[GEODATA] Kerentanan Sosial Akibat Letusan Gunung Api Di Indonesia

30/05/2024 • MAPID

Wilayah Terancam Bahaya Gunung Api di Indonesia

Kerentanan Sosial Gunung Api di Indonesia


Kerentanan Sosial Akibat Letusan Gunung Api di Indonesia
Kerentanan Sosial Akibat Letusan Gunung Api di Indonesia

Apakah Sobat MAPID tahu istilah Ring of Fire? Istilah ini digunakan untuk menggambarkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan aktivitas vulkanik tertinggi di dunia. Dengan lebih dari 50 gunung api aktif, masyarakat Indonesia harus selalu waspada terhadap ancaman letusan gunung api dan bencana vulkanik lainnya. Baru-baru ini, letusan Gunung Ruang dan Marapi menambah panjang daftar kejadian letusan gunung api di Indonesia. Menghadapi ancaman vulkanik yang terus-menerus, ketersediaan data yang akurat dan terkini menjadi sangat penting untuk mengidentifikasi sejumlah area yang terancam bahaya.

Sobat MAPID, tahu nggak kalau MAPID saat ini mempunyai data tentang kerentanan sosial di wilayah yang terancam bahaya gunung api di Indonesia? Salah satu aspek yang menjadi kriteria penilaian risiko bencana adalah data kerentanan sosial. Data ini sangat penting untuk memahami kondisi sosial-demografi yang paling rentan terhadap bencana vulkanik. Data ini mencakup informasi tentang kepadatan penduduk, usia, jenis kelamin, dan tingkat kemiskinan di daerah berisiko. Yuk, kita simak bersama-sama bagaimana data ini menjadi salah satu hal krusial dalam aspek mitigasi bencana di Indonesia!

Mengidentifikasi Bahaya Erupsi dan Kerentanan Sosial

Bahaya Gunung Api di Indonesia

Bahaya gunung api dibedakan menjadi bahaya primer (langsung) dan bahaya sekunder (tidak langsung). Bahaya primer merupakan bahaya yang diakibatkan secara langsung oleh produk erupsi gunung api, sedangkan bahaya sekunder merupakan bahaya yang diakibatkan secara tidak langsung oleh produk erupsi gunung api, yaitu lahar dan longsoran gunung api. Semua jenis produk erupsi merupakan elemen bahaya yang dapat mengancam berbagai jenis objek bencana. Elemen bahaya ini dibagi menjadi tiga, yaitu KRB III, KRB II, dan KRB I.

Kawasan rawan bencana gunung api berdasarkan Peraturan Menteri ESDM tahun 2012 dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu:

  1. 1.
    Kawasan Rawan Bencana I: Kawasan ini berpotensi terlanda lahar, tertimpa hujan abu, dan air dengan keasaman tinggi. Apabila letusan membesar, kawasan ini berpotensi terlanda perluasan awan panas dan material jatuhan berupa hujan abu lebat serta lontaran batu pijar.
  1. 2.
    Kawasan Rawan Bencana II: Kawasan ini berpotensi terlanda awan panas dengan intensitas sedang jika ada perluasan, aliran lava, lontaran batu pijar, guguran lava, hujan abu lebat, hujan lumpur panas, aliran lahar, dan gas beracun dengan intensitas sedang.
  1. 3.
    Kawasan Rawan Bencana III: Kawasan ini sangat berpotensi terlanda awan panas dengan intensitas tinggi, aliran lava, hujan lumpur, hujan abu lebat, lontaran batu pijar, dan gas beracun dengan intensitas tinggi.

Penilaian elemen bahaya dilakukan dengan cara pembobotan (nilai relatif) masing-masing wilayah KRB gunung api berdasarkan tingkat ancamannya. Peta bahaya letusan gunung api dibuat berdasarkan penggabungan data peta elemen bahaya, yaitu zona landaan dan zona lontaran. Penentuan indeks bahaya erupsi atau letusan gunung api menggunakan persamaan berikut:

Persamaan Indeks Bahaya Gunung Api

Penentuan indeks bahaya letusan gunung api mengacu pada pedoman yang dikeluarkan oleh PVMBG (2014) menggunakan metode pembobotan zona KRB. Masing-masing zona KRB (zona I, II, III) terdiri dari zona aliran dan zona jatuhan yang diberi nilai bobot berbeda berdasarkan tingkat kerawanannya.

