1. Latar Belakang
Jawa Timur memiliki bentang alam pegunungan yang luas dengan berbagai destinasi pendakian yang menjadi tujuan wisata alam dan kegiatan luar ruang. Gunung Semeru, Bromo, Kelud, Ijen, Arjuno, hingga berbagai gunung lainnya memiliki karakteristik medan dan tingkat aktivitas yang berbeda. Kondisi tersebut menjadikan informasi spasial sebagai salah satu komponen penting dalam memahami kawasan pendakian.
Bagi pendaki, informasi mengenai lokasi gunung, jalur, basecamp, dan pos pendakian dapat membantu proses perencanaan perjalanan. Namun, informasi pendakian saja belum memberikan gambaran yang lengkap mengenai kondisi kawasan. Aspek potensi bahaya dan keterjangkauan suatu lokasi juga penting untuk dipertimbangkan, terutama pada kawasan yang memiliki aktivitas vulkanik atau berada di lingkungan dengan potensi bencana alam.
Informasi Kawasan Rawan Bencana (KRB) merupakan salah satu komponen penting dalam mitigasi bencana gunung api. Peta KRB resmi disusun berdasarkan karakteristik bahaya masing-masing gunung dan menjadi salah satu acuan dalam upaya pengurangan risiko bencana. Karena karakteristik bahaya dapat berubah dan informasi kebencanaan dapat diperbarui, pengguna tetap perlu merujuk kepada informasi resmi dari instansi berwenang seperti PVMBG dan BPBD ketika mengambil keputusan terkait keselamatan.
Permasalahan yang kemudian muncul adalah bagaimana menggabungkan informasi pendakian dengan analisis spasial secara interaktif sehingga hubungan antara jalur pendakian, lokasi pendukung, zona risiko, dan jangkauan perjalanan dapat dipahami dalam satu platform.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, dikembangkan East Java Hike Master, sebuah WebGIS yang memadukan pemetaan jalur pendakian dengan analisis spasial berbasis web. Aplikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai peta lokasi gunung, tetapi juga menyediakan analisis Dynamic Buffer untuk memberikan gambaran radius kawasan risiko serta Isochrone untuk mensimulasikan jangkauan perjalanan berjalan kaki dalam rentang waktu tertentu.
Konsep tersebut diharapkan dapat menjadi media yang lebih komunikatif dalam memperkenalkan pemanfaatan teknologi geospasial untuk mendukung kesiapsiagaan dan perencanaan aktivitas di kawasan pegunungan.
2. Data dan Metodologi
2.1 Data yang Digunakan
Pengembangan WebGIS menggunakan beberapa jenis data spasial dan atribut yang saling terintegrasi.
Data utama yang digunakan meliputi:
- Data titik puncak gunung, terdiri dari 10 gunung di Jawa Timur: Semeru, Bromo, Kelud, Ijen, Arjuno, Buthak, Gragal, Cendono, Lorokan, dan Watu Jengger.
- Data jalur pendakian, berupa data garis (trekking routes) yang menggambarkan jalur utama pendakian.
- Data basecamp dan pos pendakian, yang digunakan sebagai informasi pendukung serta titik awal dalam analisis Isochrone.
- Data atribut gunung, seperti nama, elevasi, lokasi administratif, status aktivitas, informasi bahaya, dan parameter radius analisis.
- Basemap, dengan MAPID Satellite Map sebagai basemap utama, serta Topographic Map dan OpenStreetMap sebagai pilihan alternatif.
Data spasial dipersiapkan menggunakan QGIS, kemudian disusun dan diekspor dalam format GeoJSON untuk digunakan pada aplikasi berbasis web. Sistem koordinat geografis yang digunakan adalah WGS 84 (EPSG:4326).
Pemilihan beberapa jenis basemap memungkinkan pengguna melihat kawasan dari perspektif yang berbeda. Citra satelit digunakan untuk memberikan konteks visual kondisi permukaan, peta topografi membantu interpretasi relief kawasan, sedangkan OpenStreetMap memberikan konteks jaringan jalan dan objek geografis.
2.2 Pengolahan Data Spasial
Tahap preprocessing dilakukan menggunakan QGIS untuk memastikan data memiliki struktur dan atribut yang sesuai sebelum diintegrasikan ke dalam aplikasi.
