Pemetaan Daerah Rawan Banjir di Kabupaten Sambas Menggunakan Sistem Informasi Geografis

23/03/2025 • Aditya Tri Pradipta

Pemetaan Banjir di Kabupaten Sambas


Banjir di Sambas
Banjir di Sambas

Latar Belakang

Bencana adalah suatu peristiwa ekstrim di alam yang merugikan kehidupan manusia, harta benda dan aktivitas atau kejadian potensial yang merupakan ancaman terhadap kesehatan, keamanan, kesejahteraan masyarakat, dan fungsi ekonomi masyarakat serta kesatuan organisasi pemerintah yang lebih luas (Fitriadi et al., 2017). Banjir merupakan bencana alam yang sering terjadi, baik dilihat dari intensitasnya maupun jumlah lokasi kejadian dalam setahun yaitu sekitar 40% di antara bencana alam lainnya (Suherlan, 2001). Menurut Nuryanti et al. (2018), banjir merupakan fenomena di daratan yang biasanya kering menjadi tergenang air karena curah hujan yang tinggi dan kondisi topografi yang rendah, serta dapat juga terjadi karena rendahnya kemampuan infiltrasi tanah yang menyebabkan tanah tidak mampu menampung dan menyerap air.

Kabupaten Sambas merupakan daerah paling utara dari Provinsi Kalimantan Barat. Kondisi geografis Kabupaten Sambas yang berada di kawasan pantai, daerah aliran sungai, alih fungsi lahan yang besar-besaran, dan sebagian topografi wilayah yang datar menyebabkan daerah ini sangat rentan terhadap bencana banjir dan intrusi air laut (Perda Kabupaten Sambas No.8 Tahun 2016). Menurut BNPB (2022), terhitung dari tahun 2002 hingga tahun 2020 terdapat 20 kejadian banjir yang tersebar di Kabupaten Sambas yang mengakibatkan 521.237 orang mengungsi, 105.812 orang menderita, serta merusak 6.153 rumah dan berbagai fasilitas seperti sekolah, kesehatan, sawah, dan lain-lain.

SIG merupakan sistem informasi berbasis komputer yang dapat menggabungkan beberapa unsur seperti peta (geografis) dan informasi tentang peta tersebut (data atribut) yang dirancang untuk mendapatkan, mengolah, memanipulasi, menganalisa, memperagakan, dan menampilkan data spasial (Sasmita et al., 2008). Bahaya akan banjir merupakan salah satu masalah yang telah menjadi prioritas yang harus diantisipasi dan ditanggulangi, namun demikian belum mencapai hasil yang diinginkan. Dengan adanya pemetaan daerah rawan banjir ini akan ada informasi dini untuk mengetahui daerah-daerah mana yang rawan banjir, yang dapat dilihat nantinya dari peta kerawanan banjir dan diharapkan dengan adanya peta ini selanjutnya bisa dilakukan evaluasi untuk meminimalisir terjadinya banjir di daerah yang termasuk zona rawan banjir. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu memetakan daerah rawan banjir di Kabupaten Sambas dengan menggunakan sistem informasi geografis dan mengetahui tingkat kerawanan beserta sebaran daerah rawan banjir di Kabupaten Sambas. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai wilayah yang berpotensi terdampak bencana banjir dan menjadi pedoman rancangan penanggulangan bencana banjir di Kabupaten Sambas.

Daerah Penelitian

Daerah yang diteliti yaitu di wilayah administrasi Kabupaten Sambas yang secara geografis terletak di koordinat 2°08’ - 0°33’ LU dan 108°39’ - 110°04’ BT yang berada di Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sambas luas sekitar 590.758 ha dan terdiri dari 19 kecamatan. Dari 19 kecamatan di Kabupaten Sambas, Kecamatan Sajingan Besar memiliki luas wilayah yang terluas yaitu sebesar 96.201,01 ha dengan persentase 16,28% sedangkan Kecamatan Salatiga mempunyai luas terkecil yakni 5.748,83 ha dengan persentase 0,97%.

