Mengevaluasi Sebaran dan Jangkauan Transportasi BST (Batik Solo Trans) dalam Rencana Pembangunan Kota Surakarta 2025-2045

27 November 2024

By: Dhifan Rizqon Kusuma Djenie

Open Data

Batas Admistrasi Kecamatan Kota Surakarta IMPORTED AT 27/NOV/2024

Open Data

HALTE DI KOTA SURAKARTA TAHUN 2024 IMPORTED AT 27/NOV/2024

Open Project

Final Project MAPID Batch 6

BST (Batik Solo Trans)

Latar Belakang

Kota Surakarta, dengan ambisinya untuk menjadi pusat kegiatan nasional, tengah mengalami transformasi yang signifikan. Salah satu pilar penting dalam transformasi ini adalah pengembangan sistem transportasi publik yang efisien dan berkelanjutan. Batik Solo Trans (BST), sebagai tulang punggung transportasi massal kota, berperan krusial dalam mendukung mobilitas masyarakat dan mengintegrasikan berbagai kawasan di dalam kota. Melalui jaringan rutenya yang terus berkembang, BST diharapkan mampu mengurangi kemacetan lalu lintas, meningkatkan kualitas udara, serta memberikan aksesibilitas yang lebih baik bagi seluruh lapisan masyarakat.

Evaluasi terhadap sebaran dan jangkauan layanan BST menjadi langkah strategis untuk mengukur sejauh mana program ini telah berkontribusi dalam mencapai tujuan pembangunan kota. Analisis terhadap data spasial mengenai lokasi halte, frekuensi perjalanan, dan jumlah penumpang akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai efektivitas BST dalam melayani masyarakat. Selain itu, evaluasi ini juga penting untuk mengidentifikasi area-area yang masih belum terlayani dengan baik oleh BST, sehingga dapat menjadi dasar perencanaan pengembangan jaringan rute dan frekuensi layanan di masa mendatang. Dengan demikian, evaluasi ini akan memberikan masukan yang berharga bagi pemerintah kota dalam menyusun kebijakan transportasi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, sejalan dengan target yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Surakarta 2025-2045.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sebarang dan jangkauan dari halte BST (Batik Solo Trans) dalam mencukupi akomodasi bidang transportasi khususnya bus dan feeder dalam wilayah Kota Surakarta.

Metode Penelitian

Dalam analisis ini, saya menggunakan pendekatan spasial untuk memetakan dan mengevaluasi sebaran halte BST. Dengan memanfaatkan fitur yang ada pada GEOMAPID yang termasuk dalam perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG), saya akan melakukan analisis kerapatan spasial antar halte dan jangkauan/radius pelayanan halte sesuai dengan SNI 03-1733-2004 Tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan. Metode ini memungkinkan visualisasi distribusi halte secara geografis, sehingga dapat dengan mudah diidentifikasi area-area yang memiliki aksesibilitas tinggi dan rendah terhadap layanan transportasi BST.

Gambar 3.1 Tabel Kebutuhan dan persyaratan jaringan transportasi lokal pada   lingkungan perumahan Sumber: SNI 03-1733-2004

Berdasarkan tabel di atas, SNI ini menyimpulkan bahwa jarak optimal antar halte Batik Solo Trans adalah sekitar 400 meter. Jarak ini dinilai ideal untuk menjangkau sebagian besar pengguna layanan, terutama mereka yang tinggal di lingkungan perkotaan. Selain itu, radius pelayanan setiap halte diperkirakan mencapai 1000 meter persegi, yang menunjukkan cakupan layanan yang cukup luas dalam skala kelurahan.

Hasil dan Pembahasan

Gambar 4.1 Sebaran Halte BST pada Kota Surakarta Sumber: GEOMAPID, 2024

Sebaran 52 halte Batik Solo Trans (BST) di Kota Surakarta cenderung terkonsentrasi di pusat kota, mengakibatkan ketimpangan aksesibilitas transportasi di beberapa wilayah. Adanya area yang belum terlayani halte BST menuntut kajian lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penempatan halte. Kepadatan penduduk di suatu wilayah dapat menjadi indikator potensial untuk penentuan lokasi halte baru, terutama di area-area strategis yang menjadi titik asal dan tujuan perjalanan masyarakat.

