Visualisasi Analisis TOD di Stasiun Pemberhentian KRL Jogja - Solo

21/08/2023 • Fawwaz Zufarysa Aryoko

aksesibilitas_yogyakarta

aksesibilitas_solobalapan

halte_solobalapan

halte_yogyakarta

Analisis TOD di Stasiun Pemberhentian KRL Jogja - Solo


LATAR BELAKANG

Kota Jogja dan Solo merupakan dua kota yang memiliki jumlah penduduk yang besar. Pertumbuhan ekonomi di kedua kota tersebut pun sedang mengalami perkembangan. Dengan meningkatnya kegiatan penduduk suatu perkotaan, maka semakin meningkat pula pergerakan manusia, barang, dan jasa, sehingga kebutuhan akan jasa transportasi menjadi meningkat (Khaerul, 2015). Hal ini juga didukung pergerakan penduduk antara dua kota tersebut yang tergolong masif, terutama bagi komuter. Dalam kasus tersebut, komuter digolongkan menjadi dua yaitu pengguna transportasi pribadi dan pengguna transportasi umum.

KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Line merupakan salah satu moda transportasi umum yang menghubungkan Kota Jogja dan Solo. Usia KRL Jogja – Solo masih terbilang baru untuk golongan transportasi umum. Berdasarkan data dari situs resmi KRL Commuter Line Indonesia, KRL telah beroperasi untuk umum pada tanggal 10 Februari 2021. Stasiun kereta api menjadi salah satu pusat pergerakan masyarakat dan dapat dikembangkan menjadi pusat kegiatan dengan pemanfaatan ruang spasial yang terstruktur, baik di dalam stasiun sendiri maupun ruang di sekitarnya (Juliarthana & Galih, 2021). Menurut Institute for Transportation and Development Policy (2017), Sebuah kota dengan keberlanjutan yang sukses akan memprioritaskan pengintegrasian sistem transportasi dengan pengembangan atau pembangunan kota, salah satunya dengan menggunakan penerapan konsep Transit Oriented Development (TOD).

TOD merupakan konsep pengembangan kota dengan memaksimalkan pemanfaatan ruang yang beragam serta intergrasi dengan angkutan umum massal dan gaya hidup sehat (Ayuningtyas, 2019). Pemanfaatan ruang beragam yang dimaksud antara lain terminal transportasi, bisnis komersial, perkantoran, permukiman, dan ruang terbuka hijau. Selain itu, konsep TOD juga memaksimalkan efisiensi dalam aksesbilitas, sehingga dapat mendorong berbagai kegiatan secara produktif dan berkelanjutan.

DATA

1. Data spasial

a. Data koordinat titik stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo dengan sistem koordinat geografik WGS 1984 format shapefile yang diperoleh dari INA Geoportal (https://tanahair.indonesia.go.id/portal-web).

b. Data koordinat jalur rel dan jaringan jalan di sekitar stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo dengan sistem koordinat geografik WGS 1984 format shapefile yang diperoleh dari INA Geoportal (https://tanahair.indonesia.go.id/portal-web).

c. Data koordinat bangunan di sekitar stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo tahun 2022 dengan radius 400 meter yang diperoleh dari OpenStreetMap dengan sistem proyeksi UTM Zona 49Syang mengacu pada datum WGS 1984format shapefile.

d. Data persil bidang tanah di sekitar stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo tahun 2023 dengan sistem koordinat geografik WGS 1984 yang diperoleh dari digitasi dan pendekatan pada BHUMI.atrbpn (https://bhumi.atrbpn.go.id/peta)

2. Data atribut

Informasi umum mengenai stasiun dan fasilitas yang terdapat pada setiap stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo.

METODOLOGI

Kegiatan ini dilakukan di Stasiun Solo Balapan sampai dengan Stasiun Yogyakarta, dengan fokus kegiatan pada radius 400 meter dari titik stasiun. Angka tersebut sesuai dengan preferensi berjalan kaki untuk mobilitas jarak dekat menurut Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 16 Tahun 2017. Tahapan kegiatan aplikatif secara rinci dipaparkan melalui diagram alir berikut.

Visualisasi Analisis TOD di Stasiun Pemberhentian KRL Jogja - Solo

Perhitungan indeks TOD diukur menggunakan indikator kepadatan, keragaman penggunaan lahan, dan desain kawasan yang mengacu pada Florida TOD Guidebook (2012). Selengkapnya mengenai indikator, variabel, dan kriteria dijelaskan melalui tabel di bawah. Analisa yang dilakukan adalah membandingkan keadaan eksisting area stasiun pemberhentian KRL terhadap kriteria minimal area dengan prinsip TOD. Proses perhitungan indeks TOD menggunakan aplikasi Microsoft Excel dan QGIS dengan memanfaatkan fitur analisis vector, attribute table, dan field calculator.

