Visualisasi Analisis TOD di Stasiun Pemberhentian KRL Jogja - Solo

10 November 2023

By: Fawwaz Zufarysa Aryoko

Open Data

aksesibilitas_yogyakarta

Open Data

aksesibilitas_solobalapan

Open Data

halte_solobalapan

Open Data

halte_yogyakarta

Open Project

Analisis TOD di Stasiun Pemberhentian KRL Jogja - Solo

LATAR BELAKANG

Kota Jogja dan Solo merupakan dua kota yang memiliki jumlah penduduk yang besar. Pertumbuhan ekonomi di kedua kota tersebut pun sedang mengalami perkembangan. Dengan meningkatnya kegiatan penduduk suatu perkotaan, maka semakin meningkat pula pergerakan manusia, barang, dan jasa, sehingga kebutuhan akan jasa transportasi menjadi meningkat (Khaerul, 2015). Hal ini juga didukung pergerakan penduduk antara dua kota tersebut yang tergolong masif, terutama bagi komuter. Dalam kasus tersebut, komuter digolongkan menjadi dua yaitu pengguna transportasi pribadi dan pengguna transportasi umum.

KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Line merupakan salah satu moda transportasi umum yang menghubungkan Kota Jogja dan Solo. Usia KRL Jogja – Solo masih terbilang baru untuk golongan transportasi umum. Berdasarkan data dari situs resmi KRL Commuter Line Indonesia, KRL telah beroperasi untuk umum pada tanggal 10 Februari 2021. Stasiun kereta api menjadi salah satu pusat pergerakan masyarakat dan dapat dikembangkan menjadi pusat kegiatan dengan pemanfaatan ruang spasial yang terstruktur, baik di dalam stasiun sendiri maupun ruang di sekitarnya (Juliarthana & Galih, 2021). Menurut Institute for Transportation and Development Policy (2017), Sebuah kota dengan keberlanjutan yang sukses akan memprioritaskan pengintegrasian sistem transportasi dengan pengembangan atau pembangunan kota, salah satunya dengan menggunakan penerapan konsep Transit Oriented Development (TOD).

TOD merupakan konsep pengembangan kota dengan memaksimalkan pemanfaatan ruang yang beragam serta intergrasi dengan angkutan umum massal dan gaya hidup sehat (Ayuningtyas, 2019). Pemanfaatan ruang beragam yang dimaksud antara lain terminal transportasi, bisnis komersial, perkantoran, permukiman, dan ruang terbuka hijau. Selain itu, konsep TOD juga memaksimalkan efisiensi dalam aksesbilitas, sehingga dapat mendorong berbagai kegiatan secara produktif dan berkelanjutan.

DATA

1. Data spasial

a. Data koordinat titik stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo dengan sistem koordinat geografik WGS 1984 format shapefile yang diperoleh dari INA Geoportal (https://tanahair.indonesia.go.id/portal-web).

b. Data koordinat jalur rel dan jaringan jalan di sekitar stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo dengan sistem koordinat geografik WGS 1984 format shapefile yang diperoleh dari INA Geoportal (https://tanahair.indonesia.go.id/portal-web).

c. Data koordinat bangunan di sekitar stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo tahun 2022 dengan radius 400 meter yang diperoleh dari OpenStreetMap dengan sistem proyeksi UTM Zona 49Syang mengacu pada datum WGS 1984format shapefile.

d. Data persil bidang tanah di sekitar stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo tahun 2023 dengan sistem koordinat geografik WGS 1984 yang diperoleh dari digitasi dan pendekatan pada BHUMI.atrbpn (https://bhumi.atrbpn.go.id/peta)

2. Data atribut

Informasi umum mengenai stasiun dan fasilitas yang terdapat pada setiap stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo.

METODOLOGI

Kegiatan ini dilakukan di Stasiun Solo Balapan sampai dengan Stasiun Yogyakarta, dengan fokus kegiatan pada radius 400 meter dari titik stasiun. Angka tersebut sesuai dengan preferensi berjalan kaki untuk mobilitas jarak dekat menurut Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 16 Tahun 2017. Tahapan kegiatan aplikatif secara rinci dipaparkan melalui diagram alir berikut.

Visualisasi Analisis TOD di Stasiun Pemberhentian KRL Jogja - Solo

Perhitungan indeks TOD diukur menggunakan indikator kepadatan, keragaman penggunaan lahan, dan desain kawasan yang mengacu pada Florida TOD Guidebook (2012). Selengkapnya mengenai indikator, variabel, dan kriteria dijelaskan melalui tabel di bawah. Analisa yang dilakukan adalah membandingkan keadaan eksisting area stasiun pemberhentian KRL terhadap kriteria minimal area dengan prinsip TOD. Proses perhitungan indeks TOD menggunakan aplikasi Microsoft Excel dan QGIS dengan memanfaatkan fitur analisis vector, attribute table, dan field calculator.