Peta Administrasi Kabupaten Sambas

Gambar 1. Peta Administrasi Kabupaten Sambas

Sumber: Badan Informasi Geospasial (BIG)

Bahan dan Alat

Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain:

1. Data curah hujan tahun 2017 – 2021 yang bersumber dari CHIRPS;

2. Peta batas wilayah administrasi dan sungai di Kabupaten Sambas yang bersumber dari Badan Informasi Geospasial (BIG);

3. Peta DEM (Digital Elevation Model) yang bersumber dari USGS;

4. Peta penggunaan lahan tahun 2020 Kabupaten Sambas yang bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK);

5. Peta jenis tanah dan batas DAS Kabupaten Sambas yang bersumber dari Geoportal Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Metode Penelitian

Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama yaitu dilakukan analisis terhadap faktor penentu daerah rawan banjir yang meliputi data curah hujan, data DEM, penggunaan lahan, jenis tanah, dan kerapatan sungai. Pembuatan peta curah hujan dilakukan dengan melakukan metode interpolasi IDW (Inverse Distance Weighted). Data DEM merupakan data ketinggian permukaan bumi. Data ini dilakukan analisis yang bertujuan untuk menghasilkan peta kelas kemiringan lahan (analisis slope) dan peta kelas ketinggian lahan. Peta kerapatan sungai diperoleh dari hasil pengolahan data batas DAS dan data sungai. Sebelum dilakukan pengolahan data kerapatan sungai, terlebih dahulu dilakukan perhitungan luas daerah DAS dan jumlah panjang sungai pada setiap DAS.

Tahap kedua yaitu analisis data yang meliputi proses klasifikasi/reklasifikasi, penskoran, dan pembobotan untuk setiap parameter yang kemudian semua parameter tersebut dilakukan proses overlay data. Penskoran adalah suatu metode pemberian skor atau nilai terhadap masing-masing kelas dalam tiap parameter untuk menentukan tingkat kemampuannya. Pembobotan adalah pemberian bobot pada peta digital terhadap parameter-parameter yang berpengaruh terhadap banjir dengan didasarkan atas pertimbangan pengaruh dari masing-masing parameter terhadap kejadian banjir (Primayuda, 2006). Skor dan bobot masing-masing parameter disajikan pada Tabel 1 sampai 7.

Tabel 1. Skor untuk kelas curah hujan tahunan

Skor untuk kelas curah hujan tahunan

Sumber: Primayuda, 2006

Tabel 2. Skor untuk kelas kemiringan lahan

Skor untuk kelas kemiringan lahan

Sumber: Purnama, 2008

Tabel 3. Skor untuk kelas ketinggian lahan

Skor untuk kelas ketinggian lahan

Sumber: Purnama, 2008

Tabel 4. Skor untuk kelas penggunaan lahan

Skor untuk kelas penggunaan lahan

Sumber: Miharja et al., 2013

Tabel 5. Skor untuk kelas jenis tanah

Skor untuk kelas jenis tanah

Sumber: Kusumo dan Nursari, 2016

Tabel 6. Skor untuk kelas kerapatan sungai

Skor untuk kelas kerapatan sungai

Sumber: Linsey, 1975 dalam Putra et al., 2019

Tabel 7. Bobot parameter penyebab banjir

Bobot parameter penyebab banjir

Sumber: Amin et al., 2022

Tahap ketiga yaitu analisis tingkat kerawanan banjir. Analisis ini bertujuan untuk menentukan nilai kerawanan suatu daerah terhadap banjir. Nilai kerawanan suatu daerah terhadap banjir ditentukan dari total penjumlahan skor seluruh parameter yang berpengaruh terhadap banjir. Daerah yang sangat rawan banjir akan mempunyai total nilai yang tinggi dan sebaliknya daerah yang tidak rawan atau aman terhadap banjir akan mempunyai total nilai yang rendah. Klasifikasi tingkat kerawanan banjir berdasarkan nilai kerawanan penjumlahan skor masing-masing parameter banjir dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Nilai tingkat kerawanan banjir

