Analisis Kerawanan Banjir dan dan Aksesibilitas Rumah Sakit dan Puskesmas di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi Menggunakan Sistem Informasi Geografis

06 April 2026

By: Berliana Zulny

Open Project

Analisis Kerentanan Banjir dan Penentuan Lokasi Evakuasi di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi Menggunakan Sistem Informasi Geografis

Analisis Kerawanan Banjir dan dan Aksesibilitas Rumah Sakit dan Puskesmas di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi Menggunakan Sistem Informasi Geografis

I. LATAR BELAKANG

Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang sering terjadi di wilayah perkotaan, terutama pada daerah dengan pertumbuhan penduduk yang pesat dan perubahan penggunaan lahan yang signifikan. Kerawanan banjir adalah keadaan yang menggambarkan mudah atau tidaknya suatu daerah terkena banjir berdasarkan faktor-faktor alam yang memengaruhi banjir, antara lain faktor meteorologi (intensitas curah hujan, distribusi curah hujan, frekuensi dan lamanya hujan berlangsung) dan karakteristik daerah aliran sungai (kemiringan lahan/kelerengan, ketinggian lahan, tekstur tanah, penggunaan lahan, curah hujan, dan karakteristik DAS) (Suherlan, 2001 dalam Darmawan dkk., 2017).

Kota Bekasitermasuk wilayah yang memiliki tingkat kerawanan banjir cukup tinggi akibat kondisi topografi relatif datar, curah hujan tinggi, serta keberadaan aliran sungai yang melintasi kawasan permukiman. Kota Bekasi merupakan salah satu kota yang memiliki banyak titik kerawanan banjir yang tinggi, seperti Kecamatan Jatiasih, Jatisampurna, Pondok gede, dan Bantar Gebang (Alvin Septian dan Sabri, 2023). Kecamatan Jatiasih merupakan salah satu wilayah di Kota Bekasi yang tergolong rawan terhadap kejadian banjir. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi tahun 2022, kawasan ini berada di titik pertemuan dua sungai utama, yaitu Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi. Selain itu, berdasarkan Rencana Tata Ruang Kota Bekasi Tahun 2011–2031, Kecamatan Jatiasih diarahkan untuk pengembangan kawasan permukiman serta kegiatan perdagangan dan jasa. Peruntukan tersebut mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan yang semakin intensif, sehingga berdampak pada menurunnya luas area resapan air. Kondisi ini dapat mempengaruhi keterjangkauan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas saat terjadi banjir yang diakibatkan oleh genangan air pada jaringan jalan yang dapat menyebabkan keterlambatan penanganan medis bagi masyarakat yang membutuhkan layanan darurat.

Oleh karena itu, diperlukan analisis tingkat kerawanan banjir yang dikombinasikan dengan analisis aksesibilitas fasilitas kesehatan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi wilayah rawan banjir serta mengetahui tingkat keterjangkauan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi spasial sebagai dasar dalam upaya mitigasi bencana dan peningkatan pelayanan kesehatan di Kecamatan Jatiasih Kota Bekasi.

II. RUMUSAN MASALAH

  1. 1.
    Bagaimana tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Jatiasih?
  1. 2.
    Bagaimana persebaran serta tingkat aksesibilitas rumah sakit dan puskesmas terhadap wilayah rawan banjir di Kecamatan Jatiasih?
  1. 3.
    Fasilitas kesehatan mana yang memiliki akses paling aman serta wilayah mana yang menjadi prioritas karena memiliki kerawanan banjir tinggi dan keterbatasan akses pelayanan kesehatan?

III. TUJUAN PENELITIAN

  1. 1.
    Mengidentifikasi dan memetakan tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Jatiasih.
  1. 2.
    Menganalisis persebaran serta aksesibilitas rumah sakit dan puskesmas terhadap wilayah dengan tingkat kerawanan banjir berdasarkan jarak, waktu tempuh, dan kondisi genangan di Kecamatan Jatiasih.
  1. 3.
    Menentukan fasilitas kesehatan dengan akses paling aman serta mengidentifikasi wilayah prioritas yang memiliki kerawanan banjir tinggi dan keterbatasan akses pelayanan kesehatan.

