Langkah Awal dalam Pencegahan : Analisis Tingkat Kerawanan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi, Jawa Barat

01/06/2024 • Devina Fauziah

Kerawanan DBD


Pendahuluan

Virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang dapat menyebabkan penyakit menular yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit DBD dapat menyerang semua golongan umur dan jika tidak ditangani secara cepat akan menjadi kesalahan fatal hingga menyebabkan kematian. Karena itu, DBD ini menjadi masalah yang sering terjadi dalam bidang kesehatan. Indonesia tercatat oleh World Health Organization (WHO) sebagai negara di Asia Tenggara yang memiliki kasus demam berdarah dengue tertinggi karena Indonesia merupakan negara tropis. Salah satu kota yang tidak luput dari penyakit ini yaitu Kota Bekasi yang berada di Provinsi Jawa Barat. Bekasi menjadi wilayah yang cukup rentan terhadap penyakit DBD karena kepadatan penduduk yang tinggi, tingkat urbanisasi yang tinggi, dan kondisi lingkungan yang dapat membuat nyamuk Aedes Aegypti berkembang. Teknologi SIG dapat membantu untuk memberikan solusi dalam permasalahan ini dengan melakukan analisis spasial kondisi suatu daerah terhadap penyakit demam berdarah.

Metode

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengolahan data berupa overlay dan skoring. Metode ini dilakukan dengan menggabungkan atau melakukan tumpang tindih data serta memberikan nilai pada masing-masing karakteristik parameter untuk menghasilkan data vektor baru.

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini terletak di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat yang merupakan salah satu daerah yang memiliki kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Kota ini merupakan salah satu kota terpadat di Indonesia dengan pertumbuhan industri dan urbanisasi yang cepat telah menciptakan lingkungan yang padat dan kompleks seiring dengan sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi.

Pengumpulan dan Analisis Data

Data yan diunakan pada penelitian ini berupa data sekunder berupa data kepadatan penduduk Tahun 2023 dan data fasilitas kesehatan yan terdapat pada database GEOMAPID, data vektor sunai dan pemukiman/lahan terbanun yan bersumber dari Ina Geoportal, dan data citra SRTM yan bersumber dari USGS untuk penolahan data kemirinan leren.

Analisis Data Spasial

1. Join Attribute Table

Pada penelitian ini, dilakukan join data kepadatan penduduk Kota Bekasi 2023 pada tabel atribut administrasi Kota Bekasi. Sehingga dihasilkan data atribut yang berisi kepadatan penduduk Kota Bekasi berdasarkan wilayah administrasinya.

2. Buffering Analysis

Buffer adalah zona yang digambar di sekitar titik, garis, atau poligon apapun yang mencakup semua area dalam jarak tertentu dari fitur (Agnestina dkk, 2023). Dalam penelitian ini, teknik ini dapat membantu mengidentifikasi wilayah di sekitar sungai dalam jarak tertentu khususnya jarak sungai terhadap pemukiman.

3. Overlay dan Skoring

Teknik overlay dan skoring parameter kerawanan Demam Berdarah Dengue (DBD) yang berupa data vektor dilakukan dengan tools Intersect dengan parameter acuan berdasarkan jurnal geografi estimasi tingkat kerawanan Demam Berdarah Dengue (DBD). Parameter yang digunakan untuk memetakan tingkat kerawanan Demam Berdarah Dengue (DBD) sebagai penentuan wilayah prioritas pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) berupa kepadatan penduduk, kemiringan lereng, jarak dari sungai, dan jarak dari fasilitas kesehatan.

Analisis Wilayah Prioritas Pencegahan

Dalam penelitian ini, penentuan wilayah prioritas pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dilakukan dengan melakukan analisis berdasarkan peta tingkat kerawanan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi. Berdasarkan klasifikasi tingkat kerawanan DBD, selanjutnya ditentukan wilayah prioritas dalam pencegahan dengan difokuskan pada wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi (Roma Yuliana dkk, 2022).