Gambar 4.2 Radius Jarak AntarHalte BST di Kota Surakarta Sumber: GEOMAPID, 2024

Berdasarkan analisis jarak antar halte BST, umumnya ditemukan jarak ideal sekitar 400 meter. Namun, terdapat dua pengecualian pada halte-halte yang terletak di Kecamatan Banjarsari yang tidak memenuhi standar jarak tersebut. Hal ini mengindikasikan adanya potensi perbaikan pada jarak antar halte di wilayah tersebut untuk optimalisasi layanan BST.

Gambar 4.3 Radius Jarak Pelayanan Halte BST di Kota Surakarta Sumber: GEOMAPID, 2024

Visualisasi distribusi halte BST di Kota Surakarta menunjukkan adanya ketidakmerataan aksesibilitas layanan transportasi umum. Meskipun telah terdapat 52 halte yang tersebar, namun masih terdapat sejumlah wilayah yang belum terlayani oleh fasilitas tersebut. Hal ini mengindikasikan perlunya evaluasi menyeluruh dan upaya peningkatan kualitas serta kuantitas halte BST untuk memastikan cakupan layanan yang lebih merata di seluruh wilayah kota.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis sebaran spasial halte Batik Solo Trans (BST) di Kota Surakarta, dapat disimpulkan bahwa:

  • Ketidakmerataan distribusi: Sebaran halte BST cenderung terkonsentrasi di pusat kota, menyebabkan beberapa wilayah, terutama di luar pusat kota, memiliki akses terbatas terhadap layanan transportasi massal ini.
  • Jarak antar halte: Secara umum, jarak antar halte telah memenuhi standar, namun terdapat beberapa pengecualian yang perlu diperhatikan, terutama di Kecamatan Banjarsari.
  • Potensi peningkatan: Masih terdapat potensi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas halte BST, serta optimalisasi jarak antar halte untuk mencapai cakupan layanan yang lebih merata.

Rekomendasi

  • Pemetaan wilayah prioritas: Melakukan pemetaan wilayah yang belum terlayani atau memiliki akses terbatas terhadap halte BST, dengan mempertimbangkan faktor kepadatan penduduk, pusat aktivitas, dan potensi pertumbuhan wilayah.
  • Penentuan lokasi halte baru: Menentukan lokasi-lokasi strategis untuk penambahan halte baru berdasarkan hasil pemetaan, dengan mempertimbangkan jarak optimal antar halte dan ketersediaan lahan.
  • Evaluasi ulang jarak antar halte: Melakukan evaluasi ulang terhadap jarak antar halte yang sudah ada, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi atau pusat aktivitas yang ramai, untuk memastikan jarak yang optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 10 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Surakarta Tahun 2025-2045. Diakses dari https://jdih.surakarta.go.id/dokumen-hukum/view-perpu/view?id=5d6lj2q8brgoz2b29zyxv4k9ewap37

SNI 03-1733-2004 Tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan. Diakses dari https://www.nawasis.org/portal/digilib/read/sni-03-1733-2004-tata-cara-perencanaan-lingkungan-perumahan-di-perkotaan/51450

Supriyanto, A., & Hidayat, B. (2023). Evaluasi kinerja transportasi publik di kota-kota menengah di Indonesia: Studi kasus pada kota Surakarta. Jurnal Transportasi Indonesia, 12(2), 123-145.

Data Publikasi

Analisis Kerawanan Banjir dan Alokasi Pusat Siaga Bencana di Provinsi Aceh

Iklim dan Bencana

06 Apr 2026

Teguh Christianto Simbolon

Analisis Kerawanan Banjir dan Alokasi Pusat Siaga Bencana di Provinsi Aceh

Projek ini mengintegrasikan pemodelan berbasis QGIS dan AI SINI Site Selection untuk melakukan analisis kerawanan banjir di di 23 Kabupaten/Kota Provinsi Aceh. Melalui kompilasi 27 layer geospasial, projek ini membantu memetakan lokasi dengan kapasitas (POI) dan kebutuhan (demografi) yang sesuai untuk dijadikan pusat siaga bencana di daerah-daerah rawan banjir. Projek ini dapat dijadikan sebagai rekomendasi strategis bagi pengambil kebijakan dalam manajemen risiko bencana, khususnya banjir di Provinsi Aceh.

