1. Pendahuluan
Wilayah pesisir utara Pulau Jawa merupakan kawasan yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana banjir, baik yang disebabkan oleh curah hujan ekstrem, limpasan sungai, maupun fenomena banjir rob akibat pasang air laut. Salah satu wilayah yang terdampak adalah kawasan Pantura di Kabupaten Subang, yang memiliki karakteristik topografi datar dan ketinggian relatif rendah. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah ini sering mengalami genangan banjir yang berdampak pada aktivitas masyarakat serta meningkatkan risiko terhadap keselamatan penduduk.
Dalam upaya mitigasi bencana banjir, keberadaan shelter evakuasi menjadi komponen penting dalam mendukung keselamatan masyarakat saat terjadi kondisi darurat. Shelter evakuasi harus berada pada lokasi yang layak, baik dari segi ketersediaan fasilitas, kapasitas, maupun keterjangkauannya terhadap masyarakat terdampak. Namun, pada kenyataannya, belum seluruh wilayah memiliki lokasi yang memenuhi kriteria kelayakan tersebut, sehingga diperlukan analisis spasial untuk mengidentifikasi wilayah yang layak maupun belum layak dijadikan lokasi shelter evakuasi.
Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) memungkinkan dilakukan analisis spasial secara sistematis melalui integrasi berbagai parameter. Dalam penelitian ini, penilaian kelayakan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan distribusi Point of Interest (POI) yang meliputi sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, perkantoran, dan olahraga, serta karakteristik demografi berupa jumlah dan kepadatan penduduk. Parameter tersebut dipilih karena mencerminkan tingkat aktivitas serta potensi kapasitas suatu wilayah dalam mendukung fungsi shelter evakuasi.
Analisis dilakukan dengan pendekatan berbasis grid untuk mengklasifikasikan wilayah ke dalam kategori layak dan tidak layak. Selanjutnya, hasil analisis tersebut diintegrasikan dengan peta risiko banjir untuk mengetahui kesesuaian lokasi pada wilayah yang terdampak. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran spasial mengenai distribusi wilayah yang layak serta wilayah yang masih belum memenuhi kriteria sebagai lokasi shelter evakuasi banjir di Pantura Kabupaten Subang.
1.1 Rumusan Masalah
-
1.Bagaimana tingkat kelayakan lokasi shelter evakuasi banjir berdasarkan parameter POI dan demografi di wilayah Pantura Kabupaten Subang?
-
2.Bagaimana distribusi wilayah yang layak dan belum layak sebagai lokasi shelter evakuasi pada area berisiko banjir?
1.2 Tujuan
-
1.Menganalisis kelayakan lokasi shelter evakuasi banjir berbasis parameter POI dan demografi.
-
2.Mengidentifikasi distribusi wilayah layak dan belum layak pada kawasan berisiko banjir.
2. Metodologi Penelitian
2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah pesisir utara (Pantura) Kabupaten Subang. Wilayah ini dipilih karena memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana banjir akibat kondisi topografi datar, kedekatan dengan laut, serta tingginya aktivitas penduduk di kawasan pesisir.
2.2 Data yang Digunakan
Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
-
1.Data POI (sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, perkantoran pemerintahan, dan olahraga)
-
2.Data Demografi (jumlah penduduk dan kepadatan penduduk)
-
3.Data Risiko Banjir
-
4.Data Batas Wilayah Administrasi Tingkat Desa/Kelurahan dan/atau Kecamatan
2.3 Metode Analisis
Metode yang digunakan adalah analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan pendekatan overlay parameter berbasis grid.
Tahapan analisis meliputi:
-
1.Pengolahan Data POI Data POI yang terdiri dari sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, perkantoran, dan olahraga diolah untuk mengetahui distribusi fasilitas yang berpotensi mendukung fungsi shelter evakuasi. Setiap jenis POI merepresentasikan kapasitas ruang dan aktivitas yang dapat menunjang kebutuhan pengungsian.
-
2.Analisis Demografi Data jumlah dan kepadatan penduduk dianalisis untuk mengidentifikasi wilayah dengan tingkat kebutuhan evakuasi yang tinggi. Wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi diasumsikan memiliki urgensi lebih besar terhadap keberadaan shelter.
-
3.Analisis Klasifikasi Kelayakan Lokasi Berbasis Grid menggunakan Site Analysis Melalui pemanfaatan tools Site Analysis (SINI) pada GeoMAPID, wilayah penelitian didelineasi ke dalam unit analisis berbasis grid. Setiap grid kemudian dievaluasi dengan mempertimbangkan parameter POI dan kondisi demografi untuk menghasilkan nilai skor yang mencerminkan tingkat kelayakan lokasi. Berdasarkan hasil pengolahan tersebut, masing-masing grid selanjutnya diklasifikasikan ke dalam kategori kelayakan, yaitu layak dan tidak layak sebagai lokasi shelter evakuasi. Proses klasifikasi ini didasarkan pada tingkat ketersediaan fasilitas serta karakteristik demografi yang dimiliki oleh setiap unit grid.
