Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan

21/08/2023 • Zulvalindan Wirayuda S

Tutupan Lahan

Penggunaan Lahan

Stasiun LRT Dukuh Atas

RTH

Demografi

Commercial

Communication

Crosswalk

Education

Emergency

Financial

Health care

Public

Sport

Transportation

Jalur sepeda

Trotoar

JPO

JPO Service Area (200 m)

Konsep Pengembangan Kawasan TOD Dukuh Atas


Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan
Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan
Pendahuluan

Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan

TOD atau Transit Oriented Development adalah konsep perencanaan perkotaan yang mengintegrasikan pengembangan kawasan dengan sistem transportasi publik, khususnya moda massal seperti kereta api, bus rapid transit, atau light rail transit. Tujuan dari TOD adalah untuk menciptakan kawasan yang ramah pejalan kaki, sepeda, dan angkutan umum, serta mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi yang berdampak negatif terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Kawasan Dukuh Atas merupakan salah satu kawasan strategis di Jakarta yang memiliki potensi untuk menerapkan prinsip TOD, karena lokasinya yang berdekatan dengan beberapa moda transportasi publik, seperti LRT, MRT, Transjakarta, KRL, dan Airport Railink. Selain itu juga berdekatan dengan tiga stasiun transportasi publik, yaitu Stasiun LRT Dukuh Atas, Stasiun MRT Dukuh Atas-BNI City, dan Stasiun KRL Sudirman. Pengoperasian LRT Jabodebek dengan kapasitas penumpang yang cukup besar dapat memiliki dampak positif terhadap pengembangan kawasan Transit-Oriented Development (TOD) seperti Dukuh Atas. Dengan adanya LRT, kemacetan dapat berkurang karena lebih banyak orang akan memilih transportasi umum daripada kendaraan pribadi. Hal ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih ramah lingkungan dan mengurangi polusi udara. Kawasan ini juga memiliki fungsi sebagai pusat bisnis, perdagangan, dan jasa, serta memiliki kepadatan penduduk dan aktivitas yang tinggi. Namun, kawasan ini juga menghadapi beberapa permasalahan, seperti kemacetan lalu lintas, pencemaran udara, kurangnya fasilitas pejalan kaki dan sepeda, serta rendahnya kualitas ruang publik.

Oleh karena itu, penulisan publikasi ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip TOD di kawasan Dukuh Atas, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi pihak-pihak terkait dalam merencanakan dan mengembangkan kawasan Dukuh Atas sebagai kawasan TOD yang berkelanjutan. Perlu diperhatikan pula bahwa pengembangan TOD harus dikelola dengan baik agar tidak mengakibatkan gentrifikasi yang dapat mengusir warga lokal. Perencanaan yang inklusif, regulasi yang bijaksana, dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan lokal sangat penting dalam mengembangkan kawasan TOD yang berkelanjutan dan merata manfaatnya bagi semua kalangan.

Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan
Data dan Metode

Data:

  1. 1.
    Data demografi (Sumber: JakartaSatu)
  1. 2.
    Data tutupan lahan (Sumber: hasil klasifikasi dengan citra satelit)
  1. 3.
    Data penggunaan lahan (Sumber: JakartaSatu)
  1. 4.
    Data ruang terbuka hijau (RTH)  (Sumber: JakartaSatu)
  1. 5.
    Data sebaran crosswalk (Sumber: digitasi manual berdasarkan Google Satellite)
  1. 6.
    Data sebaran Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) (Sumber: digitasi manual berdasarkan Google Satellite)
  1. 7.
    Data jalur sepeda (Sumber: digitasi manual berdasarkan Google Satellite)
  1. 8.
    Data trotoar (Sumber: digitasi manual berdasarkan Google Satellite)
  1. 9.
    Data POI sebaran titik lokasi kegiatan (Sumber: digitasi manual berdasarkan Google Satellite)

Metode:

Metode analisis yang digunakan dalam penulisan publikasi ini ialah metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif analisis geospasial.

Hasil dan Analisis

Salah satu kawasan yang menerapkan prinsip TOD di Jakarta adalah Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas). Kawasan ini merupakan salah satu pusat transportasi publik terpadu yang menghubungkan berbagai moda transportasi, seperti LRT, MRT, Transjakarta, KRL, dan bus antarkota. Kawasan ini juga memiliki potensi untuk menjadi kawasan bisnis, komersial, dan hunian yang berkualitas. Dalam publikasi ini, hasil dan analisis penerapan prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas didapatkan dengan menggunakan beberapa indikator, seperti kepadatan penduduk dan penggunaan lahan, aksesibilitas dan konektivitas transportasi publik, fasilitas jalur sepeda, desain ruang publik dan fasilitas pejalan kaki.