Nilai tingkat kerawanan banjir

Sumber: Analisis data

Hasil dan pembahasan

A. Parameter-Parameter Penentu Tingkat Kerawanan Banjir

Curah hujan di Kabupaten Sambas diklasifikasikan menjadi 2 kelas curah hujan (Gambar 2). Dapat diketahui bahwa kelas curah hujan yang mendominasi adalah curah hujan berkategori sangat basah (>3.000 mm/tahun) yang tersebar di daerah timur Kabupaten Sambas. Sedangkan daerah dengan curah hujan kategori basah (2.501 – 3.000 mm/tahun) didominasi di daerah barat Kabupaten Sambas. Luas kelas curah hujan berkategori sangat basah (>3.000 mm/tahun) adalah 349.389,65 ha dengan persentase 59,14%. Sedangkan luas kelas curah hujan berkategori basah adalah 241.368,32 ha dengan persentase 40,86%.

Peta kelas curah hujan 2017-2021 Kabupaten Sambas

Gambar 2. Peta kelas curah hujan 2017-2021 Kabupaten Sambas

Sumber: CHIRPS, Badan Informasi Geospasial (BIG), 2022

Kemiringan lahan di Kabupaten Sambas diklasifikasi menjadi enam kelas kemiringan (Gambar 3). Kelas kemiringan lahan yang mendominasi adalah kelas kemiringan lahan datar (0 - 3%) dan berombak (3 - 8%) dengan luas persentase keduanya yaitu 76,46% dari luas wilayah Kabupaten Sambas. Hal ini menyebabkan peluang terjadinya banjir sangat tinggi karena di wilayah ini cenderung datar yang bisa menjadikan daerah ini menjadi daerah genangan air ketika hujan terjadi. Sedangkan daerah yang memiliki wilayah bukit tersebar di Kecamatan Sajingan Besar dan Subah. Luas kelas kemiringan lahan berombak (3 - 8%) adalah 262.423,59 ha dengan persentase 44,56%. Sedangkan kelas kemiringan dengan luasan paling kecil yaitu kelas kemiringan lahan berbukit curam/terjal (>45%) dengan luas 8.518,20 ha dengan persentase 1,45%.

Peta kelas kemiringan lahan Kabupaten Sambas

Gambar 3. Peta kelas kemiringan lahan Kabupaten Sambas

Sumber: Survei Geologi Amerika Serikat, Badan Informasi Geospasial (BIG)

Ketinggian lahan di Kabupaten Sambas diklasifikasi menjadi enam kelas ketinggian. Kabupaten Sambas didominasi oleh daerah dengan ketinggian ≤12,5 m terutama di daerah hilir dan di sekitar aliran sungai. Hal ini dikarenakan daerah tersebut merupakan daerah yang dekat atau langsung berbatasan dengan laut dan sungai. Sedangkan daerah dengan ketinggian >100 m tersebar di Kecamatan Sajingan Besar dan Subah (Gambar 4).

Peta kelas ketinggian lahan Kabupaten Sambas

Gambar 4. Peta kelas ketinggian lahan Kabupaten Sambas

Sumber: Survei Geologi Amerika Serikat, Badan Informasi Geospasial (BIG)

Penggunaan lahan di Kabupaten Sambas terdiri dari 14 penggunaan lahan (Gambar 5). Dari hasil pengolahan, dapat diketahui bahwa penggunaan lahan di Kabupaten Sambas didominasi oleh perkebunan yang memiliki luas 287.540,92 ha dengan persentase 48,67%. Penggunaan lahan pemukiman yang menjadi kelas yang paling memengaruhi terjadinya banjir tersebar dengan luas 7.859,84 ha dan persentase 1,33%. Sedangkan kelas penggunaan lahan hutan lahan kering sekunder tersebar dengan luas 49.996,52 ha atau 8,46%. Penggunaan lahan ini memiliki banyak vegetasi yang membantu dalam proses penyerapan air ke dalam tanah sehingga peluang terjadinya banjir lebih kecil.

