang tidak mempertimbangkan interaksi keruangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi optimal bagi ekspansi gerai ritel bahan bangunan dan peralatan rumah tangga di Kota Tangerang Selatan dengan memanfaatkan pendekatan Location Analytics berbasis Multi-Criteria Spatial Scoring pada platform GEO MAPID. Metode yang digunakan mengintegrasikan variabel jaringan jalan primer (arteri/kolektor utama), sebaran permukiman dan ruko komersial, kluster sebaran toko kompetitor eksisting, serta pemodelan Point of Interest (POI) dan data demografi melalui fitur SINI GEO MAPID ke dalam agregasi grid heksagon berstandar H3. Hasil analisis menunjukkan bahwa zona kesesuaian sangat tinggi (high suitability) terkonsentrasi secara linier di sepanjang koridor jalan arteri utama, khususnya pada kluster Paku Jaya – Serpong Utara, koridor Pondok Aren – Bintaro, dan simpul Ciputat – Pamulang. Area-area tersebut memiliki nilai aksesibilitas prima, visibilitas tinggi, serta kepadatan demografi konsumen hunian yang masif. Pendekatan spatial scoring heksagon pada GEO MAPID terbukti efektif memetakan potensi pasar mikro secara presisi, meminimalkan risiko kanibalisasi gerai, dan memberikan rekomendasi lokasi ekspansi bisnis ritel yang berbasis data spasial komprehensif.

17 min read

208 view

1 Projects

Analisis Potensi Resapan Air dan Identifikasi Peluang Lokasi Sumur Resapan di Kabupaten Sleman

Environment

04 Sep 2026

Anggita Tantri Utami

Analisis Potensi Resapan Air dan Identifikasi Peluang Lokasi Sumur Resapan di Kabupaten Sleman

Analisis potensi resapan air di Kabupaten Sleman berdasarkan jenis tanah, curah hujan, penggunaan lahan, dan kemiringan lereng untuk mendukung pengelolaan air hujan dan pengembangan sumur resapan melalui pendekatan site selection berbasis POI.

24 min read

213 view

1 Projects

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at