Berikut adalah hasil analisis geospasial yang telah didapatkan:

Analisis Walkability, yaitu analisis untuk mengukur seberapa mudah dan nyaman bagi pejalan kaki untuk bergerak di kawasan TOD. Dengan menggunakan variabel data shp jaringan jalan dan titik titik lokasi fasilitas publik untuk menghitung indeks walkability berdasarkan faktor-faktor seperti kepadatan jalan, konektivitas jalan, aksesibilitas fasilitas publik, dan kualitas trotoar.

Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan

Walkability menggambarkan sejauh mana suatu kawasan mendukung dan memudahkan aktivitas pejalan kaki. Sebuah kawasan dengan tingkat walkability yang tinggi tidak hanya memastikan keamanan bagi pejalan kaki, tetapi juga kenyamanan, aksesibilitas, dan keberlanjutan. Berikut analisis walkability pada kawasan TOD Dukuh Atas:

  • Fasilitas Penyebrangan:

Meskipun kawasan ini telah menyediakan tiga jembatan penyebrangan orang, jumlah ini sangat kurang bila dilihat dari kebutuhan penyebrangan pejalan kaki di seluruh area. Hal ini dapat memaksa pejalan kaki untuk menyeberang di lokasi yang tidak aman, meningkatkan risiko kecelakaan, dan mengurangi kecepatan pergerakan pejalan kaki.

  • Ketersediaan Trotoar:

Positifnya, kawasan ini telah memiliki trotoar di jalanan utama. Namun, keberadaan saja tidak cukup. Kualitas trotoar menjadi kunci. Trotoar yang sempit, tidak rata, atau berlubang dapat menghambat pergerakan dan menjadi potensi bahaya bagi pejalan kaki.

  • Kualitas Bangunan di Sisi Jalan:

Trotoar yang berdampingan dengan muka bangunan yang aktif dan permeabel (misalnya, jendela toko, pintu masuk, dan tampilan estetika yang menarik) cenderung lebih hidup dan aman karena mata publik selalu hadir. Sayangnya, kawasan ini kekurangan muka bangunan yang aktif dan permeabel, yang dapat mengurangi rasa aman dan kenyamanan bagi pejalan kaki.

  • Perlindungan bagi Pejalan Kaki:

Salah satu faktor penting kenyamanan pejalan kaki adalah adanya peneduh atau pelindung dari sinar matahari, hujan, atau angin. Kawasan ini tampaknya kurang dalam aspek ini, sehingga dapat menghambat orang untuk berjalan kaki terutama di cuaca yang kurang mendukung.

Analisis Cycleability, yaitu analisis untuk mengukur seberapa mudah dan nyaman bagi pesepeda untuk bergerak di kawasan TOD. Dengan  menggunakan variabel data shp jaringan jalan dan titik titik lokasi fasilitas publik untuk menghitung indeks cycleability berdasarkan faktor-faktor seperti kepadatan jalan, konektivitas jalan, aksesibilitas fasilitas publik, kualitas jalur sepeda, dan ketersediaan rak sepeda. 

Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan

Cycleability menggambarkan sejauh mana suatu kawasan mendukung aktivitas bersepeda. Suatu kawasan yang memiliki tingkat cycleability yang baik akan memastikan keamanan, kenyamanan, dan aksesibilitas bagi pengguna sepeda. Berikut analisis cycleability pada kawasan TOD Dukuh Atas:

  • Ketersediaan Jalur Sepeda:

Adanya jalur sepeda pada ruas jalan utama kawasan ini adalah suatu tanda positif untuk mendukung kegiatan bersepeda. Namun, ketidakhadiran jalur sepeda di sebagian Jl. H. R. Rasuna Said menimbulkan tantangan bagi para pesepeda untuk menemukan jalur alternatif yang aman.

  • Keamanan Jalur Sepeda:

Salah satu elemen kritikal dalam design jalur sepeda adalah pembatas antara jalur sepeda dengan jalur kendaraan bermotor. Tanpa pembatas, pengguna sepeda rentan terhadap risiko tabrakan dan insiden lainnya. Di kawasan ini, absennya pembatas tersebut menjadi isu utama bagi keamanan para pesepeda.