Peta penggunaan lahan Kabupaten Sambas

Gambar 5. Peta penggunaan lahan Kabupaten Sambas

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Informasi Geospasial (BIG)

Jenis tanah di Kabupaten Sambas terdiri dari 6 jenis tanah yang pengklasifikasiannya didasarkan atas tekstur dari kelas ordo tanah (Gambar 6). Dari hasil pemetaan, dapat diketahui jenis tanah yang mendominasi yaitu ultisol yang tersebar di daerah hulu atau perbukitan. Jenis tanah ini termasuk dalam kategori bertekstur halus dan cukup sulit untuk menyerap air atau proses infiltrasi sehingga menyebabkan terjadinya penggenangan air. Sedangkan kelas jenis tanah spodosol yang memiliki tekstur sangat kasar tersebar di pesisir Kabupaten Sambas. Semakin kasar suatu jenis tanah maka proses infiltrasi air ke dalam tanah menjadi mudah sehingga peluang untuk terjadinya banjir semakin kecil. Luasan jenis tanah ultisol yaitu 184.243,57 ha atau 31,19%. Sedangkan jenis tanah dengan luasan paling kecil yaitu kelas spodosol memiliki luas 32.545,84 ha dengan persentase 5,51%.

Peta jenis tanah Kabupaten Sambas

Gambar 6. Peta jenis tanah Kabupaten Sambas

Sumber: Geoportal Provinsi Kalimantan Barat, Badan Informasi Geospasial (BIG)

Kerapatan sungai di Kabupaten Sambas dibagi menjadi 2 kelas kerapatan sungai (Gambar 7). Kelas kerapatan sungai yang mendominasi yaitu kelas berkategori jarang (0,62 - 1,44 km/km2) yang menyebar dengan luas 478.245,40 ha atau 80,95% dari luas wilayah Kabupaten Sambas. Kabupaten Sambas memiliki banyak sekali sungai dan anak sungai yang mengalir dari hulu ke hilir sehingga kerapatan sungainya juga cukup baik. Namun ada beberapa daerah yang mempunyai kelas kerapatan sungai yang sangat buruk atau berkategori sangat jarang, misalnya di Kecamatan Jawai, Salatiga, Semparuk, serta sebagian wilayah di Kecamatan Jawai Selatan, Tekarang, Teluk Keramat, Tangaran, Tebas, Selakau Timur dan Paloh. Luasan kelas kerapatan sungai ini yaitu 106.825,87 ha dengan persentase 18,08%. Dengan kerapatan sungai yang kurang dari 0,62 km/km2, maka beberapa daerah di kecamatan ini sangat berpotensi untuk terjadi banjir.

Peta kelas kerapatan sungai Kabupaten Sambas

Gambar 7. Peta kelas kerapatan sungai Kabupaten Sambas

Sumber: Geoportal Provinsi Kalimantan Barat, Badan Informasi Geospasial (BIG)

B. Tingkat Kerawanan Banjir

Peta tingkat kerawanan banjir Kabupaten Sambas

Gambar 8. Peta tingkat kerawanan banjir Kabupaten Sambas

Sumber: Analisis data

Daerah rawan banjir adalah daerah yang dari segi fisik dan klimatologis memiliki kemungkinan terjadi banjir dalam jangka waktu tertentu dan berpotensi terhadap rusaknya alam dan fasilitas umum. Dari data masukan yaitu peta setiap parameter penentu banjir yang dilakukan overlay maka dihasilkan peta daerah rawan banjir di Kabupaten Sambas yang dibagi menjadi 3 kelas yaitu kelas kerawanan banjir tinggi, sedang, dan rendah (Tabel 9). Berdasarkan peta kerawanan banjir Kabupaten Sambas (Gambar 8), dapat diketahui bahwa hampir seluruh wilayah di Kabupaten Sambas termasuk dalam kelas kerawanan banjir sedang yang tersebar dengan luas yaitu 331.895,72 ha atau 56,36%. Umumnya di daerah dengan kelas banjir ini memiliki banjir yang bersifat genangan sementara. Untuk kelas kerawanan banjir tinggi tersebar dengan luas yaitu 243.935,76 ha atau 41,42%. Di daerah dengan kelas kerawanan ini termasuk kategori yang sering tergenang banjir. Sedangkan untuk kelas kerawanan banjir rendah yang merupakan kelas yang aman dari banjir memiliki luas 13.044,65 ha atau 2,22%.

