Estimasi Parameter Vₛ₃₀ dan Analisis Amplifikasi Getaran Tanah pada Infrastruktur Strategis di Sepanjang Sesar Lembang

07 April 2026

By: Fataya Tasya Donita

Open Project

Sesar Lembang

POI

Latar Belakang

Kawasan Bandung Raya, terutama di wilayah Kabupaten Bandung Barat, secara tektonik merupakan salah satu zona dengan risiko gempa bumi paling signifikan di Jawa Barat. Ancaman utamanya berasal dari Sesar Lembang, sebuah patahan aktif sepanjang kurang lebih 29 km yang membentang dari Padalarang hingga Jatinangor. Sesar ini memiliki karakter geser kiri (sinistral) dengan laju pergerakan sekitar 3-6 mm per tahun. Dengan jalur yang membelah kawasan padat penduduk serta infrastruktur vital seperti jaringan listrik dan distribusi air bersih, potensi gempa dari sumber lokal ini menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai.

Tingkat kerusakan akibat gempa di Bandung tidak hanya bergantung pada seberapa besar magnitudonya atau seberapa dekat lokasi dengan garis sesar. Ada faktor lain yang sangat menentukan, yaitu karakteristik batuan dan tanah setempat. Secara geologi, sebagian besar wilayah Bandung berada di atas Cekungan Bandung yang merupakan bekas dasar danau purba. Lingkungan pengendapan ini membentuk lapisan sedimen lunak dengan ketebalan signifikan di atas batuan dasar (bedrock). Struktur cekungan ini menciptakan perbedaan kepadatan yang ekstrem antara lapisan tanah permukaan dengan batuan keras yang ada jauh di bawahnya.

Ketebalan sedimen lunak di atas batuan dasar ini memicu fenomena amplifikasi getaran yang sangat berbahaya bagi bangunan. Secara geofisika, ketika gelombang gempa merambat dari batuan dasar yang kaku masuk ke lapisan sedimen yang belum terkonsolidasi, kecepatannya akan melambat namun amplitudonya justru meningkat drastis. Hal ini menyebabkan energi seismik seolah-olah mengalami perbesaran saat mencapai permukaan. Akibatnya, guncangan yang dirasakan di wilayah dengan lapisan tanah lunak seperti endapan danau (Ql) dan aluvium (Qa) akan jauh lebih kuat dibandingkan di wilayah dengan batuan keras, meskipun jaraknya sama dari sumber gempa.

Selain memperkuat guncangan, struktur sedimen yang tebal juga menyebabkan terjadinya fenomena perangkap energi (energy trapping). Pada batuan dasar yang masif, gelombang gempa cenderung lewat dengan cepat dan segera berakhir. Namun, di dalam Cekungan Bandung, gelombang tersebut terpantul berulang kali di antara permukaan tanah dan batas batuan dasar, sehingga energi seismik tertahan lebih lama di lapisan atas. Kondisi ini memperpanjang durasi guncangan yang dirasakan; getaran yang seharusnya hanya berlangsung beberapa detik dapat meluas hingga hitungan menit. Durasi yang lama inilah yang sangat kritikal bagi integritas infrastruktur, karena struktur bangunan akan mengalami kelelahan material secara terus-menerus hingga mencapai titik runtuh.

Melihat kondisi tersebut, upaya estimasi nilai Vₛ₃₀ menjadi langkah awal mitigasi yang sangat penting untuk wilayah Bandung Barat. Melalui integrasi data kemiringan lereng (slope) dan jenis batuan, pemetaan ini bertujuan untuk memprediksi sebaran area di sepanjang koridor Sesar Lembang yang memiliki kecenderungan amplifikasi getaran tinggi. Meskipun berbasis data regional, identifikasi awal ini sangat krusial sebagai dasar prioritas penguatan infrastruktur strategis, seperti Gardu Induk PLN maupun fasilitas publik lainnya. Dengan pemahaman terhadap zonasi kerentanan tanah tersebut, diharapkan langkah-langkah mitigasi dapat dilakukan lebih terukur untuk menekan risiko kegagalan operasional pelayanan publik jika sewaktu-waktu terjadi aktivitas tektonik pada Sesar Lembang.