  • Fasilitas Parkir Sepeda:

Minimnya parkir sepeda, terutama di stasiun angkutan umum, menjadi hambatan bagi pengguna sepeda yang ingin mengkombinasikan moda transportasi mereka. Tanpa fasilitas parkir yang memadai, pesepeda mungkin akan ragu untuk menggunakan sepeda saat bepergian, terutama jika tujuan akhir mereka adalah stasiun angkutan umum atau bangunan-bangunan tertentu.

  • Akses Sepeda ke dalam Gedung:

Fasilitas akses sepeda ke dalam gedung memungkinkan para pesepeda untuk mengamankan sepeda mereka atau bahkan menggunakannya sebagai sarana transportasi di dalam kawasan gedung tertentu. Namun, di kawasan ini, akses sepeda ke dalam gedung sangat terbatas, mengurangi kepraktisan penggunaan sepeda sebagai moda transportasi utama.

Analisis Connectivity, yaitu analisis untuk mengukur seberapa baik kawasan TOD terhubung dengan berbagai moda transportasi publik. Dengan menggunakan variabel data shp jaringan jalan dan titik titik lokasi fasilitas publik untuk menghitung indeks connectivity berdasarkan faktor-faktor seperti jumlah dan jenis moda transportasi publik, jarak antara stasiun-stasiun transportasi publik, frekuensi dan kapasitas layanan transportasi publik, dan kualitas interkoneksi antara moda transportasi publik.

Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan

Konektivitas adalah konsep yang mengacu pada kemudahan dan kenyamanan dalam mengakses dan berpindah antara berbagai mode transportasi, tipe penggunaan lahan, dan tujuan di dalam suatu kawasan perkotaan. Konektivitas dapat diukur melalui indikator seperti kepadatan jaringan, kepadatan persimpangan, indeks konektivitas, pembagian moda, dan sebagainya. Konektivitas dapat memengaruhi tingkat mobilitas, aksesibilitas, efisiensi, dan keberlanjutan di kawasan perkotaan.

Hasil analisis konektivitas di kawasan TOD Dukuh Atas bervariasi tergantung pada metode dan sumber data yang digunakan oleh studi-studi berbeda. Namun, berdasarkan beberapa contoh yang telah kami tinjau, temuan umumnya adalah sebagai berikut:

  • Kawasan TOD Dukuh Atas memiliki tingkat konektivitas yang tinggi dalam hal mode transportasi publik, karena terhubung dengan beberapa moda transportasi publik, seperti MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rail Transit), BRT (Bus Rapid Transit), kereta komuter, kereta bandara, dan bus Transjakarta. Moda-moda ini menyediakan berbagai pilihan dan alternatif bagi penumpang untuk mengakses dan berpindah di dalam dan di luar kawasan TOD.
  • Kawasan TOD Dukuh Atas memiliki tingkat konektivitas yang rendah dalam hal jaringan jalan dan fasilitas pejalan kaki, karena memiliki kepadatan jaringan, kepadatan persimpangan, dan indeks konektivitas yang rendah. Indikator-indikator ini mencerminkan kurangnya integrasi dan kelanjutan jaringan jalan dan fasilitas pejalan kaki di dalam kawasan TOD. Jaringan jalan didominasi oleh jalan arteri yang padat dan memiliki titik akses terbatas. Fasilitas pejalan kaki tidak memadai dan tidak aman, karena sempit, terputus-putus, terhalang, atau bahkan tidak ada. Kondisi ini menciptakan hambatan dan tantangan bagi pejalan kaki untuk berjalan dan mengakses mode transportasi publik serta tipe penggunaan lahan lainnya di dalam kawasan TOD.
  • Kawasan TOD Dukuh Atas memiliki tingkat konektivitas yang sedang dalam hal pembagian moda, karena memiliki distribusi yang seimbang antara mode transportasi publik dan kendaraan pribadi. Pembagian moda mengindikasikan persentase perjalanan yang dilakukan dengan berbagai mode transportasi. Menurut beberapa studi, pembagian moda di kawasan TOD Dukuh Atas sekitar 50% untuk mode transportasi publik dan 50% untuk kendaraan pribadi. Ini berarti masih terdapat ketergantungan yang signifikan pada kendaraan pribadi di kawasan TOD, yang dapat mengurangi potensi manfaat dari implementasi TOD.

