1. Gambaran Umum
Kabupaten Jombang memiliki peran strategis sebagai wilayah penyangga dalam sistem perkotaan Gerbangkertosusila (GKS) yang menghubungkan berbagai pusat pertumbuhan di Provinsi Jawa Timur, termasuk Mojokerto dan Surabaya. Posisi geografis Kabupaten Jombang yang dilewati oleh jaringan jalan regional serta kedekatannya dengan kawasan industri dan perdagangan menjadikan wilayah ini sebagai simpul pergerakan manusia dan barang. Selain itu, Kabupaten Jombang juga memiliki kawasan industri di utara Sungai Brantas yang berpotensi menjadi pusat pertumbuhan baru, khususnya dalam menarik pergerakan tenaga kerja, distribusi logistik, serta aktivitas ekonomi lainnya, sehingga semakin memperkuat peran Jombang dalam sistem konektivitas regional. Dengan demikian, keberadaan sistem transportasi yang terintegrasi menjadi penting untuk mendukung fungsi Jombang dalam memperkuat konektivitas antarwilayah di kawasan GKS.
Namun demikian, kondisi faktual menunjukkan adanya ketimpangan antara kebutuhan mobilitas masyarakat dengan ketersediaan layanan transportasi umum yang memadai. Tingginya pergerakan harian masyarakat, khususnya pada koridor Jombang–Mojokerto maupu pada wilayah Gerbangkertosusila (GKS) lainnya, belum sepenuhnya diimbangi dengan penyediaan angkutan umum yang terintegrasi. Keterbatasan pilihan moda transportasi menyebabkan masyarakat cenderung bergantung pada kendaraan pribadi, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan beban lalu lintas serta menurunkan efisiensi perjalanan.
Dalam permasalahan tersebut, rencana pengembangan layanan Trans Jatim oleh Pemerintah Provinsi Jawatimur hingga ke Kabupaten Jombang menjadi langkah yang relevan untuk menjawab kebutuhan mobilitas tersebut. Rencana koridor baru Trans Jatim ini akan dimulai dari Terminal Lespadangan, Kabupaten Mojokerto. Kehadiran Trans Jatim diharapkan mampu meningkatkan aksesibilitas antarwilayah, khususnya dalam mendukung pergerakan komuter antara Jombang dan Mojokerto maupun ke kawasan GKS secara lebih luas. Selain itu, pengembangan koridor baru ini juga berpotensi mendorong pemerataan layanan transportasi publik hingga ke wilayah penyangga yang selama ini belum terlayani secara optimal. Kehadiran Trans Jatim nantinya juga diharapkan dapat menjangkau Kawasan Industri Utara Sungai Brantas di Kabupaten Jombang.
Oleh sebab itu, rencana pengembangan rute Trans Jatim di Kabupaten Jombang memerlukan analisis dalam penentuan rute dan halte yang potensial dalam menjangkau kebutuhan perjalanan masyarakat. Dalam hal ini, pendekatan Transit Oriented Development (TOD) juga dapat mendukung terciptanya transportasi yang terintegrasi. Konsep TOD menekankan integrasi antara sistem transportasi publik dengan penggunaan lahan di sekitarnya, sehingga halte atau titik pemberhentian ditempatkan pada kawasan yang memiliki aktivitas tinggi, seperti permukiman, kawasan industri, pusat perdagangan, dan simpul transportasi lainnya.
2. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis spasial dengan memanfaatkan platform Mapid dan QGIS melalui tiga tahapan berikut :
-
1.Identifikasi Area Bangkitan (High Demand) Tahap awal dilakukan dengan mengidentifikasi area bangkitan atau wilayah dengan tingkat permintaan (demand) tinggi menggunakan fitur site selection pada platform Mapid. Hasil analisis ini berupa sebaran pusat aktivitas yang berpotensi menjadi titik asal dan tujuan pergerakan masyarakat.
-
2.Penentuan Rencana Rute Trans Jatim Penentuan rute dilakukan menggunakan perangkat lunak QGIS melalui pendekatan network analysis dengan metode shortest path (point to layer), yang menghubungkan titik awal (start point) dengan beberapa titik tujuan berdasarkan efisiensi jaringan jalan. Titik awal yang digunakan adalah Terminal Lespadangan sebagai lokasi pemberangkatan, sedangkan titik tujuan berupa beberapa titik acak (random points) yang berada di dalam atau dekat area hexagone dengan tingkat kesesuaian “sangat sesuai” hingga “cukup sesuai” serta memiliki kedekatan dengan jaringan jalan. Pemilihan jaringan jalan difokuskan pada jalan arteri dan kolektor karena memiliki kapasitas dan tingkat pelayanan yang lebih tinggi, mampu mengakomodasi angkutan umum dalam skala besar, serta berfungsi sebagai penghubung utama antar kawasan.