Proses meliputi pemeriksaan geometri, penyusunan atribut, penyesuaian sistem koordinat, pengelompokan layer, serta ekspor ke GeoJSON.
Data kemudian dipisahkan berdasarkan jenis geometri dan fungsi analisis, yaitu:
Point
- Puncak gunung
- Basecamp
- Pos pendakian
Line
- Jalur pendakian
Polygon
- Hasil analisis Dynamic Buffer
- Hasil analisis Isochrone
Struktur tersebut memungkinkan setiap komponen dapat ditampilkan dan dikontrol secara independen pada WebGIS.
2.3 Pengembangan WebGIS
Aplikasi dikembangkan menggunakan HTML, CSS, dan JavaScript dengan MapLibre GL JS sebagai library pemetaan utama.
MapLibre GL JS digunakan untuk mengelola peta interaktif, layer, popup, kontrol navigasi, marker, serta interaksi pengguna.
MAPID Satellite Map digunakan sebagai basemap utama, sedangkan Topographic Map dan OpenStreetMap tersedia sebagai alternatif melalui fitur basemap switcher.
WebGIS juga dilengkapi dengan dashboard dan panel informasi yang membantu pengguna memahami fungsi aplikasi. Layer dapat diaktifkan atau dinonaktifkan sesuai kebutuhan sehingga pengguna dapat melakukan eksplorasi data secara fleksibel.
Secara umum, alur pengembangan dapat digambarkan sebagai berikut:
Pengumpulan Data → Preprocessing QGIS → GeoJSON → Visualisasi MapLibre → Analisis Turf.js & OpenRouteService → WebGIS Interaktif
2.4 Dynamic Buffer
Salah satu fitur analisis utama adalah Dynamic Buffer yang digunakan untuk memberikan gambaran radius area risiko di sekitar lokasi gunung.
Analisis dilakukan secara client-side menggunakan Turf.js. Nilai radius disimpan sebagai atribut pada masing-masing data gunung sehingga polygon buffer dapat dibentuk secara dinamis berdasarkan parameter tersebut.
Dalam implementasinya, radius analisis dibedakan berdasarkan kategori status yang digunakan pada aplikasi, sehingga menghasilkan cakupan area yang berbeda.
Konsep tersebut memungkinkan pengguna melihat bagaimana perubahan radius menghasilkan perubahan luasan area analisis di sekitar titik gunung.
Namun, buffer pada aplikasi merupakan model penyederhanaan berbasis radius, bukan representasi geometris resmi KRB. Kawasan rawan bencana gunung api pada kondisi sebenarnya memiliki bentuk yang dipengaruhi oleh karakteristik sumber bahaya, topografi, arah aliran material, serta faktor geografis lainnya.
Dengan demikian, Dynamic Buffer pada WebGIS ini digunakan sebagai visualisasi analisis spasial dan media edukasi, sementara informasi KRB resmi tetap mengacu pada sumber dari instansi kebencanaan terkait.
2.5 Analisis Isochrone
Fitur analisis kedua adalah Isochrone, yang digunakan untuk menggambarkan area yang secara teoritis dapat dijangkau dari suatu titik awal berdasarkan batas waktu perjalanan.
Analisis dilakukan menggunakan OpenRouteService API dengan mode perjalanan berjalan kaki (foot-hiking/walking). Titik awal analisis berasal dari basecamp atau pos pendakian yang tersedia pada data.
WebGIS menggunakan dua skenario waktu:
- 1 jam
- 2 jam
Hasil analisis berupa polygon jangkauan waktu kemudian divisualisasikan pada peta.
Berbeda dengan buffer yang memiliki bentuk relatif radial, polygon isochrone mengikuti jaringan perjalanan yang tersedia. Oleh karena itu, bentuknya dapat memanjang mengikuti konektivitas jalur dan tidak selalu berbentuk lingkaran.
Dalam konteks mitigasi, hasil ini dapat memberikan gambaran awal mengenai aksesibilitas suatu kawasan berdasarkan waktu perjalanan.
Namun, isochrone tidak dapat dianggap sebagai waktu evakuasi aktual. Kondisi medan, kemiringan lereng, cuaca, kondisi jalur, kemampuan fisik pengguna, hambatan di lapangan, dan situasi darurat dapat menyebabkan waktu perjalanan sebenarnya berbeda dari hasil simulasi.