Tingkat kerawanan banjir di Kabupaten Sambas

Tabel 9. Tingkat kerawanan banjir di Kabupaten Sambas

Sumber: Analisis data

Tingkat kerawanan banjir pada setiap kecamatan di Kabupaten Sambas

Tabel 10. Tingkat kerawanan banjir pada setiap kecamatan di Kabupaten Sambas

Sumber: Analisis data

Kecamatan yang memiliki daerah dengan kelas kerawanan banjir tinggi yang paling luas adalah Kecamatan Paloh (38.566,42 ha) diikuti Kecamatan Subah (33.440,92 ha) dan Kecamatan Tebas (32.505,73 ha). Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi daerah sangat rawan banjir yaitu kelas ketinggian lahan ≤ 12,5 mdpl, kelas kemiringan lahan yang datar (0 – 3%), jenis tanah yang memiliki tekstur sangat halus, kerapatan sungai yang sangat jarang, dan penggunaan lahan yang didominasi pemukiman, rawa, dan mangrove. Sementara itu untuk kelas kerawanan banjir rendah tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Sajingan Besar, Subah, dan Tebas. Di daerah ini merupakan daerah yang memiliki banyak bukit dan hutan sehingga berpotensi kecil untuk terjadi bencana banjir (Tabel 10).

Pemetaan daerah rawan banjir ini bertujuan untuk mengidentifikasi daerah mana saja yang rawan untuk terjadinya banjir, sehingga daerah tersebut dapat dianalisis dan dilakukan pencegahan dan penanganan banjir. Untuk melakukan pencegahan dan penanganan banjir, faktor yang dapat dilakukan perbaikan adalah faktor penggunaan lahan yang merupakan faktor manusia yang memberikan pengaruh yang besar untuk terjadinya banjir. Selain itu perlu dilakukan normalisasi terhadap saluran drainase atau sungai sehingga aliran air dapat mengalir dengan lancar. Sedangkan faktor - faktor yang lain merupakan faktor alam yang umumnya sulit untuk dilakukan perbaikan. Penanganan banjir di Kabupaten Sambas dapat dilakukan dengan melakukan perbaikan di daerah hulu agar air kiriman dari hulu tidak langsung masuk ke hilir yang dapat menyebabkan terjadinya banjir.

C. Validasi Peta Tingkat Kerawanan Banjir

Validasi peta kerawanan banjir dilakukan dengan membandingkan peta tingkat kerawanan banjir Kabupaten Sambas dengan data kejadian banjir di Kabupaten Sambas tahun 2017 – 2021 yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sambas. Berdasarkan data kejadian banjir, terdapat 75 titik/desa yang tercatat mengalami kejadian banjir dalam kurun waktu 5 tahun yang tersebar di semua kecamatan kecuali Kecamatan Selakau dan Jawai Selatan. Dari peta perbandingan 75 titik validasi dengan peta kerawanan banjir (Gambar 9), maka didapatkan hasil bahwa terdapat 53 titik/desa yang tergolong kelas kerawanan banjir tinggi sedangkan sisanya yaitu 22 titik/desa tergolong dalam kelas kerawanan banjir sedang.

Peta sebaran validasi banjir di Kabupaten Sambas

Gambar 9. Peta sebaran validasi banjir di Kabupaten Sambas

Sumber: Analisis data

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat kerawanan banjir di Kabupaten Sambas terdiri dari 3 kelas, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Hampir seluruh wilayah di Kabupaten Sambas termasuk dalam kelas kerawanan banjir sedang yang tersebar dengan luas yaitu 331.895,72 ha atau 56,36%. Untuk kelas kerawanan banjir tinggi tersebar dengan luas yaitu 243.935,76 ha atau 41,42%. Sedangkan untuk kelas kerawanan banjir rendah memiliki luas 13.044,65 ha atau 2,22%. Kecamatan yang memiliki daerah dengan kelas kerawanan banjir tinggi yang paling luas adalah Kecamatan Paloh (38.566,42 ha) diikuti Kecamatan Subah (33.440,92 ha) dan Kecamatan Tebas (32.505,73 ha). Kelas kerawanan banjir rendah tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Sajingan Besar, Subah, dan Tebas. Di daerah ini merupakan daerah yang memiliki banyak bukit dan hutan sehingga berpotensi kecil untuk terjadi bencana banjir.

