1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kota Bandung dikenal sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia yang juga berkembang sebagai tujuan wisata kuliner. Aktivitas pariwisata, mobilitas penduduk yang tinggi, serta berkembangnya kawasan komersial menjadikan kota ini sebagai lingkungan yang dinamis bagi pertumbuhan bisnis food and beverage (F&B). Kondisi tersebut mendorong munculnya berbagai usaha kuliner baru di berbagai wilayah kota.
Dalam bisnis ritel dan kuliner, pemilihan lokasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha. Teori lokasi menjelaskan bahwa aksesibilitas, kepadatan penduduk, serta kedekatan dengan pusat aktivitas dapat mempengaruhi potensi pasar suatu usaha (Christaller, 1966). Selain itu, kajian analisis lokasi bisnis menunjukkan bahwa data demografi dan keberadaan fasilitas sekitar point of interest (POI) dapat digunakan untuk mengidentifikasi peluang usaha pada suatu wilayah (Ghosh & McLafferty, 1987). Pesatnya perkembangan bisnis makanan dan minuman (F&B) di Kota Bandung menyebabkan persaingan antar pelaku usaha semakin tinggi. Dalam kondisi tersebut, pemilihan lokasi usaha menjadi faktor penting yang dapat mempengaruhi keberhasilan bisnis.
Seiring berkembangnya teknologi geospasial, proses pencarian lokasi potensial kini dapat didukung oleh data spasial yang lebih terstruktur. Fitur site selection pada platform Geo Mapid menyediakan informasi demografi serta berbagai kategori POI dalam satuan grid yang dapat menggambarkan karakteristik lingkungan perkotaan. Namun demikian, ketersediaan data tersebut belum secara langsung menunjukkan variabel mana yang memiliki hubungan paling kuat terhadap keberhasilan bisnis F&B.
Oleh karena itu, diperlukan pendekatan analisis yang dapat menguji hubungan antara variabel lingkungan perkotaan dengan indikator keberhasilan usaha. Antar variabel dianalisis menggunakan korelasi Spearman, sehingga diperoleh dasar pembobotan variabel yang lebih terukur untuk mendukung analisis penentuan lokasi usaha. Hasil pembobotan variabel diterapkan pada proses site selection dengan keluaran berupa peta kesesuaian lokasi bisnis F&B di Kota Bandung yang terbagi menjadi 5 kategori kesesuaian. Ditemukan bahwa, lokasi dengan kategori ‘Sangat Sesuai’ terkonsentrasi di satu wilayah kelurahan. Analisis lebih lanjut diterapkan pada kelurahan Citarum dengan melakukan seleksi menggunakan RTRW dan peringkat nilai kesesuaian lalu, dilakukan site analysis terhadap area hasil seleksi. Hasil site analysis memberikan informasi untuk memperkuat alasan area tersebut sangat sesuai untuk dijadikan lokasi bisnis F&B.
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
-
1.Mengidentifikasi hubungan/korelasi antara variabel demografi dan point of interest (POI) terhadap indikator keberhasilan bisnis F&B di Kota Bandung.
-
2.Menentukan bobot variabel berdasarkan hasil uji korelasi untuk digunakan dalam analisis pemilihan lokasi.
-
3.Menghasilkan peta lokasi potensial bisnis F&B melalui pendekatan analisis spasial berbasis data.
2. METODE PENELITIAN
2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di wilayah administrasi Kota Bandung, Jawa Barat. Ditinjau dari indikator global, Kota Bandung termasuk dalam kategori perkotaan dengan tingkat konsentrasi aktivitas yang tinggi berdasarkan klasifikasi Global Human Settlement Layer pada indikator GHS WUP DEGURBA (Degree of Urbanisation) pada website resmi GHSL (https://human-settlement.emergency.copernicus.eu/). Indikator tersebut menunjukkan bahwa wilayah Kota Bandung berada pada kelas urban dengan intensitas aktivitas dan kepadatan yang relatif tinggi. Berikut ini adalah peta (Global Human Settlement Layer) GHSL di kota Bandung.