3. Hasil dan Analisis
3.1 WebGIS Interaktif
Hasil akhir berupa aplikasi East Java Hike Master yang dapat diakses secara publik melalui browser.
Peta utama menggunakan MAPID Satellite Map sehingga pengguna dapat melihat konteks kawasan pegunungan secara visual. Pengguna juga dapat mengganti tampilan menjadi Topographic Map atau OpenStreetMap sesuai kebutuhan.
Pada peta tersedia beberapa layer tematik, yaitu:
-
1.Puncak gunung
-
2.Jalur pendakian
-
3.Basecamp
-
4.Pos pendakian
-
5.Dynamic Buffer
-
6.Isochrone
Kombinasi layer tersebut memungkinkan pengguna melakukan eksplorasi spasial tanpa harus membuka beberapa sumber informasi secara terpisah.
3.2 Informasi Puncak dan Jalur Pendakian
Setiap titik gunung dilengkapi dengan Interactive Popup yang menyajikan informasi utama seperti nama gunung, elevasi, lokasi administratif, status aktivitas, dan informasi bahaya.
Informasi tersebut memberikan konteks terhadap posisi titik pada peta sehingga pengguna tidak hanya melihat lokasi secara visual, tetapi juga dapat memperoleh informasi atribut secara langsung.
Layer jalur pendakian kemudian memberikan konteks mengenai akses menuju kawasan gunung. Integrasi antara titik puncak dan jalur memungkinkan pengguna memahami hubungan antara lokasi tujuan pendakian dan jaringan jalur yang tersedia.
3.3 Visualisasi Risiko dengan Dynamic Buffer
Dynamic Buffer menghasilkan area analisis dengan radius yang berbeda sesuai parameter yang diberikan pada masing-masing gunung.
Secara visual, semakin besar radius yang digunakan, semakin luas area yang tercakup. Hal tersebut memberikan cara sederhana bagi pengguna untuk memahami konsep jarak terhadap pusat risiko.
Ketika layer jalur pendakian ditampilkan bersamaan dengan buffer, pengguna dapat melakukan interpretasi spasial mengenai posisi jalur terhadap area analisis.
Sebagai contoh, jalur yang berada lebih dekat dengan pusat analisis akan lebih mudah dikenali sebagai jalur yang berada dalam cakupan radius. Sebaliknya, jalur yang berada di luar radius dapat terlihat memiliki jarak relatif lebih jauh.
Analisis ini memberikan nilai tambah dibandingkan sekadar menampilkan titik gunung karena pengguna dapat mengeksplorasi hubungan spasial antara objek pendakian dan area di sekitarnya.
3.4 Jangkauan Perjalanan melalui Isochrone
Hasil analisis Isochrone menunjukkan perbedaan jangkauan perjalanan antara skenario 1 jam dan 2 jam.
Area 1 jam menunjukkan wilayah yang secara teoritis dapat dicapai lebih dekat dari titik awal, sedangkan area 2 jam menunjukkan cakupan yang lebih luas karena waktu perjalanan yang tersedia lebih besar.
Bentuk polygon yang mengikuti jaringan perjalanan juga memberikan informasi tambahan mengenai pola aksesibilitas. Area dengan konektivitas jalur yang lebih baik dapat memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan area yang memiliki keterbatasan konektivitas.
Dalam konteks perencanaan pendakian, analisis tersebut dapat digunakan untuk memahami hubungan antara titik awal, jaringan jalur, dan waktu perjalanan.
Dalam konteks mitigasi, konsep yang sama dapat membantu memperkenalkan bagaimana analisis berbasis waktu dapat digunakan untuk mengevaluasi keterjangkauan kawasan.
3.5 Integrasi Analisis Spasial untuk Mitigasi
Keunggulan utama East Java Hike Master terletak pada integrasi berbagai informasi dalam satu peta.
Pengguna dapat menggabungkan:
Gunung → Jalur Pendakian → Basecamp/Pos → Dynamic Buffer → Isochrone
Kombinasi tersebut memungkinkan eksplorasi beberapa pertanyaan spasial secara visual, seperti:
- Di mana lokasi gunung dan jalur pendakiannya?
- Di mana posisi basecamp dan pos pendakian?