Hasil Analisis

Analisis Spasial

Terdapat beberapa parameter yang dapat dipertimbangkan dalam penentuan kawasan rawan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD):

  1. 1.
    Kepadatan Penduduk
  1. 2.
    Jarak dari Sungai
  1. 3.
    Jarak dari Fasilitas Kesehatan
  1. 4.
    Kemiringan lereng

Keempat faktor tersebut mempengaruhi rendah dan tingginya skor kerawanan suatu daerah, di mana pada hasil overlay skor studi kasus tingkat kerawanan DBD di Kota Bekasi hasilnya menunjukan dominasi nilai di rentang 7-10 yang diklasifikan sebagai tingkat kerawanan sedang.

Tingkat Kerawanan DBD

Parameter Kepadatan Penduduk

Rasionalisasi dari skor tersebut adalah semakin padat suatu permukiman, maka risiko penularan DBD semakin tinggi. Nyamuk Aedes Aegypti lebih mudah menyebar pada daerah padat penduduk karena jarak antar rumah yang berdekatan dan seringkali lingkungan padat tersebut memiliki kondisi sanitasi yang buruk sehingga mendukung perkembangbiakan nyamuk.

Jarak dari Sungai

Jarak dari sungai mempengaruhi lingkungan dari pemukiman tersebut. Daerah yang berada di dekat sungai cenderung memiliki genangan air di sekitarnya sehingga cocok untuk tempat berkembang biak dari nyamuk Aedes Aegypti. Terlebih lagi jika sungai tersebut kotor dan tidak terawat, biasanya dipenuhi dengan sampah yang dapat menghambat aliran sungai sehingga menjadi habitat yang sempurna bagi nyamuk. Dapat disimpulkan bahwa semakin dekat dengan sungai, maka semakin rawan daerah tersebut untuk terkena penyakit DBD.

Jarak dari Failitas Kesehatan

Akses terhadap fasilitas kesehatan menjadi hal yang krusial dalam penanganan kasus DBD. Terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan yang ada dapat menjadi penghambat untuk dilakukannya deteksi dini dan mempersulit penanganan kasus DBD. Hal tersebut dapat menyebabkan terlambatnya pemeriksaan yang berujung memperparah kondisi korban dan memungkinkan bertambahnya korban lebih banyak. dapat disimpulkan bahwa semakin jauh fasilitas kesehatan, maka semakin rawan daerah tersebut untuk terkena penyakit DBD. Maka dari itu dibutuhkan pemerataan fasilitas kesehatan di setiap daerah.

Parameter Kemiringan Lereng

Daerah dengan kemiringan lereng yang rendah atau cenderung datar memiliki peluang perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti yang lebih besar. Hal ini dikarenakan daerah yang datar cenderung memiliki drainase yang kurang baik sehingga menyebabkan terbentuknya genangan air. Genangan air tersebut dapat menjadi tempat potensial untuk nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak. Dapat disimpulkan bahwa semakin landai kemiringan lereng, maka semakin rawan daerah tersebut untuk terkena penyakit DBD.

Peta Tingkat Kerawanan DBD

Berdasarkan peta di atas, maka dapat dilihat Kecamatan Bekasi Barat merupakan daerah dengan tingkat kerawanan terkena DBD paling tinggi. Penyebabnya adalah daerah tersebut memiliki kepadatan penduduk yang tinggi serta berada di area 0-100 m dari sungai. Terlihat dari kawasan dengan kerawanan tinggi yang membentuk garis sungai.

Kota Bekasi sendiri didominasi oleh warna merah yang menandakan tingkat kerawanan sedang. Hal ini dikarenakan Kota Bekasi didominasi oleh topografi dataran dengan penggunaan lahan yang penuh dengan pemukiman, sehingga setiap daerahnya diperkirakan dapat terjangkit penyakit DBD.

Kasus DBD

Berikut merupakan data kasus penyakit demam berdarah di kota Bekasi pada tahun 2022. Berdasarkan data tersebut, didapatkan informasi bahwa kecamatan Bekasi Utara merupakan wilayah dengan jumlah kasus demam berdarah terbanyak di Kota Bekasi dengan jumlah 423 kasus demam berdarah, diikuti dengan kecamatan Bekasi Timur dengan jumlah 262 kasus demam berdarah, Kecamatan Bekasi Barat dengan jumlah 238 kasus demam berdarah, dan kecamatan Mustikajaya dengan 218 kasus demam berdarah. Informasi tersebut relevan dengan pemetaan tingkat kerawanan penyakit demam berdarah yang menunjukkan bahwa keempat kecamatan tersebut memiliki wilayah dengan tingkat kerawanan yang tinggi. Apabila ditinjau dari pemetaan yang telah dilakukan, kondisi tersebut disebabkan karena wilayah-wilayah tersebut berada dekat jaringan sungai dengan kondisi topografi datar yang didominasi oleh penggunaan lahan permukiman berkepadatan penduduk tinggi, namun minim terdapat fasilitas kesehatan.