Area Penelitian

bandung

Peta Lokasi Penelitian yang menunjukkan jalur Sesar Lembang melewati wilayah administrasi Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Wilayah penelitian secara administratif terletak di kawasan Bandung Raya, mencakup Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung sebagai area yang bersinggungan langsung dengan jalur sesar (Gambar 1). Berdasarkan peta administrasi, jalur aktif Sesar Lembang membentang sepanjang kurang lebih 29 km dengan orientasi Barat-Timur, memotong batas wilayah utara Kabupaten Bandung Barat dan melintasi sisi utara Kabupaten Bandung. Posisi jalur sesar yang membelah wilayah administratif dengan tingkat pertumbuhan pemukiman yang masif ini menjadikan aspek kerentanan seismik sebagai parameter krusial dalam perencanaan tata ruang dan mitigasi bencana di kedua kabupaten tersebut.

peta gologi

Berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar Bandung (Gambar 2), kondisi geologi di sepanjang jalur Sesar Lembang didominasi oleh produk vulkanik Kompleks Gunung Sunda dan Tangkuban Parahu yang bervariasi. Di sisi utara dan tengah sesar, litologi tersusun atas Hasil Gunungapi Tua tak teruraikan (Qvu), Tuf Pasir (Qyd), serta satuan Hasil Gunungapi Muda (Qyl, Qyu, Qyt). Unit-unit ini terdiri dari material seperti breksi gunungapi, lava, serta tufa berlapis atau tufa berbatuapung yang menunjukkan tingkat pemadatan menengah hingga kuat. Pada beberapa area yang dekat dengan fault trace, terdapat singkapan batuan yang lebih keras seperti basal (b1), dasit (d), dan andesit (a). Kontras dengan kondisi tersebut, bagian selatan wilayah penelitian yang merupakan area dataran Cekungan Bandung didominasi oleh Endapan Danau (Ql) yang tersusun atas lempung tufa, batupasir, dan konglomerat. Satuan sedimen Ql ini bersifat lepas, lunak, dan belum terkompaksi, sehingga secara mekanis memiliki nilai kecepatan gelombang geser (Vₛ₃₀) yang rendah dan sangat rentan terhadap fenomena amplifikasi getaran tanah.

Metode Penelitian

Perambatan gelombang gempa sangat bergantung pada berat jenis dan struktur medium yang dilaluinya. Fenomena amplifikasi merupakan perbesaran gelombang seismik yang terjadi akibat adanya perbedaan signifikan antar lapisan litologi; gelombang akan mengalami perbesaran saat merambat dari medium yang lebih keras ke medium yang lebih lunak (Marjiyono, 2011). Secara fisik, nilai faktor penguatan (amplifikasi) tanah berkaitan erat dengan perbandingan kontras impedansi antara lapisan permukaan dengan lapisan di bawahnya. Semakin tinggi kontras impedansi kedua lapisan tersebut, maka nilai faktor penguatan akan semakin besar (Nakamura, 2000). Dalam penelitian ini, parameter Vₛ₃₀ digunakan sebagai indikator utama untuk mengestimasi potensi amplifikasi tersebut berdasarkan karakteristik geologi permukaan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis sistem informasi geografis (GIS) untuk memetakan distribusi kecepatan gelombang geser rata-rata pada kedalaman 30 meter Vₛ₃₀ di sepanjang koridor Sesar Lembang. Tahapan metodologi dibagi menjadi tiga fase utama, yaitu:

