Pengembangan WebGIS "Peta Kerja Lahan Baku Sawah" Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta: Rekayasa Pipeline Data Geospasial Skala Besar dan Rancangan Instrumen Pemutakhiran Kronologis Berbasis Partisipasi Petani dan Penyuluh

24 August 2026

•

By: Alvito Krishna Balapradhana

Open Project

LBS_DIY

Peta Kerja Lahan Baku Sawah DIY: Menghidupkan Kembali Riwayat Setiap Petak Sawah

Abstrak

Lahan Baku Sawah (LBS) merupakan basis data spasial strategis yang menjadi rujukan perencanaan tata ruang dan penyaluran subsidi pertanian. Namun, data LBS pada praktiknya kerap tersimpan sebagai berkas berukuran sangat besar yang tidak dapat dikonsumsi peramban, sekaligus memiliki tingkat kelengkapan atribut agronomis yang sangat rendah. Penelitian ini berfokus pada pengembangan aplikasi WebGIS yang ditujukan untuk menampilkan dan mendata detail Lahan Baku Sawah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sistem ini dirancang secara khusus agar petani dan penyuluh pertanian dapat mengisi detail kronologis lahan secara interaktif.

Data primer GeoJSON LBS D.I. Yogyakarta (300,62 MB) yang memuat 76.222 bidang lahan diproses melalui pipeline ekstraksi–transformasi–pemuatan (ETL). Pipeline memecah data menurut lima kabupaten/kota, memisahkan geometri dari atribut, dan mereproyeksikan koordinat ke EPSG:32749 (UTM Zona 49S). Aplikasi dibangun menggunakan Vite 8 dan MapLibre GL JS 5.

Hasil penelitian menunjukkan total luas LBS D.I. Yogyakarta pada UTM 49S adalah 66.823,94 Ha. Temuan paling kritis dari data LBS adalah 40 dari 50 kolom atribut (80%) berisi nilai kosong mutlak pada seluruh bidang. Hal ini membuktikan bahwa data LBS saat ini hanya berupa peta batas bidang, tanpa informasi agronomis aktual.

Sebagai solusi, WebGIS ini menghadirkan model data "bidang–peristiwa" (kronologis) dan menyediakan instrumen pemutakhiran atribut langsung di sisi pengguna. Strategi ini memungkinkan petani atau penyuluh memperbarui kondisi lahan, komoditas, atau status alih fungsi langsung dari lapangan melalui peramban.

Kata Kunci: Lahan Baku Sawah; WebGIS partisipatif; pendataan kronologis; MapLibre GL JS; Daerah Istimewa Yogyakarta

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Ketahanan pangan nasional bertumpu pada ketersediaan lahan sawah yang terjaga luas dan produktivitasnya. Instrumen teknis yang menjadi rujukan utama dalam pelestarian ini adalah data Lahan Baku Sawah (LBS).

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadapi tekanan alih fungsi lahan sawah yang intens. Namun, pemantauan dan pendataan alih fungsi ini terhambat oleh dua kendala utama:

  1. 1.
    Aksesibilitas Data: Berkas sumber LBS DIY memiliki ukuran raksasa (300,62 MB untuk 76.222 bidang) yang membuat peramban membeku jika dimuat sekaligus. Data ini sulit diakses oleh petugas lapangan.
  1. 2.
    Kekosongan Atribut & Ketiadaan Riwayat: Struktur atribut LBS sangat kompleks, namun tingkat keterisiannya sangat rendah. Data LBS hanya menyajikan potret statis dari satu waktu. Ketika sebuah sawah berubah menjadi lahan kering atau beralih fungsi, perubahan kronologis ini tidak terekam dalam sistem.

Di sisi lain, petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) adalah pihak yang paling mengetahui kondisi detail dan kronologis setiap bidang lahan. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah platform WebGIS yang tidak hanya mampu menampilkan data LBS secara ringan, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen pendataan di mana petani dan PPL dapat memasukkan pembaruan data secara langsung.

1.2. Permasalahan

  • Bagaimana merancang arsitektur WebGIS yang mampu menampilkan 76.222 bidang LBS secara interaktif tanpa kendala performa di peramban pengguna?
  • Bagaimana merancang antarmuka dan instrumen pemutakhiran data yang memungkinkan petani dan penyuluh mengisi riwayat kronologis lahan (seperti status tanam, bera, atau alih fungsi) langsung dari peta?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah membangun aplikasi WebGIS yang berfungsi penuh untuk menampilkan sebaran LBS di Provinsi DIY sekaligus menjadi platform pendataan interaktif. Secara khusus, WebGIS ini bertujuan menyediakan formulir pemutakhiran atribut kronologis di sisi klien agar petani dan PPL dapat dengan mudah melengkapi kekosongan data LBS.

