Optimalisasi Tingkat Keterjangkauan Objek Wisata Terhadap Fasilitas Penunjang Wisata Berbasis Sistem Informasi Geografis di Kota Banjar

01/06/2024 • Desviana Dwi Haryani

Tingkat Keterjangkauan Objek Wisata Terhadap Fasilitas Penunjang Wisata

Peta Sebaran Lokasi Objek Wisata Kota Banjar


Wisata kota banjar
Wisata kota banjar

PENDAHULUAN

Pariwisata merupakan sektor penting di daerah berkembang, dan pariwisata adalah kumpulan faktor-faktor seperti wisatawan, perjalanan, destinasi, dan industri. Pariwisata merupakan sumber devisa utama negara dan juga dapat menciptakan lapangan kerja serta keterampilan bagi masyarakat lokal. Pariwisata merupakan jenis industri baru yang dapat mencapai pertumbuhan ekonomi pesat dalam hal lapangan kerja, pendapatan dan standar hidup serta merangsang sektor produktif lainnya di negara-negara wisata (Wahab. 1995:5).

Kota Banjar merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Barat yang bertepatan dengan Kabupaten Cilacap di Provinsi Jawa Tengah. Walaupun luas wilayah Kota Banjar tidak terlalu luas yaitu sekitar 131,97 km², namun terdapat beberapa tempat wisata yang dikelola dan menarik sebagai salah satu potensi tempat wisata kota Banjar. Kota Banjar yang tak jauh berbeda dengan wilayah Jawa Barat lainnya menawarkan pemandangan alam yang memukau. Kota Banjar berada di lokasi yang sangat strategis, terletak di pertigaan jalan yang menghubungkan tiga destinasi wisata besar. Bagi wisatawan dari arah barat (Bandung dan sekitarnya) ke arah timur (Yogyakarta dan sekitarnya) dan sebaliknya, dan bagi wisatawan yang berlibur ke Pangandaran melalui jalan utama menuju ke selatan Kota. Oleh karena itu Kota Banjar banyak dilalui kendaraan dari berbagai daerah, yang menjadi kesempatan untuk mengenalkan potensi pariwisata Kota Banjar. Potensi pariwisata yang telah dikembangkan di Kota Banjar diantaranya Wana Wisata Mustika Taman Anggrek, Situ Leutik, Banjar Waterpark, Rawa Onom, Kokoplak, Lembah Pajamben, dan Wisata Kuliner Banjar Atas. Sebagai wilayah persinggahan, Kota Banjar harus berbenah untuk mengambil kesempatan yang ada agar lebih meningkatkan lagi perekonomian terutama di sektor pariwisata. Berikut akan disajikan data Dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara di Kota Banjar tahun 2021 hingga tahun 2023:

Tabel 1. Data Kunjungan Wisata di Kota Banjar

Tabel data kunjungan wisata

Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwasannya pada tahun 2021-2022 tidak ada wisatawan yang berkunjung ke Kota Banjar karena adanya pandemi covid-19 yang melanda. Oleh karena itu perlunya inovasi dan kebijakan yang mendorong terbentuknya pariwisata yang baik dan tidak monoton bagi para wisatawan sehingga dapat menciptakan daya tarik baik bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Daya tarik wisata dan fasilitas pendukung pariwisata saling berkaitan erat, dan keduanya saling melengkapi untuk memberikan pengalaman yang nyaman bagi wisatawan. Fasilitas penunjang pariwisata adalah segala sesuatu yang dibutuhkan wisatawan ketika mengunjungi suatu objek wisata, seperti fasilitas transportasi, ekonomi, dan kesehatan. Fasilitas tersebut harus memadai dan mudah diakses demi kenyamanan wisatawan. Keamanan perjalanan terjamin. Hadirnya fasilitas pendukung yang memadai memungkinkan wisatawan lebih menikmati objek wisata yang dikunjunginya. Di sisi lain, fasilitas pendukung yang kurang memadai dapat mengganggu pengalaman wisatawan, menimbulkan kebingungan, bahkan menurunkan daya tarik objek wisata. Oleh karena itu, penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan pariwisata untuk memperhatikan dan meningkatkan fasilitas pendukung guna memberikan pengalaman nyaman bagi wisatawan dan meningkatkan daya tarik sumber daya pariwisata.