  • Pengolahan Data Kemiringan Lereng dan Jenis Batuan. Langkah pertama adalah menyiapkan data kemiringan lereng (slope) yang diproses dari DEMNAS (BIG) beresolusi 8 meter menggunakan perangkat lunak QGIS. Lalu jenis batuan di lokasi penelitian dikelompokkan menggunakan data Peta Geologi Digital (ESDM). Kedua data ini menjadi dasar untuk membedakan karakteristik fisik antara batuan keras dan endapan tanah lunak di permukaan.
  • Estimasi Nilai Vₛ₃₀ (Metode Matsuoka, 2006). Vₛ₃₀ adalah kecepatan gelombang geser rata-rata hingga kedalaman 30 meter (Rahman & Agatha, 2024). Parameter ini digunakan secara luas untuk menilai tingkat amplifikasi getaran pada suatu wilayah saat terjadi gempa bumi (Idriss & Boulanger, 2008). Nilai Vₛ₃₀ dihitung menggunakan rumus regresi linear dari Matsuoka et al. (2006). Metode ini menghubungkan data jenis batuan dengan nilai kemiringan lereng melalui persamaan:
rumus

Metode ini dipilih karena sangat efektif untuk memetakan kekerasan tanah di wilayah yang luas meskipun data pengukuran lapangan langsung (boring/downhole) masih terbatas.

  • Pemetaan Bahaya dan Dampaknya pada Infrastruktur. Setelah nilai Vₛ₃₀ didapat, hasilnya dikelompokkan menjadi kelas situs tanah mengikuti standar SNI 1726:2019. Peta ini kemudian di overlay dengan data lokasi infrastruktur strategis seperti jaringan listrik, pipa air, dan fasilitas publik. Tujuannya adalah untuk memetakan fasilitas mana saja yang berada di zona guncangan tinggi serta melihat hubungannya dengan jarak dari jalur Sesar Lembang. Klasifikasi kelas situs tanah dalam penelitian ini merujuk pada standar SNI 1726:2019, yang membagi profil tanah berdasarkan nilai kecepatan gelombang geser rata-rata Vₛ₃₀ sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1.
kelas vs30

Analisis dalam penelitian ini menggunakan beberapa sumber data sekunder untuk mengintegrasikan aspek geofisika, geologi, dan infrastruktur wilayah. Data utama yang digunakan meliputi:

  1. 1.
    Data Geologi: Menggunakan data vektor (shapefile) Peta Geologi Digital Indonesia yang diunduh dari portal resmi ESDM. Data ini merupakan hasil digitasi dari Peta Geologi Regional Lembar Bandung (Silitonga, 1973) skala 1:100.000.
  1. 2.
    Peta administrasi: Data spasial batas kabupaten/kota hasil digitasi mandiri pada platform Geo MAPID untuk penentuan deliniasi wilayah studi.
  1. 3.
    Data Topografi: Menggunakan DEMNAS (Digital Elevation Model Nasional) dari portal Badan Informasi Geospasial (BIG) dengan resolusi spasial 8 meter.
  1. 4.
    Data Infrastruktur: Data sebaran fasilitas strategis di wilayah Bandung Barat yang diintegrasikan melalui platform Geo MAPID menggunakan fitur POI (Point of Interest).

Hasil dan Pembahasan

Analisis Distribusi Nilai Vₛ₃₀

  • Berdasarkan hasil estimasi menggunakan metode Matsuoka et al. (2006) dengan titik acuan batuan dasar Tersier pada Gunung Masigit, diperoleh distribusi nilai Vₛ₃₀ yang bervariasi di sepanjang jalur penelitian, di mana variasi tersebut berkorelasi erat dengan karakteristik batuan dasar dan jenis endapan permukaannya. Secara terperinci, sebaran nilai tersebut dibagi menjadi tiga zona utama sebagai berikut:
  • Zona Tanah Sedang pada Endapan Danau (Ql) dan Tufa Pasir (Qyt) (Vₛ₃₀ : 175 – 350 m/s)

Berdasarkan hasil pemetaan, Kelas Situs SD (Tanah Sedang) mendominasi sebagian besar wilayah cekungan, yang mencakup dua formasi geologi utama yaitu Endapan Danau (Ql) dan sebagian besar formasi Tufa Pasir (Qyt). Nilai Vₛ₃₀ pada rentang ini menunjukkan bahwa material vulkanik produk gunung api muda (Qyt) di wilayah penelitian memiliki tingkat kepadatan yang hampir serupa dengan endapan lempung danau. Hal ini mengindikasikan bahwa material tufa tersebut belum mengalami proses sementasi yang kuat, sehingga masih bersifat lepas dan porus. Karena zona ini sangat luas, potensi amplifikasi gelombang gempa tidak hanya terbatas di pusat cekungan (bekas danau), tetapi juga meluas ke area lereng bawah yang tersusun oleh material tufa. Hal ini memperluas zona risiko guncangan tinggi di sekitar Sesar Lembang.