-
4.Overlay dengan Peta Risiko Banjir Hasil klasifikasi kelayakan lokasi kemudian dioverlay dengan peta risiko banjir untuk mengetahui distribusi lokasi layak dan tidak layak pada wilayah yang terdampak banjir.
-
5.Interpretasi dan Identifikasi Lokasi Layak Hasil akhir berupa peta distribusi kelayakan lokasi shelter evakuasi banjir. Dari hasil overlay, diidentifikasi lokasi-lokasi yang dinilai layak sebagai shelter pada area berisiko banjir, serta wilayah yang belum memenuhi kriteria kelayakan.
Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Analisis Distribusi POI
Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi Point of Interest (POI) di wilayah penelitian memiliki pola yang tidak merata. Fasilitas seperti sarana pendidikan, peribadatan, dan perkantoran cenderung terkonsentrasi pada wilayah dengan tingkat perkembangan yang lebih tinggi, khususnya di area yang dekat dengan pusat aktivitas ekonomi dan jalur transportasi utama. Sementara itu, wilayah yang berada lebih dekat ke garis pantai atau daerah yang relatif terpencil memiliki jumlah fasilitas yang lebih terbatas. Kondisi ini menyebabkan rendahnya potensi wilayah tersebut untuk dijadikan lokasi shelter evakuasi, mengingat keterbatasan kapasitas ruang dan fasilitas pendukung. Distribusi POI ini menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan tingkat kelayakan suatu wilayah, karena keberadaan fasilitas tersebut diasumsikan mampu mendukung kebutuhan dasar pengungsi, seperti tempat berlindung, akses layanan kesehatan, serta ruang berkumpul.
2. Hasil Analisis Demografi
Berdasarkan analisis data demografi, diketahui bahwa jumlah dan kepadatan penduduk di wilayah penelitian bervariasi antar grid. Wilayah dengan kepadatan tinggi umumnya berada di kawasan permukiman padat dan pusat kegiatan ekonomi, sedangkan wilayah dengan kepadatan rendah cenderung berada di daerah pinggiran atau kawasan non-terbangun. Kepadatan penduduk menjadi indikator penting dalam menentukan kebutuhan shelter evakuasi, karena semakin tinggi jumlah penduduk, maka semakin besar pula kebutuhan terhadap fasilitas evakuasi yang memadai. Oleh karena itu, wilayah dengan kepadatan tinggi memiliki prioritas lebih besar dalam penyediaan shelter. Namun demikian, tidak semua wilayah dengan kepadatan tinggi memiliki kelayakan sebagai shelter, karena tetap bergantung pada ketersediaan fasilitas pendukung yang memadai.
3. Hasil Analisis Kelayakan Lokasi Berbasis SINI
Hasil analisis menggunakan tools SINI pada platform GeoMAPID menunjukkan bahwa wilayah penelitian dapat diklasifikasikan ke dalam kategori lokasi layak dan tidak layak sebagai shelter evakuasi banjir. Klasifikasi ini didasarkan pada kombinasi parameter POI dan demografi yang dihitung pada setiap unit grid. Grid yang memiliki jumlah fasilitas tinggi serta kepadatan penduduk yang signifikan cenderung dikategorikan sebagai lokasi layak. Sebaliknya, grid dengan keterbatasan fasilitas dan jumlah penduduk yang rendah dikategorikan sebagai tidak layak.
Secara umum, hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah masih belum memenuhi kriteria kelayakan sebagai shelter evakuasi. Hal ini mengindikasikan adanya ketimpangan distribusi fasilitas serta belum meratanya dukungan infrastruktur di seluruh wilayah penelitian.
4. Hasil Overlay dengan Peta Risiko Banjir
Hasil overlay antara peta kelayakan lokasi dengan peta risiko banjir menunjukkan bahwa tidak seluruh wilayah terdampak banjir memiliki lokasi yang layak sebagai shelter evakuasi. Pada area dengan tingkat risiko banjir tinggi, hanya terdapat beberapa grid yang memenuhi kriteria kelayakan berdasarkan parameter yang digunakan. Hal ini mengindikasikan bahwa ketersediaan lokasi shelter yang ideal di wilayah rawan banjir masih sangat terbatas. Selain itu, terdapat pula wilayah dengan tingkat risiko banjir tinggi yang tidak didukung oleh keberadaan fasilitas yang memadai, sehingga tidak dapat direkomendasikan sebagai lokasi shelter. Kondisi ini menjadi perhatian penting dalam perencanaan mitigasi bencana, karena berpotensi membatasi akses masyarakat terhadap tempat evakuasi yang aman dan layak.
