Penentuan Rute dan Lokasi Halte Bus Trans Jateng Purbalingga-Banjarnegara

06 June 2025

•

By: Dwiana Putri Setyaningsih

Open Data

Halte

Open Data

Fasilitas_Kesehatan

Open Data

Fasilitas_Pariwisata

Open Data

Fasilitas_Pemerintahan

Open Data

Fasilitas_Pendidikan

Open Data

Fasilitas_Perdagangan

Open Data

Fasilitas_Transportasi

Open Project

Penentuan Rute dan Lokasi Halte Bus Trans Jateng

Penentuan rute dan lokasi halte bus trans jateng

1. Latar Belakang

Wilayah Banjarnegara, sebagai bagian dari hinterland regional Barlingmascakeb, menghadapi tantangan aksesibilitas yang signifikan, terutama dalam konektivitas menuju pusat-pusat pertumbuhan ekonomi seperti Purwokerto dan Purbalingga. Keterbatasan akses transportasi umum yang terintegrasi menyebabkan ketergantungan tinggi pada kendaraan pribadi, yang tidak hanya berdampak pada beban lalu lintas, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, penyediaan layanan transportasi umum yang efisien dan terencana secara spasial menjadi suatu kebutuhan mendesak dalam mendukung mobilitas masyarakat serta pencapaian target pembangunan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, pengembangan layanan Bus Trans Jateng pada koridor Bukateja–Banjarnegara menjadi intervensi strategis untuk meningkatkan konektivitas antara tiga wilayah penting: Purwokerto–Purbalingga–Banjarnegara. Keberadaan rute dan halte yang dirancang secara tepat tidak hanya akan mempermudah mobilitas masyarakat Banjarnegara menuju Stasiun Purwokerto sebagai simpul transportasi regional, tetapi juga dapat memperkuat integrasi antarwilayah serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

Tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, adanya transportasi umum yang terintegrasi juga dapat berdampak pada pergeseran pola perjalanan dari kendaraan pribadi ke moda transportasi umum yang lebih ramah lingkungan, seperti Bus Trans Jateng, akan berkontribusi langsung terhadap penurunan emisi karbon dan konsumsi energi fosil. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dan nasional dalam mitigasi perubahan iklim dan pengembangan sistem transportasi berkelanjutan. Oleh karena itu, kajian "Penentuan Rute dan Lokasi Halte Bus Trans Jateng Purbalingga-Banjarnegara" dilakukan dengan tujuan untuk merumuskan rute optimal dan menentukan lokasi strategis halte Bus Trans Jateng di koridor Bukateja–Banjarnegara dengan mempertimbangkan aspek keterjangkauan spasial, kepadatan permukiman, serta titik-titik konsentrasi aktivitas masyarakat. Harapannya, hasil kajian ini dapat mendukung perencanaan transportasi berbasis data serta dapat mendukung peningkatan aksesibilitas Kabupaten Banjarnegara dan konektivitas regional di Jawa Tengah.

2. Metodologi dan Sumber Data

Kajian ini dilakukan dengan menggunakan data spasial berupa data fasilitas publik, jaringan jalan, titik awal, dan titik akhir rute bus. Data fasilitas publik dan jaringan jalan bersumber dari Open Street Map yang dilengkapi data dari Google Maps. Tahapan pertama yaitu menentukan rute Bus Trans Jawa Tengah, kemudian membuat peta kepadatan fasilitas publik menggunakan Kernel Density Analysis. Dari data rute dan kepadatan fasilitas publik, dapat ditentukan titik lokasi strategis yang tepat untuk pemberhentian bus, yang kemudian jarak antar halte dievaluasi berdasarkan data penggunaan lahan dan peraturan berupa Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor 271/HK.105/DRJD/96 tentang Pedoman Teknis Perekayasaan Tempat Perhentian Kendaraan Penumpang Umum. Lalu, dihasilkan hasil akhir berupa peta rute dan lokasi halte Bus Trans Jawa Tengah Bukateja - Banjarnegara. Analisis awal dilakukan dengan perangkat lunak QGIS, kemudian visualisasi dan perhitungan jarak antar halte dilakukan dengan platform Geo MAPID. Metode pengolahan data dapat dilihat di diagram alir pada Gambar 1.