Elemen Bahaya Gunung Api

Kategori tinggi rendah ini ditampilkan dalam bentuk nilai indeks dengan rentang dari 0 – 1, dengan keterangan sebagai berikut:

  1. 1.
    Kategori Kelas Bahaya Rendah: 0 - 0,333
  1. 2.
    Kategori Kelas Bahaya Sedang: 0,334 - 0,666
  1. 3.
    Kategori Kelas Bahaya Tinggi: 0,667 - 1

Sumber data yang digunakan berasal dari PVMBG. Penyusunan bahaya dilakukan menggunakan analisis overlay (tumpang susun) dari parameter penyusun bahaya. Agar dihasilkan indeks dengan nilai 0-1, tiap parameter dinilai berdasarkan besarnya pengaruh parameter tersebut terhadap bahaya.

Mengidentifikasi Kerentanan Sosial

Selanjutnya, kami mencoba mengidentifikasi tingkat kerentanan sosial di setiap desa yang terdampak letusan gunung api, berdasarkan data gunung api yang kami miliki. Kami menerapkan metode skoring dan pembobotan yang diadaptasi dari metodologi analisis kerentanan bencana pada buku "Risiko Bencana Indonesia (RBI)" yang telah diterbitkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2016. Berdasarkan buku tersebut, kerentanan sosial terdiri dari parameter kepadatan penduduk dan kelompok rentan. Parameter kepadatan penduduk sendiri kami penuhi menggunakan data demografi tahun 2023, dengan cara membagi jumlah penduduk setiap desa oleh luas desa tersebut (Psst, ini kami lakukan pada GEO MAPID, lho!). Sementara itu, parameter penduduk kelompok rentan yang kami gunakan antara lain:

  1. 1.
    Rasio Penduduk Miskin: Variabel ini kami hitung berdasarkan data jumlah penduduk miskin setiap kota yang disediakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023. Kemudian, nilai rasio yang didapatkan kami bagi ke dalam tiga kelompok dengan metode klasifikasi equal interval.
  1. 2.
    Rasio Jenis Kelamin: Variabel ini menilai kerentanan berdasarkan rasio jenis kelamin penduduk dengan memperhatikan bahwa perbedaan jumlah laki-laki dan perempuan dapat mempengaruhi kemampuan evakuasi. Kami juga membagi variabel ini menjadi tiga tingkatan, yaitu rasio jenis kelamin 100 menunjukkan kerentanan sedang karena jumlah laki-laki dan perempuan seimbang; rasio di bawah 100 menunjukkan kerentanan tinggi karena lebih sedikit laki-laki dibanding perempuan, sementara rasio di atas 100 menunjukkan kerentanan rendah karena lebih banyak laki-laki. Perhitungan ini merupakan adaptasi dari artikel ilmiah oleh Habibi dan Imam pada tahun 2013.
  1. 3.
    Rasio Kelompok Umur Rentan: Variabel ini menilai kerentanan berdasarkan rasio ketergantungan penduduk usia tua dan balita terhadap penduduk usia produktif, dengan tingginya persentase penduduk usia tua dan balita meningkatkan risiko jatuhnya korban jiwa saat bencana. Nilai rasio yang didapatkan selanjutnya juga kami bagi ke dalam tiga kelompok seperti pada variabel rasio penduduk miskin.

