1. Latar Belakang
Kawasan Konservasi Mangrove Muara Angke merupakan salah satu sisa koridor ekologi alami di pesisir utara Jakarta. Meskipun memiliki nilai jasa lingkungan yang sangat tinggi, kawasan ini menghadapi ancaman serius dari perambahan ruang dan polusi akibat ekspansi tata ruang perkotaan. Proyek ini bertujuan untuk mengukur tekanan perkotaan yang mengepung kawasan konservasi mangrove Muara Angke sebagai wawasan strategis bagi inisiatif proyek karbon berbasis Nature-based Solutions (NbS)
2. Data dan Metodologi
- Sumber Data: Batas Ekosistem (Polygon Boundary): Batas indikatif area studi seluas 149,24 hektare merupakan luas kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke termasuk kawasan perairan di dalamnya. Data diperoleh menggunakan sumber tutupan lahan Global Mangrove Watch (GMW) dan citra satelit Google Maps. Data Tekanan Urban: Data zona penggunaan lahan (landuse: permukiman, komersial, dan industri) diekstraksi dari basis data OpenStreetMap (OSM) melalui Overpass Turbo API. Basemap & Cloud GIS: GEOMAPID dan CartoDB Positron digunakan sebagai basemap engine dan hosting arsitektur visual.
- Metodologi Analisis Spasial: True Polygon Buffering: Algoritma spasial Turf.js digunakan untuk menghasilkan tiga zona penyangga (radius 500 m, 1 km, dan 2 km) yang secara dinamis mengikuti lekuk batas poligon asli mangrove (bukan sekadar lingkaran radial). Spatial Intersection (Point-in-Polygon): Menghitung total luas area (dalam hektar) dan kepadatan infrastruktur perkotaan yang beririsan langsung dengan masing-masing zona. Estimasi Karbon (Tier-1): Estimasi cadangan karbon dihitung berdasarkan literatur standar IPCC untuk mangrove estuari tropis (biomassa atas tanah, bawah tanah, dan karbon tanah).
3. Hasil dan Analisis
- Zona Tekanan Ekstrem (0–500 m): Ekosistem mangrove bergesekan langsung dengan area pembangunan padat. Wilayah ini menunjukkan risiko tertinggi terhadap degradasi hidrologi akibat reklamasi darat dan potensi keracunan akar napas (pneumatophores) akibat akumulasi limbah domestik perkotaan.
- Zona Transisi Infrastruktur (500 m–1 km): Terdapat infrastruktur sipil yang masif, seperti jaringan jalan tol.
- Zona Perlindungan Aset Ekonomi (1–2 km): Ekosistem mangrove bertindak sebagai peredam alami intrusi air laut.
- Valuasi Karbon: Dengan estimasi konservatif sebesar ~950 tCO_2e/ha, kawasan ini mengunci sekitar 141.778 tCO_2e karbon. Hilangnya area ini setara dengan melepaskan emisi gas buang dari ±30.800 kendaraan penumpang selama satu tahun penuh.
4. Kesimpulan
Kawasan mangrove Muara Angke adalah aset cadangan karbon (carbon sink) yang seringkali kurang dihargai terutama dari sudut pandang finansial. Tekanan pembangunan perkotaan yang masif pada radius 0,5 - 2 km menunjukkan adanya urgensi pembuatan koridor buffer ekosistem. Hasil analisa menghasilkan rekomendasi agar korporasi/industri yang beroperasi di radius hingga 2 km dari kawasan mangrove Muara Angke dapat mengintegrasikan kawasan ini ke dalam target dekarbonisasi sekunder mereka melalui mekanisme Nature-based Solutions (NbS).