  • Zona Tanah Keras pada Formasi Vulkanik Tua (Vₛ₃₀ : 350 – 750 m/s)

Zona ini diklasifikasikan sebagai Kelas Situs SC (Tanah Keras) dan tersusun oleh berbagai formasi vulkanik yang lebih tua dan masif, seperti Qvu dan Qyu (Hasil Gunung Api Tak Teruraikan), Qyd dan Qyl (Produk Tangkuban Parahu), serta Qob (Produk Gunung Api Lebih Tua). Keberadaan material seperti aliran lava, breksi, dan tufa yang mengandung obsidian pada formasi-formasi tersebut menjadikan batuannya lebih masif dan padat dibandingkan endapan di dataran. Meskipun zona ini memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap perambatan gelombang seismik dibandingkan zona tanah sedang, posisinya sebagai area transisi tetap memerlukan perhatian khusus karena karakteristik batuannya yang sudah mulai mengalami pelapukan di permukaan namun tetap memiliki ikatan antar butir yang cukup kuat di bagian dalam.

  • Zona Batuan pada Formasi Batuan Tersier (Vₛ₃₀ 750 – 1500 m/s)

Wilayah ini dikategorikan sebagai Kelas Situs SB (Batuan), yang diwakili oleh litologi Formasi Jampang (Md). Kecepatan gelombang geser yang tinggi di zona ini menunjukkan densitas batuan yang solid dengan rongga antar butir yang sangat kecil, sehingga lebih stabil terhadap guncangan dibandingkan area sedimen. Fenomena unik ditemukan pada munculnya titik terlokalisasi litologi Formasi Jampang (Md) yang tersingkap di tengah luasnya hamparan Endapan Danau (Ql). Secara geologis, kemunculan Md di tengah pusat cekungan ini mengindikasikan adanya struktur batuan dasar (basement high) yang menyembul ke permukaan atau merupakan sisa morfologi perbukitan purba yang tidak tertutup sepenuhnya oleh sedimentasi danau Kuarter.

vs30

Hubungan Spasial Jalur Sesar dan Kondisi Tanah

Peta distribusi Vₛ₃₀ menunjukkan bahwa jalur utama Sesar Lembang membelah variasi kelas situs yang didominasi oleh Tanah Sedang (SD) dan Tanah Keras (SC). Terdapat kontras impedansi yang signifikan di sepanjang jalur patahan (fault trace), terutama pada batas antara batuan vulkanik di sisi utara dan akumulasi sedimen Cekungan Bandung di sisi selatan. Fenomena ini menyebabkan energi guncangan cenderung "terperangkap" dan membesar pada lapisan sedimen, yang secara langsung meningkatkan risiko kerusakan pada infrastruktur di atasnya. Secara fisik, perambatan gelombang gempa sangat bergantung pada berat jenis dan struktur medium yang dilaluinya. Meskipun kekuatan gempa secara alami melemah seiring bertambahnya jarak dari sumber (attenuation), posisi Kota Bandung yang hanya berjarak sekitar 3 km dari jalur utama sesar menjadikannya sangat rentan terhadap kelumpuhan aktivitas jika terjadi gempa bumi.

Kesesuaian antara karakteristik geologi permukaan dengan tingkat kerentanan guncangan ini diperkuat oleh riset Marjiyono & Afnimar (2011) dari Pusat Survei Geologi ESDM. Melalui pengukuran mikrotremor di 97 titik, Marjiyono menemukan bahwa faktor penguatan (amplifikasi) di Kota Bandung berkisar antara 2,1 hingga 17 kali lipat. Angka ini berkorelasi langsung dengan temuan dalam penelitian ini, di mana wilayah dengan nilai Vₛ₃₀ rendah (Kelas Situs SD) seperti di Kawasan Asia-Afrika menunjukkan faktor penguatan sebesar 4,1.