Analisis Mixed-Use Development, yaitu analisis untuk mengukur seberapa bervariasi dan seimbang penggunaan lahan di kawasan TOD. Dengan menggunakan variabel data shp penggunaan lahan untuk menghitung indeks mixed use development berdasarkan faktor-faktor seperti jumlah dan jenis guna lahan, proporsi luasan guna lahan, distribusi spasial guna lahan, dan interaksi antara guna lahan. 

Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan

Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan

Analisis pengembangan mixed-use development TOD bertujuan untuk menilai tingkat integrasi dan keragaman penggunaan lahan di kawasan TOD Dukuh Atas. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur hal ini adalah indeks campuran penggunaan lahan (Land Use Mix Index/LUMI), yang berkisar dari 0 hingga 1.

Semakin tinggi nilai LUMI, semakin campur aduk dan beragam penggunaan lahan tersebut.

LUMI dapat dihitung dengan rumus berikut:

di mana Pi adalah proporsi dari setiap tipe penggunaan lahan i.

Berdasarkan data RDTR, nilai LUMI untuk kawasan TOD Dukuh Atas adalah:

LUMI = 1 - [(0.333)^2 + (0.0217)^2 + (0.0004)^2 + (0.161)^2 + (0.0376)^2 + (0.2613)^2]

LUMI = 0.79

Ini berarti bahwa kawasan TOD Dukuh Atas memiliki tingkat campuran penggunaan lahan yang tinggi dan beragam, yang mendukung konsep pengembangan mixed-use development TOD.

Analisis Density and Diversity, yaitu analisis untuk mengukur seberapa padat dan beragam penduduk dan kegiatan di kawasan TOD. Dengan menggunakan variabel data shp demografi untuk menghitung indeks density and diversity berdasarkan faktor-faktor seperti jumlah penduduk, jumlah pekerja, jumlah pelajar, jumlah pengunjung, jenis pekerjaan, jenis pendidikan, jenis hiburan, dan jenis sosial.

Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan

Berdasarkan hasil analisis, kawasan TOD Dukuh Atas memiliki tingkat kepadatan yang cukup tinggi, terutama dalam hal mode transportasi publik dan fungsi perkantoran. Kepadatan penduduk dan kepadatan penggunaan lahan di kawasan ini mencerminkan fokus pada pengembangan berorientasi transit dan penggunaan lahan campuran. Dengan adanya infrastruktur transportasi publik yang beragam, seperti MRT, LRT, dan Transjakarta, kawasan ini mendorong mobilitas tanpa terlalu tergantung pada kendaraan pribadi.

Analisis Compactness, yaitu analisis untuk mengukur seberapa efisien penggunaan lahan di kawasan TOD. Dengan menggunakan variabel data shp penggunaan lahan dan tutupan lahan untuk menghitung indeks compactness berdasarkan faktor-faktor seperti rasio luasan bangunan terhadap luasan lahan (floor area ratio), rasio luasan bangunan terhadap luasan lantai (floor space index), rasio luasan ruang terbuka hijau terhadap luasan lahan (green space ratio), dan rasio luasan ruang terbuka publik terhadap luasan lahan (public space ratio).

Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan

Persentase rasio luasan ruang terbuka hijau terhadap luasan lahan (green space ratio) di kawasan TOD Dukuh Atas adalah sebesar 38.85%. Ruang terbuka hijau memiliki manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi untuk keberlanjutan perkotaan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), standar minimum ruang terbuka hijau per kapita adalah 9 m2. Berdasarkan definisi dan standar ini, rasio ruang terbuka hijau sebesar 38.85% di kawasan TOD Dukuh Atas dapat dianggap tinggi dan melebihi persyaratan minimum. Namun, hal ini tidak secara otomatis berarti bahwa kawasan tersebut memenuhi konsep kekompakan, karena terdapat indikator lain yang perlu diperhitungkan. Misalnya, kepadatan penduduk, campuran penggunaan lahan, dan rasio luas lantai di kawasan tersebut juga dapat memengaruhi tingkat kekompakan. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap semua indikator diperlukan untuk menentukan apakah kawasan TOD Dukuh Atas bersifat kompak atau tidak.

