Does Mobility Influential to the Air Pollution of Jakarta?

02/11/2021 • MRT JAKARTA


Berlakunya PPKM Darurat di Indonesia akibat meningkatnya kembali kasus Covid-19 semakin memperketat mobilitas masyarakat sehingga hal ini dinilai mempengaruhi kualitas udara.

DKI Jakarta menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat sesuai anjuran pemerintah pusat karena terdapat lonjakan kasus Covid-19 pasca-liburan Lebaran. PPKM darurat mulai diberlakukan di Jakarta pada (3/7/21) untuk menekan laju penularan Covid-19. PPKM darurat ini berlangsung selama tiga minggu lamanya namun kasus baru Covid-19 tidak mengalami penurunan sehingga pemerintah daerah Jakarta mengikuti arahan pemerintah pusat untuk menaikkan Level PPKM darurat Jakarta menjadi level empat pada (26/7).

Sebelumnya pemerintah daerah DKI Jakarta sudah menerapkan beberapa peraturan dalam kurun waktu satu tahun terakhir sejak pandemi ini masuk ke Indonesia diantaranya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PPKM mikro, PPKM darurat, hingga PPKM darurat level berjenjang. PSBB sudah diberlakukan sejak tahun 2020, lalu dilakukan pembaharuan untuk menekan laju penularan ditetapkanlah PPKM mikro ini secara ketat berstatus lokal pada Juni 2021. Setelah liburan lebaran (Juni - Juli) terdapat lonjakan kasus baru Covid-19 yang sangat besar sehingga ditetapkanlah PPKM darurat dengan beberapa tambahan peraturan sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur No 3 Tahun 2021. Namun, dalam kurun waktu tiga minggu, kasus Covid-19 belum ada penurunan hingga banyak rumah sakit yang mengalami functional collapse sehingga pemerintah DKI Jakarta menetapkan PPKM level empat untuk menekan laju penularan Covid-19.

Peraturan PPKM darurat level empat ini lebih ketat dibandingkan dengan PPKM darurat yang diterapkan sebelumnya terutama pada transportasi umum yaitu pembatasan kapasitas penumpang transportasi umum maksimal 70 persen dengan protokol kesehatan ketat sebagaimana diatur dalam Instruksi Mendagri (Inmendagri) No. 27 Tahun 2021. Dampak dari PPKM darurat level empat ini selama kurun waktu dua bulan (Juli – Agustus) menyebabkan terjadinya permasalahan ekonomi dan menjadikan sektor-sektor bisnis harus dapat beradaptasi dengan keadaan, tidak terkecuali dengan MRT Jakarta.

MRT Jakarta juga menyesuaikan dengan peraturan PPKM darurat level empat sehingga menyebabkan terjadinya penurunan mobilitas penumpang MRT Jakarta secara drastis di bulan Juli. Walaupun saat pengetatan PPKM mikro Juni lalu, mobilitas penumpang MRT Jakarta sudah mengalami penurunan tetapi tidak sedrastis saat pemberlakuan PPKM darurat. Pertengahan bulan September kasus Covid-19 secara bertahap mengalami penurunan sehingga sudah mulai terdapat pelonggaran dan secara resmi PPKM darurat Jakarta turun menjadi level tiga (14/9). Adanya pelonggaran dan penurunan level PPKM darurat ini mengakibatkan mobilitas penumpang menggunakan moda transportasi MRT mengalami peningkatan drastis di bulan September.

Apakah benar peraturan pembatasan kegiatan masyarakat dinilai berpengaruh terhadap polusi udara?

Kilas balik tahun 2020 pandemi masuk ke Indonesia, DKI Jakarta sudah mulai memberlakukan peraturan PSBB. Peraturan tersebut juga membatasi kendaraan keluar masuk ke Jakarta hingga pemberlakuan peraturan ganjil genap untuk domisili Jakarta. Peraturan ini menyebabkan kualitas udara di Jakarta berubah. Sebelumnya polusi udara yang tidak sehat, berubah menjadi baik dilansir dari variabel ISPU Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Hal ini relevan dengan penurunan mobilitas masyarakat saat awal pandemi dalam aspek emisi dari transportasi.

Does Mobility Influential to the Air Pollution of Jakarta? Does Mobility Influential to the Air Pollution of Jakarta?