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini berada di salah satu kecamatan yang ada di Kota Bekasi yaitu Kecamatan Jatiasih. Adapun peta lokasi penelitian ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

Gambar 1. Lokasi Penelitian

4.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Jenis data dan sumber data ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Jenis dan Sumber Data Penelitian

Tabel 1. Sumber Data Penelitian

4.3 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik overlay dengan pembobotan dan skoring menggunakan perangkat lunak QGIS 3.40.15. Pembobotan dimaksudkan sebagai pemberian bobot pada masing-masing peta tematik (parameter), untuk bobot dari setiap parameter disajikan dalam (Tabel 2) sedangkan nilai skor/nilai total diperoleh dari hasil perkalian antara pemberian nilai dan bobot sehingga menghasilkan nilai total yang biasa disebut skor. Pemberian nilai pada setiap parameter adalah sama, yaitu 1-5, sedangkan pemberian bobot tergantung pada pengaruh dari setiap parameter yang memiliki faktor paling besar dalam tingkat kerawanan banjir serta mengacu pada berbagai pemberian bobot yang telah dilakukan pada penelitian sebelumnya.

Tabel 2. Nilai dan Bobot Parameter Kerawanan Banjir

Klasifikasi Kemiringan Lereng

Kemiringan Lereng

Sumber: Sari dkk. (2023)

Klasifikasi Ketinggian Lahan

Ketinggian Lahan

Sumber: Sari dkk. (2023)

Klasifikasi Jenis Tanah

Jenis Tanah

Sumber: Nuraini dkk (2025)

Klasifikasi Curah Hujan

Curah Hujan

Sumber: Sari dkk. (2023)

Klasifikasi Penggunaan Lahan

Penggunaan Lahan

Sumber: Modifikasi Sari dkk. (2023)

Klasifikasi Jarak Buffer Sungai

Jarak Buffer Sungai

Sumber: Seprianto (2024)

4.4 Teknik Analisis Tingkat Kerawanan Banjir

Analisis ini dilakukan untuk menentukan tingkat kerawanan dan risiko suatu wilayah terhadap bencana banjir. Nilai kerawanan banjir diperoleh dengan menjumlahkan skor dari keempat parameter yang digunakan. Perhitungan tingkat kerawanan banjir tersebut dilakukan berdasarkan persamaan berikut (Aldiansyah dkk., 2023).

K = Wi x Xi ...(1)

Keterangan:

K = Skor Kerawanan

Wi = Nilai untuk parameter ke-i

Xi = Bobot untuk parameter ke-i

Lebar interval kelas kerawanan banjir ditentukan dengan membagi rentang nilai yang diperoleh dengan jumlah kelas interval yang digunakan, sesuai dengan persamaan berikut.

I = R/n ... (2)

Keterangan:

I = Lebar Interval

R = Selisih Skor Maksimal

n = Jumlah Kelas Kerawanan Banjir

4.5 Teknik Analisis Aksesibilitas Fasilitas Kesehatan

Analisis aksesibilitas fasilitas kesehatan berupa rumah sakit dan puskesmas dilakukan menggunkan Geo MAPID. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan fitur pada Toolbox, yaitu Radius, Distance, dan Isochrone. Analisis awali dengan meakukan overlay antara data vektor kerawanan banjir dengan sebaran data rumah sakit dan puskesmas kota bekasi yan telah tersedia. Fitur Radius digunakan untuk mengidentifikasi sebaran rumah sakit dan puskesmas pada radius terdekat dari pusat kecamatan. Selanjutnya, fitur Distance digunakan untuk mengetahui jarak antara titik rumah sakit dan puskesmas dengan titik pusat kota. Kemudian dilanjutkan dnegan analisis isokron untuk mengetahui perkiraan waktu tempuh antara titik pusat kota dengan titik rumah sakit dan puskesmas.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Analisis Tingkat Kerawanan Banjir

  • Hasil Parameter Kemiringan Lereng
Peta Kemiringan Lereng Jatiasih

Gambar 2. Peta Kemiringan Lereng Kecamatan Jatiasih

  • Hasil Parameter Ketinggian Lahan
Peta Ketinggian Lahan

Gambar 3. Peta Ketinggian Lahan Kecamatan Jatiasih

  • Hasil Parameter Jenis Tanah
Peta Jenis Tanah Jatiasih

Gambar 4. Peta Jenis Tanah Kecamatan Jatiasih

  • Hasil Parameter Curah Hujan
Peta Curah Hujan

Gambar 5. Peta Curah Hujan Kecamatan Jatiasih

  • Hasil Parameter Penggunaan Lahan
Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Jatiasih

Gambar 6. Peta Curah Hujan Kecamatan Jatiasih

  • Hasil Parameter Jarak dari Sungai
Peta Buffer Sungai

Gambar 6. Peta Buffer Sungai Kecamatan Jatiasih

  • Hasil Tingkat Kerawanan Banjir

Berdasarkan analisis pembobotan dan skoring pada parameter - parameter kerawanan banjir diperoleh klasifikasi paramater kerawanana banjir pada Kecamatan Jatiasih sebagai berikut (Tabel 3).