Secara administratif, Kota Bandung terbagi ke dalam 30 kecamatan dan 151 kelurahan dengan karakteristik wilayah yang beragam. Perbedaan karakteristik antar wilayah mendorong adanya perbedaan pola aktivitas perkotaan serta distribusi fasilitas yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut melatarbelakangi penelitian ini yaitu untuk mengamati hubungan demografi dengan pola aktivitas kota terhadap keberhasilan usaha F&B untuk menentukan lokasi potensial khususnya sektor food and beverage (F&B).
2.2 Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan dua jenis variabel, yaitu variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen mempresentasikan indikator keberhasilan usaha food and beverage (F&B) yang telah beroperasi. Indikator tersebut diperoleh dari jumlah bintang (hasil perkalian rating dengan jumlah ulasan) tiap usaha F&B pada Google Maps. Jumlah bintang digunakan sebagai pendekatan indikator keberhasilan usaha karena mengandung unsur tingkat kepuasan pelanggan terhadap usaha serta popularitas dan volume kunjungan (foot traffic). Koordinat titik sampel diinput pada peta untuk memberikan gambaran persebaran sampel pada penelitian ini. Berikut merupakan hasil penginputan koordinat titik sampel.
Sementara itu, variabel independen terdiri atas data demografi dan data point of interest (POI) setiap grid berukuran 100 meter di Kota Bandung yang tersedia di fitur Site Selection Geo Mapid. Data demografi dan data POI semua jenis kategori tipe 3 diunduh untuk mendapatkan jumlah asli (data raw) tiap grid pada tiap kategori. Data tersebut digunakan sebagai variabel yang akan diuji nilai korelasi terhadap keberhasilan usaha F&B melalui tahapan uji korelasi.
2.3 Metode
Penelitian ini menggunakan metode site selection pada platform Geo Mapid. Menurut Cromley dan McLafferty (2012), analisis pemilihan lokasi dalam sistem informasi geografis dilakukan dengan mengintegrasikan berbagai variabel spasial untuk mengidentifikasi area yang memiliki tingkat kesesuaian tertinggi bagi suatu aktivitas. Pendekatan ini sejalan dengan fitur site selection pada platform MAPID, yang menyediakan informasi spasial seperti data demografi dan point of interest (POI) dalam satuan grid sehingga memungkinkan pengguna menganalisis potensi lokasi secara lebih terstruktur dan berbasis data.
Pada proses site selection, perlu ditentukan variabel dan nilai bobot yang akan digunakan. Untuk memastikan variabel dan bobot dalam pengolahan relevan dan menghasilkan data yang akurat, dilakukan uji korelasi terhadap seluruh variabel yang tersedia di platform Geo Mapid. Variabel hasil perhitungan uji korelasi tersebut digunakan untuk menjalankan fitur site selection sehingga didapatkan grid dengan nilai kesesuaian terhadap pengembangan bisnis F&B. Hasil menunjukkan kelurahan Citarum terisi oleh grid dengan kategori ‘Sangat Sesuai’. Berdasarkan hasil pengolahan, dilakukan analisis lebih lanjut melalui proses site analysis pada kelurahan Citarum. Hasil site analysis berupa visualisasi area potensial untuk pengembangan usaha F&B dengan aspek-aspek yang mempengaruhi aktivitas usaha seperti jaringan jalan, rute angkot, serta zona RTRW.
Proses Uji Korelasi
Pelaksanaan uji korelasi memerlukan variabel independen dan variabel dependen yang masing-masing diperoleh dari sumber yang berbeda. Variabel independen didapatkan dari hasil site selection di Geo Mapid. Sedangkan, data variabel dependen didapatkan dari proses pengambilan sampel usaha F&B di Google Maps. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode Stratified Random Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan membagi populasi ke dalam beberapa kelompok atau strata, kemudian sampel dipilih secara acak dari setiap strata tersebut. Metode ini digunakan untuk memastikan bahwa setiap kelompok dalam populasi dapat terwakili secara proporsional dalam sampel penelitian (Creswell, 2014).. Berikut adalah skema dalam mempersiapkan data variabel agar dapat melakukan perhitungan uji korelasi.