diagram alir metodologi

3. Penentuan Rute Bus

Penentuan rute bus dilakukan dengan tahapan berupa penentuan titik awal dan titik akhir rute, dan pemilihan jalan utama untuk rute bus. Titik awal rute bus pada Bus Trans Jawa Tengah Bukateja - Banjarnegara ditentukan berdasarkan titik akhir rute yang sudah ada sebelumnya, yaitu rute Purwokerto - Purbalingga, dimana rute tersebut berakhir di Terminal Bukateja, Kabupaten Purbalingga. Rute yang akan direncanakan diharapkan dapat menghubungkan Purbalingga hingga area pusat kabupaten Banjarnegara, sehingga ditentukan titik akhir berupa Terminal Induk Banjarnegara. Adapun jalan utama yang dipilih sebagai rute bus adalah Jalan Purbalingga - Klampok, Jalan Ajibarang - Secang, dan Jalan Stadion. Pertimbangan dalam pemilihan rute tersebut didasarkan pada kondisi jalan yang sudah baik dan lebar jalan yang memadai (terutama Jalan Ajibarang - Secang yang merupakan jalan nasional), dan area di sekitar jalan tersebut merupakan wilayah yang padat fasilitas publik sehingga diperlukan adanya transportasi umum yang menghubungkan fasilitas-fasilitas publik tersebut. Dengan demikian, masyarakat dapat mengakses fasilitas publik dengan mudah.

4. Parameter Penentuan Lokasi Halte

Penentuan lokasi halte didasarkan pada 6 parameter fasilitas publik, yaitu fasilitas pendidikan, kesehatan, pemerintahan, pariwisata, transportasi, dan perdagangan. Jenis fasilitas yang dipertimbangkan dalam analisis ini terdapat di Tabel 1.

Tabel parameter penentuan lokasi halte

5. Analisis Spasial Lokasi Halte

Penentuan lokasi halte didasarkan pada kepadatan fasilitas publik, dimana area dengan fasilitas publik yang padat diprioritaskan untuk pembangunan halte agar halte tersebut dapat melayani fasilitas publik di sekitarnya. Jarak antar halte perlu diperhatikan sesuai dengan penggunaan lahan yang ada di area tersebut. Area yang didominasi oleh pusat aktivitas manusia memiliki jarak antar halte yang lebih berdekatan dibandingkan dengan area dengan penggunaan lahan campuran jarang dimana banyak terdapat penggunaan lahan lain seperti sawah, ladang, kebun, dan tanah kosong. Penentuan jarak antara halte dilakukan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor 271/HK.105/DRJD/96 tentang Pedoman Teknis Perekayasaan Tempat Perhentian Kendaraan Penumpang Umum yang terdapat di tabel berikut. Hasil analisis penentuan rute dan lokasi halte dapat dilihat pada Gambar 2.

Peta Lokasi Halte

Rute Bus Trans Jawa Tengah Bukateja - Banjarnegara memiliki panjang 36100 meter (36,1 km) mulai dari titik awal di Terminal Bukateja hingga titik akhir di Terminal Banjarnegara. Berdasarkan hasil analisis penentuan lokasi halte yang telah dilakukan, sepanjang rute Bukateja - Banjarnegara terdapat 56 halte dengan jarak antar halte mulai dari 400 hingga 1200 meter. Perbedaan jarak antar halte disebabkan karena perbedaan kepadatan fasilitas publik serta penggunaan lahan di sekitar halte tersebut. Perbandingan antara kepadatan fasilitas publik dengan lokasi halte dapat dilihat pada Gambar 3.

