Analisis Dinamika Produksi Padi di Pulau Jawa : Periode 2018-2022

26 Juni 2024

By: Syahrul Ramadhan

Open Data

Administrasi Provinsi

Open Data

Produksi Padi Pulau Jawa 2018 - 2022

Open Project

Analisis Dinamika Produksi Padi di Pulau Jawa : Periode 2018-2022

Petani Memanen Padi (Sumber : Antara Foto)

Pendahuluan

Pulau Jawa, sebagai pusat ekonomi dan politik Indonesia, memiliki peranan yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Salah satu aspek yang sangat krusial adalah produksi padi, yang merupakan komoditas pangan utama bagi sebagian besar penduduk di Indonesia. Produksi padi tidak hanya menjadi penopang utama ketahanan pangan, tetapi juga memengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat, terutama di pedesaan yang mayoritas penduduknya bergantung pada sektor pertanian.

Pada periode tahun 2018-2022, Pulau Jawa mengalami berbagai dinamika dalam hal produksi padi. Analisis terhadap produksi padi ini menjadi penting karena padi merupakan bahan pangan utama yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Produksi padi yang stabil dan mencukupi akan memastikan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat, serta mencegah terjadinya kelangkaan pangan yang dapat memicu kenaikan harga dan inflasi.

Dengan menganalisis data produksi padi selama lima tahun terakhir, akan diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai tren produksi padi di Pulau Jawa. Hasil analisis ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi para pembaca mengenai kondisi eksisting dinamika produksi padi di Pulau Jawa dan menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan yang lebih baik untuk memastikan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat di Pulau Jawa.

Kata Kunci : Produksi Padi, Ketahanan Pangan, Pulau Jawa, Analisis Dinamika, Data Time Series

Metode

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder. Data sekunder yang dipakai adalah data Time Series produksi padi di Pulau Jawa dan data batas administrasi 6 provinsi di Pulau Jawa. Data Time Series digunakan untuk mengetahui pola dan karakteristik produksi padi di Pulau Jawa. Data sekunder didapatkan dari Badan Pusat Statistik dan MAPID.

Analisis dilakukan dengan menggunakan SpatSpatio-Temporal Data Analysis>yang mengacu pada ruang dan waktu. Analisis tersebut digunakan untuk Dinamika produksi padi di Pulau Jawa. Proses analisis dan visualisasi dilakukan dengan menggunakan Microsoft Excel, Canva, dan GEO MAPID.

Area Studi

Area Studi : Pulau Jawa

Area Studi yang digunakan, terlihat pada Gambar 1 meliputi provinsi-provinsi yang ada di Pulau Jawa meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Hasil dan Pembahasan

Dinamika Produksi Padi di Pulau Jawa Kurun Waktu : 2018 - 2022

Grafik Produksi

Berdasarkan grafik yang ditunjukkan pada Gambar 2. Produksi padi di Pulau Jawa selama periode 2018-2022 menunjukkan dinamika yang signifikan, dengan variasi di berbagai provinsi. Jawa Timur, sebagai salah satu produsen terbesar, mengalami penurunan produksi dari 10.203.213,17 ton pada 2018 menjadi 9.526.516,00 ton pada 2022. Demikian pula, Jawa Tengah menunjukkan tren serupa dengan produksi menurun dari 10.499.588,23 ton pada 2018 menjadi 9.356.445,00 ton pada 2022. Penurunan produksi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi dalam menjaga stabilitas produksi.

Sementara itu, Jawa Barat yang mengalami penurunan dari 9.647.358,75 ton pada 2018 ke 9.016.772,58 ton pada 2020, menunjukkan pemulihan dengan peningkatan menjadi 9.433.723,00 ton pada 2022. DI Yogyakarta, meskipun berproduksi dalam jumlah yang lebih kecil, menunjukkan tren stabil dengan peningkatan sedikit dari 514.935,49 ton pada 2018 menjadi 561.699,50 ton pada 2022. Sebaliknya, DKI Jakarta, dengan produksi yang sangat kecil dibandingkan provinsi lainnya, menurun dari 4.899,14 ton pada 2018 menjadi 2.337,77 ton pada 2022, meski penurunannya tidak berdampak signifikan secara keseluruhan. Banten mengalami fluktuasi, namun cenderung meningkat dengan peningkatan dari 1.687.783,30 ton pada 2018 menjadi 1.788.583,00 ton pada 2022.