Tabel 3. Pembobotan dan Skoring Parameter Kerawanan Banjir Kecamatan Jatiasih

Pembobotan dan Skoring Parameter Kerawanan Banjir Kecamatan Jatiasih

Setelah dilakukan analisis pembobotan dan skoring pada setiap parameter kerawanan banjir, kemudian dilakukan analisis overlay untuk menghasilkan peta kerawanan banjir yang ditunjukkan pada Gambar 7.

Peta kerawanan banjir

Gambar 7. Peta Kerawanan Banjir Kecamatan Jatiasih

Pada peta kemiringan lereng (Gambar 2) menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiasih didominiasi oleh kemiringan lereng Datar (0 - 8 %) dan Landai (8 - 15%) kemudian pada peta ketinggian lahan (Gambar 3) menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiasih didominasi oleh ketinggian 20 - 75 m. Hal ini dapat menjadi pemicu terjadinya banjir karena air hujan dapat mengalir sangat lambat dan air cenderung menggenang.

Pada peta jenis tanah (Gambar 4) menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiasih seluruhnya tersusun atas jenis tanah Nitosol Distrik. Jenis tanah ini terbentuk di daerah semi kering hingga lembab dengan kapasitas infiltrasi 45,6 mm/jam (Obiechefu, Egbuikwem, & Emerson, 2019). Kemudian pada peta curah hujan (Gambar 5) menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiasih memiliki curah hujan 2000 - 3000 mm/ tahun berdasarkan data curah hujan CHIRPS tahun 2020. Kedua hal ini mendukung kerawanan banjir yang tinggi di suatu wilayah (Adimasqie dkk, 2022).

Pada peta penggunaan lahan (Gambar 6) menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kecamatan Jatiasih dimanfaatkan sebagai pemukiman dan hampir seluruh wilayah dikelilingi oleh aliran sungai (Gambar 7). Hal ini menjadi pemicu tingginya tingkat kerawan banjir di wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil overlay seluruh parameter kerawanan banjir ditemukan bahwa tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Jatiasih terbagi menjadi 4 tingkat, yaitu tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Kerawanan banjir tingkat tinggi terlihat berada di wilayah - wilayah sekitar sungai, sedangkan kerawanan banjir tingkat sedang hingga sangat rendah terlihat berada di area yang jauh dari sungai.

5.2 Analisis Aksesibilitas Rumah Sakit dan Puskesmas

5.2.1 Aksesibilitas Rumah Sakit

Rumah Sakit - Radius 3 km

Gambar 8. Sebaran Rumah Sakit pada Radius 3 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih

Rumah Sakit - Radius 4 km

Gambar 9. Sebaran Rumah Sakit pada Radius 4 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih

Berdasarkan Gambar 8 menunjukkan bahwa pada radius 3 km dari titik pusat Kecamatan Jatiasih, hanya terdapat 1 rumah sakit umum swasta, yaitu RS Kartika Husada. Namun lokasi rumah sakit tesebut berada pada kawasan dengan tingkat kerawanan banjir yang tinggi.

Sedangkan, pada radius 4 m dari titik pusat Kecamatan Jatiasih (Gambar 9), terdapat 7 rumah sakit. Rumah sakit ini terdiri dari 5 Rumah Sakit Umum Swasta (termasuk RS Kartika Husada), 1 Rumah Sakit Umum Daerah/Negeri, dan 1 Rumah Sakit Mata. Namun, seluruh lokasi 6 Rumah Sakit lainnya yang berada di radius 4 km dari titik pusat kecamatan jatiasih, berada di luar kecamatan Jatiasih sehingga belum dapat ditentukan apakah aksesbilitas ke rumah sakit tersebut aman dari kerawanan banjir.

Rumah Sakit - Distance

Gambar 10. Perkiraan Jarak Antara Rumah Sakit dan Titik Pusat Kecamatan Jatiasih

Berdasarkan analisis distance yang telah dilakukan, diperoleh bahwa Rumah Sakit yang lokasinya tidak berada pada kawasan dengan tingkat kerawanan banjir tinggi berada pada jarak sekitar 3,7 km - 3,8 km dari pusat Kecamatan Jatiasih.