- Bagaimana posisi jalur terhadap radius area analisis?
- Seberapa luas area yang dapat dijangkau dalam 1–2 jam berjalan kaki?
- Bagaimana hubungan antara aksesibilitas dan area risiko secara spasial?
Pendekatan ini menunjukkan salah satu manfaat utama WebGIS, yaitu kemampuan untuk menggabungkan data dari berbagai sumber dan menyajikannya dalam bentuk visual yang interaktif.
3.6 Nilai Tambah WebGIS
Dibandingkan peta statis, pendekatan WebGIS memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam eksplorasi data.
Pengguna dapat mengubah basemap, mengaktifkan layer tertentu, memilih objek, melihat atribut melalui popup, serta menjalankan analisis jangkauan perjalanan.
Dari sisi edukasi, pendekatan tersebut dapat membantu memperkenalkan konsep buffer, aksesibilitas berbasis waktu, jaringan perjalanan, dan visualisasi risiko tanpa mengharuskan pengguna memiliki perangkat lunak GIS desktop.
WebGIS juga memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi sistem informasi yang lebih komprehensif apabila nantinya tersedia data kebencanaan dan kondisi jalur yang lebih terperbarui.
4. Kesimpulan
East Java Hike Master berhasil dikembangkan sebagai WebGIS interaktif yang mengintegrasikan pemetaan jalur pendakian dengan analisis spasial pada kawasan gunung di Jawa Timur.
Aplikasi memetakan 10 puncak gunung beserta jalur pendakian, basecamp, dan pos pendakian. Data tersebut kemudian diintegrasikan dengan Dynamic Buffer berbasis Turf.js dan Isochrone berbasis OpenRouteService untuk memberikan perspektif tambahan mengenai radius area analisis dan jangkauan perjalanan berdasarkan waktu.
Penggunaan MAPID Satellite Map sebagai basemap utama, dengan Topographic Map dan OpenStreetMap sebagai alternatif, memberikan fleksibilitas dalam memahami kondisi kawasan dari perspektif citra, topografi, maupun jaringan geografis.
Hasil implementasi menunjukkan bahwa WebGIS dapat menjadi media yang efektif untuk menggabungkan informasi pendakian dan konsep mitigasi dalam satu platform interaktif. Pengguna tidak hanya memperoleh informasi mengenai lokasi dan jalur, tetapi juga dapat melakukan eksplorasi hubungan spasial antara jalur pendakian, area risiko, dan jangkauan perjalanan.
Meskipun demikian, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Dynamic Buffer pada aplikasi merupakan pendekatan penyederhanaan berbasis radius dan bukan pengganti delineasi KRB resmi. Demikian pula, hasil Isochrone merupakan simulasi jangkauan berdasarkan jaringan routing dan tidak merepresentasikan waktu evakuasi aktual di lapangan.
Oleh karena itu, East Java Hike Master diposisikan sebagai media informasi, edukasi, eksplorasi spasial, dan pendukung perencanaan awal pendakian, bukan sebagai sistem peringatan dini atau sumber resmi informasi kebencanaan.
Pengembangan selanjutnya dapat diarahkan pada integrasi data KRB resmi berbasis spasial, data elevasi dan kemiringan lereng, titik evakuasi resmi, kondisi jalur terkini, informasi cuaca, serta pembaruan status aktivitas gunung dari sumber resmi. Integrasi tersebut akan meningkatkan kemampuan sistem dalam memberikan analisis yang lebih kontekstual terhadap kondisi lapangan.
Pada akhirnya, proyek ini menunjukkan bagaimana teknologi geospasial berbasis web dapat digunakan untuk mengubah data spasial menjadi informasi yang lebih mudah dipahami dan diakses, sekaligus membuka peluang pemanfaatan WebGIS sebagai salah satu media pendukung literasi keselamatan dan mitigasi di kawasan pendakian.
5. Daftar Pustaka
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. (2022). Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Semeru. Badan Geologi.
MapLibre. MapLibre GL JS Documentation. https://maplibre.org/maplibre-gl-js/docs/
OpenRouteService. OpenRouteService API Documentation. HeiGIT. https://openrouteservice.org/dev/
OpenStreetMap Foundation. OpenStreetMap. https://www.openstreetmap.org/
Turf.js. Turf.js Documentation. https://turfjs.org/docs/