Total Produksi

Kemudian, jika ditinjau dari total produksi yang ditampilkan pada Gambar 3. Produksi padi di Pulau Jawa selama periode 2018-2022 menunjukkan tren penurunan yang perlu diperhatikan. Berikut adalah data total produksi padi di Pulau Jawa dalam ton pada periode tersebut:

  • 2018: 32.557.780,8 ton
  • 2019: 30.328.885,14 ton
  • 2020: 30.633.585,43 ton
  • 2021: 30.684.845,06 ton
  • 2022: 30.669.304,27 ton

Data ini menunjukkan bahwa total produksi padi di Pulau Jawa mengalami penurunan yang signifikan dari 2018 ke 2019, yaitu sekitar 2.228.895,66 ton. Meskipun ada sedikit peningkatan pada 2020 dan relatif stabil pada 2021 dan 2022, total produksi tidak kembali ke tingkat yang dicapai pada 2018. Produksi yang mencapai 32.557.780,8 ton pada 2018 menurun ke sekitar 30.669.304,27 ton pada 2022, menunjukkan bahwa upaya pemulihan belum sepenuhnya berhasil.

Sebagai lumbung pangan nasional, penurunan produksi padi di Pulau Jawa memiliki dampak signifikan terhadap ketahanan pangan nasional. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat merupakan tiga provinsi dengan produksi padi terbesar di Indonesia selama periode 2018-2022. Salah satu faktor yang berkaitan dengan produksi padi adalah luas lahan panen. Menurut Ahdiat (2024) volume produksi padi berbanding lurus dengan luas panen, sehingga apabila luas panen mengalami penurunan maka volume produksi padi akan mengiringi penurunan tersebut. fenonema iklim juga memiliki andil yang besar dalam fluktuasi produksi padi. Contohnya adalah fenomena El Nino dan La Nina, fenomena El Nino menyebabkan curah hujan menjadi sangat rendah yang berimplikasi kepada produksi padi (Hidayati & Suryanto, 2015). Selain itu kesuburan tanah, kelembapan, pemakaian pupuk, pemilihan bibit, dan cara bercocok tanam juga merupakan faktor yang memengaruhi produksi padi (Makruf, Oktavia, dan Putra, 2011). Namun berdasarkan penelitian Ishaq et al (2017) variabel yang berpengaruh signifikan terhadap produksi padi adalah curah hujan (Mm) dan luas panen padi (Ha).

Provinsi dengan Produksi Padi Tertinggi dan Terendah 2018-2022

Rata Rata Produksi Beras

Berdasarkan visualisasi peta rata - rata produksi padi tahunan pada Gambar 4 di atas. Produksi padi di Pulau Jawa menunjukkan variasi yang kontras antar provinsi. Berdasarkan rata-rata produksi tahunan Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat merupakan tiga provinsi dengan produksi padi tertinggi, masing-masing dengan rata-rata di atas 5.000.000 ton per tahun. Hal ini tidak mengherankan, karena seperti yang telah disebutkan sebelumnya ketiga provinsi ini berperan sebagai lumbung pangan utama Indonesia, dengan kontribusi besar terhadap total produksi padi nasional.

DI Yogyakarta memiliki rata-rata produksi padi dalam kisaran 100.000 hingga 1.000.000 ton per tahun. Meskipun lebih kecil dibandingkan tiga provinsi utama, hasil produksinya tergolong tinggi mengingat luas wilayah yang terbatas. Banten menunjukkan rata-rata produksi padi dalam rentang 1.000.000 hingga 5.000.000 ton per tahun. Produksi padi di Banten mengalami fluktuasi, tetapi secara umum meningkat selama periode tersebut. DKI Jakarta memiliki rata-rata produksi padi di bawah 100.000 ton per tahun, yang sangat kecil dibandingkan provinsi lainnya. Produksi yang rendah ini disebabkan oleh terbatasnya lahan pertanian di wilayah perkotaan yang lebih berfokus pada sektor industri dan jasa.

