Kapasitas Civitas Akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi Terhadap Bahaya Sesar Lembang

25/06/2024 • Amalia Fatihah Khiarunnisa Pulungan

Titik Sampel Kejadian Gempa Bumi di Jawa Barat Tahun 2010-2021

Titik Sampel Kejadian Gempa Bumi di Jawa Barat Tahun 2010-2021

Titik Sampel Kejadian Gempa Bumi di Jawa Barat Tahun 2010-2021

Titik Sampel Kejadian Gempa Bumi di Jawa Barat Tahun 2010-2021


Peta Sebaran Kejadian Gempa Bumi Tahun 2010-2021
Peta Sebaran Kejadian Gempa Bumi Tahun 2010-2021

PENDAHULUAN

Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana terjadi apabila terdapat fenomena yang menimbulkan dampak kerusakan. Bencana ditandai dengan adanya korban dan dampak dari kerusakan yang telah terjadi. Berdasarkan The crunch and release model, Bencana hanya akan terjadi karena komponen-komponen pemicu (trigger) seperti bahaya (hazard) dan kerentanan (vulnerability).

Gempa bumi merupakan peristiwa alam yang terjadi ketika dua faults/patahan/sesar bumi yang tiba tiba bergerak yang disebut the fault or fault plane. Getaran dari gempa bumi terasa hingga permukaan dikarenakan adanya pelepasan energi yang dirasakan oleh bebatuan. Terdapat 3 (tiga) penyebab utama faults/patahan/sesar yang mengakibatkan gempa bumi: (1) Strike-slip fault, yaitu pola pergeseran mendatar ; (2) Normal fault, yaitu pola pergeserannya mendatar; dan (3) reverse fault/thrust fault, yaitu pola pergeseran horizontal.

Sesar Lembang disebabkan oleh strike slip fault, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa sungai yang dulunya merupakan satu sungai utuh, kini terpisah dengan jarak beberapa meter dari perkiraan posisi awal. Sesar Lembang merupakan sesar aktif yang terletak di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, sesar ini memanjang dari Padalarang hingga Jatinangor yang berjarak 30 Km. Sesar Lembang berpotensi gempa berkekuatan sekitar 6,8 skala magnitude.

Gambar 1. Peta Skenario Gempa Bumi Sesar Lembang

Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika

Hasil pemodelan peta tingkat guncangan (shakemap) oleh BMKG dengan skenario gempa dengan kekuatan M=6,8 dengan kedalaman hiposenter 10 km di zona Sesar Lembang (garis hitam tebal), menunjukkan bahwa dampak gempa dapat mencapai skala intensitas VII-VIII MMI (setara dengan percepatan tanah maksimum 0,2 - 0,4 g) dengan diskripsi terjadi kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat. Dinding tembok dapat lepas dari rangka, monument/menara roboh, dan air menjadi keruh. Sementara untuk bangunan sederhana non struktural dapat terjadi kerusakan berat hingga dapat menyebabkan bangunan roboh. Secara umum skala intensitas VII-VIII MMI dapat mengakibatkan terjadinya goncangan sangat kuat dengan kerusakan sedang hingga berat (Sadly, 2017).

Gambar. Peta Bahaya Gempa Bumi dan Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi

Berdasarkan hasil kajian diatas, dapat dilihat pada peta bahwa Kecamatan Sukasari merupakan wilayah yang berpotensi terdampak kerusakan struktural. Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi terletak pada Kecamatan Sukasari yang berjarak 11,9 Km dari titik zona Sesar Lembang. Sehingga Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi tak luput dari ancaman bahaya Sesar Lembang. Oleh karena itu, penulis ingin mengkaji bagaimana kapasitas Civitas Akademika di Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi dalam menghadapi potensi bahaya gempa yang bertujuan untuk mengurangi risiko bencana.

METODOLOGI

Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu metode statistika deskriptif kuantitatif. Statistika deskriptif berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi (Sugiyono, 2007). Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode pengumpulan data primer. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner serta pengamatan secara langsung obyek melalui survey lapangan (observasi). Pengumpulan data melalui kuesioner dilakukan dengan menyajikan pertanyaan yang terdiri dari 2 jenis, yaitu awarenessdan preparedness. Pertanyaan jenis awareness merupakan informasi mengenai pengetahuan, persepsi dan taggapan masyarakat mengenai bencana gempa bumi dari sesar lembang. sedangkan pertayaan jenis preparedness untuk mendapatkan informasi mengenai partisipasi masyarakat dalam kebencanaan berupa silumasi dan pelatihan yang pernah diikuti.