Untuk mendapatkan tingkat kerentanan sosial secara keseluruhan, kami memberikan bobot 55% untuk parameter kepadatan penduduk dan 45% untuk parameter kelompok rentan. Dan kami memberikan bobot 15% untuk setiap variabel pada parameter kelompok rentan. Dengan begitu, cara kami menghitung kerentanan sosial adalah:

Kerentanan Sosial = (55% x skor kepadatan penduduk) + [(15% x skor rasio penduduk miskin)+(15% x skor rasio jenis kelamin)+(15% x skor rasio kelompok umur rentan)]

Terakhir, skor kerentanan sosial yang dihasilkan kami kelompokkan menjadi tiga menggunakan klasifikasi equal interval. Kelas kerentanan sosial beserta skor yang kami berikan pada studi gunung api ini adalah rendah (skor <= 0.5167), sedang (skor <= 1.0333), dan tinggi (skor > 1.0333).

Insight: Apa yang kita bisa peroleh?

Identifikasi Bahaya Gunung Api

Sebelum kita mengupas kerentanan sosial, coba kita lihat bagaimana potensi bahaya dari letusan gunung api. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi distribusi indeks bahaya gunung api di Indonesia dan dampaknya terhadap wilayah serta komunitas lokal. Dengan melihat data ini, kita dapat memahami seberapa luas wilayah yang terpapar potensi bahaya vulkanik dan berapa banyak desa yang terdampak oleh aktivitas gunung api. Mari kita lihat poin-poin di bawah ini!

Distribusi Luas Indeks Bahaya

Dari hasil pengolahan data, terlihat bahwa sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori indeks bahaya gunung api rendah, dengan luas mencapai 825.182,09 km² atau sekitar 91% dari total luas wilayah. Hanya 7% atau 61.828,01 km² yang termasuk dalam kategori bahaya sedang, dan 2% atau 20.859,65 km² yang berada dalam kategori bahaya tinggi. Gunung Merapi dan Gunung Agung adalah dua gunung dengan persentase indeks bahaya terbesar, mencerminkan potensi ancaman yang signifikan dari aktivitas vulkanik mereka.

Luas Provinsi dengan Indeks Bahaya Tinggi Terluas

Provinsi Jawa Timur menempati peringkat pertama dalam kategori indeks bahaya tinggi, dengan luas wilayah mencapai 4.590,32 km², terutama disebabkan oleh dominasi Gunung Kelud. Diikuti oleh Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah berbahaya tinggi sebesar 4.112,09 km², dengan Gunung Merapi sebagai puncak aktivitas vulkanik yang paling menonjol. Kedua provinsi ini menunjukkan perlunya perhatian khusus dalam upaya mitigasi bencana.

Jumlah dan Luas Desa dalam Setiap Indeks Bahaya

Jumlah desa yang berada dalam kategori indeks bahaya rendah mencapai 3.991 desa, menunjukkan bahwa sebagian besar komunitas berada di zona yang relatif aman. Namun, terdapat 1.181 desa dalam kategori bahaya sedang, dan 627 desa dalam kategori bahaya tinggi. Di antara desa-desa tersebut, Gunung Kelud di Jawa Timur mencakup 286 desa yang masuk dalam kategori bahaya rendah. Gunung Sundoro memiliki 78 desa dalam kategori bahaya sedang, dan Gunung Merapi mengancam 35 desa dalam kategori bahaya tinggi. Data ini menggarisbawahi pentingnya persiapan dan perlindungan yang lebih baik untuk komunitas-komunitas yang berada di jalur bahaya gunung api.