Rata Rata Produksi Padi

Berdasarkan data rata - rata produksi tahunan padi di Pulau Jawa yang ditunjukkan pada Gambar 5. Dilakukan pemeringkatan provinsi berdasarkan jumlah produksi, yaitu :

  1. 1.
    Jawa Timur: 9.808.957,80 ton
  1. 2.
    Jawa Tengah: 9.723.901,73 ton
  1. 3.
    Jawa Barat: 9.259.276,93 ton
  1. 4.
    Banten: 1.641.057,35 ton
  1. 5.
    DI Yogyakarta: 538.007,87 ton
  1. 6.
    DKI Jakarta: 3.677,92 ton

Dapat dilihat bahwa Jawa Timur merupakan provinsi dengan rata - rata produksi tahunan terbesar di Pulau Jawa sekaligus terbesar di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa provinsi ini memiliki kapasitas pertanian yang besar dan berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional. Kemudian provinsi dengan rata - rata produksi terendah adalah DKI Jakarta. Produksi yang rendah ini disebabkan keterbatasan lahan pertanian yang signifikan. Namun, produksi padi di ibu kota ini tidak memberikan dampak besar terhadap total produksi nasional.

Secara garis besar Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat adalah tiga provinsi teratas dengan produksi padi tertinggi di Pulau Jawa, yang secara signifikan mendukung ketahanan pangan nasional. Sebaliknya, DKI Jakarta memiliki produksi terendah karena fokusnya pada sektor non-pertanian. DI Yogyakarta dan Banten meskipun memiliki produksi lebih rendah dibandingkan tiga provinsi utama, tetap berkontribusi penting dalam skala regional.

Kesimpulan

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa produksi padi di Pulau Jawa tahun 2018 - 2022 mengalami fluktuasi. Tren dan pola produksi padi Provinsi di Pulau Jawa cenderung menurun, kecuali pada Provinsi Banten dan Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan pada tahun 2022 setelah sebelumnya mengalami penurunan produksi di tahun 2021, tetapi angka produksi yang dicapai pada tahun 2022 sebesar 9.433.723,00 ton belum dapat menyaingi puncak tertinggi produksi padi yang diraih pada tahun 2018 sebesar 9.647.358,75 ton.

Fluktuasi produksi padi disebabkan oleh beberapa faktor seperti kesuburan tanah, kelembapan, pemakaian pupuk, pemilihan bibit, dan cara bercocok tanam. Namun, faktor yang berpengaruh signifikan terhadap produksi padi adalah luas lahan panen dan juga curah hujan yang diakibatkan oleh fenomena iklim seperti La Nina dan El Nino.

Berdasarkan data rata - rata produksi tahunan. Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi yang memiliki produksi paling tinggi dibandingkan provinsi lainnya, dan Provinsi yang memiliki produksi paling rendah di Pulau Jawa adalah DKI Jakarta. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat adalah tiga provinsi teratas dengan produksi padi tertinggi di Pulau Jawa yang berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.

Daftar Rujukan

Ahdiat, A. (n.d.). Meski Panen Berkurang, Produktivitas Padi Indonesia Naik pada 2023. Databoks. Diakses June 25, 2024, from https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/03/26/meski-panen-berkurang-produktivitas-padi-indonesia-naik-pada-2023

Hidayati, I. N., & Suryanto, S. (2015). PENGARUH PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PRODUKSI PERTANIAN DAN STRATEGI ADAPTASI PADA LAHAN RAWAN KEKERINGAN. Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan, 16(1), 42–52.

Ishaq, M., Rumiati, A. T., & Permatasari, E. O. (2017). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi di Provinsi Jawa Timur Menggunakan Regresi Semiparametrik Spline. Jurnal Sains Dan Seni ITS, 6(1). https://doi.org/10.12962/j23373520.v6i1.22451

Makruf, E., Oktavia, Y., & Putra, W. E. (2011). Faktor-faktor yang mempengaruhi Produksi Padi Sawah di Kabupaten Seluma, Bengkulu. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu.

Data Publikasi

ANALISIS PENGARUH VEGETASI DAN KEPADATAN PENDUDUK TERHADAP SUHU PERMUKAAN  LAHAN DI SEKITAR TAHURA Ir. H. DJUANDA KOTA BANDUNG

Iklim dan Bencana

12 Mar 2026

Salwa Dwi INTERN MAPID

ANALISIS PENGARUH VEGETASI DAN KEPADATAN PENDUDUK TERHADAP SUHU PERMUKAAN LAHAN DI SEKITAR TAHURA Ir. H. DJUANDA KOTA BANDUNG

Pelajari hubungan antara kepadatan penduduk, vegetasi, dan suhu permukaan lahan di sekitar Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, kawasan konservasi penting di Bandung.