Kondisi paling ekstrem ditemukan pada wilayah Gedebage, yang dalam peta Vₛ₀ (Gambar 3) teridentifikasi sebagai zona Endapan Danau (Ql) dengan nilai kecepatan gelombang geser terendah. Hal ini menjelaskan mengapa Marjiyono & Afnimar mencatat faktor penguatan tertinggi sebesar 16,5 di lokasi tersebut. Artinya, jika terjadi aktivitas Sesar Lembang dengan magnitudo 6,8, efek guncangan yang dirasakan di Gedebage dapat mencapai 16,5 kali lipat lebih besar dibandingkan wilayah dengan batuan keras seperti di Lembang atau Gunung Masigit. Kontras antara nilai Vₛ₃₀ yang rendah pada sedimen lunak dengan batuan dasar Tersier (seperti titik Md yang ditemukan) menjadi bukti fisik utama bahwa struktur bawah permukaan Bandung bertindak sebagai "amplifayer" alami yang memperparah risiko bencana seismik.

Analisis Risiko Infrastruktur Strategis Menggunakan Fitur POI pada Geo MAPID

Hasil overlay antara peta klasifikasi situs dengan data Point of Interest (POI) yang diintegrasikan melalui platform Geo MAPID menunjukkan sebaran infrastruktur kritis di wilayah penelitian yang berada pada zona kerentanan tinggi. Analisis spasial terhadap berbagai kategori bangunan strategis menunjukkan titik-titik kritis sebagai berikut:

Sektor Keamanan dan Manajemen Bencana

Berbagai objek vital pendukung penanggulangan bencana seperti kantor BPBD, BNPB, BASARNAS, serta pos Pemadam Kebakaran teridentifikasi berada di zona yang terpapar risiko guncangan. Selain itu, fasilitas penegakan hukum dan pertahanan seperti gedung Polsek, Polres, Kodim, dan Koramil juga tersebar di sepanjang koridor penelitian. Keberadaan fasilitas ini sangat krusial; jika bangunan-bangunan ini mengalami kerusakan struktural akibat nilai Vₛ₃₀ yang rendah (Kelas SD), maka koordinasi evakuasi dan mobilisasi bantuan di wilayah Bandung Raya dapat mengalami kelumpuhan total saat masa tanggap darurat.

Sektor Kesehatan dan Pelayanan Publik

Sarana kesehatan yang meliputi Rumah Sakit, Klinik, Puskesmas, hingga Apotek ditemukan banyak berdiri di atas satuan Ql dan Qyt. Padahal, fasilitas kesehatan merupakan garis pertahanan utama dalam penanganan korban gempa. Begitu pula dengan pusat administrasi seperti Kantor Kecamatan dan Kelurahan yang berfungsi sebagai titik koordinasi logistik di tingkat lokal. Kerentanan pada struktur bangunan ini, yang dipicu oleh penguatan gelombang seismik pada tanah sedang, meningkatkan risiko kegagalan fungsi pelayanan publik di saat masyarakat paling membutuhkannya.

Sektor Energi, Komunikasi, dan Utilitas

Infrastruktur jaringan seperti Menara BTS dan Menara SUTET memiliki peran vital dalam menjaga konektivitas informasi dan distribusi listrik. Analisis menunjukkan adanya jalur transmisi energi dan utilitas, termasuk Instalasi Pengolahan Air dan SPBU, yang melintasi zona dengan karakteristik tanah lunak. Kerusakan pada menara komunikasi atau kebocoran pada instalasi pengolahan air dan pipa energi dapat memicu bencana ikutan (collateral hazard) seperti pemutusan akses informasi, krisis air bersih, hingga risiko kebakaran di area padat penduduk.