Visualisasi Analisis TOD di Stasiun Pemberhentian KRL Jogja - Solo

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengolahan indeks TOD berupa presentase yang akan dibandingkan antara keadaan eksisting dengan kriteria minimal untuk kawasan TOD. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian kawasan stasiun dengan kriteria minimal TOD. Setelah mendapatkan nilai kesesuaian untuk masing – masing variabel terhadap kriteria minimal TOD, hasil tersebut dirata – rata berdasarkan tiap indikator yaitu density, mix use, dan street design. Tabel di bawah merupakan hasil perhitungan kesesuaian karakteristik kawasan terhadap kriteria minimal TOD.

Visualisasi Analisis TOD di Stasiun Pemberhentian KRL Jogja - Solo

Dari seluruh stasiun yang dianalisis, Stasiun Maguwo memiliki nilai kesesuaian yang paling tinggi di antara stasiun – stasiun lainnya. Sedangkan untuk stasiun dengan nilai kesesuaian paling rendah adalah Stasiun Ceper. Walaupun memiliki nilai kesesuaian yang paling tinggi, Stasiun Maguwo masih belum memenuhi standar minimal untuk penerapan konsep TOD. Begitu pula dengan stasiun - stasiun lainnya. Rata - rata di setiap stasiun masih memiliki nilai yang rendah dari indikator kepadatan. Pengembangan pembangunan di area kawasan stasiun masih belum maksimal, ditandai dengan kepadatan residensial yang masih jauh dari standar minimal untuk penerapan konsep TOD. Dari segi penggunaan lahan, beberapa stasiun masih belum baik. Ditandai dengan beberapa stasiun yang presentase residensial lebih tinggi daripada non-residensial. Selain itu, beberapa stasiun kecil seperti gawok, delanggu, ceper, dan srowot, kawasannya masih didominasi oleh perkebunan dan persawahan. Maka dari itu, perlu adanya pengembangan yang berfokus pada hunian dan pusat kegiatan masyarakat. Dari segi desain kawasan, untuk kriteria aksesibilitas pejalan kaki setiap stasiun memiliki presentase yang cukup baik, namun untuk kriteria ketersediaan jalur sepeda masih kecil nilainya. Bahkan di beberapa stasiun kecil tidak terdapat jalur khusus sepeda. Dari segi konektivitas, hanya Stasiun Solo Balapan, Purwosari, Klaten, Maguwo, Lempuyangan, dan Yogyakarta yang dikatakan cukup baik. Hal ini disebabkan stasiun tersebut dapat melayani kereta api jarak jauh, kereta bandara, serta terdapat halte untuk pemberhentian bus.

Di dalam proyek ini, terdapat beberapa informasi yang dapat diperoleh. Terdapat layer residensial, non-residensial, jalan, jalur sepeda, dan halte yang dapat dimunculkan dengan radius 400 meter dari titik stasiun. Selain itu, juga terdapat layer aksesibilitas pejalan kaki yang menunjukkan area mana saja yang dapat diakses dengan berjalan kaki dari stasiun. Dalam layer non-residensial terdapat atribut jenis penggunaan lahan yang dapat dilihat melalui grafik pada menu data viewer. Pada layer stasiun juga dilengkapi dengan dokumentasi foto tampak depan tiap stasiun. Selain itu, terdapat pula informasi mengenai letak halte yang mampu diakses di dekat stasiun.

KESIMPULAN

Seluruh stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo masih belum memenuhi kriteria minimal untuk penerapan konsep TOD. Hal ini disebabkan oleh beberaa aspek, antara lain; tidak memenuhinya kriteria kepadatan hunian dan ketersediaan jalur sepeda. Beberapa kawasan stasiun juga memiliki konektivitas antarmoda transportasi yang rendah, antara lain Stasiun Gawok, Delanggu, Ceper, Klaten, Srowot, dan Brambanan. Selain itu, penggunaan lahan di setiap kawasan masih kurang merata, seperti tidak adanya fasilitas kesehatan, perbelanjaan, dan rekreasi. Pada beberapa kawasan stasiun juga masih didominasi oleh perkebunan dan persawahan. Maka dari itu, masih perlu adanya perencanaan pengembangan wilayah yang memaksimalkan efisiensi dan aksesibilitas, sehingga mendorong berbagai kegiatan secara produktif dan berkelanjut.

