I. LATAR BELAKANG
Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang sering terjadi di wilayah perkotaan, terutama pada daerah dengan pertumbuhan penduduk yang pesat dan perubahan penggunaan lahan yang signifikan. Kerawanan banjir adalah keadaan yang menggambarkan mudah atau tidaknya suatu daerah terkena banjir berdasarkan faktor-faktor alam yang memengaruhi banjir, antara lain faktor meteorologi (intensitas curah hujan, distribusi curah hujan, frekuensi dan lamanya hujan berlangsung) dan karakteristik daerah aliran sungai (kemiringan lahan/kelerengan, ketinggian lahan, tekstur tanah, penggunaan lahan, curah hujan, dan karakteristik DAS) (Suherlan, 2001 dalam Darmawan dkk., 2017).
Kota Bekasitermasuk wilayah yang memiliki tingkat kerawanan banjir cukup tinggi akibat kondisi topografi relatif datar, curah hujan tinggi, serta keberadaan aliran sungai yang melintasi kawasan permukiman. Kota Bekasi merupakan salah satu kota yang memiliki banyak titik kerawanan banjir yang tinggi, seperti Kecamatan Jatiasih, Jatisampurna, Pondok gede, dan Bantar Gebang (Alvin Septian dan Sabri, 2023). Kecamatan Jatiasih merupakan salah satu wilayah di Kota Bekasi yang tergolong rawan terhadap kejadian banjir. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi tahun 2022, kawasan ini berada di titik pertemuan dua sungai utama, yaitu Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi. Selain itu, berdasarkan Rencana Tata Ruang Kota Bekasi Tahun 2011–2031, Kecamatan Jatiasih diarahkan untuk pengembangan kawasan permukiman serta kegiatan perdagangan dan jasa. Peruntukan tersebut mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan yang semakin intensif, sehingga berdampak pada menurunnya luas area resapan air. Kondisi ini dapat mempengaruhi keterjangkauan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas saat terjadi banjir yang diakibatkan oleh genangan air pada jaringan jalan yang dapat menyebabkan keterlambatan penanganan medis bagi masyarakat yang membutuhkan layanan darurat.
Oleh karena itu, diperlukan analisis tingkat kerawanan banjir yang dikombinasikan dengan analisis aksesibilitas fasilitas kesehatan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi wilayah rawan banjir serta mengetahui tingkat keterjangkauan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi spasial sebagai dasar dalam upaya mitigasi bencana dan peningkatan pelayanan kesehatan di Kecamatan Jatiasih Kota Bekasi.
II. RUMUSAN MASALAH
-
1.Bagaimana tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Jatiasih?
-
2.Bagaimana persebaran serta tingkat aksesibilitas rumah sakit dan puskesmas terhadap wilayah rawan banjir di Kecamatan Jatiasih?
-
3.Fasilitas kesehatan mana yang memiliki akses paling aman serta wilayah mana yang menjadi prioritas karena memiliki kerawanan banjir tinggi dan keterbatasan akses pelayanan kesehatan?
III. TUJUAN PENELITIAN
-
1.Mengidentifikasi dan memetakan tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Jatiasih.
-
2.Menganalisis persebaran serta aksesibilitas rumah sakit dan puskesmas terhadap wilayah dengan tingkat kerawanan banjir berdasarkan jarak, waktu tempuh, dan kondisi genangan di Kecamatan Jatiasih.
-
3.Menentukan fasilitas kesehatan dengan akses paling aman serta mengidentifikasi wilayah prioritas yang memiliki kerawanan banjir tinggi dan keterbatasan akses pelayanan kesehatan.
IV. METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini berada di salah satu kecamatan yang ada di Kota Bekasi yaitu Kecamatan Jatiasih. Adapun peta lokasi penelitian ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Lokasi Penelitian
4.2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Jenis data dan sumber data ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis dan Sumber Data Penelitian
4.3 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik overlay dengan pembobotan dan skoring menggunakan perangkat lunak QGIS 3.40.15. Pembobotan dimaksudkan sebagai pemberian bobot pada masing-masing peta tematik (parameter), untuk bobot dari setiap parameter disajikan dalam (Tabel 2) sedangkan nilai skor/nilai total diperoleh dari hasil perkalian antara pemberian nilai dan bobot sehingga menghasilkan nilai total yang biasa disebut skor. Pemberian nilai pada setiap parameter adalah sama, yaitu 1-5, sedangkan pemberian bobot tergantung pada pengaruh dari setiap parameter yang memiliki faktor paling besar dalam tingkat kerawanan banjir serta mengacu pada berbagai pemberian bobot yang telah dilakukan pada penelitian sebelumnya.