Peta perbandingan kepadatan fasilitas dan halte

Area dengan kepadatan fasilitas publik yang padat memiliki jarak antar halte yang rapat, misalnya di area Kecamatan Banjarnegara sebagai ibukota Kabupaten Banjarnegara. Di Kecamatan Banjarnegara terdapat banyak fasilitas publik, baik fasilitas pendidikan, kesehatan, pariwisata, maupun perdagangan sehingga di area Banjarnegara tersebut banyak terdapat halte dengan jarak berdekatan untuk melayani berbagai fasilitas publik. Lain halnya dengan area Kecamatan Mandiraja dan Klampok yang terdapat di Kabupaten Banjarnegara bagian barat, dimana terdapat halte dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Hal tersebut diakibatkan oleh penggunaan lahan yang masih didominasi oleh penggunaan lahan selain lahan terbangun sebagai pusat aktivitas manusia. Area bervegetasi seperti kebun dan sawah masih mendominasi di area tertentu sehingga kurang sesuai untuk dijadikan lokasi halte. Fasilitas publik pun masih jarang atau bahkan tidak ada di area tersebut.

6. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kajian ini menemukan bahwa pengembangan rute Bus Trans Jateng koridor Bukateja–Banjarnegara sepanjang 36,1 km dengan 56 titik halte yang ditentukan berdasarkan kepadatan fasilitas publik dan penggunaan lahan, mampu meningkatkan konektivitas wilayah hinterland Banjarnegara ke pusat-pusat pertumbuhan regional seperti Purwokerto dan Purbalingga. Temuan ini menunjukkan bahwa perencanaan transportasi regional perlu mengadopsi pendekatan spasial berbasis data untuk memastikan efisiensi, aksesibilitas, dan pemerataan layanan, terutama di wilayah padat aktivitas. Untuk pengembangan lebih lanjut, disarankan dilakukan validasi lapangan terhadap lokasi halte, pelibatan masyarakat dalam perencanaan akhir, serta integrasi rute ini dengan simpul transportasi lain guna menciptakan sistem transportasi yang lebih terhubung dan berkelanjutan, disertai evaluasi berkala agar layanan dapat terus menyesuaikan kebutuhan pengguna.

Data Publications

Analisis Morfometri dan Klasifikasi Bentuk Lahan Karstdi Kawasan Tebing 90, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Berbasis Data DEMNAS

Climate & Disaster

04 Nov 2026

•

JAJANG RAMADHAN

Analisis Morfometri dan Klasifikasi Bentuk Lahan Karstdi Kawasan Tebing 90, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Berbasis Data DEMNAS

Kawasan Karst Citatah di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, memiliki kerentanan ekologis tinggi akibat tekanan antropogenik penambangan batu gamping Formasi Rajamandala. Penelitian ini bertujuan untuk mendelineasi dan mengklasifikasikan unit bentuk lahan karst secara kuantitatif berbasis ekstraksi parameter morfometri data Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS) resolusi 8,1 meter.

15 min read

•

47 view

Evaluasi Keterjangkauan dan Usulan Rerouting Angkutan Kota Berbasis Location Analytics di Kota Malang, Jawa Timur

Transportation

04 Sep 2026

•

Meutia Amirotun Nuha

Evaluasi Keterjangkauan dan Usulan Rerouting Angkutan Kota Berbasis Location Analytics di Kota Malang, Jawa Timur

