Abstrak
PT Selera Gastronomi Nusantara (SGN) merupakan perusahaan F&B yang mengoperasikan jaringan gerobak makaroni pedas di wilayah Bandung. Selama ini, penentuan lokasi cabang baru masih mengandalkan parameter point-of-interest (POI) berdasarkan pengalaman dan intuisi, yang berdampak pada variasi performa antar cabang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesenjangan pada parameter eksisting serta merumuskan bobot parameter POI yang optimal menggunakan Site Selection Geo Mapid guna mendukung akurasi ekspansi cabang PT SGN di masa depan.
KataKata Kunci: Point-of-Interest (POI), Site Selection, Geo Mapid, Pembobotan Parameter, Ekspansi Cabang
Latar Belakang
PT Selera Gastronomi Nusantara (SGN) merupakan perusahaan F&B di Kota Bandung yang berfokus pada produk camilan makaroni goreng renyah dengan beragam variasi rasa dan tingkat kepedasan. Saat ini, SGN mengoperasikan puluhan jaringan outlet berbentuk gerobak yang tersebar di wilayah Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang). Dalam strategi ekspansi jaringan retailnya, tim ekspansi SGN mengandalkan keberadaan Point of Interest(POI) sebagai acuan penentuan lokasi (site selection). Parameter POI yang digunakan antara lain meliputi:
- Pusat keramaian: pusat kuliner, swalayan, mall, dll
- Fasilitas pendidikan: sekolah (SMP, SMA, SMK), dan perguruan tinggi
- Fasilitas transportasi publik: stasiun kereta api, halte bus
- Kawasan pemukiman: kos, area perumahan, apartemen
- Merk tertentu: Hisana Fried Chicken
Meskipun telah menerapkan evaluasi POI, proses pemilihan lokasi saat ini masih kerap bergantung pada keputusan intuitif. Hal ini berdampak pada variasi performa penjualan antar-outlet yang cukup signifikan. Tim penjualan SGN membagi outlet aktif ke dalam tiga kategori pendapatan harian:
- Kategori A: performa rata-rata penjualan harian baik.
- Kategori B: performa rata-rata penjualan harian moderat.
- Kategori C: performa rata-rata penjualan harian rendah.
Kehadiran outlet kategori C mengindikasikan adanya kesenjangan (gap) antara kriteria lokasi yang digunakan saat ini dengan realisasi performa bisnis di lapangan. Oleh karena itu, pendekatan berbasis Location Analytics mutlak diperlukan untuk mengevaluasi kembali parameter pemilihan lokasi secara obyektif dan berbasis data (data-driven).
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan karakteristik spasial pada sampel perwakilan cabang SGN di Kota Bandung, terdiri dari 1 cabang Kategori A, 1 cabang Kategori B, dan 1 cabang Kategori C guna merumuskan kriteria site selection yang lebih presisi untuk ekspansi mendatang. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk:
- Mengidentifikasi dan Menganalisis Demand Driver Spasial
Memetakan serta menganalisis interaksi antara ketersediaan POI (fasilitas pendidikan, transportasi, pemukiman) dengan profil demografi di area cakupan (trade area) masing-masing kategori cabang.
- Membandingkan Karakteristik Spasial Antar Titik Cabang
Menganalisis perbedaan signifikan pada kondisi lingkungan antara titik cabang.
- Merumuskan Standardisasi Parameter Site Selection
Menghasilkan indikator dan kriteria pemilihan lokasi berbasis data yang rasional guna meminimalkan risiko kegagalan ekspansi cabang SGN di masa depan.
II. Metode Penelitian
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian meliputi tiga kecamatan, yaitu:
-
1.Kecamatan Sukasari, Kota Bandung
-
2.Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung
-
3.Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung
Metode
Penentual Sampel dan Ekstraksi Koordinat
Sampel penelitian meliputi Cabang UPI 2 yang terletak pada kecamatan Sukasari dengan performa kategori A, Cabang Margaasih yang terletak pada kecamatan Margaasih dengan performa kategori B, dan Cabang Cisenged yang terletak pada kecamatan Arcamanik dengan poerforma kategori C.