POI

Secara umum, analisis ini menekankan bahwa jarak dari sumber sesar bukan merupakan satu-satunya penentu risiko kerusakan. Infrastruktur yang berada pada jarak yang relatif jauh namun berdiri di atas tanah dengan nilai Vₛ₃₀ rendah dapat mengalami dampak guncangan yang setara dengan bangunan yang dekat dengan sesar namun berada di atas batuan keras. Oleh karena itu, audit struktur dan penguatan (retrofitting) pada seluruh bangunan strategis tersebut, terutama yang berada pada zona Kelas SD, harus menjadi prioritas utama dalam upaya mitigasi bencana yang berkelanjutan di wilayah Bandung Raya.

Pembahasan ini menekankan bahwa jarak dari sesar bukan satu-satunya faktor penentu risiko. Infrastruktur yang berada cukup jauh dari sesar namun berdiri di atas tanah lunak (Vₛ₃₀ rendah) bisa mengalami kerusakan yang sama parahnya dengan bangunan yang dekat dengan sesar namun berdiri di atas batuan keras. Oleh karena itu, audit struktur bangunan strategis di zona Vₛ₃₀ < 175 m/s harus menjadi prioritas mitigasi.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis spasial dan pemetaan Vₛ₃₀ di sepanjang koridor Sesar Lembang, dapat ditarik beberapa kesimpulan utama sebagai berikut:

  1. 1.
    Variasi Karakteristik Tanah: Wilayah penelitian didominasi oleh dua kelas situs utama, yaitu Tanah Sedang (SD) dengan rentang nilai Vₛ₃₀ 175 – 350 m/s dan Tanah Keras (SC) dengan rentang nilai 350 – 750 m/s. Nilai terendah ditemukan pada zona Endapan Danau (Ql) dan Tufa Pasir (Qyt), sedangkan nilai tertinggi (> 750 m/s) terlokalisasi pada batuan dasar Tersier seperti Formasi Jampang (Md).
  1. 2.
    Potensi Amplifikasi Seismik: Terdapat korelasi yang kuat antara kondisi geologi permukaan dengan tingkat risiko guncangan. Area dengan nilai Vₛ₃₀ rendah (Kelas SD) memiliki potensi penguatan guncangan (amplifikasi) yang signifikan. Hal ini sejalan dengan riset Marjiyono (2011) yang menunjukkan faktor penguatan hingga 16,5 kali lipat di wilayah sedimen lunak seperti Gedebage, dibandingkan dengan wilayah batuan masif.
  1. 3.
    Kerentanan Infrastruktur Strategis: Hasil overlay menggunakan fitur POI Geo MAPID menunjukkan bahwa banyak aset vital, mulai dari fasilitas keamanan (Polres/Kodim), kesehatan (RS/Puskesmas), hingga utilitas energi (SUTET/SPBU), berdiri di atas tanah dengan klasifikasi SD. Hal ini mengindikasikan bahwa risiko kerusakan bangunan strategis tidak hanya ditentukan oleh jarak dari jalur sesar, tetapi juga oleh kondisi tanah setempat (local site effect).
  1. 4.
    Implikasi Mitigasi: Mengingat posisi Kota Bandung yang hanya berjarak 3 km dari jalur utama Sesar Lembang, audit struktur bangunan dan penguatan infrastruktur pada zona Kelas SD menjadi langkah mitigasi yang mendesak. Data spasial Vₛ₃₀ ini dapat dijadikan sebagai landasan teknis dalam penyusunan kebijakan tata ruang dan standar konstruksi tahan gempa di wilayah Bandung Raya.

Daftar Pustaka

Badan Standarisasi Nasional. (2019). Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Struktur Bangunan Gedung dan Nongedung. Sni, 1726, 2019.

Idriss, I. M., & Boulanger, R. W. (2008). Soil liquefaction during earthquakes. Earthquake Engineering Research Institute.

Marjiyono, M., & Afnimar, A. (2011). MIKROZONASI BAHAYA GEMPA BUMI DI WILAYAH KOTA BANDUNG BERDASARKAN DATA MIKROTREMOR. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, 21(1), 41-49.

Matsuoka, M., WAKAMATSU, K., Fujimoto, K., & MIDORIKAWA, S. (2006). Average shear-wave velocity mapping using Japan engineering geomorphologic classification map. Structural Engineering/Earthquake Engineering, 23(1), 57s-68s.