Setelah didapatkan data mentah demografi dan POI pada masing-masing titik sampel yang mengandung informasi nilai jumlah bintang, dilakukan perhitungan uji korelasi menggunakan metode Spearman Rank Correlation. Berikut ini adalah skema dalam melakukan uji korelasi metode Spearman:
Koefisien Spearman Rank Correlation merupakan metode statistik nonparametrik yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan monotonic antara dua variabel berdasarkan peringkat (ranking) data (Field, 2013). Menurut Siegel dan Castellan (1988), korelasi Spearman digunakan ketika data tidak memenuhi asumsi distribusi normal atau ketika hubungan antar variabel lebih tepat dianalisis melalui urutan peringkat daripada nilai absolutnya (Siegel & Castellan, 1988). Metode ini diperkenalkan oleh Charles Spearman dan didasarkan pada peringkat data daripada nilai aktual.
Proses Site Selection
Pada tahap selanjutnya, proses site selection dilakukan di Geo Mapid setelah variabel demografi dan POI beserta bobotnya ditentukan. Penelitian ini menggunakan pengaturan grid berukuran 100 meter. Pemilihan ukuran grid pada proses site selection perlu disesuaikan dengan tingkat kerincian hasil yang diinginkan. Selain itu, perlu diperhatikan pada saat menginput nilai bobot. Nilai positif pada bobot memiliki tanda panah ke atas berwarna hijau, sedangkan nilai negatif memiliki tanda panah ke bawah berwarna merah. Berikut adalah skema pengolahan site selection di Geo Mapid:
Proses Site Analysis
Dalam rangka memudahkan analisis, lokasi dengan kategori ‘Sangat Sesuai’ dipisahkan sehingga area-area potensial untuk bisnis F&B di Kota Bandung dapat terlihat dengan lebih jelas. Area dengan kategori ‘Sangat Sesuai’ berjumlah 195 grid dari total 17.900 grid, dengan persebaran yang cenderung terkonsentrasi di Kelurahan Citarum, yaitu sebanyak 138 dari 195 grid berada dalam batas wilayah kelurahan tersebut. Konsentrasi ini menunjukkan bahwa wilayah Kelurahan Citarum memiliki tingkat kesesuaian yang relatif tinggi untuk pengembangan bisnis F&B berdasarkan variabel yang digunakan dalam analisis.
Proses site analysis selanjutnya difokuskan pada wilayah kelurahan Citarum untuk memperoleh analisis lokasi yang lebih mendalam serta menyesuaikannya dengan kebutuhan pengembangan bisnis, khususnya pada sektor F&B. Site analysis dilakukan dengan memanfaatkan data bangunan, jaringan jalan, rute angkutan umum, serta peta RTRW. Pemanfaatan berbagai data tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi area potensial dengan melakukan seleksi berdasarkan data, khususnya RTRW. Penentuan area potensial dilakukan dengan seleksi area terhadap kesesuaian kategori RTRW peruntukan bisnis dan peringkat kesesuaian yang tinggi.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari uji korelasi metode Spearman berupa koefisien korelasi masing-masing variabel terhadap jumlah bintang yang dimiliki tiap bisnis F&B yang dijadikan sampel. Berdasarkan seleksi terhadap nilai ambang batas, terdapat 44 variabel point of interest (POI) dan 5 variabel demografi yang dianggap berpengaruh terhadap indikator keberhasilan usaha kuliner. Perbedaan jumlah antara variabel demografi dan point of interest (POI) dipengaruhi oleh hubungan antar variabel terhadap indikator keberhasilan.
Variabel point of interest (POI) memiliki hubungan positif atau berbanding lurus. Variabel ini bekerja dengan saling menguatkan satu sama lain, meskipun merupakan variabel dengan kategori yang serupa. Variabel paling berpengaruh antara lain yaitu coffee shop, restoran seafood, dan restoran korea. Variabel dengan nilai pengaruh paling rendah yaitu workshop dan bengkel produksi, optik internasional, serta industri besi dan baja. Berikut adalah daftar variabel point of interest (POI) beserta nilai bobotnya.
Tabel 1. Variabel Point of Interest (POI) Hasil Uji Korelasi dan Pembobotan
Sebaliknya, variabel demografi menunjukkan hubungan negatif atau berbanding terbalik terhadap keberhasilan bisnis F&B. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar jumlah demografi tertentu pada suatu grid, semakin kecil tingkat keberhasilan bisnis F&B pada lokasi tersebut berdasarkan hasil analisis yang dilakukan. Variabel demografi yang memiliki pengaruh paling besar antara lain kelompok pekerjaan guru, kategori belum/tidak bekerja, serta kelompok usia 30–34 tahun. Sementara itu, variabel dengan nilai pengaruh paling rendah antara lain tingkat pendidikan S2, S3, serta kelompok usia 70–74 tahun.. Berikut merupakan daftar variabel demografi beserta nilai bobot yang digunakan dalam analisis.