Visualisasi Analisis TOD di Stasiun Pemberhentian KRL Jogja - Solo

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengolahan indeks TOD berupa presentase yang akan dibandingkan antara keadaan eksisting dengan kriteria minimal untuk kawasan TOD. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian kawasan stasiun dengan kriteria minimal TOD. Setelah mendapatkan nilai kesesuaian untuk masing – masing variabel terhadap kriteria minimal TOD, hasil tersebut dirata – rata berdasarkan tiap indikator yaitu density, mix use, dan street design. Tabel di bawah merupakan hasil perhitungan kesesuaian karakteristik kawasan terhadap kriteria minimal TOD.

Visualisasi Analisis TOD di Stasiun Pemberhentian KRL Jogja - Solo

Dari seluruh stasiun yang dianalisis, Stasiun Maguwo memiliki nilai kesesuaian yang paling tinggi di antara stasiun – stasiun lainnya. Sedangkan untuk stasiun dengan nilai kesesuaian paling rendah adalah Stasiun Ceper. Walaupun memiliki nilai kesesuaian yang paling tinggi, Stasiun Maguwo masih belum memenuhi standar minimal untuk penerapan konsep TOD. Begitu pula dengan stasiun - stasiun lainnya. Rata - rata di setiap stasiun masih memiliki nilai yang rendah dari indikator kepadatan. Pengembangan pembangunan di area kawasan stasiun masih belum maksimal, ditandai dengan kepadatan residensial yang masih jauh dari standar minimal untuk penerapan konsep TOD. Dari segi penggunaan lahan, beberapa stasiun masih belum baik. Ditandai dengan beberapa stasiun yang presentase residensial lebih tinggi daripada non-residensial. Selain itu, beberapa stasiun kecil seperti gawok, delanggu, ceper, dan srowot, kawasannya masih didominasi oleh perkebunan dan persawahan. Maka dari itu, perlu adanya pengembangan yang berfokus pada hunian dan pusat kegiatan masyarakat. Dari segi desain kawasan, untuk kriteria aksesibilitas pejalan kaki setiap stasiun memiliki presentase yang cukup baik, namun untuk kriteria ketersediaan jalur sepeda masih kecil nilainya. Bahkan di beberapa stasiun kecil tidak terdapat jalur khusus sepeda. Dari segi konektivitas, hanya Stasiun Solo Balapan, Purwosari, Klaten, Maguwo, Lempuyangan, dan Yogyakarta yang dikatakan cukup baik. Hal ini disebabkan stasiun tersebut dapat melayani kereta api jarak jauh, kereta bandara, serta terdapat halte untuk pemberhentian bus.

Di dalam proyek ini, terdapat beberapa informasi yang dapat diperoleh. Terdapat layer residensial, non-residensial, jalan, jalur sepeda, dan halte yang dapat dimunculkan dengan radius 400 meter dari titik stasiun. Selain itu, juga terdapat layer aksesibilitas pejalan kaki yang menunjukkan area mana saja yang dapat diakses dengan berjalan kaki dari stasiun. Dalam layer non-residensial terdapat atribut jenis penggunaan lahan yang dapat dilihat melalui grafik pada menu data viewer. Pada layer stasiun juga dilengkapi dengan dokumentasi foto tampak depan tiap stasiun. Selain itu, terdapat pula informasi mengenai letak halte yang mampu diakses di dekat stasiun.

KESIMPULAN

Seluruh stasiun pemberhentian KRL Jogja – Solo masih belum memenuhi kriteria minimal untuk penerapan konsep TOD. Hal ini disebabkan oleh beberaa aspek, antara lain; tidak memenuhinya kriteria kepadatan hunian dan ketersediaan jalur sepeda. Beberapa kawasan stasiun juga memiliki konektivitas antarmoda transportasi yang rendah, antara lain Stasiun Gawok, Delanggu, Ceper, Klaten, Srowot, dan Brambanan. Selain itu, penggunaan lahan di setiap kawasan masih kurang merata, seperti tidak adanya fasilitas kesehatan, perbelanjaan, dan rekreasi. Pada beberapa kawasan stasiun juga masih didominasi oleh perkebunan dan persawahan. Maka dari itu, masih perlu adanya perencanaan pengembangan wilayah yang memaksimalkan efisiensi dan aksesibilitas, sehingga mendorong berbagai kegiatan secara produktif dan berkelanjut.

Data Publications