Nakamura, Y. (2000). Clear identification of fundamental idea of Nakamura’s technique and its applications. In Proceedings of the 12th world conference on earthquake engineering (Vol. 2656, pp. 1-8).

Rahman, A. S., & Agatha, M. J. M. (2024). PEMODELAN AMBLASAN TANAH DI WILAYAH DKI JAKARTA BERDASARKAN KECEPATAN GELOMBANG GESER RATA-RATA HINGGA KEDALAMAN 30 METER (Vs30) USGS: PEMODELAN AMBLASAN TANAH DI WILAYAH DKI JAKARTA BERDASARKAN KECEPATAN GELOMBANG GESER RATA-RATA HINGGA KEDALAMAN 30 METER (Vs30) USGS. Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, 4(1), 20-27.

Data Publikasi

Analisis Kerawanan Banjir dan Alokasi Pusat Siaga Bencana di Provinsi Aceh

Iklim dan Bencana

06 Apr 2026

Teguh Christianto Simbolon

Analisis Kerawanan Banjir dan Alokasi Pusat Siaga Bencana di Provinsi Aceh

Projek ini mengintegrasikan pemodelan berbasis QGIS dan AI SINI Site Selection untuk melakukan analisis kerawanan banjir di di 23 Kabupaten/Kota Provinsi Aceh. Melalui kompilasi 27 layer geospasial, projek ini membantu memetakan lokasi dengan kapasitas (POI) dan kebutuhan (demografi) yang sesuai untuk dijadikan pusat siaga bencana di daerah-daerah rawan banjir. Projek ini dapat dijadikan sebagai rekomendasi strategis bagi pengambil kebijakan dalam manajemen risiko bencana, khususnya banjir di Provinsi Aceh.

29 menit baca

226 dilihat

3 Data

1 Proyek

Analisis Potensi Area Investasi FnB berbasis spasial di Kabupaten Malang, Jawa Timur

Makanan dan Minuman

07 Apr 2026

Muhammad Ziad

Analisis Potensi Area Investasi FnB berbasis spasial di Kabupaten Malang, Jawa Timur

Analisis Area Potensial Bisnis FnB di Kabupaten Malang

12 menit baca

37 dilihat

1 Proyek

Analisis Lokasi Strategis untuk Pengembangan Kafe sebagai Third Place di Kota Magelang

Makanan dan Minuman

07 Apr 2026

Manda Amelia Rahmadani

Analisis Lokasi Strategis untuk Pengembangan Kafe sebagai Third Place di Kota Magelang

Di mana lokasi terbaik untuk mengembangkan kafe di Kota Magelang? Melalui analisis spasial berbasis MAPID, studi ini mengidentifikasi area paling potensial dengan mempertimbangkan aksesibilitas, aktivitas masyarakat, dan dinamika perkotaan untuk mendukung kafe sebagai third place.

8 menit baca

38 dilihat

1 Proyek

Analisis Spasial Rekomendasi Lokasi Bisnis Cafe dan Restoran di Kota Denpasar, Bali

Barang Konsumsi

06 Apr 2026

Made Swabawa Sarwadhamana

Analisis Spasial Rekomendasi Lokasi Bisnis Cafe dan Restoran di Kota Denpasar, Bali

Dalam konteks perencanaan wilayah dan pengembangan bisnis, pendekatan berbasis analisis spasial menjadi sangat relevan untuk mengidentifikasi lokasi potensial yang optimal. Analisis spasial memungkinkan integrasi berbagai variabel penting seperti kepadatan penduduk, aksesibilitas, pola pergerakan, kedekatan dengan pusat aktivitas, hingga kompetisi eksisting. Dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis, proses evaluasi lokasi dapat dilakukan secara lebih sistematis, objektif, dan terukur.

6 menit baca

76 dilihat

1 Proyek

Syarat dan Ketentuan
Pendahuluan
  • MAPID adalah platform yang menyediakan layanan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk pengelolaan, visualisasi, dan analisis data geospasial.
  • Platform ini dimiliki dan dioperasikan oleh PT Multi Areal Planing Indonesia, beralamat