Tabel 2. Variabel Demografi Hasil Uji Korelasi dan Pembobotan
Penerapan variabel dan nilai bobot hasil uji korelasi pada proses site selection seharusnya menghasilkan analisis lokasi yang lebih sesuai dengan kondisi lapangan. Asumsi tersebut terbukti melalui hasil site selection yaitu peta kesesuaian lokasi terhadap bisnis F&B. Beberapa area pada kota Bandung yang merupakan area lahan terbuka dengan keberadaan permukiman minimum, menunjukkan peringkat kesesuaian lokasi yang rendah. Sebaliknya, area dengan lahan permukiman padat khususnya pusat kota Bandung, menunjukkan peringkat kesesuaian lokasi yang tinggi. Berikut adalah hasil site selection kesesuaian lokasi untuk usaha F&B di kota Bandung.
Berdasarkan hasil Peta Kesesuaian Lokasi dari site selection, kota Bandung terbagi ke dalam lima tingkat kesesuaian untuk pengembangan bisnis F&B. Kelas kesesuaian tertinggi yaitu Sangat Sesuai (≥80) terlihat terkonsentrasi pada area pusat kota Bandung, terutama pada wilayah tengah yang mencakup kawasan sekitar pusat aktivitas perkotaan. Pola ini menunjukkan bahwa area tersebut memiliki kombinasi variabel yang mendukung yaitu, kedekatan dengan berbagai point of interest (POI) yang berpengaruh positif namun, jumlah demografi yang berpengaruh negatif cenderung lebih sedikit. Sementara itu, kelas Tidak Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai lebih banyak tersebar pada bagian utara serta beberapa area di bagian selatan dan timur kota. Persebaran tersebut menunjukkan bahwa wilayah-wilayah tersebut memiliki jumlah demografi yang lebih tinggi namun keberadaan point of interest (POI) sedikit, sehingga tingkat kesesuaiannya untuk pengembangan bisnis F&B juga lebih rendah. Secara umum, hasil ini memperlihatkan bahwa potensi lokasi strategis untuk bisnis F&B di Kota Bandung cenderung terpusat pada area dengan tingkat aktivitas perkotaan yang lebih tinggi.
Hasil klasifikasi kesesuaian lokasi di Kota Bandung yang terbagi menjadi lima kelas memberikan gambaran rekomendasi pengembangan bisnis F&B pada tiap tingkat kesesuaian. Area dengan kategori Sangat Sesuai dapat diprioritaskan untuk pengembangan bisnis F&B karena memiliki dukungan aktivitas dan aksesibilitas yang tinggi. Area dengan kategori Sesuai masih memiliki potensi yang baik untuk pengembangan usaha kuliner dengan skala menengah yang melayani kebutuhan masyarakat sekitar maupun pengunjung kawasan tersebut. Pada kategori Cukup Sesuai, pengembangan bisnis F&B masih memungkinkan namun dengan skala yang lebih terbatas dan lebih berorientasi pada pasar lokal. Sementara itu, area dengan kategori Tidak Sesuai hingga Sangat Tidak Sesuai kurang direkomendasikan untuk pengembangan bisnis F&B karena dukungan variabel yang relatif lebih rendah dibandingkan wilayah dengan tingkat kesesuaian yang lebih tinggi.