Data Publications

Analisis Kesesuaian Lokasi dan Peluang Pasar untuk Ekspansi Gerai HokBen Berbasis Location Intelligence di Kota Surabaya

Food & Beverages

06 Sep 2026

Ridhwan Saputra

Analisis Kesesuaian Lokasi dan Peluang Pasar untuk Ekspansi Gerai HokBen Berbasis Location Intelligence di Kota Surabaya

Analisis site selection ekspansi gerai HokBen di Kota Surabaya menggunakan GIS untuk mengintegrasikan land suitability, market opportunity, demografi, POI, aksesibilitas, dan harga lahan. Hasil analisis QGIS dibandingkan dengan GEO MAPID Site Selection untuk mengidentifikasi area potensial berdasarkan kesesuaian lokasi dan peluang pasar.

24 min read

87 view

Evaluasi Keterjangkauan dan Usulan Rerouting Angkutan Kota Berbasis Location Analytics di Kota Malang, Jawa Timur

Transportation

04 Sep 2026

Meutia Amirotun Nuha

Evaluasi Keterjangkauan dan Usulan Rerouting Angkutan Kota Berbasis Location Analytics di Kota Malang, Jawa Timur

Penelitian ini mengevaluasi keterjangkauan pelayanan angkutan kota di Kota Malang dan menyusun alternatif rerouting berbasis location analytics. Keterjangkauan dianalisis menggunakan buffer 400 meter terhadap jaringan trayek eksisting, kemudian distribusi penduduk pada kawasan permukiman digunakan untuk mengidentifikasi population service gap. Kawasan yang belum terlayani dikelompokkan menjadi 27 cluster dan lima cluster dengan service gap terbesar dipilih sebagai Priority Service Area. Analisis selanjutnya mempertimbangkan jaringan jalan, pusat aktivitas, keterhubungan terhadap trayek eksisting, dan akses transportasi regional untuk menyusun koridor kandidat. Hasil menunjukkan bahwa pelayanan angkot eksisting menjangkau sekitar 616.575 jiwa atau 69,33% penduduk Kota Malang, sementara 272.784 jiwa belum terlayani. Skenario rerouting pada lima kawasan prioritas mampu menambah jangkauan terhadap sekitar 145.101 penduduk sehingga coverage meningkat menjadi 85,64%. Selain itu, 53 dari 56 POI prioritas berada dalam jangkauan pelayanan setelah skenario diterapkan. Temuan menunjukkan bahwa penanganan service gap secara terarah dapat meningkatkan keterjangkauan tanpa harus memperluas jaringan ke seluruh kawasan residual. Hasil penelitian merupakan screening spasial awal yang masih memerlukan validasi teknis dan operasional sebelum implementasi.

26 min read

111 view

12 Data

1 Projects

Analisis Sweet Spot Location Attractiveness Bagi Pengembangan Properti Co-Living di Area Perkotaan Yogyakarta

Real Estate

06 Sep 2026

Wildan Rafi Fadlilah

Analisis Sweet Spot Location Attractiveness Bagi Pengembangan Properti Co-Living di Area Perkotaan Yogyakarta

Panduan ekspansi co-living yang terukur di Yogyakarta untuk pengembang properti dalam menghadapi kebutuhan pasar dan tekanan kompetisi

41 min read

123 view

1 Projects

Rekomendasi Lokasi Optimal Pengembangan Kawasan Permukiman dengan Metode Multi-Criteria Scoring di Kawasan BSD Barat, Kabupaten Tangerang

Real Estate

04 Sep 2026

Asti Ardiningrum

Rekomendasi Lokasi Optimal Pengembangan Kawasan Permukiman dengan Metode Multi-Criteria Scoring di Kawasan BSD Barat, Kabupaten Tangerang

Penelitian dengan analisis spasial multi-kriteria pada kawasan BSD Baru mengidentifikasi bahwa wilayah selatan (sebagian Jatake, Situ Gadung, dan Sampora) merupakan lokasi paling optimal (Sangat Sesuai) untuk kawasan permukiman karena didukung akses langsung Tol Serpong–Balaraja dan stasiun KRL. Temuan yang selaras dengan RTRW 2021–2031 dan Masterplan BSD City ini menempatkan wilayah selatan sebagai prioritas utama pembangunan bagi pengembang sekaligus opsi hunian dan investasi terbaik bagi masyarakat.

14 min read

136 view

1 Projects

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at