Berdasarkan hasil analisis dan proses overlay yang dilakukan, diperoleh beberapa lokasi yang dinilai layak sebagai shelter evakuasi banjir pada wilayah berisiko, yang diwakili oleh grid bernilai 5, 9, dan 10. Lokasi-lokasi tersebut merupakan area yang memiliki kombinasi optimal antara ketersediaan fasilitas dan karakteristik demografi, sehingga secara relatif lebih mampu mendukung fungsi shelter evakuasi. Namun demikian, dari keseluruhan wilayah penelitian, hanya sebagian kecil lokasi yang memenuhi kriteria kelayakan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak wilayah yang belum memiliki kondisi ideal untuk dijadikan sebagai shelter evakuasi.
Lebih lanjut, ketiga lokasi yang dinilai layak dan berada dalam kawasan berisiko banjir tersebut umumnya terletak pada ruas jalan arteri, yang memiliki tingkat aksesibilitas lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Keberadaan pada jaringan jalan utama ini memberikan keuntungan dari sisi kemudahan jangkauan, sehingga berpotensi mendukung proses evakuasi secara lebih cepat dan efisien. Akan tetapi, berdasarkan hasil pengukuran jarak, lokasi-lokasi tersebut memiliki jarak yang relatif cukup jauh dari beberapa titik wilayah terdampak, sehingga berpotensi menimbulkan kendala dalam proses evakuasi, terutama dalam kondisi darurat yang membutuhkan waktu tempuh yang cepat.
Kondisi ini menunjukkan adanya trade-off antara aspek kelayakan lokasi secara fasilitas dan kemudahan aksesibilitas secara jarak. Meskipun lokasi tersebut unggul dari sisi ketersediaan fasilitas dan berada pada jaringan jalan utama, jarak yang cukup jauh dapat mengurangi efektivitasnya sebagai shelter evakuasi, khususnya bagi masyarakat yang berada pada area dengan akses terbatas. Oleh karena itu, keberadaan shelter tidak hanya perlu mempertimbangkan kualitas lokasi, tetapi juga distribusinya agar dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak secara lebih merata. Lokasi-lokasi tersebut tetap dapat dijadikan sebagai prioritas dalam perencanaan penyediaan shelter, baik melalui optimalisasi fasilitas yang telah ada maupun pengembangan infrastruktur pendukung di masa mendatang, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan penambahan shelter pada wilayah lain yang lebih dekat dengan titik risiko.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendekatan spasial berbasisSIG dengan menggunakan parameter POI dan demografi mampu mengidentifikasi tingkat kelayakan lokasi shelter evakuasi banjir di wilayah Pantura Kabupaten Subang. Pendekatan ini memberikan gambaran spasial mengenai distribusi wilayah yang layak dan tidak layak berdasarkan ketersediaan fasilitas serta karakteristik kependudukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah masih belum memenuhi kriteria kelayakan sebagai lokasi shelter evakuasi. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan fasilitas pendukung serta distribusi penduduk yang tidak merata. Setelah dilakukan overlay dengan peta risiko banjir, diketahui bahwa hanya sebagian kecil lokasi pada area berisiko yang dapat dikategorikan sebagai layak, yang dalam penelitian ini diwakili oleh beberapa grid tertentu. Meskipun lokasi-lokasi tersebut memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan fasilitas dan berada pada jaringan jalan utama, hasil analisis juga menunjukkan bahwa jarak antara lokasi shelter dengan beberapa wilayah terdampak relatif cukup jauh. Kondisi ini berpotensi mengurangi efektivitas proses evakuasi, terutama dalam situasi darurat yang membutuhkan kecepatan dan kemudahan akses. Dengan demikian, kelayakan lokasi tidak hanya ditentukan oleh aspek fasilitas dan demografi, tetapi juga perlu mempertimbangkan kedekatan jarak terhadap wilayah terdampak.
Temuan ini menunjukkan bahwa ketersediaan shelter evakuasi yang ideal di wilayah rawan banjir masih terbatas dan belum terdistribusi secara merata. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang lebih komprehensif dalam penyediaan shelter evakuasi, baik melalui optimalisasi fasilitas yang telah ada maupun penambahan lokasi baru yang lebih dekat dengan area berisiko. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan terkait mitigasi bencana banjir, serta dapat dikembangkan lebih lanjut dengan mempertimbangkan parameter tambahan seperti elevasi dan aksesibilitas jaringan jalan secara kuantitatif untuk menghasilkan analisis yang lebih optimal dan aplikatif.
DAFTAR PUSTAKA
BNPB. (2012). Peraturan Kepala BNPB Nomor 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Cova, T. J., & Church, R. L. (1997). Modeling community evacuation vulnerability using GIS. International Journal of Geographical Information Science, 11(8), 763–784.
Liu, Y., & Zhu, X. (2016). Location-allocation models for emergency facility planning: A review. ISPRS International Journal of Geo-Information, 5(7), 1–17.
Yin, J., Yu, D., & Yin, Z. (2015). Modelling spatial distribution of urban flood risk in coastal cities. Natural Hazards, 75(1), 671–685.
Zhenchao, L., & Rosenhouse, G. (2020). Statistical methods for spatial variability analysis in environmental data. Environmental Modelling & Software, 124, 104601.