Dalam penelitian ini, point observasi adalah lokasi Rambu K3 Jalur Evakuasi. Jalur evakuasi adalah jalur yang bertujuan menghubungkan semua area aman atau yang biasa disebut titik kumpul. Jalur evakuasi merupakan standar penting pada penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dalam memberikan arahan untuk menuju tempat-tempat yang aman (titik kumpul darurat) saat kondisi darurat. Kondisi darurat, meliputi bencana alam, kebakaran, ancaman bom, perampokan dan lain-lain. Populasi dari penelitian ini adalah Civitas Akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi. Untuk mengetahui jumlah responden yang diperlukan, maka digunakanlah Rumus Slovin 10% untuk memastikan bahwa sampel yang diambil mewakili populasi secara umum. Berikut notasi Rumus Slovin untuk menghitung sampel penelitian:

Rumus Slovin

Keterangan:

n = Ukuran sampel/jumlah responden

N = Ukuran populasi

e = persentase batas toleransi (margin of error)

Menurut Sugiyono (2011) dalam menggunakan rumus Slovin (3.1) ditentukan terlebih dahulu batas toleransi kesalahannya. Batas toleransi kesalahan ini dinyatakan dengan bentuk prosentase. Apabila prosentase toleransi kesahannya semakin kecil maka data jumlah sampel semakin akurat. Dalam rumus slovin ada ketentuan sebagai berikut:

Nilai e = 0,1 (10%) untuk populasi dalam jumlah besar Nilai e = 0,2 (20%) untuk populasi dalam jumlah kecil.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah Civitas Akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi Bandung. Adapun sebaran jumlah Civitas Akademika dapat dilihat pada table dibawah ini:

Tabel 1 Jumlah Civitas Akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi

Sumber: Hasil analisis, 2024

B. Metode Pengambilan Sampel

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode Slovin. Rumus Slovin digunakan untuk menghindari kesalahan pengambilan sampel yang mungkin terjadi jika sampel terlalu kecil atau terlalu besar. Populasi Civitas Akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi yang berjumlah 3.257 Jiwa termasuk kedalam populasi dalam jumlah besar, yaitu Nilai e = 0,1 (10%). Maka didapatkan perhitungan sebagai berikut:

Tabel 2. Hasil Perhitungan Sampel Rumus Slovin 10%

Sumber: Hasil analisis, 2024

C. Analisis Data

Data dianalisis dengan statistik deskriptif. Jawaban dari responden diolah kemudian dianalisis secara sederhana dengan persentase jawaban dari responden. Berikut langkah-langkah yang digunakan untuk mengetahui awareness indexdan preparedness index masyarakat di sekitar Kampus IV Setiabudhi untuk menghadapi bencana Gempa Bumi :

1) Rekap seluruh hasil kuesioner yang memiliki jawaban mencakup ‘ya’ atau ‘tidak’, lalu dibuat persentase dari masing-masing jawaban.

index

Kemudian, hitung index dari setiap pertanyaan dengan cara sebagai berikut:

2) Cari nilai index rata-rata dari setiap jenis pertanyaan (informasi, pengetahuan, partisipasi, respon, membership, persiapan, dan training).

3) Sub-komponen indeks =1/n (Q1+Q2+...+Qn)

a. AI = 1/4 (information index + knowledge index + participation index + response index)

b. PI = 1/3 (membership index + training index + preparation index)

4) Hitung index kapasitas dengan cara sebagai berikut:

index

Keterangan:

CI = index kapasitas

WAI = bobot awareness index

AI = awareness index

WPI = bobot preparedness index

PI = preparedness index

Dengan bobot AI = 0.4, bobot PI = 0.6, karena preparedness menunjukkan sesuatu yang telah diimplementasikan atau dilakukan untuk mengurangi risiko, sehingga preparedness dapat dianggap sebagai komponen yang jauh lebih penting daripada awareness. (Jimee et al, 2008). Dari hasil indeks kapasitas yang didapat, maka indeks tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:

Indeks kapasitas

Sumber: Hasil analisis, 2024

D. Hasil Pengolahan Data Kuesioner

Berdasarkan hasil perhitungan teknik sampling Solvin 10%, didapatkan jumlah responden sebanyak 189 orang. Namun hasil dari penyebaran kuesioner dilapangan didapatkan data responden sebanyak 140 orang. Berikut merupakan hasil dari data diri responden yang telah didapatkan:

1. Information

Berdasarkan hasil analisis data informasi, dapat disimpulkan bahwa civitas akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi sudah cukup baik dalam mengetahui informasi mengenai bahaya gempa bumi dari sesar lembang dengan potensi dampak kerusakan yang tinggi, serta nomor telepon lokal penting seperti nomor telepon polisi, pemadam kebarakan, ambulans, dan lain sebagainya. Namun informasi tersebut tidak didapatkan dari kampus dikarenakan pihak kampus yang kurang menyebar luaskan informasi mengenai kebencanaan.

