Abstrak
Kata kunci: kesesuaian lahan, ketersediaan lahan, perumahan, Spatial Multi-Criteria Analysis, constraint
Pendahuluan
Kabupaten Sleman yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta mengalami perkembangan kawasan perkotaan yang semakin pesat. Perkembangan tersebut ditandai dengan pertumbuhan penduduk dan peningkatan kawasan terbangun yang mendorong kebutuhan lahan untuk permukiman. Penelitian Valent dkk. (2021) menunjukkan adanya peningkatan luas lahan permukiman di wilayah aglomerasi perkotaan Sleman selama periode 2013–2020 meningkat sekitar 471,55 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan terhadap ketersediaan lahan akibat perkembangan kawasan perkotaan.
Peningkatan kebutuhan lahan untuk permukiman perlu diimbangi dengan pemilihan lokasi pembangunan yang tepat. Hal ini penting karena tidak seluruh lahan memiliki kondisi yang sesuai untuk pembangunan perumahan. Faktor fisik, aksesibilitas, kondisi lingkungan, serta risiko bencana perlu dipertimbangkan dalam menentukan lokasi pembangunan. Penentuan lokasi pembangunan perumahan dapat dilakukan dengan mengintegrasikan Geographic Information System (GIS) dan Multi-Criteria Analysis (MCA) melalui berbagai kriteria fisik, perlindungan lingkungan, dan aksesibilitas (Arfiansyah et al., 2024).
Kondisi tersebut menjadi semakin penting di Kabupaten Sleman karena perkembangan permukiman perlu mempertimbangkan keberadaan lahan pertanian dan ketentuan tata ruang. Pembangunan pada lokasi yang tidak sesuai dapat menimbulkan konflik pemanfaatan ruang dan meningkatkan tekanan terhadap lahan yang perlu dilindungi. Selain itu, kondisi fisik tertentu juga dapat membatasi pengembangan perumahan. Berdasarkan penelitian Putra et al. (2022) terhadap salah satu kecamatan di Kabupaten Sleman yaitu Kecamatan Godean yang sejak beberapa tahun ke belakang ini tengah mengalami perkembangan pembangunan perumahan, menunjukkan bahwa aspek kondisi geologi dan kemiringan lahan perlu diperhatikan dalam pengembangan perumahan karena terdapat wilayah dengan potensi bahaya gerakan massa.
Lahan yang memiliki tingkat kesesuaian tinggi berdasarkan karakteristik fisik dan aksesibilitas belum tentu dapat dikategorikan sebagai lahan yang tersedia untuk pembangunan perumahan. Hal tersebut disebabkan adanya constraint (pembatas) yang dapat membatasi atau mengecualikan pemanfaatan suatu lahan untuk pembangunan, meskipun lahan tersebut memiliki karakteristik yang sesuai. Constraint merupakan faktor yang bersifat membatasi dalam analisis ketersediaan lahan, seperti kawasan yang memiliki ketentuan perlindungan, peruntukan tertentu dalam tata ruang, maupun lahan pertanian yang ditetapkan untuk dipertahankan. Dengan demikian, keberadaan constraint perlu dipertimbangkan setelah tingkat kesesuaian lahan diperoleh untuk memastikan bahwa lahan yang diidentifikasi sebagai potensial tidak hanya sesuai secara karakteristik, tetapi juga tidak berada pada wilayah yang secara kebijakan atau fungsi lahannya membatasi pembangunan perumahan. Pendekatan yang menggabungkan kesesuaian lahan dengan faktor pembatas juga digunakan dalam identifikasi lahan yang sesuai dan tersedia untuk pengembangan permukiman.
Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini membedakan antara kesesuaian lahan dan ketersediaan lahan untuk pembangunan perumahan. Analisis kesesuaian digunakan untuk menentukan tingkat kemampuan atau kecocokan lahan berdasarkan berbagai faktor yang telah ditetapkan, sedangkan analisis ketersediaan dilakukan dengan menerapkan constraint terhadap hasil kesesuaian. Pada tahap ini, lahan yang termasuk dalam kawasan pembatas dikeluarkan dari lahan yang berpotensi dikembangkan, sehingga lahan yang tersisa merupakan bagian dari lahan sesuai yang secara spasial tidak teridentifikasi berada pada wilayah constraint. Dengan demikian, ketersediaan lahan dalam penelitian ini menunjukkan lahan yang secara spasial berpotensi dimanfaatkan untuk pembangunan perumahan setelah mempertimbangkan faktor kesesuaian dan pembatas. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan informasi mengenai persebaran dan luasan lahan yang berpotensi untuk pembangunan perumahan sehingga arah pengembangan dapat lebih mempertimbangkan karakteristik wilayah serta ketentuan pemanfaatan ruang.
