LATAR BELAKANG Kota Surabaya merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Timur. Sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi, Kota Surabaya memiliki aktivitas distribusi logistik yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan sistem distribusi yang efisien dan merata. Gudang sebagai simpul distribusi memegang peran penting dalam menjangkau berbagai titik permintaan serta mendukung kelancaran rantai pasok. Namun, distribusi gudang yang belum optimal dapat menyebabkan ketimpangan layanan, dimana masih terdapat wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi yang belum terlayani secara maksimal. Oleh karena itu, diperlukan analisis spasial untuk mengevaluasi jangkauan gudang eksisting serta mengidentifikasi lokasi potensial untuk pengembangan gudang baru. Dalam analisis ini, pendekatan tidak hanya mempertimbangkan aspek aksesibilitas dan permintaan, tetapi juga divalidasi melalui kondisi eksisting menggunakan fitur pada GeoMAPID yaitu site location dan site analysis (SINI) serta kesesuaian tata ruang melalui RDTR Online. Pendekatan ini bertujuan menghasilkan rekomendasi lokasi yang tidak hanya strategis, tetapi juga layak dan sesuai regulasi. TUJUAN 1. Mengevaluasi jangkauan distribusi gudang eksisting. 2. Mengidentifikasi area dengan permintaan tinggi yang belum terlayani. 3. Menentukan lokasi optimal pengembangan gudang baru. 4. Memvalidasi lokasi berdasarkan kondisi lahan dan tata ruang. METODE Pada project ini, analisis dilakukan menggunakan pendekatan spasial berbasis beberapa parameter utama, yaitu jangkauan distribusi, distribusi permintaan, risiko bencana (banjir), serta validasi kondisi tata guna lahan dan tata ruang. Jangkauan distribusi dianalisis menggunakan metode isochrone berbasis waktu tempuh kendaraan dengan mempertimbangkan kondisi kemacetan, karena parameter waktu dinilai lebih merepresentasikan kondisi distribusi aktual dibandingkan jarak. Sebagai pembanding, digunakan analisis radius untuk melihat perbedaan antara jangkauan teoritis dan kondisi nyata di lapangan. Data gudang eksisting direpresentasikan melalui tiga titik simulasi yang dipilih untuk mewakili distribusi spasial kawasan logistik utama di Surabaya, yaitu bagian barat, timur, dan utara. Pemilihan tiga titik ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi distribusi awal secara umum tanpa bergantung pada satu lokasi tertentu. Distribusi permintaan direpresentasikan melalui 26 titik Point of Interest (POI) yang mencerminkan aktivitas ekonomi seperti kawasan komersial, pusat perbelanjaan, dan area jasa. Jumlah dan sebaran titik ini dipilih untuk memberikan representasi yang cukup merata terhadap pola permintaan di wilayah perkotaan Surabaya (Bagian Pusat, Timur, Barat, Utara, dan Selatan) Selanjutnya dilakukan overlay antara jangkauan distribusi dan titik permintaan untuk mengidentifikasi area yang belum terlayani (gap area). Area yang teridentifikasi kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan fitur site selection analysis (SINI) dengan mempertimbangkan parameter penggunaan lahan, demografi, dan risiko bencana. Parameter ini dipilih untuk memastikan bahwa lokasi yang direkomendasikan tidak hanya memiliki permintaan tinggi, tetapi juga didukung oleh karakteristik wilayah yang sesuai untuk pengembangan gudang. Selain itu, dilakukan validasi menggunakan RDTR Online untuk memastikan bahwa lokasi yang dipilih sesuai dengan peruntukan ruang yang berlaku. HASIL DAN ANALISIS Hasil analisis menunjukkan bahwa jangkauan distribusi gudang eksisting masih banyak yang belum mencakup seluruh wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi. Berdasarkan analisis isochrone, masih terdapat beberapa area yang berada di luar jangkauan optimal baik dalam skenario 10 menit maupun 15 menit waktu tempuh. Perbandingan dengan analisis radius menunjukkan adanya perbedaan jangkauan, dimana jangkauan berbasis jarak cenderung lebih luas dibandingkan dengan jangkauan berbasis waktu. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor kemacetan dan jaringan jalan berpengaruh terhadap efektivitas distribusi. Overlay dengan data permintaan menunjukkan adanya beberapa klaster aktivitas ekonomi yang belum terlayani secara optimal, yang kemudian diidentifikasi sebagai gap area dalam sistem distribusi. Selain itu, overlay dengan wilayah risiko banjir menunjukkan lokasi yang baru nantinya sebisa mungkin tidak berada dalam kelas risiko banjir sedang dan tinggi.
Berdasarkan hasil tersebut, diperoleh tiga alternatif titik lokasi untuk pengembangan gudang baru A di Kandangan, gudang baru B di Lontar, dan gudang baru C di Ngagel Rejo. Ketiga titik tersebut berada pada area dengan konsentrasi permintaan yang cukup tinggi namun belum terjangkau oleh gudang eksisting. Analisis lanjutan menggunakan fitur site analysis (SINI) menunjukkan bahwa titik gudang baru A dan B memiliki karakteristik lahan berupa tegalan dan lahan kosong, yang mendukung pengembangan fasilitas logistik. Selain itu, kedua lokasi tersebut berada pada zona dengan risiko bencana yang rendah, sehingga lebih aman untuk operasional jangka panjang.
Sementara itu, titik gudang baru C memiliki keterbatasan karena berada pada area dengan kondisi yang kurang optimal dari karakteristik lahan (sudah merupakan lahan industri eksisting). Validasi menggunakan RDTR Online juga menunjukkan bahwa titik gudang baru A dan B memiliki kesesuaian dengan peruntukan ruang yang mendukung kegiatan industri dan logistik, sehingga memperkuat kelayakan lokasi tersebut. Dengan mempertimbangkan seluruh parameter, titik gudang baru A dan B menjadi lokasi yang paling direkomendasikan untuk pengembangan pembangunan gudang baru. KESIMPULAN Distribusi gudang eksisting di Kota Surabaya masih belum merata dan belum mampu menjangkau seluruh wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi secara optimal. Pendekatan berbasis waktu tempuh (isochrone) terbukti lebih representatif dibandingkan pendekatan berbasis jarak (radius), karena mempertimbangkan kondisi nyata jaringan jalan dan kemacetan. Integrasi antara analisis aksesibilitas, distribusi permintaan, serta validasi kondisi lahan, demografi, risiko bencana, dan tata ruang menghasilkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam penentuan lokasi optimal. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh rekomendasikan pengembangan gudang baru pada titik A di wilayah Kandangan dan titik B di wilayah Lontar yang memiliki potensi terbaik dari aspek permintaan, aksesibilitas, kesesuaian lahan, serta tingkat risiko yang rendah. SARAN Untuk pengembangan lebih lanjut, disarankan penggunaan data tambahan seperti volume distribusi, jaringan transportasi detail, serta data operasional logistik untuk meningkatkan akurasi analisis. Selain itu, pembaruan data tata ruang dan risiko bencana secara berkala juga penting untuk memastikan keberlanjutan dan keamanan lokasi dalam jangka panjang. Analisis spasial seperti ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis data dalam perencanaan infrastruktur logistik perkotaan.