Penelitian pada artikel ini bertujuan untuk membantu wisatawan Kota Banjar mengenai keterjangkauan objek wisata terhadap fasilitas penunjang wisata.

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian berada di wilayah Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat. Kota Banjar merupakan wilayah yang terletak di timur Jawa Barat dan merupakan kawasan perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah karena bagian timur Kota Banjar berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap. Kota Banjar ini memiliki empat wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Banjar, Kecamatan Purwaharja, Kecamatan Pataruman, serta Kecamatan Langensari.

Variabel Penelitian

Variabel data merupakan data - data yang digunakan sebagai parameter pengolahan data untuk mengolah tingkat keterjangkauan objek wisata terhadap fasilitas penunjangnya. Adapun variabel data yang digunakan untuk pengolahan data pada penelitian ini antara lain:

  1. 1.
    Objek wisata

Tabel 2. Jumlah objek wisata Kota Banjar

Objek wisata Kota Banjar

2. Fasilitas Penunjang Wisata

Tabel 3. Jumlah Fasilitas Penunjang Wisata

Objek penunjang wisata

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan mengakuisisi data dari setiap variabel yang digunakan sebagai data utama untuk dilakukan analisis. Data variabel diperoleh dari data lokasi objek wisata dan fasilitas-fasilitas penunjang yang diperoleh dari Google Maps secara manual. Data tersebut dihimpun dalam format vektor point. Sementara untuk data batas administrasi Kota Banjar berupa data poligon dan jalan berupa data line, diperoleh dari situs ina geoportal.

Teknik Analisis Data

Nearest Neighbor Analysis

Analisis Nearest Neighbor merupakan analisis spasial di aplikasi ArcGIS yang digunakan untuk mengetahui pola sebaran objek wisata yang ada di Kota Banjar. penalaran yang objektif. Nearest neighbor analysis akan menghasilkan nilai berkisar dari 0 sampai 2.15, dimana nilai 0 sampai 0.7 merupakan nilai untuk pola penyebaran mengelompok (cluster), nilai 0.71 sampai 1.4 merupakan nilai untuk pola penyebaran acak (random), dan nilai 1.41 sampai 2.15 merupakan nilai untuk penyebaran seragam (uniform).

Multiple Ring Buffer

Teknik analisis selanjutnya yang digunakan adalah metode buffering atau teknik Multiple Ring Buffer dengan aplikasi ArcGIS yang dilakukan terhadap titik objek wisata. Buffer dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat didefinisikan sebagai wilayah atau area yang didefinisikan sebagai daerah berbentuk lingkaran atau persegi panjang dengan jarak tertentu dari titik, garis, atau poligon tertentu. Tujuan dari dilakukannya buffering ini adalah untuk menganalisis dan memvisualisasikan tingkat keterjangkauan fasilitas penunjang di sekitar objek wisata dalam radius tertentu yang nantinya ditentukan saat dilakukan pengolahan.

Analisis Deskriptif

Penelitian ini menerapkan metode analisis deskriptif melalui pendekatan kuantitatif yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan menjabarkan tingkat keterjangkauan fasilitas penunjang objek wisata di Kota Banjar.