Metode Penelitian
2.1 Lokasi Penelitian
Kabupaten Sleman terbagi ke dalam empat (4) kawasan, yaitu Sleman Barat, Sleman Timur, Sleman Tengah, dan Sleman Utara. Pembagian kawasan tersebut berdasarkan kemiripan karakteristik setiap wilayah. Penelitian ini akan mengkaji 3 kawasan yaitu Kawasan Sleman barat, tengah, dan timur. Alasan pemilihan ketiga kawasan tersebut yaitu berkaitan dengan ketersediaan data serta perkembangan perumahan pada ketiga kawasan tersebut cenderung lebih banyak dibandingkan dengan Kawasan Sleman utara.
2.2 Variabel Penelitian
Berikut merupakan data yang digunakan untuk mengetahui Ketersediaan Lahan untuk Pembangunan Perumahan.
2.3 Pengolahan Data
Data spasial diolah dengan menggunakan metode Euclidean Distance, Fuzzy Membership, dan Weighted Sum, yang dilanjutkan dengan penerapan constraint. Data kemiringan lereng, jaringan jalan utama, rumah sakit, puskesmas, pasar, dan sekolah distandardisasi menggunakan pendekatan Fuzzy Membership ke dalam rentang nilai 0–1 untuk merepresentasikan tingkat kesesuaian masing-masing faktor terhadap pengembangan perumahan. Pembobotan dilakukan secara interpretatif berdasarkan relevansi masing-masing faktor terhadap kesesuaian lokasi. Bobot terbesar diberikan pada kemiringan lereng (0,30) dan aksesibilitas terhadap jalan utama (0,30) karena kondisi fisik lahan dan aksesibilitas merupakan pertimbangan utama dalam menentukan kelayakan dan kemudahan pengembangan perumahan. Sementara itu, jarak terhadap rumah sakit, puskesmas, perdagangan, dan sekolah masing-masing diberikan bobot 0,10 sebagai faktor pendukung yang mencerminkan kemudahan akses terhadap pelayanan kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Dengan demikian, total bobot seluruh variabel adalah 1,00 dan setiap faktor memiliki kontribusi proporsional dalam membentuk indeks kesesuaian lahan.
Perhitungan indeks kesesuaian lahan dilakukan menggunakan metode Weighted Linear Combination (WLC) melalui Weighted Sum, dengan mengombinasikan nilai Fuzzy Membership dan bobot masing-masing variabel. Hasil analisis kemudian dikombinasikan dengan constraint untuk mengeluarkan area yang tidak dapat dikembangkan berdasarkan penggunaan lahan, ketentuan tata ruang, serta batasan fisik tertentu. Dengan pendekatan tersebut, hasil akhir tidak hanya menunjukkan tingkat kesesuaian lahan, tetapi juga mempertimbangkan ketersediaan dan keterbatasan lahan untuk ekspansi perumahan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Kesesuaian Lahan
Lahan merupakan elemen penting dalam penyediaan hunian penduduk. Pemilihan lokasi
Penduduk memiliki kecenderungan untuk bertempat tinggal pada lokasi-lokasi dengan tingkat kemudahan yang tinggi, seperti dekat dengan jaringan jalan utama dan dekat dengan fasilitas pendukung kehidupan. Maka dari itu, perlu untuk mengetahui kesesuaian lahan untuk pembangunan perumahan. kesesuaian lahan untuk pembangunan perumahan diperoleh melalui penggabungan beberapa faktor yang memengaruhi kesesuaian lokasi pembangunan perumahan menggunakan metode Weighted Sum. Faktor-faktor tersebut meliputi kemiringan lereng, jalan utama, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas ekonomi, yang masing-masing telah diberikan bobot berdasarkan tingkat pengaruhnya terhadap kesesuaian lahan.
Hasil analisis menghasilkan nilai kesesuaian yang kemudian diklasifikasikan menjadi empat (4) tingkat kesesuaian, yaitu sangat sesuai, sesuai, cukup sesuai, dan tidak sesuai. Klasifikasi tersebut digunakan untuk menggambarkan variasi tingkat kesesuaian lahan untuk pembangunan perumahan di wilayah penelitian.