Mengupas Kerentanan Sosial-Demografi

Dalam analisis kerentanan sosial-demografi, analisis kepadatan penduduk menjadi salah satu parameter utama pada bencana letusan gunung api karena area dengan kepadatan tinggi cenderung menghadapi risiko yang lebih besar dan tantangan dalam evakuasi serta penyelamatan. Dari 68 lokasi kasus letusan gunung api yang mencakup lebih dari 8.000 desa di Indonesia, kepadatan penduduk sangat bervariasi, mulai dari golongan sangat padat hingga rendah. Desa dengan kepadatan tertinggi adalah Desa Komo Luar di Kota Manado, dengan 388,17 jiwa per hektar dengan gunung yang dilingkupinya adalah Gunung Mahawu. Sedangkan desa dengan kepadatan terendah yaitu sejumlah 0,008 jiwa per hektar, di Desa Lhok Sandeng, Kabupaten Pidie Jaya, dengan gunung yang dilingkupinya adalah Gunung Peut Sague. Desa-desa lain yang melingkupi Gunung Peut Sague juga masih termasuk yang paling rendah dibandingkan desa di gunung-gunung lainnya. Variasi ekstrem dalam kepadatan ini menunjukkan disparitas dalam tekanan populasi dan potensi risiko yang dihadapi oleh penduduk dalam konteks bencana letusan gunung api. Lalu, bagaimana dengan hasil identifikasi penduduk kelompok rentan, ya?

Perbandingan Kerentanan Berdasarkan Jenis Kelamin

Perbandingan kerentanan berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa perempuan sering kali lebih rentan terhadap dampak bencana akibat peran tradisional dalam keluarga dan akses yang terbatas terhadap sumber daya serta informasi. Sebagai contoh, perempuan mungkin lebih terpapar risiko saat berusaha menyelamatkan anak-anak dan orang tua yang tidak bisa bergerak cepat. Selain itu, perempuan sering memiliki tanggung jawab untuk mengumpulkan air dan bahan bakar, yang dapat menjadi lebih berbahaya selama dan setelah letusan gunung api. Oleh karena itu, program evakuasi dan bantuan harus mempertimbangkan kebutuhan khusus perempuan untuk mengurangi kerentanan ini.

Sebagai hasil dari perhitungan kami, rasio jenis kelamin terendah tercatat di Desa Lowobelolong, Flores Timur (Gunung Ile Boleng), dengan nilai 73,632, sementara rasio tertinggi ada di Desa Bukit Rata, Aceh Tengah (Gunung Burni Telong), dengan nilai 140,625. Rasio jenis kelamin di Desa Lowobelolong dapat meningkatkan kerentanan sosial karena perempuan sering kali lebih terpapar risiko. Sebaliknya, di Desa Bukit Rata, jumlah laki-laki lebih dominan, yang mungkin mencerminkan migrasi atau pekerjaan tertentu yang lebih banyak diambil oleh laki-laki. Variasi ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi demografis lokal untuk memastikan efektivitas intervensi mitigasi bencana.

Analisis Kelompok Umur Rentan (Rasio terhadap Jumlah Penduduk)

Kelompok usia tertentu, terutama anak-anak dan lansia, memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap bencana letusan gunung api. Anak-anak rentan karena kebutuhan mereka akan perawatan dan ketergantungan pada orang dewasa, sedangkan lansia memiliki keterbatasan mobilitas dan kesehatan yang membatasi kemampuan mereka untuk mengungsi dengan cepat. Di daerah dengan populasi muda yang tinggi, sekolah-sekolah perlu dijadikan prioritas dalam perencanaan evakuasi. Sebaliknya, di daerah dengan populasi lansia yang tinggi, perlu ada rencana khusus untuk memastikan evakuasi yang aman dan penyediaan kebutuhan medis yang mendesak.

Rasio kelompok umur rentan terendah senilai 7,74% tercatat di Desa Bailengit, Maluku Utara (Gunung Ibu), sementara rasio tertinggi mencapai 42,48% di Desa Sendangan, Minahasa (Gunung Soputan). Desa Cacaban, Kota Magelang, (Gunung Sumbing), merupakan desa dengan rasio kelompok umur rentan tertinggi kedua yang nilainya tidak jauh berbeda dengan Desa Sendangan, yaitu senilai 42,17%. Dengan begitu, desa-desa seperti Sendangan dan Cacaban memerlukan perencanaan mitigasi bencana yang teliti, termasuk evakuasi yang disesuaikan dengan kebutuhan kelompok usia rentan, penyediaan fasilitas kesehatan yang siap tanggap, serta upaya edukasi yang intensif untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kesadaran masyarakat akan risiko yang dihadapi.

