Penentuan Lokasi Optimal TPST Berbasis Distribusi Point of Interest (POI) di Kabupaten Kudus

02 April 2026

By: Alan Afrizal Hakiim

Open Project

MAPID TPST

Penentuan Lokasi Optimal TPST

1. Pendahuluan

Permasalahan pengelolaan sampah di Kabupaten Kudus mencerminkan tantangan umum yang dihadapi banyak daerah berkembang di Indonesia, yaitu masih bergantung pada sistem open dumping dalam pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Praktik ini tidak hanya bertentangan dengan regulasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan berupa pencemaran air, tanah, dan udara, serta risiko kesehatan bagi masyarakat di sekitarnya. Kondisi TPA Tanjungrejo yang semakin penuh serta pernah mengalami penutupan operasional menunjukkan adanya tekanan kapasitas dan ketidaksiapan sistem dalam mengelola timbulan sampah secara berkelanjutan. Situasi ini bahkan memicu gangguan terhadap sistem pengangkutan sampah dan menimbulkan konflik sosial antara masyarakat, pemerintah, dan pekerja pengelola sampah.

Dalam konteks tersebut, diperlukan transformasi sistem pengelolaan sampah dari pola terpusat menuju pendekatan yang lebih terdistribusi, salah satunya melalui pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). TPST berperan dalam mengurangi beban TPA melalui pengolahan sampah di sumber atau dekat sumber, sehingga dapat meningkatkan efisiensi sistem secara keseluruhan.

Namun demikian, penentuan lokasi TPST merupakan persoalan yang kompleks karena melibatkan berbagai aspek yang saling beririsan, seperti kondisi lingkungan, karakteristik sosial masyarakat, serta kebutuhan operasional seperti aksesibilitas dan kedekatan terhadap sumber timbulan sampah. Kesalahan dalam penentuan lokasi tidak hanya berpotensi menimbulkan konflik sosial, tetapi juga dapat menyebabkan inefisiensi sistem dan peningkatan biaya operasional.

Pendekatan berbasis analisis spasial dengan memanfaatkan distribusi Point of Interest (POI), data demografi, guna lahan, topografi, dan aksesibilitas menjadi penting untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang lebih objektif dan terukur. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diidentifikasi lokasi yang tidak hanya sesuai secara fisik dan lingkungan, tetapi juga layak secara sosial dan operasional.

1.2 Rumusan Masalah

  • Apa saja faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi optimal TPST di Kabupaten Kudus?
  • Dimana lokasi yang paling sesuai untuk pembangunan TPST berdasarkan analisis spasial menggunakan fitur SINI pada GEOMAPID?

1.3 Sasaran

  • Mengidentifikasi parameter-parameter yang berpengaruh dalam penentuan lokasi TPST.
  • Menganalisis tingkat kesesuaian lokasi TPST menggunakan pendekatan analisis spasial berbasis Site Selection.

2. Gambaran Wilayah

Kabupaten Kudus merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki karakteristik wilayah dengan kombinasi kawasan perkotaan dan perdesaan. Aktivitas ekonomi yang cukup tinggi, terutama pada sektor industri dan perdagangan, berkontribusi terhadap peningkatan timbulan sampah dari waktu ke waktu. Secara spasial, Kabupaten Kudus memiliki variasi penggunaan lahan yang cukup beragam, mulai dari kawasan permukiman, sawah, ladang, hingga kawasan hutan. Selain itu, distribusi fasilitas umum tersebar di berbagai kecamatan dengan tingkat kepadatan yang berbeda-beda. Kondisi topografi wilayah juga bervariasi, dengan elevasi yang berkisar dari dataran rendah hingga wilayah perbukitan. Variasi ini berpengaruh terhadap potensi risiko lingkungan, seperti genangan pada wilayah rendah serta keterbatasan akses pada wilayah dengan elevasi tinggi.

3. Skoring Parameter Spasial

Penilaian kesesuaian lokasi TPST dilakukan dengan metode skoring terhadap beberapa parameter utama, yaitu aksesibilitas, guna lahan, dan topografi. Setiap parameter diberikan skor berdasarkan tingkat kesesuaiannya terhadap kebutuhan operasional dan dampak lingkungan.

Skoring Aksesibilitas Jalan

dem

Skoring Guna Lahan
Skoring Aksesibilitas Jalan, Topografi (DEM), Guna Lahan

4. Metode Analisis

metode analisis

5. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis Site Selection menggunakan parameter POI dan demografi, diperoleh lima lokasi dengan tingkat kesesuaian tinggi dengan rentang skor 93–100. Kelima lokasi tersebut tersebar di Kecamatan Jekulo dan Dawe, yang secara spasial menunjukkan karakteristik wilayah dengan dominasi lahan non-permukiman serta tingkat kepadatan aktivitas yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan pusat kawasan perkotaan. Hasil ini mengindikasikan bahwa parameter yang digunakan dalam analisis cukup sensitif dalam mengidentifikasi wilayah dengan potensi konflik sosial yang rendah dan kondisi fisik yang mendukung pembangunan TPST. Selanjutnya, terhadap lima titik kandidat tersebut dilakukan analisis lanjutan melalui proses overlay parameter guna lahan, topografi (DEM), dan aksesibilitas untuk memperoleh tingkat kesesuaian yang lebih detail.