Berdasarkan gambar 3.1.1 dapat diketahui bahwa hampir seluruh kawasan Sleman barat, timur, dan tengah sangat sesuai untuk pembangunan perumahan penduduk. Melalui gambar 3.1.1 juga dapat diketahui bahwa kesesuaian lahan memiliki persebaran yang berbeda antarwilayah. Lahan dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai terutama terdapat di kawasan Sleman tengah, sedangkan lahan yang cukup sesuai hingga tidak sesuai lebih banyak ditemukan pada kawasan Sleman timur.
Persebaran tersebut berkaitan dengan karakteristik faktor-faktor yang digunakan dalam analisis. Wilayah dengan tingkat kesesuaian lebih tinggi umumnya memiliki kondisi lereng relatif landai, jarak terhadap jaringan jalan lebih dekat, jumlah fasilitas pendukung lebih banyak, sehingga memperoleh nilai kesesuaian yang lebih tinggi. Sebaliknya, wilayah dengan kesesuaian lahan cukup sesuai hingga tidak sesuai dipengaruhi oleh kemiringan lereng yang lebih curam sehingga tidak terlalu memungkinkan untuk dilakukan pembangunan perumahan penduduk. Secara spasial, hasil tersebut menunjukkan bahwa potensi pembangunan perumahan tidak tersebar secara merata di seluruh wilayah penelitian, melainkan cenderung terkonsentrasi pada kawasan yang memiliki kombinasi karakteristik yang mendukung pembangunan perumahan.
Berdasarkan Gambar 3.1.2, luas lahan pada masing-masing tingkat kesesuaian menunjukkan variasi antar kawasan. Lahan dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai memiliki luas sebesar 36.634,85 ha. Sementara itu, lahan tidak sesuai memiliki luas sebesar 1.074,96 ha. Kawasan sleman tengah memiliki luasan lahan dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai terbesar, yaitu sebesar 15.349,23 ha. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara spasial kawasan tersebut memiliki proporsi wilayah yang relatif lebih mendukung untuk pembangunan perumahan dibandingkan kawasan lainnya. Sebaliknya, kawasan Sleman timur memiliki luasan lahan dengan tingkat kesesuaian tidak sesuai yang relatif besar dibandingkan dua kawasan lainnya yaitu seluas 1.074,96 ha, yang berkaitan dengan kemiringan lereng. Dengan demikian, hasil analisis kesesuaian menunjukkan bahwa kawasan Sleman tengah merupakan kawasan yang memiliki potensi relatif lebih besar untuk pembangunan perumahan berdasarkan faktor-faktor yang digunakan dalam analisis.
3.2 Ketersediaan Lahan
Kawasan Sleman barat, timur, dan tengah hampir seluruh wilayahnya memiliki lahan yang sangat sesuai untuk dilakukan pembangunan perumahan. Namun, lahan yang memiliki tingkat kesesuaian sangat sesuai, sesuai, maupun cukup sesuai tidak secara langsung dapat dikategorikan sebagai lahan tersedia karena terdapat sejumlah faktor pembatas yang dapat menghambat atau membatasi pembangunan perumahan. Oleh karena itu, hasil kesesuaian lahan dikombinasikan dengan constraint yang telah ditetapkan dalam penelitian. Constraint digunakan untuk mengeluarkan wilayah yang tidak dapat atau tidak diperuntukkan bagi pembangunan perumahan. Constraint berpedoman pada dokumen RDTR yang mengatur mengenai peruntukan penggunaan lahan secara detail. Selain itu, permukiman eksisting juga termasuk dalam constraint.
Berdasarkan Gambar 3.2.1, lahan yang teridentifikasi tersedia untuk pembangunan perumahan tersebar pada beberapa bagian wilayah penelitian. Persebaran lahan tersedia terutama terdapat pada kawasan Sleman tengah. Persebaran tersebut merupakan hasil dari penggabungan antara tingkat kesesuaian lahan dan faktor pembatas yang digunakan. Beberapa wilayah yang sebelumnya memiliki tingkat kesesuaian tinggi tidak termasuk dalam lahan tersedia karena berada pada kawasan yang termasuk constraint. Dengan demikian, penerapan constraint menyebabkan luas lahan yang dapat dipertimbangkan untuk pembangunan perumahan menjadi lebih kecil dibandingkan luas lahan yang secara awal memiliki tingkat kesesuaian tinggi. Lahan yang tersedia kemudian menjadi bagian wilayah yang secara spasial memiliki karakteristik yang mendukung pembangunan sekaligus tidak termasuk dalam wilayah yang dibatasi oleh kriteria penelitian.