Rumah Sakit - Isokron

Gambar 11. Perkiraan Waktu Tempuh ke Sebaran Rumah Sakit pada Radius 4 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih

Berdasarkan analisis isokron yang dilakukan, diperoleh bahwa perkiaraan jarak tempuh dari titik pusat kecamatan jatiasih ke rumah sakit yang berada pada radius 4 km membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan mobil.

5.2.2 Aksesibilitas Puskesmas

Puskesmas - Radius 2 km

Gambar 12. Sebaran Puskesmas pada Radius 2 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih

Puskesmas - 3 km

Gambar 13. Sebaran Puskesmas pada Radius 3 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih

Berdasarkan Gambar 12 menunjukkan bahwa pada radius 2 km dari titik pusat Kecamatan Jatiasih, hanya terdapat 2 puskesmas, yaitu UPTD Puskesmas Jatimelati dan Puskesmas Jatiluhur. Dimana, Puskesmas Jatiluhur merupakan puskesmas yang dapat diakses karena lokasinya yang berada di wilayah dengan tingkat kerawanan banjir yang sedang - sangat rendah.

Sedangkan, pada radius 3 km dari titik pusat Kecamatan Jatiasih (Gambar 13), terdapat 6 puskesmas. Puskesmas ini terdiri dari 2 puskesmas yang berada di wilayah tingkat kerawanan banjir sedang - sangat rendah, 2 puskesmas berada di wilayah tingkat kerawanan banjir tinggi, dan 2 puskesmas berada di luar kecamatan jatiasih. Dimana 2 puskesmas yang berada di wilayah tingkat kerawanan banjir sedang - sangat rendah terdiri dari Puskesmas Jatiluhur dan UPTD Puskesmas Jatimekar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa 2 puskesmas ini aman untuk diakses saat potensi banjir datang.

Puskesmas - Distance

Gambar 14. Perkiraan Jarak Antara Puskesmas dan Titik Pusat Kecamatan Jatiasih

Berdasarkan analisis distance yang telah dilakukan, diperoleh bahwa lokasi Puskesmas Jatiluhur berada 1 km dari titik pusat kecamatan jatiasih dan lokasi UPTD Puskesmas Jatimekar berada 2,3 km dari titik pusat kecamatan jatiasih.

Puskesmas - Isokron

Gambar 11. Perkiraan Waktu Tempuh ke Sebaran Puskesmas pada Radius 3 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih

Berdasarkan analisis isokron yang dilakukan, diperoleh bahwa perkiraan jarak tempuh dari titik pusat kecamatan jatiasih ke rumah sakit yang berada pada radius 3 km membutuhkan waktu sekitar 17 menit dengan menggunakan mobil.

KESIMPULAN

  • Tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Jatiasih terbagi menjadi 4 tingkat, yaitu tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Kerawanan banjir tingkat tinggi terlihat berada di wilayah - wilayah sekitar sungai, sedangkan kerawanan banjir tingkat sedang hingga sangat rendah terlihat berada di area yang jauh dari sungai. Kelurahan dengan wilayah yang didominasi oleh tingkat kerawanan banjir tinggi, terdiri dari Jati Rasa
  • Persebaran rumah sakit di Jatiasih masih minim, dimana hanya ada 1 rumah sakit yang lokasinya berada pada wilayah administratif kecamatan jatiasih dengan lokasinya yang berada di wilayh dengan tingkat kerawanan banjir tinggi. Aksesibilitas yang aman untuk ke rumah sakit ketika bencana banjir datang hanya memungkinkan mengakses rumah sakit yang berada di luar wilayah administratif kecamatan jatiasih dengan catatan perlu meninjau kembali tingkat kerawanan banjir di lokasi tersebut.
  • Terdapat 2 puskesmas yang dikatakan memiliki aksesiblitas yang aman berdsarkan lokasi terhadap kerawanan banjir, waktu tempuh, dan jaraknya dari titik pusat kecamatan, yaitu Puskesmas Jatiluhur dan UPTD Puskesmas Jatimekar.