Penelitian ini mengevaluasi keterjangkauan pelayanan angkutan kota di Kota Malang dan menyusun alternatif rerouting berbasis location analytics. Keterjangkauan dianalisis menggunakan buffer 400 meter terhadap jaringan trayek eksisting, kemudian distribusi penduduk pada kawasan permukiman digunakan untuk mengidentifikasi population service gap. Kawasan yang belum terlayani dikelompokkan menjadi 27 cluster dan lima cluster dengan service gap terbesar dipilih sebagai Priority Service Area. Analisis selanjutnya mempertimbangkan jaringan jalan, pusat aktivitas, keterhubungan terhadap trayek eksisting, dan akses transportasi regional untuk menyusun koridor kandidat. Hasil menunjukkan bahwa pelayanan angkot eksisting menjangkau sekitar 616.575 jiwa atau 69,33% penduduk Kota Malang, sementara 272.784 jiwa belum terlayani. Skenario rerouting pada lima kawasan prioritas mampu menambah jangkauan terhadap sekitar 145.101 penduduk sehingga coverage meningkat menjadi 85,64%. Selain itu, 53 dari 56 POI prioritas berada dalam jangkauan pelayanan setelah skenario diterapkan. Temuan menunjukkan bahwa penanganan service gap secara terarah dapat meningkatkan keterjangkauan tanpa harus memperluas jaringan ke seluruh kawasan residual. Hasil penelitian merupakan screening spasial awal yang masih memerlukan validasi teknis dan operasional sebelum implementasi.

26 min read

•

656 view

12 Data

1 Projects

Rekomendasi Lokasi Optimal Pengembangan Kawasan Permukiman dengan Metode Multi-Criteria Scoring di Kawasan BSD Barat, Kabupaten Tangerang

Real Estate

21 Sep 2026

•

Asti Ardiningrum

Rekomendasi Lokasi Optimal Pengembangan Kawasan Permukiman dengan Metode Multi-Criteria Scoring di Kawasan BSD Barat, Kabupaten Tangerang

Penelitian dengan analisis spasial multi-kriteria pada kawasan BSD Baru mengidentifikasi bahwa wilayah selatan (sebagian Jatake, Situ Gadung, dan Sampora) merupakan lokasi paling optimal (Sangat Sesuai) untuk kawasan permukiman karena didukung akses langsung Tol Serpong–Balaraja dan stasiun KRL. Temuan yang selaras dengan RTRW 2021–2031 dan Masterplan BSD City ini menempatkan wilayah selatan sebagai prioritas utama pembangunan bagi pengembang sekaligus opsi hunian dan investasi terbaik bagi masyarakat.

14 min read

•

596 view

1 Projects

Analisis Lokasi Strategis Pembangunan Klinik Gigi di Kabupaten Bekasi

City Planning

05 Sep 2026

•

Imam Fadhlurrahman

Analisis Lokasi Strategis Pembangunan Klinik Gigi di Kabupaten Bekasi

Ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas pelayanan kesehatan gigi menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Kabupaten Bekasi memiliki pertumbuhan penduduk dan aktivitas perkotaan yang cukup tinggi sehingga kebutuhan terhadap fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk klinik gigi, semakin meningkat. Namun, persebaran fasilitas dan tingkat aksesibilitas antarwilayah belum tentu merata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menentukan lokasi strategis pembangunan klinik gigi di Kabupaten Bekasi berdasarkan karakteristik spasial wilayah, potensi pasar, aksesibilitas, dan persaingan. Metode penelitian menggunakan pendekatan site selection, spatial overlay dan Isochrone berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Parameter yang digunakan meliputi kepadatan dan distribusi penduduk, kelompok usia potensial, Point of Interest (POI), aksesibilitas jaringan jalan, keterjangkauan terhadap permukiman, serta persebaran kompetitor. Setiap parameter dilakukan standardisasi dan pembobotan untuk menghasilkan tingkat kesesuaian lokasi. Hasil analisis menunjukan setidaknya tiga lokasi prioritas yang direkomendasikan yaitu terdiri dari lokasi disekitaran Babelan, Sumberjaya dan Villa Bekasi Indah. Lokasi yang dihasilkan sudah memenuhi aspek kesesuaian spasial, dan juga memiliki tingkat aksesibilitas yang baik sehingga berpotensi meningkatkan pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan gigi bagi masyarakat.

14 min read

•

578 view

1 Projects

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at