HASIL PEMBAHASAN

Sebaran Lokasi Objek Wisata terhadap Fasilitas Penunjang Wisata

Berdasarkan pada variabel data yang digunakan, Kota Banjar memiliki 26 objek wisata yang tersebar di keempat kecamatan. Untuk mengetahui pola sebaran dari lokasi objek wisata di Kota Banjar, digunakan analisis Nearest Neighbor dengan aplikasi ArcGIS. Hasil yang diperoleh dari pengolahan Nearest Neighbor adalah sebagai berikut.

report NNA

Hasil laporan Nearest Neighbor yang didapatkan menunjukkan bahwa pola persebaran objek wisata di Kota Banjar diidentifikasi termasuk pada klasifikasi pola persebaran acak (Random). Hal ini ditunjukkan dengan nilai z-score -1,296997 yang kurang dari 1 sehingga mendapatkan klasifikasi acak. Objek wisata di Kota Banjar cenderung banyak terdapat di bagian tengah hingga barat Kota Banjar, sedangkan di bagian timur Kota Banjar objek wisata yang ditemukan sangat jarang. Bagian timur Kota Banjar atau di daerah Kecamatan Langensari lebih difokuskan pada wilayah industri dan pertanian dan terbatasnya potensi pada perkembangan wisata dibandingkan dengan daerah lainnya. Oleh sebab itu, sebaran objek wisata yang terdapat di Kota Banjar diklasifikasikan memiliki pola sebaran acak. Berikut merupakan visualisasi sebaran lokasi objek wisata di Kota Banjar.

Peta sebaran objek wisata Kota Banjar Fasilitas Penunjang wisata

Analisis Tingkat Keterjangkauan Objek Wisata

Untuk mengetahui keterjangkauan objek wisata terhadap fasilitas penunjang wisata digunakan pemanfaatan Geoprocessing berupa Multiple Ring Buffer. Objek wisata yang terdapat di Kota Banjar berjumlah 26 objek yang tersebar di empat kecamatan di Kota Banjar berdasarkan hasil geotagging yang telah dilakukan. Analisa dengan menggunakan teknik Buffer ini ditentukan dengan memasukkan radius tingkat keterjangkauan fasilitas penunjang wisata terhadap objek wisata. Dalam menentukan radius tingkat keterjangkauan, digunakan acuan berdasarkan SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan dengan klasifikasi radius tingkat keterjangkauan yang didasarkan pada jarak jangkauan ideal pejalan kaki dipakai sebagai berikut.

Tabel 4. Nilai Tingkat keterjangkauan

klasifikasi keterjangkauan

Berdasarkan hasil dari tingkat keterjangkauan pada metode Buffer yang telah dilakukan, tingkat keterjangkauan objek wisata terhadap fasilitas penunjang wisata di Kota Banjar yang terdiri dari fasilitas ekonomi, fasilitas kesehatan dan fasilitas transportasi menunjukkan hasil keterjangkauan yang bervariasi. Pada nilai keterjangkauan 0-400 meter, jumlah fasilitas penunjang yang sangat terjangkau berjumlah 19 fasilitas atau hanya 27% dari seluruh fasilitas penunjang. Fasilitas tersebut hanya terdiri atas fasilitas kesehatan, fasilitas ekonomi dan fasilitas transportasi yang dapat terjangkau oleh wisatawan dengan berjalan kaki. Pada nilai keterjangkauan 401-800 meter, jumlah fasilitas penunjang wisata yang cukup terjangkau berjumlah 32 fasilitas dengan persentase 46% dari seluruh fasilitas penunjang wisata yang terdapat di Kota Banjar dan terdiri atas fasilitas kesehatan, fasilitas ekonomi dan fasilitas transportasi. Pada klasifikasi kurang terjangkau dengan nilai 801-1200 meter, terdapat 10 fasilitas penunjang wisata atau hanya 14% dari seluruh fasilitas yang terdapat di kawasan objek wisata yang terdiri dari fasilitas kesehatan, fasilitas ekonomi dan fasilitas transportasi. Pada daerah jangkauan terjauh > 1200 meter dengan klasifikasi tidak terjangkau oleh wisatawan dengan berjalan kaki, hanya terdapat 9 fasilitas penunjang atau 13% dari jumlah fasilitas penunjang yang terdiri fasilitas kesehatan, fasilitas ekonomi dan fasilitas transportasi.

BUFFEER

Tabel 5. Hasil Klasifikasi Tingkat Keterjangkauan

Tingkat keterjankauan kota banjar

Dari hasil analisis tersebut, dapat dikatakan bahwa fasilitas penunjang wisata terhadap objek wisata yang terdapat di Kota Banjar belum menjangkau secara menyeluruh di tiap objek wisata. Ditinjau dari hasil data sebaran lokasi fasilitas penunjang wisata berupa fasilitas kesehatan, fasilitas ekonomi dan fasilitas transportasi belum secara merata dapat dijangkau oleh wisatawan. Adapun beberapa objek wisata yang terdapat di bagian timur Kota Banjar jarang ditemukan adanya fasilitas penunjang wisata. Dengan demikian, pemerintah dan dinas terkait perlu dilakukannya pembaharuan terkait data objek wisata dan fasilitas penunjang wisata yang terdapat di Kota Banjar ataupun dilakukan penambahan dan pemerataan fasilitas penunjang wisata dalam memfasilitasi keterjangkauan wisatawan dalam mendapatkan kunjungan ke objek wisata yang lebih baik dengan akses fasilitas penunjang yang lebih memadai.

KESIMPULAN

Lokasi wisata yang berada di Kota Banjar terdapat 26 objek yang tersebar di empat kecamatan nya, namun lebih didominasi dari bagian Banjar selatan hingga ke barat. Berdasarkan hasil yang diolah pada Nearest Neighbor diklasifikasikan pola persebaran acak atau Random dengan nilai z-score -1,296997 yang kurang dari 1 sehingga mendapatkan klasifikasi acak. Sedangkan pada hasil Multiple Ring Buffer menganalisa bahwa semakin tinggi nilai jarak keterjangkauan maka semakin tidak terjangkau ideal pejalan kaki ke lokasi objek wisata, dan nilai keterjangkauan yang didapatkan yaitu fasilitas penunjang wisata terhadap objek wisata yang terdapat di Kota Banjar belum menjangkau atau memadai secara menyeluruh di tiap objek wisata termasuk fasilitas kesehatan, fasilitas ekonomi dan fasilitas transportasi.

DIBUAT OLEH:

(MAOL-01424-01) Annisa Amaanah

(MAOL-01324-01) Desviana Dwi Haryani

(MAOL-01524-01) Disha Fadila Aprilia

(MAOL-01624-01) Mirna Kurniasih

DAFTAR PUSTAKA

Afrilia Elizabet Sagala, S.Par., M.Arch. (n.d.). Kualitas Atraksi Wisata Pasar Terapung Banjarmasin Terhadap Kepuasan Wisatawan. 1-17.

UNIKOM. (n.d.). 1-10. https://elibrary.unikom.ac.id/id/eprint/8298/8/UNIKOM_ALPANI%20ZN_BAB%20I.pdf

Universitas Lampung. (2023). TINGKAT KETERJANGKAUAN OBJEK WISATA TERHADAP FASILITAS PENUNJANG WISATA BERBANTUAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KABUPATEN PRINGSEWU. 1-61. https://digilib.unila.ac.id/76758/2/3.%20SKRIPSI%20TANPA%20BAB%20PEMBAHASAN.pdf

Universitas Siliwangi. (n.d.). 1-9.

Rahmah, I. M., Anggraeni, F. N., & Andita, W. A.N. (2023). Analisis Pola Sebaran dan Keterjangkauan Fasilitas KesehatanTerhadapPemukiman Dengan Analisis Buf ering dan Near NeighbourAnalysisdiKecamatan Pulo Gadung. Jurnal Sains Geografi, 1(1), 104-116.

Rizal, S., & Syaibana, P. L. D.S. (2022). Analisis Keterjangkauan dan Pola Persebaran SMA/MA Negeri di Kabupaten Banyuwangi Menggunakan Analisis Buffering dan Nearest Neighbor pada Aplikasi Q-GIS. Techno.COM, 21(2), 355-363.

Data Publications