Berdasarkan hasil analisis, kawasan yang memiliki potensi lahan tersedia terbesar terdapat di kawasan Sleman tengah (5.975,34 ha), diikuti oleh Sleman barat (2.041,48 ha) dan Sleman timur (1.409,45 ha). Besarnya lahan tersedia pada kawasan tersebut menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki kombinasi antara kondisi lahan yang mendukung pembangunan perumahan dan relatif rendahnya keterbatasan berdasarkan constraint yang digunakan. Namun demikian, luasan lahan tersedia tidak secara langsung menunjukkan bahwa seluruh lahan tersebut dapat segera dikembangkan. Hasil ini menunjukkan potensi berdasarkan aspek spasial yang digunakan dalam penelitian, sedangkan pengembangan aktual masih dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti status kepemilikan lahan, harga tanah, kondisi infrastruktur, permintaan perumahan, serta kebijakan pembangunan.
Kesimpulan dan Saran
4.1 Kesimpulan
Tingkat kesesuaian lahan untuk pembangunan perumahan menunjukkan adanya variasi antarwilayah. Lahan dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai paling banyak terdapat di kawasan Sleman tengah, sedangkan lahan yang cukup sesuai hingga tidak sesuai lebih banyak ditemukan pada kawasan Sleman timur. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak seluruh wilayah memiliki karakteristik yang sama untuk mendukung pembangunan perumahan. Lahan dengan tingkat kesesuaian yang lebih tinggi merupakan wilayah yang memiliki kombinasi kondisi yang lebih mendukung berdasarkan kriteria yang digunakan dalam analisis.
Hasil analisis ketersediaan lahan menunjukkan bahwa lahan yang sesuai belum tentu dapat dikategorikan sebagai lahan tersedia. Setelah mempertimbangkan faktor pembatas atau constraint, sebagian lahan yang sebelumnya termasuk dalam kategori sesuai tidak dapat dipertimbangkan untuk pembangunan perumahan. Dengan demikian, luas lahan tersedia lebih kecil dibandingkan dengan luas lahan yang memenuhi kriteria kesesuaian. Kawasan yang memiliki potensi lahan tersedia terbesar terdapat di kawasan Sleman tengah (5.975,34 ha), diikuti oleh Sleman barat (2.041,48 ha) dan Sleman timur (1.409,45 ha).
4.2 Saran
Pembangunan perumahan sebaiknya diarahkan pada wilayah yang memiliki tingkat kesesuaian tinggi dan tidak termasuk dalam wilayah yang menjadi constraint. Hasil identifikasi lahan tersedia dapat digunakan sebagai dasar awal dalam menentukan wilayah potensial untuk pembangunan perumahan. Namun, analisis lebih lanjut tetap diperlukan dengan mempertimbangkan aspek yang belum tercakup dalam penelitian, seperti status kepemilikan lahan, harga dan nilai ekonomi lahan, ketersediaan infrastruktur dan utilitas, serta kebutuhan perumahan. Oleh karena itu, lahan yang teridentifikasi tersedia dalam penelitian ini tidak secara langsung menunjukkan bahwa lahan tersebut dapat segera dikembangkan karena masih terdapat faktor-faktor lain yang belum dipertimbangkan.
Daftar Pustaka
Arfiansyah, D., Han, H., & Zlatanova, S. (2024). Land suitability analysis for residential development in an ecologically sensitive area: A case study of Nusantara, the new Indonesian capital. Sustainability, 16(13), 5767. https://doi.org/10.3390/su16135767
Putra, D. P. E., Atmaja, R. R. S., Setyawan, K. D., & Susatio, R. (2020). Analisis multi kriteria spasial untuk evaluasi rencana pengembangan perumahan di Godean, Yogyakarta. Jurnal Pengembangan Kota, 8(2), 163–176. https://doi.org/10.14710/jpk.8.2.163-176
Valent, C. G., Subiyanto, S., & Wahyuddin, Y. (2021). Analisis pola dan arah perkembangan permukiman di wilayah Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta (APY) (Studi kasus: Kabupaten Sleman). Jurnal Geodesi Undip, 10(2), 78–87. https://doi.org/10.14710/jgundip.2021.30636