Tabel 2. Nilai dan Bobot Parameter Kerawanan Banjir
Klasifikasi Kemiringan Lereng
Sumber: Sari dkk. (2023)
Klasifikasi Ketinggian Lahan
Sumber: Sari dkk. (2023)
Klasifikasi Jenis Tanah
Sumber: Nuraini dkk (2025)
Klasifikasi Curah Hujan
Sumber: Sari dkk. (2023)
Klasifikasi Penggunaan Lahan
Sumber: Modifikasi Sari dkk. (2023)
Klasifikasi Jarak Buffer Sungai
Sumber: Seprianto (2024)
4.4 Teknik Analisis Tingkat Kerawanan Banjir
Analisis ini dilakukan untuk menentukan tingkat kerawanan dan risiko suatu wilayah terhadap bencana banjir. Nilai kerawanan banjir diperoleh dengan menjumlahkan skor dari keempat parameter yang digunakan. Perhitungan tingkat kerawanan banjir tersebut dilakukan berdasarkan persamaan berikut (Aldiansyah dkk., 2023).
K = Wi x Xi ...(1)
Keterangan:
K = Skor Kerawanan
Wi = Nilai untuk parameter ke-i
Xi = Bobot untuk parameter ke-i
Lebar interval kelas kerawanan banjir ditentukan dengan membagi rentang nilai yang diperoleh dengan jumlah kelas interval yang digunakan, sesuai dengan persamaan berikut.
I = R/n ... (2)
Keterangan:
I = Lebar Interval
R = Selisih Skor Maksimal
n = Jumlah Kelas Kerawanan Banjir
4.5 Teknik Analisis Aksesibilitas Fasilitas Kesehatan
Analisis aksesibilitas fasilitas kesehatan berupa rumah sakit dan puskesmas dilakukan menggunkan Geo MAPID. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan fitur pada Toolbox, yaitu Radius, Distance, dan Isochrone. Analisis awali dengan meakukan overlay antara data vektor kerawanan banjir dengan sebaran data rumah sakit dan puskesmas kota bekasi yan telah tersedia. Fitur Radius digunakan untuk mengidentifikasi sebaran rumah sakit dan puskesmas pada radius terdekat dari pusat kecamatan. Selanjutnya, fitur Distance digunakan untuk mengetahui jarak antara titik rumah sakit dan puskesmas dengan titik pusat kota. Kemudian dilanjutkan dnegan analisis isokron untuk mengetahui perkiraan waktu tempuh antara titik pusat kota dengan titik rumah sakit dan puskesmas.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Analisis Tingkat Kerawanan Banjir
- Hasil Parameter Kemiringan Lereng
Gambar 2. Peta Kemiringan Lereng Kecamatan Jatiasih
- Hasil Parameter Ketinggian Lahan
Gambar 3. Peta Ketinggian Lahan Kecamatan Jatiasih
- Hasil Parameter Jenis Tanah
Gambar 4. Peta Jenis Tanah Kecamatan Jatiasih
- Hasil Parameter Curah Hujan
Gambar 5. Peta Curah Hujan Kecamatan Jatiasih
- Hasil Parameter Penggunaan Lahan
Gambar 6. Peta Curah Hujan Kecamatan Jatiasih
- Hasil Parameter Jarak dari Sungai
Gambar 6. Peta Buffer Sungai Kecamatan Jatiasih
- Hasil Tingkat Kerawanan Banjir
Berdasarkan analisis pembobotan dan skoring pada parameter - parameter kerawanan banjir diperoleh klasifikasi paramater kerawanana banjir pada Kecamatan Jatiasih sebagai berikut (Tabel 3).
Tabel 3. Pembobotan dan Skoring Parameter Kerawanan Banjir Kecamatan Jatiasih
Setelah dilakukan analisis pembobotan dan skoring pada setiap parameter kerawanan banjir, kemudian dilakukan analisis overlay untuk menghasilkan peta kerawanan banjir yang ditunjukkan pada Gambar 7.
Gambar 7. Peta Kerawanan Banjir Kecamatan Jatiasih
Pada peta kemiringan lereng (Gambar 2) menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiasih didominiasi oleh kemiringan lereng Datar (0 - 8 %) dan Landai (8 - 15%) kemudian pada peta ketinggian lahan (Gambar 3) menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiasih didominasi oleh ketinggian 20 - 75 m. Hal ini dapat menjadi pemicu terjadinya banjir karena air hujan dapat mengalir sangat lambat dan air cenderung menggenang.
Pada peta jenis tanah (Gambar 4) menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiasih seluruhnya tersusun atas jenis tanah Nitosol Distrik. Jenis tanah ini terbentuk di daerah semi kering hingga lembab dengan kapasitas infiltrasi 45,6 mm/jam (Obiechefu, Egbuikwem, & Emerson, 2019). Kemudian pada peta curah hujan (Gambar 5) menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiasih memiliki curah hujan 2000 - 3000 mm/ tahun berdasarkan data curah hujan CHIRPS tahun 2020. Kedua hal ini mendukung kerawanan banjir yang tinggi di suatu wilayah (Adimasqie dkk, 2022).
Pada peta penggunaan lahan (Gambar 6) menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kecamatan Jatiasih dimanfaatkan sebagai pemukiman dan hampir seluruh wilayah dikelilingi oleh aliran sungai (Gambar 7). Hal ini menjadi pemicu tingginya tingkat kerawan banjir di wilayah tersebut.
Berdasarkan hasil overlay seluruh parameter kerawanan banjir ditemukan bahwa tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Jatiasih terbagi menjadi 4 tingkat, yaitu tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Kerawanan banjir tingkat tinggi terlihat berada di wilayah - wilayah sekitar sungai, sedangkan kerawanan banjir tingkat sedang hingga sangat rendah terlihat berada di area yang jauh dari sungai.
5.2 Analisis Aksesibilitas Rumah Sakit dan Puskesmas
5.2.1 Aksesibilitas Rumah Sakit
Gambar 8. Sebaran Rumah Sakit pada Radius 3 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih
Gambar 9. Sebaran Rumah Sakit pada Radius 4 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih
Berdasarkan Gambar 8 menunjukkan bahwa pada radius 3 km dari titik pusat Kecamatan Jatiasih, hanya terdapat 1 rumah sakit umum swasta, yaitu RS Kartika Husada. Namun lokasi rumah sakit tesebut berada pada kawasan dengan tingkat kerawanan banjir yang tinggi.
Sedangkan, pada radius 4 m dari titik pusat Kecamatan Jatiasih (Gambar 9), terdapat 7 rumah sakit. Rumah sakit ini terdiri dari 5 Rumah Sakit Umum Swasta (termasuk RS Kartika Husada), 1 Rumah Sakit Umum Daerah/Negeri, dan 1 Rumah Sakit Mata. Namun, seluruh lokasi 6 Rumah Sakit lainnya yang berada di radius 4 km dari titik pusat kecamatan jatiasih, berada di luar kecamatan Jatiasih sehingga belum dapat ditentukan apakah aksesbilitas ke rumah sakit tersebut aman dari kerawanan banjir.
Gambar 10. Perkiraan Jarak Antara Rumah Sakit dan Titik Pusat Kecamatan Jatiasih
Berdasarkan analisis distance yang telah dilakukan, diperoleh bahwa Rumah Sakit yang lokasinya tidak berada pada kawasan dengan tingkat kerawanan banjir tinggi berada pada jarak sekitar 3,7 km - 3,8 km dari pusat Kecamatan Jatiasih.
Gambar 11. Perkiraan Waktu Tempuh ke Sebaran Rumah Sakit pada Radius 4 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih
Berdasarkan analisis isokron yang dilakukan, diperoleh bahwa perkiaraan jarak tempuh dari titik pusat kecamatan jatiasih ke rumah sakit yang berada pada radius 4 km membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan mobil.
5.2.2 Aksesibilitas Puskesmas
Gambar 12. Sebaran Puskesmas pada Radius 2 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih
Gambar 13. Sebaran Puskesmas pada Radius 3 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih
Berdasarkan Gambar 12 menunjukkan bahwa pada radius 2 km dari titik pusat Kecamatan Jatiasih, hanya terdapat 2 puskesmas, yaitu UPTD Puskesmas Jatimelati dan Puskesmas Jatiluhur. Dimana, Puskesmas Jatiluhur merupakan puskesmas yang dapat diakses karena lokasinya yang berada di wilayah dengan tingkat kerawanan banjir yang sedang - sangat rendah.