DAFTAR PUSTAKA

  • Aldiansyah, S., dan Wardani, F. (2023). Evaluation of Flood Susceptibility Prediction Based on a Resampling Method using Machine Learning. Journal of Water and Climate Change, 14(3), 937-961.
  • Alvin Septian, L.M. Sabri, F. H. (2023). Implementasi Metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process Dalam Pembuatan Peta Ancaman Banjir (Studi Kasus: Kota Bekasi, Jawa Barat). Jurnal Geodesi Undip, 9, 1–12.
  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bekasi. (2022). Data Banjir Kota Bekasi Periode 2017 - 2022. BPBD Kota Bekasi.
  • Darmawan, K., hani’ah, & Suprayogi, A., (2017). Analisis Tingkat Kerawanan Banjir di Kabupaten Sampang Menggunakan Metode Overlay Dengan Scoring Berbasis Sistem Informasi Geografis. Jurnal Geodesi Undip Vol. 6 No.1.
  • Nuraini, A., Saputra, R., dan Mataburu, I. B. (2025). Dampak Alih Fungsi Lahan Terhadap Kerawanan Tanah Longsor Di Kabupaten Bogor Dengan Pendekatan SIG, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, Ilmu-Ilmu Sosial, dan Hukum (SENPISHUM) Tahun 2025.
  • Sari, P. K., Heriyanto, dan Syam, M. A. (2023). Analisis Tingkat Kerawanan Banjir Di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Jurnal Teknik Geologi: Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 6(2), 1-13.
  • Seprianto, M., Anggo, M., Surdin, Harudu. L, dan Aldiansyah, S. (2024). Pemetaan Daerah Potensi Rawan Banjir Menggunakan Metode Overlay, 9(4), 214-226.

Data Publikasi

Analisis Kerawanan Banjir dan Alokasi Pusat Siaga Bencana di Provinsi Aceh

Iklim dan Bencana

06 Apr 2026

Teguh Christianto Simbolon

Analisis Kerawanan Banjir dan Alokasi Pusat Siaga Bencana di Provinsi Aceh

Projek ini mengintegrasikan pemodelan berbasis QGIS dan AI SINI Site Selection untuk melakukan analisis kerawanan banjir di di 23 Kabupaten/Kota Provinsi Aceh. Melalui kompilasi 27 layer geospasial, projek ini membantu memetakan lokasi dengan kapasitas (POI) dan kebutuhan (demografi) yang sesuai untuk dijadikan pusat siaga bencana di daerah-daerah rawan banjir. Projek ini dapat dijadikan sebagai rekomendasi strategis bagi pengambil kebijakan dalam manajemen risiko bencana, khususnya banjir di Provinsi Aceh.

29 menit baca

182 dilihat

3 Data

1 Proyek

Analisis Potensi Area Investasi FnB berbasis spasial di Kabupaten Malang, Jawa Timur

Makanan dan Minuman

07 Apr 2026

Muhammad Ziad

Analisis Potensi Area Investasi FnB berbasis spasial di Kabupaten Malang, Jawa Timur

Analisis Area Potensial Bisnis FnB di Kabupaten Malang

12 menit baca

19 dilihat

1 Proyek

Analisis Lokasi Strategis untuk Pengembangan Kafe sebagai Third Place di Kota Magelang

Makanan dan Minuman

07 Apr 2026

Manda Amelia Rahmadani

Analisis Lokasi Strategis untuk Pengembangan Kafe sebagai Third Place di Kota Magelang

Di mana lokasi terbaik untuk mengembangkan kafe di Kota Magelang? Melalui analisis spasial berbasis MAPID, studi ini mengidentifikasi area paling potensial dengan mempertimbangkan aksesibilitas, aktivitas masyarakat, dan dinamika perkotaan untuk mendukung kafe sebagai third place.

8 menit baca

11 dilihat

1 Proyek

Analisis Spasial Rekomendasi Lokasi Bisnis Cafe dan Restoran di Kota Denpasar, Bali

Barang Konsumsi

06 Apr 2026

Made Swabawa Sarwadhamana

Analisis Spasial Rekomendasi Lokasi Bisnis Cafe dan Restoran di Kota Denpasar, Bali

Dalam konteks perencanaan wilayah dan pengembangan bisnis, pendekatan berbasis analisis spasial menjadi sangat relevan untuk mengidentifikasi lokasi potensial yang optimal. Analisis spasial memungkinkan integrasi berbagai variabel penting seperti kepadatan penduduk, aksesibilitas, pola pergerakan, kedekatan dengan pusat aktivitas, hingga kompetisi eksisting. Dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis, proses evaluasi lokasi dapat dilakukan secara lebih sistematis, objektif, dan terukur.

6 menit baca

53 dilihat

1 Proyek

Syarat dan Ketentuan
Pendahuluan
  • MAPID adalah platform yang menyediakan layanan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk pengelolaan, visualisasi, dan analisis data geospasial.
  • Platform ini dimiliki dan dioperasikan oleh PT Multi Areal Planing Indonesia, beralamat