22 menit baca

56 dilihat

1 Proyek

PENENTUAN LOKASI STRATEGIS BISNIS F&B 
BERBASIS DATA DEMOGRAFI DAN POLA AKTIVITAS 
DI KOTA BANDUNG

Makanan dan Minuman

11 Mar 2026

AFI INTERN MAPID

PENENTUAN LOKASI STRATEGIS BISNIS F&B BERBASIS DATA DEMOGRAFI DAN POLA AKTIVITAS DI KOTA BANDUNG

Strategi sukses bisnis F&B di Bandung melalui analisis variabel demografi, POI, dan teknologi geospasial untuk pemilihan lokasi usaha yang akurat.

24 menit baca

88 dilihat

1 Proyek

ANALISIS KESIAPAN BONUS DEMOGRAFI KOTA BANDUNG: SINYAL INVESTASI JANGKA PANJANG

Perencanaan Kota

11 Mar 2026

Khofifatun Nurrohmah INTERN MAPID

ANALISIS KESIAPAN BONUS DEMOGRAFI KOTA BANDUNG: SINYAL INVESTASI JANGKA PANJANG

Analisis sektor ekonomi potensial dan tipologi wilayah di Kota Bandung memberikan peta jalan bagi investor dan pemerintah untuk optimalisasi momentum bonus demografi dan percepatan pembangunan ekonomi.

37 menit baca

106 dilihat

1 Data

Analisis Lokasi Strategis Coffee Shop di Jakarta Pusat Menggunakan GIS dan QGIS

Makanan dan Minuman

07 Mar 2026

Muh Fiqri Abdi Rabbi

Analisis Lokasi Strategis Coffee Shop di Jakarta Pusat Menggunakan GIS dan QGIS

Abstrak Pertumbuhan industri coffee shop di kawasan perkotaan mendorong meningkatnya kebutuhan akan metode yang sistematis dalam menentukan lokasi usaha yang strategis. Pemilihan lokasi yang tidak tepat dapat mengakibatkan rendahnya jumlah pengunjung serta tingginya tingkat persaingan dengan usaha sejenis. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbasis data untuk mengidentifikasi lokasi yang memiliki potensi pasar tinggi serta aksesibilitas yang baik terhadap pusat aktivitas kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi potensial pembukaan coffee shop baru di wilayah Jakarta Pusat dengan memanfaatkan teknologi Geographic Information System (GIS). Metode yang digunakan mengintegrasikan analisis potensi wilayah dengan analisis aksesibilitas menggunakan pendekatan service area dan overlay spasial. Data yang digunakan meliputi grid potensi lokasi hasil analisis Site Analyst, batas administrasi wilayah, data stasiun transportasi publik, pusat perbelanjaan, serta data coffee shop eksisting. Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pengolahan data spasial, penggabungan nilai potensi lokasi dengan wilayah administratif, pembuatan service area dari stasiun dan pusat perbelanjaan, serta proses overlay untuk mengidentifikasi area yang memiliki kombinasi potensi pasar dan aksesibilitas tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah yang memiliki potensi tinggi untuk pengembangan coffee shop umumnya berada pada area yang dekat dengan pusat aktivitas kota, khususnya simpul transportasi dan kawasan perdagangan. Area yang berada dalam jangkauan service area dari fasilitas tersebut menunjukkan tingkat aksesibilitas yang lebih baik dan memiliki peluang yang lebih besar untuk menarik pengunjung. Berdasarkan hasil pemeringkatan lokasi kandidat, diperoleh beberapa titik lokasi yang direkomendasikan sebagai lokasi potensial untuk pembukaan coffee shop baru di Jakarta Pusat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan GIS dalam analisis lokasi usaha dapat membantu proses pengambilan keputusan secara lebih objektif dan berbasis data, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dalam menentukan lokasi bisnis yang strategis.

9 menit baca

139 dilihat

1 Proyek

Syarat dan Ketentuan
Pendahuluan
  • MAPID adalah platform yang menyediakan layanan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk pengelolaan, visualisasi, dan analisis data geospasial.
  • Platform ini dimiliki dan dioperasikan oleh PT Multi Areal Planing Indonesia, beralamat