Jumlah penumpang MRT Jakarta pada periode ini berbanding lurus dengan penurunan jumlah kendaraan pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa saat peraturan tersebut berjalan, mobilitas masyarakat menggunakan transportasi umum maupun transportasi pribadi semakin berkurang karena peraturan tersebut membatasi kegiatan masyarakat diluar rumah sehingga perubahan mobilitas ini mempengaruhi terhadap kondisi kualitas udara yang ada di Jakarta.

Seberapa besar pengaruh perubahan mobilitas ini terhadap kualitas udara Jakarta?
Does Mobility Influential to the Air Pollution of Jakarta?

Salah satu komunitas MAPID melakukan studi analisis pengaruh perubahan mobilitas masyarakat terhadap kualitas udara di daerah Jawa-Bali pada fase awal pandemi Covid-19, termasuk DKI Jakarta. Data yang digunakan dalam studi tersebut terdiri dari data perubahan mobilitas masyarakat dari dan menuju lokasi yaitu retail dan rekreasi, toko bahan makanan dan apotek, taman, dan pusat transportasi umum, serta data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) harian dari arsip Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Teknik pengolahan data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh perubahan mobilitas masyarakat menggunakan teknik analisis overlay dan join and relate dalam Sistem Informasi Geografis (SIG).  Hasil analisis pengaruh mobilitas terhadap kualitas udara didapatkan kelas klasifikasi rendah, sedang, dan tinggi.

Perubahan mobilitas masyarakat di Jakarta itu memiliki kontribusi sebesar 13% terhadap kualitas udara. Hal ini membuktikan bahwa perubahan mobilitas masyarakat itu juga dapat menjadi salah satu indikator untuk mengurangi polusi udara yang ada di Jakarta saat awal pandemi 2020. Namun, dilihat dari presentase yang dihasilkan itu hanya cukup menjelaskan sedikit saja dengan tingkat polutan yang ada. Hal ini memungkinkan karena Kota Jakarta tergolong urbanized dan cukup padat untuk kegiatan ekonomi masyarakat sehingga penyumbang polutan juga semakin beragam.

Studi analisis yang dilakukan belum dapat mewakili kondisi nyata terkait kualitas udara, karena kualitas udara memiliki banyak indikator yang perlu dilakukan analisis lebih dalam untuk mendapatkan hasil yang dapat mewakili di kondisi nyata. Namun, hasil studi analisis ini dapat dijadikan gambaran awal oleh pemangku kebijakan untuk mengatasi polutan yang ada di Jakarta.
Penurunan pencemaran pada fase awal pandemi 2020 perlu dijadikan pelajaran. Penggencaran dan pemulihan ekonomi seharusnya dikembalikan yang lebih ramah lingkungan.

Dengan demikian, momentum ini tidak hanya berlaku sementara seperti halnya penerapan peraturan ganjil genap. Penerapan peraturan ganjil genap ini juga membuka peluang bagi masyarakat untuk menggunakan transportasi umum salah satunya MRT Jakarta karena MRT Jakarta telah menerapkan peraturan yang ketat akibat kondisi pandemi ini. Beberapa hal yang diterapkan seperti disiplin menjalankan aturan protokol kesehatan (protkes), tingkat keramaian penumpang, hingga layanan penumpang dengan protkes ketat sehingga penumpang tidak perlu khawatir dengan pemakaian transportasi umum saat pandemi. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan penumpang pada bulan September 2021 setelah peraturan PPKM kembali dilonggarkan.

Penggunaan MRT Jakarta menjadi salah satu kebiasaan baru masyarakat di masa Pandemi ini.

Oleh karena itu, satu dayung dua pulau dapat terlampaui. Pemilihan transportasi umum untuk mobilitas sangat direkomendasikan agar lebih ramah lingkungan dan penggunaan MRT Jakarta menjadi pilihan tepat untuk mobilitas dan tentunya menjadi salah satu agen peduli lingkungan yakni dapat ikut berkontribusi mengurangi polusi udara yang ada di Jakarta. Kamu juga dapat membagikan aktivitas dan rekomendasi tempat nongkrong di sekitar MRT Jakarta kepada masyarakat Indonesia bersama MAPID dan MRT.

Sumber :

  • https://www.kompas.com/sains/read/2021/08/12/200500323/greenpeace-indonesia--kualitas-udara-di-jakarta-memburuk-selama-ppkm?page=all
  • https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/19/120700623/polusi-udara-jakarta-20-tahun-terakhir-turun-drastis-berkat-psbb-kok-bisa?page=all
  • https://jakarta.ayoindonesia.com/jakarta-pusat/pr-76750528/Volume-Kendaraan-di-Jakarta-Turun-Selama-PSBB

Data Publications