RDTR juga mengatur rasio luas lantai maksimum (Floor Area Ratio/FAR) untuk setiap zona penggunaan lahan di kawasan TOD Dukuh Atas. FAR adalah ukuran kepadatan bangunan yang menunjukkan berapa banyak luas lantai yang dapat dibangun di suatu area lahan tertentu. Semakin tinggi FAR, semakin padat dan kompak pengembangan tersebut. RDTR menetapkan nilai FAR berikut untuk kawasan TOD Dukuh Atas¹:

  • Perumahan: 10
  • Kantor: 15
  • Komersial: 15
  • Fasilitas Umum: 5
  • Ruang Terbuka: 0
  • Transportasi: 0

Analisis Shift, yaitu analisis untuk mengukur seberapa besar perubahan perilaku transportasi masyarakat di kawasan TOD. Dengan menggunakan variabel data shp demografi dan titik titik lokasi fasilitas publik untuk menghitung indeks shift berdasarkan faktor-faktor seperti modal split (persentase penggunaan kendaraan pribadi dan kendaraan umum), trip generation (jumlah perjalanan yang dilakukan oleh masyarakat), trip distribution (tujuan perjalanan yang dilakukan oleh masyarakat), trip mode choice (jenis moda transportasi yang dipilih oleh masyarakat), dan trip assignment (rute perjalanan yang dipilih oleh masyarakat).

Analisis Penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) untuk Mewujudkan Transportasi yang Berkelanjutan

Sebuah studi oleh Hidayat dkk. menggunakan pemodelan persamaan struktural untuk menganalisis perilaku perjalanan terhadap Transit-Oriented Development (TOD) di kawasan TOD Dukuh Atas. Studi tersebut menggunakan beberapa indikator untuk mengukur status sosial ekonomi dan karakteristik penggunaan lahan dari responden yang merupakan penduduk dan pengguna kawasan TOD Dukuh Atas. Studi ini menemukan bahwa perilaku perjalanan di kawasan TOD Dukuh Atas lebih dipengaruhi oleh status sosial ekonomi (0.431) daripada penggunaan lahan di kawasan TOD (0.251). Studi ini juga menemukan bahwa pendapatan, biaya transportasi, dan latar belakang pendidikan adalah variabel sosial ekonomi yang paling berpengaruh.

Kesimpulan
Dari analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) telah memberikan dampak positif terhadap transportasi yang berkelanjutan di Jakarta. Beberapa indikator yang menunjukkan hal ini adalah: peningkatan aksesibilitas dan konektivitas antara moda transportasi umum, serta proporsi penggunaan lahan campuran yang cukup tinggi. Kawasan Dukuh Atas memiliki aksesibilitas yang baik, dengan adanya integrasi antara berbagai moda transportasi publik, seperti LRT, MRT, Transjakarta, KRL, dan bus antarkota. Kawasan ini juga memiliki kepadatan penduduk dan aktivitas yang tinggi, serta keragaman fungsi dan fasilitas yang mendukung kehidupan perkotaan. Namun, masih terdapat beberapa tantangan dan hambatan yang perlu diatasi, seperti: kurangnya fasilitas pejalan kaki dan sepeda, kurangnya integrasi tarif dan informasi antara moda transportasi umum, serta mungkin kurangnya partisipasi dan kesadaran masyarakat terhadap manfaat TOD. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, pengembang, operator transportasi, dan masyarakat untuk meningkatkan penerapan Prinsip TOD di Kawasan Dukuh Atas (Stasiun LRT Dukuh Atas) agar dapat mewujudkan transportasi yang berkelanjutan secara optimal.

1) MODEL SPASIAL LINGKUNGAN BUATAN KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD). .

(2) KONSEP PENATAAN RUANG BERORIENTASI TRANSIT (TRANSIT-ORIENTED .... .

(3) MODEL SPASIAL LINGKUNGAN BUATAN KAWASAN TRANSIT ... - ResearchGate. .

(4) Spatial Modeling for Residential Optimization in Dukuh Atas Transit .... .

(5) Comparative Study: Planning for the Dukuh Atas TOD Area and the OMY .... .

(6) Potensi Pengembangan Kawasan Berbasis Transit Oriented Development di ..../.

(7) Pedestrian and Bicycle Lanes in Transit Oriented Development Area of ....

(8) Hidayat, Y., Afifah, R. R., & Loeis, L. F. (2021). Exploring the Influence of Socioeconomic Factors and Land Use Characteristics on Travel Behavior towards Transit-Oriented Development (TOD). IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 723(1), 012048. doi:10.1088/1755-1315/723/1/012048

Data Publications