Sedangkan, pada radius 3 km dari titik pusat Kecamatan Jatiasih (Gambar 13), terdapat 6 puskesmas. Puskesmas ini terdiri dari 2 puskesmas yang berada di wilayah tingkat kerawanan banjir sedang - sangat rendah, 2 puskesmas berada di wilayah tingkat kerawanan banjir tinggi, dan 2 puskesmas berada di luar kecamatan jatiasih. Dimana 2 puskesmas yang berada di wilayah tingkat kerawanan banjir sedang - sangat rendah terdiri dari Puskesmas Jatiluhur dan UPTD Puskesmas Jatimekar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa 2 puskesmas ini aman untuk diakses saat potensi banjir datang.
Gambar 14. Perkiraan Jarak Antara Puskesmas dan Titik Pusat Kecamatan Jatiasih
Berdasarkan analisis distance yang telah dilakukan, diperoleh bahwa lokasi Puskesmas Jatiluhur berada 1 km dari titik pusat kecamatan jatiasih dan lokasi UPTD Puskesmas Jatimekar berada 2,3 km dari titik pusat kecamatan jatiasih.
Gambar 11. Perkiraan Waktu Tempuh ke Sebaran Puskesmas pada Radius 3 km dari Titik Pusat Kecamatan Jatiasih
Berdasarkan analisis isokron yang dilakukan, diperoleh bahwa perkiraan jarak tempuh dari titik pusat kecamatan jatiasih ke rumah sakit yang berada pada radius 3 km membutuhkan waktu sekitar 17 menit dengan menggunakan mobil.
KESIMPULAN
- Tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Jatiasih terbagi menjadi 4 tingkat, yaitu tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Kerawanan banjir tingkat tinggi terlihat berada di wilayah - wilayah sekitar sungai, sedangkan kerawanan banjir tingkat sedang hingga sangat rendah terlihat berada di area yang jauh dari sungai. Kelurahan dengan wilayah yang didominasi oleh tingkat kerawanan banjir tinggi, terdiri dari Jati Rasa
- Persebaran rumah sakit di Jatiasih masih minim, dimana hanya ada 1 rumah sakit yang lokasinya berada pada wilayah administratif kecamatan jatiasih dengan lokasinya yang berada di wilayh dengan tingkat kerawanan banjir tinggi. Aksesibilitas yang aman untuk ke rumah sakit ketika bencana banjir datang hanya memungkinkan mengakses rumah sakit yang berada di luar wilayah administratif kecamatan jatiasih dengan catatan perlu meninjau kembali tingkat kerawanan banjir di lokasi tersebut.
- Terdapat 2 puskesmas yang dikatakan memiliki aksesiblitas yang aman berdsarkan lokasi terhadap kerawanan banjir, waktu tempuh, dan jaraknya dari titik pusat kecamatan, yaitu Puskesmas Jatiluhur dan UPTD Puskesmas Jatimekar.
DAFTAR PUSTAKA
- Aldiansyah, S., dan Wardani, F. (2023). Evaluation of Flood Susceptibility Prediction Based on a Resampling Method using Machine Learning. Journal of Water and Climate Change, 14(3), 937-961.
- Alvin Septian, L.M. Sabri, F. H. (2023). Implementasi Metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process Dalam Pembuatan Peta Ancaman Banjir (Studi Kasus: Kota Bekasi, Jawa Barat). Jurnal Geodesi Undip, 9, 1–12.
- Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bekasi. (2022). Data Banjir Kota Bekasi Periode 2017 - 2022. BPBD Kota Bekasi.
- Darmawan, K., hani’ah, & Suprayogi, A., (2017). Analisis Tingkat Kerawanan Banjir di Kabupaten Sampang Menggunakan Metode Overlay Dengan Scoring Berbasis Sistem Informasi Geografis. Jurnal Geodesi Undip Vol. 6 No.1.
- Nuraini, A., Saputra, R., dan Mataburu, I. B. (2025). Dampak Alih Fungsi Lahan Terhadap Kerawanan Tanah Longsor Di Kabupaten Bogor Dengan Pendekatan SIG, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, Ilmu-Ilmu Sosial, dan Hukum (SENPISHUM) Tahun 2025.
- Sari, P. K., Heriyanto, dan Syam, M. A. (2023). Analisis Tingkat Kerawanan Banjir Di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Jurnal Teknik Geologi: Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 6(2), 1-13.
- Seprianto, M., Anggo, M., Surdin, Harudu. L, dan Aldiansyah, S. (2024). Pemetaan Daerah Potensi Rawan Banjir Menggunakan Metode Overlay, 9(4), 214-226.