2. Knowledge

Berdasarkan hasil analisis data pengetahuan, dapat disimpulkan bahwa masih banyak civitas akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi yang kurang memiliki pengetahuan terkait keamanan, badan pemerintah yang berwenang serta lokasi titik kumpul yang penting untuk diketahui sebagai bentuk mitigasi bencana.

3. Participation

Berdasarkan hasil analisis data partisipasi mengenai partisipasi dan wawancara singkat, dapat disimpulkan bahwa civitas akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi yang pernah menjadi sukarelawan dari bencana gempa bumi ini sudah mengetahui sikap yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana gempa bumi. Oleh karena itu diharapkan sebanyak 45,7% civitas akademika ini dapat membantu rekan-rekannya dalam menghadapi gempa bumi apabila terjadi.

4. Membership

Berdasarkan hasil analisis data keanggotaan, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar civitas akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi bukan merupakan anggota kelompok relawan kebencanaan meskipun pernah menjadi relawan dalam kebencanaan.

5. Preparation

Berdasarkan hasil analisis data persiapan, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar civitas akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi, secara persiapan pribadi dan didukung dengan kampus yang sudah menyediakan fasilitas dan peralatan yang memadai, sudah siap untuk menghadapi bencana gempa bumi secara individu. Meskipun dalam segi persiapan makanan darurat belum optimal.

6. Training

Berdasarkan hasil analisis data pelatihan, dapat disimpulkan bahwa Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi tidak optimal dalam memberikan pelatihan terkait mitigasi bencana dikarenakan sudah lamanya hal tersebut tidak dilakukan. Hal ini didukung oleh pernyataan 92,1% responden yang menyatakan belum pernah mengikuti pelatihan/simulasi kebencanaan di Kampus. Meskipun demikian, civitas akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi sudah memiliki kesadaran akan pentingnya pelatihan/simulasi kebencanaan .

7. Response

Berdasarkan hasil analisis data respon, dapat disimpulkan bahwa civitas akademika Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi masih merasa panik ketika terjadi gempa bumi meskipun sudah mengetahui tindakan yang dilakukan ketika menghadapi gempa bumi. Serta peran komunitas kampus dalam menghadapi bencana tidak terlalu besar bagi sebagian besar civitas akademika.

E. Hasil Pengolahan Data Indeks Kapasitas

Berdasarkan hasil analisis data, maka diperoleh;

1) Information index = 3

2) Knowledge index = 1,9

3) Participation index = 0,5

4) Membership index = 0,2

5) Preparation index = 2,6

6) Training index = 2,4

7) Response index = 2

Hasil perhitungan tersebut menunjukan hasil dari Awareness index dan Preparedness index sebesar;

1) Awareness index = 1,84

2) Preparedness index = 1,66

F. Indeks Kapasitas

kapasitas

G. Peta dan Denah Jalur Evakuasi

PETA JALUR EVAKUASI

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengolahan data pada penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa Civitas akademika sudah siap dalam menghadapi bencana gempa bumi yang berasal dari sesar lembang. Penelitian ini memiliki kekurangan dalam pengumpulan data yaitu tidak tercapainya jumlah responden yang ditargetkan berdasarkan perhitungan sample menggunakan Rumus Slovin yang diakibatkan dari terbatasnya waktu penelitian dan kurangnya ketertarikan civitas akademika untuk berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian ini.

SARAN

Berdasarkan hasil analisis, civitas akademika kurang mendapatkan informasi dan pelatihan dari pihak kampus. Oleh sebab itu diharapkan pihak Universitas Pasundan Kampus IV Setiabudhi lebih aware terhadap keselamatan civitas akademika dengan memberikan sosialisasi dan pelatihan rutin agar ketika bencana gempa bumi tersebut terjadi, civitas akademika dapat menghadapinya dengan baik. Selain itu, perlu disediakannya informasi mengenai standar keselamatan di kampus yang dapat dilihat oleh seluruh civitas akademika seperti peta jalur evakuasi, tata cara menghadapi bencana agar civitas akademika dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi bahaya gempa bumi yang akan datang.

DAFTRA PUSTAKA

  • Indonesia. 2007. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4723, LL Sekretariat Negara. Jakarta
  • Jimee, et. Al, 2008, Seismic Vulnerability and Capacity Assessment: A Case Study of Lalitpur Sub Metropolitan City, Nepal, Proceedings 14th World Conference On Earthquake Engineering.
  • Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Data Publications