Analisis Wilayah Prioritas Pencegahan

Prioritas Pencegahan

Berdasarkan hasil skoring tingkat kerawanan DBD, ditentukan wilayah prioritas untuk pencegahan penyakit DBD ini. Umumnya, wilayah dengan tingkat kerawanan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ini berada di wilayah sekitar sungai. Terdapat 4 dari 12 kecamatan yang merupakan wilayah prioritas pencegahan yaitu daerah utara yang mencakup Kecamatan Bekasi Barat, Bekasi Timur, Medan Satria, dan Bekasi Utara.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemetaan dan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat empat parameter sebagai pertimbangan dalam dalam pemetaan tingkat kerentanan suatu kawasan terhadap serangan penyakit demam berdarah diantaranya adalah kepadatan penduduk, jarak suatu kawasan dari sungai, jarak suatu kawasan dari fasilitas kesehatan, dan kemiringan lereng. Hasil dari perolehan informasi dari keempat parameter tersebut kemudian diberi skor dan dioverlay sehingga menghasilkan peta tingkat kerawanan penyakit DBD di kota bekasi dengan tingkat kerentanan rendah hingga tinggi. Dengan metode skoring yang dihasilkan dari masing-masing parameter, peta tersebut memberikan visualisasi yang jelas mengenai daerah mana yang memerlukan perhatian lebih dalam upaya pencegahan dan pengendalian DBD.

Informasi dari peta tingkat kerawanan demam berdarah di kota bekasi ini divalidasi dengan data jumlah kasus demam berdarah di kota Bekasi pada tahun 2022 yang menunjukan kesesuaian yang cukup signifikan. Sehingga, besar harapan pemetaan ini bermanfaat untuk membantu pemerintahan dan masyarakat sekitar dalam mengurangi resiko penyebaran penyakit demam berdarah. Selain itu, peta ini juga dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan skala prioritas wilayah wilayah yang memerlukan penanggulangan penyakit demam berdarah terlebih dahulu. Dengan demikian, langkah-langkah yang diambil oleh pemerintahan dan masyarakat setempat dapat lebih efektif dan terstruktur.

Dibuat Oleh :

(MAOL-00924-01) Auliya Dewi Ayu Pujaretna

(MAOL-01024-01) Azra Putri Anandita

(MAOL-01124-01) Calsya Aulia Nursyabia Husna

(MAOL-01224-01) Devina Fauziah

Daftar Rujukan

Handiny, F., Rahmah, G., & Rizyana, N. P. (2021). Pemetaan Kerawanan Penyakit Demam Berdarah Dengue Di Kota Padang. Jurnal Kesehatan, 12(1), 018-023.

Wijaya, A. P., & Sukmono, A. (2017). Estimasi Tingkat Kerawanan Demam Berdarah Dengue Berbasis Informasi Geospasial. Jurnal Geografi: Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian, 14(1), 40-53.

Fadhilah, A., & Sumunar, D. R. (2018). Analisis Spasial Tingkat Kerawanan Demam Berdarah Dengue untuk Pemetaan Daerah Prioritas Penanganan Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten. Geomedia, 50-58.

Handini, R., & Haidah, N. (2021). PEMETAAN KASUS DBD BERDASARKAN KONDISI LINGKUNGAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PRAMBON NGANJUK. JurnalSulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat, 349-356.

Handiny, F., Rahma, G., & Rizyana, N. P. (2021). PEMETAAN KERAWANAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH. Jurnal Kesehatan, 018-023.

Ruliansyah, A. (2011). Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pemetaan Daerah Rawan Demam Berdarah Dengue (Studi Kasus di Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat) (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).

Yuliana, R., Rahmaniati, M., Apriantini, I., & Triarjunet, R. (2022). Pemetaaan Kerawanan dan Penentuan Prioritas Penanganan Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Padang. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 5(5), 503-511.

Data Publications