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah yaitu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai upaya mitigasi bencana banjir untuk meminimalisir dampak yang akan ditimbulkan. Untuk mendapatkan hasil yang optimal pada penelitian lebih lanjut sebaiknya menggunakan wilayah cakupan yang lebih kecil dan menggunakan parameter kerawanan banjir yang terbaru dan memiliki keakuratan yang baik.

Daftar Pustaka

Amin, M., Ridwan, Asmara, S., & Perdana, T. A. (2022). Analisis Tingkat Kerawanan Banjir Lahan Sawah Berbasis Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan. Jurnal Agricultural Biosystem Engineering, 1(2), 182–192. https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/ABE/article/view/5984/4126

BNPB. 2022. Data & Informasi Bencana Indonesia. 21 November 2022. Retrieved from

Fitriadi, M. W., Kumalawati, R., & Arisanty, D. (2017). Tingkat Kesiapsiagaan Masyarakat Terhadap Bencana Tanah Longsor di Desa Jaro Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong. Jurnal Pendidikan Geografi, 4(4), 32–41. http://dx." class="my-4 underline text-blue-500">i>(4), 32–41. http://dx.doi.org/10.20527/jpg.v4i4.3811

Kusumo, P., & Nursari, E. (2016). Zonasi Tingkat Kerawanan Banjir dengan Sistem Informasi Geografis pada DAS Cidurian Kab. Serang, Banten. Jurnal String, 1(1), 29–38. https://doi.org/10.30998/string.v1i1.966

Matondang, J. P., Kahar, S., & Sasmito, B. (2013). Analisis Zonasi Daerah Rentan Banjir Dengan Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus : Kota Kendal Dan Sekitarnya)>. Jurnal Geodesi Undip, 2(2), 103–12442

Miharja, N., Panjaitan, S. D., & Sumiyattinah. (2013). Analisis Kerawanan dan Pengurangan Risiko Banjir di Kalimantan Barat Berbasis Sistem Informasi Geografi. Jurnal Teknik Sipil Untan, >13(2), 379–396. http://dx.doi.org/10.26418/jtsft.v13i2.3517

Nuryanti, Tanesib, J. L., & Warsito, A. (2018). Pemetaan Daerah Rawan Banjir dengan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Fisika Sains Dan Aplikasinya, 3(2), 73–79. https://doi.org" class="my-4 underline text-blue-500">i>(2), 73–79. https://doi.org/10.35508/fisa.v3i1.604

Pemerintah Kabupaten Sambas (2016). Peraturan Daerah Kabupaten Sambas Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sambas Tahun 2016 - 2021. Sambas: BAPPEDA Kabupaten Sambas.

Primayuda, A. (2006). Pemetaan Daerah Rawan dan Resiko Banjir Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus Kabupaten Trenggalek, Propinsi Jawa Timur). Institut Pertanian Bogor.

Purnama, A. (2008). Pemetaan Kawasan Rawan Banjir di Daerah Aliran Sungai Cisadane Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Institut Pertanian Bogor.

Putra, D. B., Suprayogi, A., & Sudarsono, B. (2019). Analisis Kerawanan Banjir Pada Kawasan Terbangun Berdasarkan Klasifikasi Indeks EBBI (Enhanced Built-Up and Bareness Index) Menggunakan SIG (Studi Kasus di Kabupaten Demak). Jurnal Geodesi Undip, 8>(1), 93–10264

Rahman, I. W. (2018). Pemetaan Daerah Rawan Banjir (Studi Kasus: Banjir Pacitan Desember 2017). Institut Teknologi Sepuluh November.

Sasmita, N., Reida, R., Santi, I. P., Nurahmah, D., Kurniawati, N., & Ridwan, I. (2008). Identifikasi Kawasan Rawan Kebakaran di Martapura Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan dengan Sistem Informasi Geografis. Jurnal Fisika FLUX, 5(2), 113–119. http://dx.doi.org/10.20>527/flux.v5i2.3017

Suherlan, E. (2001). Zonasi Tingkat Kerentanan Banjir Kabupaten Bandung Menggunakan Sistim Informasi Geografis. Institut Pertanian Bogor.

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at
  • mapid-ai-maskot