Apabila diperhatikan lebih lanjut, peta kesesuaian lokasi menunjukkan terjadinya konsentrasi area dengan kategori ‘Sangat Sesuai’ pada kelurahan Citarum. Kelurahan Citarum merupakan salah satu kawasan pusat aktivitas di Kota Bandung yang memiliki fungsi perkotaan yang cukup beragam. Wilayah ini dikenal sebagai area dengan konsentrasi kegiatan perdagangan, jasa, perkantoran, serta fasilitas publik yang cukup tinggi. Selain itu, keberadaan berbagai pusat perbelanjaan, hotel, kafe, restoran, serta fasilitas pendidikan dan perkantoran menjadikan kawasan ini memiliki tingkat mobilitas dan kunjungan yang tinggi sepanjang hari. Aktivitas tersebut mendorong berkembangnya berbagai model bisnis, khususnya pada sektor kuliner dan layanan pendukung gaya hidup perkotaan, seperti kafe, restoran, kedai kopi, serta usaha makanan cepat saji. Karakter kawasan yang dinamis serta tingginya interaksi masyarakat menjadikan Kelurahan Citarum sebagai salah satu lokasi yang potensial untuk pengembangan bisnis F&B.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa site selection yang didukung dengan variabel teruji, dapat menghasilkan analisis lokasi yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap kondisi lapangan. Lebih lanjut, untuk memberikan analisis lokasi yang lebih dalam, peneliti melakukan proses site analysis. Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik spasial kawasan secara lebih rinci sebagai dasar dalam menentukan lokasi bisnis yang potensial. Berikut adalah hasil visualisasi site analysis area kelurahan Citarum:
Berdasarkan seleksi kategori pada RTRW yang diperuntukkan bagi kegiatan bisnis serta nilai kesesuaian lokasi yang tinggi, terdapat dua area potensial di Kelurahan Citarum, yaitu area di sekitar Bandung Indah Plaza dan kawasan sekitar Superindo Dago. Area pertama berada pada koridor Merdeka–Aceh yang memiliki arus aktivitas tinggi dari pekerja kantor, pengunjung pusat perbelanjaan, serta pengguna transportasi umum. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki potensi untuk pengembangan bisnis F&B yang mampu melayani mobilitas pengunjung dalam jumlah besar. Sementara itu, kawasan kedua di sekitar Superindo Dago dan Four Points by Sheraton Bandung memiliki karakter lingkungan yang relatif lebih tenang dengan dominasi fungsi hotel dan ritel modern, sehingga berpotensi menarik pengunjung dengan daya beli yang lebih tinggi. Perbedaan karakter spasial kedua kawasan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bisnis F&B perlu disesuaikan dengan pola aktivitas serta fungsi kawasan pada masing-masing lokasi.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat diperoleh kesimpulan dan rekomendasi sebagai berikut:
-
1.Hubungan antara variabel demografi dan points of interest (POI) terhadap keberhasilan bisnis food and beverage (F&B) di Kota Bandung dapat diidentifikasi melalui uji korelasi Spearman dengan menggunakan indikator jumlah bintang pada Google Maps. Indikator tersebut mencerminkan tingkat kepuasan dan penilaian pelanggan terhadap kualitas layanan, produk, serta pengalaman yang diberikan oleh suatu bisnis.
-
2.Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan antara variabel demografi dan points of interest dengan indikator keberhasilan bisnis F&B di Kota Bandung. Variabel dengan nilai korelasi tertinggi adalah jumlah guru (ρ = -0,2894), sedangkan nilai korelasi terendah terdapat pada industri besi dan baja (ρ = 0.0016). Nilai korelasi tersebut selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam penentuan bobot variabel pada analisis kesesuaian lokasi.
-
3.Hasil site selection menghasilkan peta lokasi potensial bisnis F&B yang menunjukkan variasi tingkat kesesuaian di Kota Bandung. Tingkat kesesuaian tertinggi berada di Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan. Sebaliknya, tingkat kesesuaian terendah terdapat di beberapa wilayah seperti Kelurahan Dago (Kecamatan Coblong) di bagian utara dan Kelurahan Margasari (Kecamatan Buahbatu) di bagian selatan. Temuan ini menunjukkan bahwa potensi pengembangan bisnis F&B di Kota Bandung cenderung terkonsentrasi pada kawasan pusat aktivitas kota.
DAFTAR PUSTAKA
Christaller, W. (1966). Central places in Southern Germany. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Ghosh, A., & McLafferty, S. L. (1987). Location strategies for retail and service firms. Lexington, MA: Lexington Books.
Siegel, S., & Castellan, N. J. (1988). Nonparametric statistics for the behavioral sciences (2nd ed.). New York: McGraw-Hill.
Cromley, J. L., & McLafferty, S. L. (2012). GIS and public health (2nd ed.). New York, NY: The Guilford Press.
Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Sage Publications.
Field, A. (2013). Discovering Statistics Using IBM SPSS Statistics (4th ed.). London: Sage Publications.