29 menit baca

606 dilihat

3 Data

1 Proyek

Analisis Spasial Rekomendasi Lokasi Bisnis Cafe dan Restoran di Kota Denpasar, Bali

Barang Konsumsi

06 Apr 2026

Made Swabawa Sarwadhamana

Analisis Spasial Rekomendasi Lokasi Bisnis Cafe dan Restoran di Kota Denpasar, Bali

Dalam konteks perencanaan wilayah dan pengembangan bisnis, pendekatan berbasis analisis spasial menjadi sangat relevan untuk mengidentifikasi lokasi potensial yang optimal. Analisis spasial memungkinkan integrasi berbagai variabel penting seperti kepadatan penduduk, aksesibilitas, pola pergerakan, kedekatan dengan pusat aktivitas, hingga kompetisi eksisting. Dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis, proses evaluasi lokasi dapat dilakukan secara lebih sistematis, objektif, dan terukur.

6 menit baca

326 dilihat

1 Proyek

Evaluasi Jangkauan Distribusi dan Penentuan Lokasi Gudang Optimal Berbasis Aksesibilitas, Permintaan, dan Validasi Tata Ruang di Kota Surabaya

Perencanaan Kota

06 Apr 2026

Isnaini Nur Adhima

Evaluasi Jangkauan Distribusi dan Penentuan Lokasi Gudang Optimal Berbasis Aksesibilitas, Permintaan, dan Validasi Tata Ruang di Kota Surabaya

Di tengah tingginya aktivitas ekonomi Kota Surabaya, tidak semua wilayah mendapatkan akses distribusi yang sama. Analisis ini berangkat dari pertanyaan sederhana: apakah gudang yang ada saat ini sudah benar-benar menjangkau kebutuhan kota? Dengan membandingkan jangkauan berbasis waktu tempuh (isochrone) dan jarak (radius), terlihat bahwa realitas di lapangan tidak selalu seideal perhitungan jarak—kemacetan dan jaringan jalan membentuk pola distribusi yang berbeda. Ketika hasil ini dihadapkan dengan sebaran 26 titik aktivitas ekonomi (POI), muncul area-area yang secara nyata belum terlayani. Dari celah tersebut, diusulkan tiga kandidat lokasi gudang baru. Namun, tidak berhenti pada akses dan permintaan, setiap lokasi diuji kembali melalui kondisi lahan, karakter wilayah, serta kesesuaian tata ruang menggunakan site analysis (SINI) dan RDTR Online. Hasilnya mengerucut pada dua lokasi paling potensial (titik gudang baru A dan B), yang tidak hanya berada dekat dengan kebutuhan, tetapi juga aman dan layak dikembangkan. Analisis ini menunjukkan bahwa keputusan lokasi tidak cukup hanya “dekat”, tetapi harus mempertimbangkan bagaimana kota benar-benar bekerja—dari pergerakan, aktivitas, hingga aturan ruang yang membentuknya.

6 menit baca

234 dilihat

1 Proyek

Analisis Rute Transportasi Wisata di Palembang dengan QGIS untuk Pengalaman Wisata yang Efisien

Pariwisata

06 Apr 2026

Dedi Raihan Saputra

Analisis Rute Transportasi Wisata di Palembang dengan QGIS untuk Pengalaman Wisata yang Efisien

Jelajahi Kota Palembang, kota tua dengan 14 objek wisata utama, melalui rute transportasi wisata optimal yang efisien dan praktis menggunakan analisis QGIS.

18 menit baca

323 dilihat

Syarat dan Ketentuan
Pendahuluan
  • MAPID adalah platform yang menyediakan layanan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk pengelolaan, visualisasi, dan analisis data geospasial.
  • Platform ini dimiliki dan dioperasikan oleh PT Multi Areal Planing Indonesia, beralamat