Rasio Kemiskinan terhadap Jumlah Penduduk

Kemiskinan memperburuk kerentanan terhadap bencana letusan gunung api karena akses yang terbatas ke sumber daya, informasi, dan infrastruktur yang diperlukan untuk mitigasi dan pemulihan bencana. Penduduk miskin sering kali tinggal di daerah yang lebih rentan dan tidak memiliki kemampuan finansial untuk melakukan perbaikan atau relokasi.

Rasio penduduk miskin tertinggi tercatat di desa-desa di sekitar Gunung Ile Werung, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, dengan nilai mencapai 26,1%. Sementara itu, rasio penduduk miskin terendah terdapat di desa-desa di sekitar Gunung Tandikat, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, dengan angka yang sangat rendah, hanya sebesar 0,7%. Oleh karena itu, strategi mitigasi bencana harus mencakup program-program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kapasitas lokal untuk memastikan bahwa semua penduduk, terlepas dari status ekonomi, memiliki akses ke bantuan yang memadai dan informasi yang relevan.

Bagaimana dengan Marapi?

Melihat Potensi Bahaya Gunung Marapi

Gunung Marapi telah mengalami serangkaian erupsi sejak 3 Desember 2023, menyebabkan deposit material letusan seperti abu, lapili, dan batu vulkanik di daerah puncak dan lerengnya. Pada 11 Mei 2024, tingginya curah hujan di kawasan tersebut mengakibatkan banjir lahar dingin yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat, termasuk Nagari Bukik Batabuah, Nagari Sungai Pua, Nagari Aie Angek, Nagari Koto Baru, dan Nagari Batipuah. Banjir lahar dingin ini menyebabkan 67 orang meninggal dan sekitar 20 orang hilang hingga 16 Mei 2024.

Data yang diberikan mengonfirmasi potensi bahaya yang dihadapi oleh wilayah sekitar Gunung Marapi. Dengan luas total untuk indeks bahaya rendah sebesar 136 km², sedang 38 km², dan tinggi 33 km², terlihat bahwa wilayah disekitar Gunung Marapi terus berada dalam ancaman yang tinggi.

Sisi Sosial-Demografi Area Terdampak Gunung Marapi

Mari kita lihat sisi lain dari potensi bahaya gunung api di Gunung Marapi, yaitu sosial-demografi. Sisi sosial-demografi menjadi hightlight untuk mengupas dampak letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat. Letusan gunung ini telah memberikan dampak signifikan terhadap penduduk yang tinggal di sekitarnya. Untuk lebih memahami dampak tersebut, analisis pada sisi sosio-demografi akan ditinjau dari beberapa aspek di bawah ini:

  • Kepadatan Penduduk
Kepadatan Penduduk Gunung Marapi

Kepadatan penduduk di daerah sekitar gunung sangat bervariasi. Dari data kami, dapat disimpulkan bahwa desa-desa yang lebih dekat dengan puncak gunung memiliki kepadatan yang rendah dibandingkan dengan desa yang berada lebih jauh dari puncak gunung. Dilihat dari visualisasi di bawah, secara umum tingkat kepadatan penduduk di sekitar Gunung Marapi memiliki tingkat kepadatan penduduk yang homogen, kecuali di beberapa desa, seperti Desa Pasar Usang dan Guguk Malintang.

  • Kelompok Umur Rentan
Kelompok Umur Rentan Gunung Marapi

Distribusi penduduk menjadi faktor lain yang penting dalam meninjau kerentanan sosial di suatu wilayah. Dalam hal ini, fokus umurnya adalah anak-anak dan lansia yang bisa dikatakan sebagai kelompok umur rentan. Mereka cenderung akan membutuhkan bantuan lebih banyak selama evakuasi dan dalam situasi darurat. Jika dilihat dari visualisasi di atas, di area ini kelompok umur rentan cenderung moderat untuk mayoritas desa.