BAB II. METODE PENELITIAN

2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian mencakup wilayah administratif DIY yang memuat LBS, meliputi 5 kabupaten/kota yang seluruhnya berada di zona EPSG:32749 (UTM Zona 49S):

  • Kabupaten Sleman: 17 Kecamatan / 34.328 Bidang
  • Kabupaten Bantul: 17 Kecamatan / 9.278 Bidang
  • Kabupaten Kulon Progo: 12 Kecamatan / 4.602 Bidang
  • Kabupaten Gunungkidul: 18 Kecamatan / 27.970 Bidang
  • Kota Yogyakarta: 4 Kecamatan / 44 Bidang

2.2. Instrumen Pendataan Kronologis (Model Bidang-Peristiwa)

Untuk memfasilitasi pendataan oleh petani/PPL, WebGIS ini memperkenalkan variabel entitas peristiwa (kronologis bidang). Model ini mencatat riwayat perubahan lahan tanpa merusak data batas geometri aslinya. Elemen data yang dikumpulkan meliputi:

Tanggal Kejadian & Tanggal Lapor: Waktu terjadinya peristiwa di lapangan. Jenis Peristiwa: Tanam, panen, bera, alih fungsi, cetak sawah, rehabilitasi irigasi. Komoditas & Indeks Pertanaman: Informasi agronomis lahan terkini. Status Validasi & Peran Pelapor: Menandakan apakah pelapor adalah petani, ketua Poktan, atau PPL, beserta status verifikasinya.

2.3. Diagram Alir Sistem

Alur kerja pengembangan berpusat pada optimasi data dan antarmuka pendataan partisipatif.

Code snippet

flowchart TD A["Raw Data (300,62 MB)"] --> B["Pipeline Build (Node.js)"] B --> C1["Layer Geometri (Ringan)"] B --> C2["Layer Atribut Lengkap"] B --> C3["Layer Statistik (11 KB)"] C3 --> D["Landing Page"] C1 & C2 --> E["Halaman WebGIS (MapLibre GL JS)"] E --> F["Fitur Eksplorasi & Visualisasi"] E --> G["Instrumen Pendataan oleh PPL/Petani"] G --> H["Klik Bidang Lahan → Tampil Form Input Kronologis"] H --> I["Data Tersimpan Sementara (Client-side)"]

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Optimasi Penyajian Data

Strategi pemisahan geometri dan atribut melalui pipeline berhasil menurunkan volume data unduhan awal hingga rasio 1:26.487. Halaman utama kini hanya memuat 11.901 byte berkas statistik, menjadikan WebGIS sangat ringan diakses melalui perangkat seluler (perangkat utama PPL di lapangan).

3.2. Penemuan Kekosongan Atribut Data LBS

Pemindaian pada 76.222 bidang menghasilkan temuan bahwa 80% dari total kolom atribut (40 dari 50 kolom) sepenuhnya kosong. Tidak ada satu pun informasi agronomis, kepemilikan, atau riwayat tanam yang terisi. Hal ini mengukuhkan urgensi ketersediaan instrumen pengisian data mandiri pada WebGIS.

3.3. Sistem Pendataan oleh Petani dan Penyuluh

Fitur ini adalah inovasi inti dari aplikasi WebGIS yang dibangun. Alur kerjanya dirancang khusus mengikuti logika petugas lapangan:

  1. 1.
    Identifikasi Visual: Saat peta diakses, petani/PPL dapat mencari bidang sawah mereka.
  1. 2.
    Lencana Kekosongan (Badge): Saat sebuah bidang diklik, sistem akan menampilkan detail atribut. Setiap kolom data yang masih kosong ditandai secara visual dengan lencana "Belum diisi" berwarna merah, menuntun pengguna pada data apa yang harus dilengkapi.
  1. 3.
    Pengisian Kronologis Tunggal & Massal: Disediakan formulir khusus untuk mencatat "Peristiwa" baru pada lahan tersebut. PPL dapat menyeleksi banyak bidang sekaligus (lasso tool) untuk mengisi data komoditas atau status irigasi dalam satu hamparan yang seragam, mempercepat proses entri puluhan bidang lahan.
  1. 4.
    Dukungan Survei Lapangan: Aplikasi menyediakan fitur cetak layout kartografis (GeoPDF) berkoordinat. PPL dapat mengunduh peta, membawanya luring (offline) ke lapangan, dan memperbarui datanya kembali di WebGIS saat koneksi tersedia.

BAB IV. KESIMPULAN

Aplikasi WebGIS ini berhasil memenuhi fungsinya sebagai medium penyaji visual sekaligus platform pendataan interaktif untuk Lahan Baku Sawah di Provinsi D.I. Yogyakarta.