POI

Hasil overlay guna lahan menunjukkan variasi karakteristik pada masing-masing lokasi. Lokasi 1 didominasi oleh ladang yang mencerminkan kawasan nonpermukiman dengan intensitas aktivitas manusia yang rendah. Lokasi 2 terdiri dari sawah yang masih tergolong relatif aman dari potensi konflik. Sementara itu, lokasi 3 hingga 5 mulai menunjukkan keberadaan elemen permukiman dalam komposisi guna lahannya yang mengindikasikan peningkatan potensi konflik sosial seiring meningkatnya aktivitas manusia di sekitar lokasi.

gunalahn

Dari aspek topografi, hasil overlay DEM menunjukkan bahwa kelima lokasi berada pada variasi elevasi yang cukup beragam. Lokasi 1 berada pada elevasi sangat rendah (±37,5 mdpl), sedangkan lokasi lainnya berada pada kisaran elevasi menengah hingga cukup tinggi (350–510 mdpl). Secara umum, elevasi menengah cenderung lebih ideal karena relatif aman dari genangan dan tetap mendukung kemudahan akses. Namun, lokasi dengan elevasi terlalu rendah berpotensi memiliki kerentanan terhadap genangan, sementara elevasi yang lebih tinggi dapat meningkatkan keterbatasan aksesibilitas dan biaya operasional.

dem

Sementara itu, hasil overlay aksesibilitas menunjukkan bahwa seluruh lokasi kandidat berada pada jaringan jalan lokal. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun lokasi-lokasi tersebut cukup layak secara spasial, masih terdapat keterbatasan dalam mendukung mobilitas kendaraan pengangkut sampah dalam skala besar, sehingga berpotensi memengaruhi efisiensi operasional TPST.

jalan

Berdasarkan integrasi ketiga parameter tersebut, diperoleh nilai total skor yang menunjukkan bahwa lokasi 2 memiliki nilai tertinggi, diikuti oleh lokasi 3, lokasi 1, lokasi 4, dan lokasi 5. Meskipun demikian, lokasi dengan skor tertinggi tidak secara otomatis dipilih sebagai lokasi optimal.

Lokasi 2, meskipun memiliki tingkat kesesuaian paling tinggi secara spasial, tidak dipilih karena pertimbangan jarak yang dinilai kurang strategis dan berpotensi meningkatkan biaya operasional pengangkutan sampah. Sebaliknya, lokasi 1 dipilih sebagai lokasi paling optimal karena memiliki posisi yang lebih strategis serta tetap berada dalam kategori kesesuaian tinggi. Keputusan ini menunjukkan bahwa penentuan lokasi TPST tidak hanya bergantung pada hasil analisis spasial berbasis skoring, tetapi juga mempertimbangkan aspek operasional yang bersifat praktis, khususnya efisiensi distribusi dan akses terhadap sumber timbulan sampah.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa analisis spasial berbasis Site Selection dengan parameter Point of Interest (POI), demografi, guna lahan, topografi, dan aksesibilitas mampu mengidentifikasi lima lokasi dengan tingkat kesesuaian tinggi untuk pembangunan TPST di Kabupaten Kudus. Lokasi-lokasi tersebut umumnya berada pada wilayah non-permukiman dengan kepadatan aktivitas rendah, elevasi yang relatif ideal, serta aksesibilitas yang cukup mendukung operasional. Meskipun lokasi 2 memiliki skor kesesuaian tertinggi, lokasi 1 dipilih sebagai lokasi optimal karena dinilai lebih strategis dari aspek operasional, khususnya terkait efisiensi jarak dan potensi biaya pengangkutan. Hal ini menegaskan bahwa penentuan lokasi TPST tidak hanya bergantung pada hasil skoring spasial, tetapi juga perlu mempertimbangkan faktor operasional. Namun, keputusan ini masih bersifat kualitatif sehingga penelitian selanjutnya perlu mengintegrasikan analisis kuantitatif untuk meningkatkan objektivitas hasil.

Data Publikasi

Integrasi GIS dalam Penentuan Lokasi Depo Pupuk: Sinkronisasi Kebutuhan Lahan dan Aksesibilitas Malang Raya

Pertanian

26 Mar 2026

Yosi Andhika

Integrasi GIS dalam Penentuan Lokasi Depo Pupuk: Sinkronisasi Kebutuhan Lahan dan Aksesibilitas Malang Raya

Kajian ini memaparkan strategi optimalisasi ketahanan pangan di Malang Raya melalui integrasi manajemen pertanian presisi dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Dengan menyinergikan data evaluasi kesuburan lahan (kadar C-Organik, N, P, dan K) bersama analisis jaringan transportasi menggunakan metode Location-Allocation pada platform MAPID, model ini bertujuan untuk menentukan lokasi depo distribusi pupuk yang paling strategis. Pendekatan berbasis data (data-driven) ini dirancang secara khusus untuk memitigasi inefisiensi rantai pasok, memastikan penyaluran pupuk yang tepat sasaran secara agronomis, dan mereduksi hambatan aksesibilitas logistik bagi para petani di berbagai topografi wilayah.

18 menit baca

212 dilihat

1 Proyek

PENENTUAN LOKASI STRATEGIS BISNIS F&B 
BERBASIS DATA DEMOGRAFI DAN POLA AKTIVITAS 
DI KOTA BANDUNG

Makanan dan Minuman

14 Mar 2026

AFI INTERN MAPID

PENENTUAN LOKASI STRATEGIS BISNIS F&B BERBASIS DATA DEMOGRAFI DAN POLA AKTIVITAS DI KOTA BANDUNG

Strategi sukses bisnis F&B di Bandung melalui analisis variabel demografi, POI, dan teknologi geospasial untuk pemilihan lokasi usaha yang akurat.

24 menit baca

339 dilihat

1 Proyek

Analisis Lokasi Strategis Coffee Shop di Jakarta Pusat Menggunakan GIS dan QGIS

Makanan dan Minuman

02 Apr 2026

Muh Fiqri Abdi Rabbi

Analisis Lokasi Strategis Coffee Shop di Jakarta Pusat Menggunakan GIS dan QGIS

Abstrak Pertumbuhan industri coffee shop di kawasan perkotaan mendorong meningkatnya kebutuhan akan metode yang sistematis dalam menentukan lokasi usaha yang strategis. Pemilihan lokasi yang tidak tepat dapat mengakibatkan rendahnya jumlah pengunjung serta tingginya tingkat persaingan dengan usaha sejenis. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbasis data untuk mengidentifikasi lokasi yang memiliki potensi pasar tinggi serta aksesibilitas yang baik terhadap pusat aktivitas kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi potensial pembukaan coffee shop baru di wilayah Jakarta Pusat dengan memanfaatkan teknologi Geographic Information System (GIS). Metode yang digunakan mengintegrasikan analisis potensi wilayah dengan analisis aksesibilitas menggunakan pendekatan service area dan overlay spasial. Data yang digunakan meliputi grid potensi lokasi hasil analisis Site Analyst, batas administrasi wilayah, data stasiun transportasi publik, pusat perbelanjaan, serta data coffee shop eksisting. Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pengolahan data spasial, penggabungan nilai potensi lokasi dengan wilayah administratif, pembuatan service area dari stasiun dan pusat perbelanjaan, serta proses overlay untuk mengidentifikasi area yang memiliki kombinasi potensi pasar dan aksesibilitas tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah yang memiliki potensi tinggi untuk pengembangan coffee shop umumnya berada pada area yang dekat dengan pusat aktivitas kota, khususnya simpul transportasi dan kawasan perdagangan. Area yang berada dalam jangkauan service area dari fasilitas tersebut menunjukkan tingkat aksesibilitas yang lebih baik dan memiliki peluang yang lebih besar untuk menarik pengunjung. Berdasarkan hasil pemeringkatan lokasi kandidat, diperoleh beberapa titik lokasi yang direkomendasikan sebagai lokasi potensial untuk pembukaan coffee shop baru di Jakarta Pusat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan GIS dalam analisis lokasi usaha dapat membantu proses pengambilan keputusan secara lebih objektif dan berbasis data, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dalam menentukan lokasi bisnis yang strategis.

9 menit baca

297 dilihat

1 Proyek

Analisis Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Permukiman di Yogyakarta: Pendekatan Multi-Kriteria Berbasis Risiko dan Valuasi Ekonomi

Perencanaan Kota

24 Feb 2026

MAPID

Analisis Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Permukiman di Yogyakarta: Pendekatan Multi-Kriteria Berbasis Risiko dan Valuasi Ekonomi

Jelajahi dampak urbanisasi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagaimana MCDA berbasis GIS membantu menentukan lokasi hunian yang aman, ekonomis, dan berkelanjutan.

35 menit baca

493 dilihat

1 Proyek

Syarat dan Ketentuan
Pendahuluan
  • MAPID adalah platform yang menyediakan layanan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk pengelolaan, visualisasi, dan analisis data geospasial.
  • Platform ini dimiliki dan dioperasikan oleh PT Multi Areal Planing Indonesia, beralamat