Beberapa desa dianggap rentan terhadap bencana ini karena kebanyakan penduduknya anak-anak dan lansia. Hal ini menjadi perhatian bagi pemangku kebijakan untuk mengembangkan rencana tanggap darurat yang komprehensif, meningkatkan infrastruktur dan fasilitas pendukung terutama yang ramah terhadap kelompok umur rentan, dan tentunya melaksanakan program edukasi dan pelatihan bagi masyarakat.

  • Jenis Kelamin
Rasio Jenis Kelamin Gunung Marapi

Lalu, bagaimana dengan analisis penduduk perempuan untuk meninjau kerentanan sosial ini? Jika dilihat dari visualisasi di atas, semakin besar nilai rasio antara laki terhadap perempuan, semakin berkurang pula kerentanan di wilayah tersebut. Terdapat beberapa desa, seperti Desa Koto Tinggi dan Canduang Koto Laweh yang perlu dilakukan peningkatan kapasitas mengingat rasio jenis kelaminnya rendah. Artinya kedua desa ini termasuk ke dalam daerah yang rentan terhadap bencana letusan Gunung Marapi.

  • Tingkat Kemiskinan
Tingkat Kemiskinan Gunung Marapi

Salah satu faktor yang menurut kami penting sesuai Perka No. 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana adalah rasio kemiskinan. Dalam hal ini, rasio kemiskinan di area Gunung Marapi cenderung sedang untuk sebagian besar wilayah, tetapi beberapa desa, seperti Andaleh dan Ekor Lubuk memiliki nilai rasio kemiskinan yang tinggi. Rasio kemiskinan yang tinggi di desa-desa seperti Andaleh dan Ekor Lubuk meningkatkan kerentanan sosial terhadap bencana dari perspektif sosio-demografi, mengingat keterbatasan akses mereka ke sumber daya penting dan layanan kesehatan.

Penduduk miskin sering tinggal di perumahan yang tidak tahan bencana dan memiliki infrastruktur yang kurang terpelihara, yang memperburuk risiko saat terjadi bencana. Tingkat pendidikan yang rendah juga mengurangi kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap bencana, sementara jaringan dukungan sosial yang lemah membatasi bantuan dan dukungan yang dapat diterima. Oleh karena itu, diperlukan fokus pada peningkatan kapasitas sosial, termasuk edukasi tentang mitigasi bencana dan penguatan komunitas untuk meningkatkan ketahanan masyarakat.

  • Kerentanan Sosial
Kerentanan Sosial Gunung Marapi

Dari beberapa poin di atas, dapat disimpulkan bahwa kerentanan sosial di wilayah area Gunung Marapi berada pada rentang rendah hingga sedang. Walaupun demikian, faktor-faktor tersebut tetap menjadi perhatian serius dalam upaya mitigasi bencana. Upaya-upaya perbaikan infrastruktur, peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan jaringan dukungan sosial, dan pembangunan kapasitas komunitas tetap penting untuk meningkatkan ketahanan terhadap potensi bencana letusan Gunung Marapi di masa mendatang.

Penutup

Referensi

Mengapa penting untuk memiliki data tentang kerentanan sosial di wilayah yang terancam bahaya gunung api?

Data tentang kerentanan sosial membantu dalam memahami kondisi sosial-demografi yang paling rentan terhadap bencana vulkanik. Ini memungkinkan perencanaan mitigasi bencana yang lebih efektif dan respons yang cepat dalam menghadapi ancaman bencana

Apa saja informasi yang termasuk dalam data kerentanan sosial yang disediakan oleh MAPID?

Data kerentanan sosial MAPID mencakup informasi tentang kepadatan penduduk, usia, jenis kelamin, dan tingkat kemiskinan di daerah berisiko vulkanik.

Apa peran MAPID dalam mengelola dan menyediakan data kerentanan sosial ini?

MAPID adalah sumber data yang menyediakan informasi tentang kerentanan sosial di wilayah-wilayah yang terancam bahaya gunung api di Indonesia. Mereka mengumpulkan, memproses, dan menyediakan data ini kepada pihak yang membutuhkannya untuk perencanaan bencana dan mitigasi.

Data Publications