Pendekatan Analisa
Pemodelan Parameter
Proses pemodelan parameter dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik lingkungan yang berkorelasi dengan performa masing-masing cabang. Analisa dilakukan menggunakan tiga pendekatan analisa yang saling melengkapi, yaitu Analisa Skala Kecamatan, Analisa Pola Isochrone 10 Menit pada Cabang, Pemodelan Parameter Berbasis Grid Hexagonal 1,6 km. Tiga pendekatann ini memungkinkan identifikasi pola dari tingkat kecamtan secara umum hingga karakter lingkungan secara langsung yang berada dalam jangkauan pelanggan.
Hasil dan Pembasahan
Hasil
Analisa Pola POI Skala Kecamatan
Tabel distribusi parameter point-of-interest (POI) dalam skala kecamatan:
Dengan adanya dua titik Pusat Perbelanjaan, sembilan titik hotel, 212 titik Makanan dan Minuman, dan 41 Minimarket, tiga Perguruan Tinggi, dan tujuh titik kos, maka profil dari Sukasari adalah dominan sebagai pusat komersial, gaya hidup, dan Pendidikan. Sedangkan pada Margaasih ditemukan 77 titik kantor, enam terminal, 66 toko kelontong, dan sebuah rumah sakit membuat profilnya dominan sebagai suburban padat, hub transit, dan pusat aktivitas lokal. Adapun hadirnya 4 titik apartemen, dan 31 sekolah pada Arcamanik membuatnya berprofil dominan Kawasan residensial.
Berdasarkan analisa pola POI skala kecamatan, keunggulan relatif dari Sukasari adalah banyaknya perguruan tinggi,hotel, dan pusat perbelanjaan sehingga membuat kecamatan ini tumbuh subur aktivitas perekonomian bukan hanya dari warga lokal tapi juga baik dari para mahasiswa dan wisatawan. Pola POI ini lah yang berpotensi menjadi faktor mengapa cabang UPI2 yang terletak di Suksari memiliki performa kategori A.
Adapun analisa POI pada Margaasih menunjukan bahwa tingginya konsentrasi kantor dan terminal yang hadir dikecamatan tersebut berpotensi membuat aktivitas ekonomi bertumbuh bukan hanya karena warga lokal tapi juga ditopang oleh pekerja dan pengguna terminal.
Bebedan dengan dua kecamatan sebekumnya, secara pola POI perekonomian Arcamanik hanya ditopang oleh warga lokal dan pekerja tanpa adanya wisatawa, mahasiswa, dan orang-orang yang transit.
Analisa Pola Isochrome 10 Menit dari Titik Cabang
Melalui analisa pola demografi dengan isochrome jarak 10 menit berkendara dengan mobil pada tiga titik cabang ditemukan bahwa ketiganya berada di wilayah dengan demografi yang sama yaitu dengan jumlah penduduk, kepadatan penduduk, tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Jumlah laki-laki dan perempuan pada tiga titik tersebut cenderung seimbang dan dengan jumlah kelahiran yang cenderung menurun.
Perbedannya adalah tingginya pertumbuhan penduduk di sekitar UPI2 dapat diduga merupakan bertambahnya pendatang yang merupakan mahasiswa. Hal ini sejalan dengan temuan pada analisa pola POI sekala kecamatan. Adapun tingginya pertumbuhan pada Margaasih dapat diiga karena bertambahnya pendatang yang membuat pemukiman karena masih banyaknya lahan terbuka di catchmen tersebut. Satu perbedaan mencolok antara cathcment Cisenged dengan 2 catchment lainnya, ditemukan resiko potensi banjir tinggi di catchment ini. Dapat diduga tingginya resiko ini yang membuat performa cabang Cisenged terganggu.
Berikut merupakan hasil analisa pada cathcment isochrome dengan jarak 10 menit berkendara dengan mobil:
Analisa Grid Hexagonal Jarak 1.5km
Berdasarkan pemodelan parameter berbasis grid 1.5 km ditemukan perbedaan mencolok dimana ekosistem pendidikan pada grid dimana UPI2 sangat ramai, yaitu adanya enam fasilitas Pendidikan, dimana satu parameter yang mencolok hadir dan tidak ditemukan pada dua grid cabang lainnya, yaitu hadirnya perguruan tinggi. Hal ini sejalan dengan temua analisa sebelumnya dimana hadirnya mahasiswa merupakan factor yang membuat cabang berperforma tinggi. Tidak jauh bedanya jumkah Perdangangan dan Ritel juga Makanan dan Minuman antara UPI2 dan Margaasih mengokohkan dugaan ini, bahwa yang membedakan performa UPI2 dan Margaasih adalah ekosistem Pendidikan, khususnya adanya perguran tinggi.