Dengan memecah bottleneck data berukuran raksasa menjadi layer yang sangat ringan, aplikasi ini sukses dibawa ke layar peramban ponsel para petugas di lapangan. Lebih dari sekadar peta, WebGIS ini menyoroti kekosongan atribut historis pada data LBS resmi dan memberikan solusi langsung berupa "Instrumen Pemutakhiran Kronologis". Melalui antarmuka yang ramah pengguna, fitur pengisian tunggal maupun massal (lasso selection) memungkinkan petani dan penyuluh pertanian untuk memperbarui status lahan, merekam alih fungsi, dan mencatat riwayat tanam secara langsung, mengubah data LBS dari peta statis menjadi basis data pertanian yang dinamis.

Daftar Pustaka

  1. 1.
    Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 149.
  1. 2.
    Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. (2019). Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN tentang Penetapan Luas Lahan Baku Sawah Nasional.
  1. 3.
    Goodchild, M. F. (2007). Citizens as Sensors: The World of Volunteered Geography. GeoJournal, 69(4), 211–221.
  1. 4.
    Haklay, M. (2013). Citizen Science and Volunteered Geographic Information: Overview and Typology of Participation. Dalam Crowdsourcing Geographic Knowledge. Springer.
  1. 5.
    MapLibre Organization. (2025). MapLibre GL JS Documentation.
  1. 6.
    MAPID. (2025). GEO MAPID Platform Documentation. PT MAPID.

Data Publications

Analisis Kerawanan Longsor Berbasis Random Forest Menggunakan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pengembangan WebGIS Kerawanan Longsor di Wilayah Bandung Raya

Climate & Disaster

28 Sep 2026

•

Reggie Anjlina

Analisis Kerawanan Longsor Berbasis Random Forest Menggunakan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pengembangan WebGIS Kerawanan Longsor di Wilayah Bandung Raya

Pemetaan kerawanan longsor Bandung Raya berbasis Random Forest, penginderaan jauh, dan SIG melalui WebGIS interaktif untuk mendukung mitigasi bencana.

41 min read

•

53 view

Prediksi Pertumbuhan Kawasan Terbangun untuk Mengidentifikasi Wilayah Prioritas Pengembangan Layanan Publik di Bandung Raya

City Planning

28 Sep 2026

•

Reza Isnawati

Prediksi Pertumbuhan Kawasan Terbangun untuk Mengidentifikasi Wilayah Prioritas Pengembangan Layanan Publik di Bandung Raya

Penelitian ini memprediksi pertumbuhan kawasan terbangun dan jumlah penduduk di Wilayah Metropolitan Bandung Raya hingga tahun 2029. Mengintegrasikan pemodelan prediktif Cellular Automata Artificial Neural Network (CA-ANN), proyeksi demografi CAGR, serta analisis jangkauan Network Analysis, studi ini mengidentifikasi kesenjangan aksesibilitas spasial fasilitas pendidikan dan kesehatan berdasarkan SNI 03-1733-2004. Penelitian ini menghasilkan rekomendasi empat tipologi arahan strategi kawasan guna merespons ketimpangan fasilitas publik dan mengendalikan pemekaran kota (urban sprawl) secara terarah.

34 min read

•

49 view

Analisis Sweet Spot Location Attractiveness Bagi Pengembangan Properti Co-Living di Area Perkotaan Yogyakarta

Real Estate

06 Sep 2026

•

Wildan Rafi Fadlilah

Analisis Sweet Spot Location Attractiveness Bagi Pengembangan Properti Co-Living di Area Perkotaan Yogyakarta

Panduan ekspansi co-living yang terukur di Yogyakarta untuk pengembang properti dalam menghadapi kebutuhan pasar dan tekanan kompetisi

41 min read

•

388 view

1 Projects

Rekomendasi Lokasi Optimal Pengembangan Kawasan Permukiman dengan Metode Multi-Criteria Scoring di Kawasan BSD Barat, Kabupaten Tangerang

Real Estate

21 Sep 2026

•

Asti Ardiningrum

Rekomendasi Lokasi Optimal Pengembangan Kawasan Permukiman dengan Metode Multi-Criteria Scoring di Kawasan BSD Barat, Kabupaten Tangerang

Penelitian dengan analisis spasial multi-kriteria pada kawasan BSD Baru mengidentifikasi bahwa wilayah selatan (sebagian Jatake, Situ Gadung, dan Sampora) merupakan lokasi paling optimal (Sangat Sesuai) untuk kawasan permukiman karena didukung akses langsung Tol Serpong–Balaraja dan stasiun KRL. Temuan yang selaras dengan RTRW 2021–2031 dan Masterplan BSD City ini menempatkan wilayah selatan sebagai prioritas utama pembangunan bagi pengembang sekaligus opsi hunian dan investasi terbaik bagi masyarakat.

14 min read

•

394 view

1 Projects

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at