-
3.Penentuan Rencana Lokasi Halte Potensial Penentuan lokasi halte dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, menggunakan fitur radius buffer pada Mapid (toolbox) dengan menerapkan konsep Transit Oriented Development (TOD), yaitu menetapkan jangkauan pelayanan ±800 meter dari pusat-pusat aktivitas seperti kawasan perdagangan, permukiman, dan simpul transportasi lain, yang kemudian dilanjutkan dengan proses digitasi pada area jangkauan tersebut. Kedua, melalui digitasi halte atau terminal eksisting yang berada pada area dengan tingkat kesesuaian “sangat sesuai” hingga “cukup sesuai”. Halte eksisting tersebut saat ini juga berfungsi sebagai titik pemberhentian feeder yang mendukung integrasi layanan transportasi di Kabupaten Jombang.
Adapun data yang digunakan dalam analisis ini meliputi beberapa komponen utama, yaitu :
- Jaringan jalan arteri dan kolektor di Kabupaten Jombang
- Jaringan jalan arteri dan kolektor di Kabupaten Mojokerto
- Jaringan jalan arteri dan kolektor di Kota Mojokerto
- Data persebaran halte eksisting di Kabupaten Jombang
3. Hasil dan Pembahasan
Tahapan awal dalam analisis ini adalah mengidentifikasi area potensial sebagai lokasi halte Trans Jatim, yaitu wilayah high demand atau berpotensi sebagai kawasan bangkitan dan tarikan pergerakan masyarakat. Proses ini dilakukan melalui analisis site selection pada platform Mapid dengan menggunakan parameter point of interest (POI) yang meliputi terminal, halte, stasiun, pasar, perguruan tinggi, industri pangan, sektor pertanian dan agroindustri, konstruksi, manufaktur, serta teknologi dan informasi. Selain itu, analisis juga didukung oleh data demografi, antara lain jumlah penduduk, penduduk usia 20–24 tahun dan 25–29 tahun, data pelajar dan mahasiswa, serta data profesi di sektor perdagangan dan wiraswasta. Hasil analisis ini menghasilkan zonasi berbentuk heksagon dengan klasifikasi tingkat kesesuaian mulai dari “sangat sesuai” hingga “sangat tidak sesuai”.
Selanjutnya, dilakukan pengolahan data jaringan jalan menggunakan perangkat lunak QGIS. Data jaringan jalan arteri dan kolektor diperoleh melalui proses seleksi (select features) dan disimpan menggunakan fitur save as selected features, sehingga hanya mencakup jaringan jalan pada Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Mojokerto. Ketiga data tersebut kemudian digabungkan menggunakan fitur merge vector layer pada menu vector general untuk menghasilkan satu layer jaringan jalan terintegrasi. Layer ini selanjutnya diunggah pada platform Mapid.
Dari overlay 2 layer tersebut pada plarform Mapid, dapat diidentifikasi area potensial yang memiliki kedekatan dengan jaringan jalan arteri dan kolektor. Tahap berikutnya adalah pembuatan random point yang berada di dalam zona heksagon dengan tingkat kesesuaian “sangat sesuai” hingga “cukup sesuai”. Beberapa titik pada analisis ini ditempatkan pada area di wilayah utara sungai brantas yang memiliki nilai "tidak sesuai". Hal tersebut dilakukan untuk mendukung terjangkaunya moda transportasi pada wilayah tersebut yang menjadi Kawasan Industri. Titik-titik ini kemudian digunakan sebagai input dalam analisis tahap berikutnya yaitu penentuan jalur trans jatim menggunakan network analysis.
Tahap analisis kedua adalah penentuan jalur optimal rute Trans Jatim. Proses ini dilakukan menggunakan fitur network analysis dengan metode shortest path (point to layer), yang berfungsi menghubungkan titik awal (start point) dengan beberapa titik tujuan. Titik awal yang digunakan adalah Terminal Lespadangan Mojokerto, sedangkan titik tujuan berupa sejumlah random points yang diperoleh dari hasil analisis sebelumnya, khususnya pada area dengan tingkat “sangat sesuai” hingga “cukup sesuai”. Dalam analisis ini, parameter yang digunakan mempertimbangkan efisiensi jaringan jalan, terutama pada ruas jalan arteri dan kolektor sebagai jalur utama pergerakan.
Berdasarkan hasil network analysis, diperoleh alternatif pertama berupa jalur tercepat untuk rute Trans Jatim koridor Mojokerto–Jombang. Alternatif ini melalui jalur utara Sungai Brantas. Jalur ini dinilai lebih efisien dari segi jarak tempuh, sehingga berpotensi meminimalkan biaya operasional layanan. Namun demikian, apabila ditinjau hasil analisis “site selection”, sebagian besar wilayah di utara Sungai Brantas memiliki tingkat kesesuaian “tidak sesuai” hingga “sangat tidak sesuai”, sehingga bangkitan / demand pada jalur ini relatif terbatas.
Sebagai alternatif kedua, jalur selatan Sungai Brantas dinilai lebih potensial dalam menjangkau kebutuhan mobilitas masyarakat. Hal ini disebabkan oleh dominasi area dengan tingkat kesesuaian “sangat sesuai” hingga “cukup sesuai” pada wilayah tersebut, yang mencerminkan tingginya aktivitas dan potensi bangkitan pergerakan. Dengan demikian, pemilihan jalur selatan memungkinkan cakupan layanan yang lebih luas dan optimal dalam menjangkau demand. Meskipun demikian, jalur ini memiliki konsekuensi berupa jarak tempuh yang lebih panjang, sehingga berimplikasi pada peningkatan biaya operasional dibandingkan dengan alternatif jalur utara.
Kedua alternatif jalur tersebut pada dasarnya menghubungkan titik asal dan titik pemberhentian yang sama, sehingga memiliki kesamaan dalam cakupan layanan secara umum. Perbedaannya terletak pada panjang lintasan rute serta karakteristik wilayah sekitar yang dilalui.
Tahap akhir dalam analisis ini adalah penentuan titik pemberhentian atau halte dengan menggunakan pendekatan Transit Oriented Development (TOD) melalui proses digitasi pada platform Mapid. Pada tahap ini, digunakan dua pendekatan utama. Pertama, dilakukan digitasi terhadap halte eksisting yang berada di sepanjang jaringan jalan arteri dan kolektor yang memiliki nilai “sangat sesuai” hingga “cukup sesuai”. Halte-halte tersebut saat ini juga berfungsi sebagai titik pemberhentian angkutan kota (feeder), sehingga keberadaannya mendukung integrasi antar moda transportasi sebagai salah satu prinsip dalam konsep TOD.
Kedua, dilakukan digitasi untuk penentuan rencana halte baru dengan mempertimbangkan lokasi pusat kegiatan, seperti pasar dan terminal, yang memiliki intensitas aktivitas tinggi. Selain itu, penentuan titik halte baru juga didasarkan pada hasil analisis buffer dengan radius ±800 meter dari simpul transportasi, dalam hal ini Stasiun Peterongan. Area jangkauan tersebut kemudian digunakan sebagai dasar dalam menetapkan lokasi halte yang berpotensi untuk dikembangkan. Melalui kedua pendekatan ini, diharapkan diperoleh sebaran halte yang mampu mendukung keterjangkauan layanan serta integrasi sistem transportasi secara optimal.
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, diperoleh sejumlah titik lokasi halte potensial Trans Jatim di Kabupaten Jombang dengan menggunakan pendekatan Transit-Oriented Development (TOD), sebagai berikut:
5. Kesimpulan
Identifikasi area potensial melalui analisis site selection menunjukkan bahwa area dengan mayoritas tingkat kesesuaian tinggi cenderung terkonsentrasi wilayah selatan sungai brantas. Hasil network analysis menghasilkan dua alternatif jalur, yaitu jalur utara yang lebih efisien secara operasional namun memiliki demand relatif rendah, serta jalur selatan yang lebih panjang tetapi mampu menjangkau potensi demand yang lebih besar. Selanjutnya, penentuan lokasi halte melalui pemanfaatan halte eksisting dan perencanaan halte baru berbasis pusat kegiatan serta jangkauan layanan ±800 meter didapatkan 15 titik pemberhentian potensial untuk Bus Trans Jatim Koridor Mojokerto - Jombang
6. Daftar Pustaka
Indonesia Geospasial. (2020). Download shapefile (SHP) RBI Provinsi Jawa Timur per wilayah (kabupaten/kota). Diakses dari Download Shapefile RBI Jawa Timur
Kabar Jombang. (2025). Dishub Jombang siap sambut Trans Jatim, rencana rute akan melewati kawasan utara Brantas. Diakses dari Diakses dari Dishub Jombang siap sambut Trans Jatim
Suara Surabaya. (2025). Dishub siapkan tiga koridor baru Trans Jatim, jangkau Pasuruan dan Jombang. Diakses dari Dishub siapkan tiga koridor baru Trans Jatim
Jatimnet. (2025). Trans Jatim bakal diperluas ke Jombang, Cak Sumardi: solusi transportasi lebih baik. Diakses dari Trans Jatim bakal diperluas ke Jombang