Malelalui visualisasi grid titik UPI2 terletak pada grid ranking dua, Margaasih pada grid rangking satu, dan Cisenged terletak pada grid rangking tiga. Visualisasi ini sepintas bertentangan dengan kategori performa dari masing-masing cabang. Namun, berdasarkan gambar dapt terlihat bahwa titik UPI2 bersebelahan langsung dengan grid rangking 1. Hal ini diduga membuat posisi cabang UPI2 strategis karena terkespose oleh dua grid yang memiliki POI sangat sesuai.
Titik Margaasih mesipun terletak pada grid hijau rangking pertama, namun dikelilingi grid merah yang berpotensi membuat eksposure sekitar cenderung buruk dan membuat performanya kurang dibandingkan UPI2. Titik cisenged berada di grid jingga peringkat 3 yang mayoritas dikelilingi grid merah dan jingga juga. Hal ini diduga membuat eksposure Cisenged jauh lebih buruk daripada UPI2 dan Margaasih.
Penyusunan Bobot Parameter pada Geo Mapid
Hasil analisa grid kemudian dugunakan untuk menentukan bobot parameter untuk Geo Mapdi sebagai berikut:
Angka pada kolom Entitas per Kategori digunakan sebagai bobot positif parameter POI pada Geo Mapid.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan analisa telah dilakukan ditemukan pola yang konsisten yaitu cabang UPI2 memiliki jumlah perguran tinggi yang secara signfikan lebih banyak dibandingkan cabang lain, baik dengan analisa POI skala kecamatan dan analisa grid hexagonal 1.5km. Ini juga didukung temuan pada analisa ischorne dimana terdapat populasi besar pendatang yang merupakan mahasiwa. Meskipun berada di hexagonal hijau ranking dua, namun lokasinya yang berselelahan dengan hexagonal hijau rangking satu membuatnya ter-expose dampak dari hexagonal hijau rangking satu membuat cabang UPI2 memiliki perorma yang sangat baik dan mendapatkan kategori A.
Berdasarkan analisa POI tingkat kecamatan, Margaasih cenderung memiliki banyak persamaan dengan Sukasari. Namun, terdapat perbedaan siginifikan pada konsentrasi kantor, toko kelontong, dan terminal. Pada analisa grid ditemukan konsentasi toko makanan dan minuman; juga berbagai varian minimarket. Dapat diasumsikan cabang Margaasih mendapatkan kategori B (performa moderat) dikarenakan hadirnya orang-orang yang melakukan transit perjalanan juga para pekerja yang berakhtivitas di wilayah tersebut. Meskipun secara grid, titik cabang Margaasih terletak di grid hijau ranking satu, titik itu dikelilingi grid merah dan jingga membuatnya dikelilingi wilayah yang tidak sesuai untuk ekosistem bisnis yang telah ditentukan.
Pada kecamatan Arcamanik, dimana cabang Cingised berada, ditemukan jumlah POI yang secara signifikan lebih sedikit dibandingkan Sukasari dan Margaasih. Rendahnya jumlah POI juga ditemukan ketika analisa grid dilakukan dimana tidak ditemukan satu pun POI kategori Pendidikan juga Makanan dan Minuman. Hal ini menunjukan rendahnya konsentrasi ekosistem perdagangan jika dibandingan dengan dua titik lainnya. Analisa grid juga menenjukan bahwa titik Cingised terletak pada wilayah yang tidak sesuai (grid jingga ranking 3) dan hanya besebelahan dengan satu grid berwarna hijau. Tingginya resiko bencana banjir juga dapat turut membuat wilayah ini tidak cocok bagi SGN.
Adapun parameter POI yang bernilai positif yang dapat digunakan untuk Site Selection pada Geo Mapid sebagai berikut: