Abstrak
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Perkembangan wilayah yang diikuti oleh peningkatan kawasan terbangun dapat menyebabkan perubahan karakteristik permukaan lahan. Bertambahnya bangunan dan permukaan kedap air dapat mengurangi kemampuan air hujan untuk meresap ke dalam tanah serta meningkatkan limpasan permukaan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mempertahankan fungsi resapan air sekaligus menerapkan upaya pengelolaan air hujan, terutama pada wilayah yang mengalami perkembangan kawasan terbangun.
Kemampuan suatu wilayah dalam meresapkan air tidak hanya dipengaruhi oleh penggunaan lahan, tetapi juga oleh karakteristik fisik wilayah. Jenis tanah, curah hujan, penggunaan lahan, dan kemiringan lereng merupakan beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menggambarkan potensi resapan air. Sawitri et al. (2025) menyebutkan bahwa berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, kawasan resapan air memiliki karakteristik berupa curah hujan yang tinggi, kondisi tanah yang mendukung peresapan air, serta kondisi geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan dalam jumlah besar. Oleh karena itu, analisis terhadap berbagai parameter tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai distribusi potensi resapan air secara spasial.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah:
-
1.Bagaimana sebaran potensi resapan air di Kabupaten Sleman berdasarkan parameter jenis tanah, curah hujan, penggunaan lahan, dan kemiringan lereng?
-
2.Bagaimana hasil site selection berbasis Point of Interest (POI) dalam mengidentifikasi area prioritas awal pengembangan sumur resapan pada wilayah yang menjadi fokus analisis?
-
3.Bagaimana kesesuaian area hasil site selection apabila ditinjau berdasarkan potensi resapan air, kondisi penggunaan lahan, dan risiko banjir?
1.3 Rangkuman
Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi resapan air di Kabupaten Sleman berdasarkan parameter jenis tanah, curah hujan, penggunaan lahan, dan kemiringan lereng serta melakukan site selection awal untuk mengidentifikasi area prioritas pengembangan sumur resapan pada wilayah yang menjadi fokus analisis. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan untuk mengintegrasikan berbagai parameter secara spasial, sedangkan site selection berbasis POI digunakan sebagai pendekatan pendukung dalam penyaringan area kandidat. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi awal untuk mendukung perencanaan pengelolaan air hujan dan penyaringan area potensial pengembangan sumur resapan di Kabupaten Sleman, yang selanjutnya tetap memerlukan verifikasi lapangan dan kajian teknis lebih lanjut.
Metode Penelitian
2.1 Lokasi Penelitian
Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengalami perkembangan wilayah cukup pesat, terutama pada kawasan yang berdekatan dengan Kota Yogyakarta. Perkembangan tersebut ditandai dengan meningkatnya kawasan terbangun serta berkembangnya berbagai aktivitas perkotaan, seperti perdagangan dan jasa, perhotelan, permukiman, serta fasilitas pendidikan. Kondisi ini menunjukkan berkembangnya karakteristik kawasan peri-urban, yaitu wilayah yang mengalami transisi dari karakteristik perdesaan menuju perkotaan akibat meluasnya aktivitas dan penggunaan lahan perkotaan. Kabupaten Sleman yang mengalami meluasnya aktivitas perkotaan dan kawasan permukiman dapat disebut sebagai wilayah peri-urban di Yogyakarta (Kamal et al., 2025). Pada Sarastika et al, (2024) menemukan adanya penurunan lahan pertanian dan peternakan sebesar 152,62 ha, sementara lahan terbangun meningkat 148,74 ha di Kapanewon Depok dan Mlati.
Gambar 2.1 Lokasi Penelitian
Pertumbuhan penduduk dan perkembangan kawasan terbangun turut meningkatkan kebutuhan terhadap sumber daya air. Pada saat yang sama, perubahan penggunaan lahan menjadi permukiman, bangunan komersial, dan berbagai permukaan kedap air dapat mengurangi area yang mendukung proses infiltrasi serta meningkatkan limpasan permukaan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi resapan air dan berkontribusi terhadap peningkatan potensi genangan maupun banjir. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan air hujan yang dapat mendukung proses peresapan air ke dalam tanah, salah satunya melalui penerapan sumur resapan.
2.2 Variabel Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh melalui DATA GEO MAPID dan sumber data geospasial lainnya. Variabel penelitian terdiri atas variabel untuk analisis potensi resapan air dan variabel untuk analisis peluang lokasi sumur resapan menggunakan fitur Site Selection GEO MAPID. Data risiko banjir digunakan sebagai informasi tambahan untuk meninjau tingkat risiko banjir pada area yang menjadi prioritas hasil analisis. Selain itu, data batas administrasi digunakan sebagai batas wilayah penelitian. Data dan sumber data yang digunakan dalam penelitian disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Data dan Variabel Penelitian
2.3 Metode Penelitian
Penelitian kajian potensi daerah resapan air dan peluang lokasi sumur serapan ini menggunakan metode skoring dan overlay dilakukan melalui beberapa tahap.
Skoring Potensi Resapan Air
Pada tahap ini diawali dengan melakukan klasifikasi dan skoring untuk tiap parameter. Yang pertama yaitu ada paremeter kemiringan lereng. Wilayah dengan kemiringan lereng yang relatif datar memiliki kemampuan resapan air yang lebih tinggi. Skoring kemiringan lereng disajikan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Klasifikasi dan Skor Kemiringan Lereng
Sumber: Dirjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan (1998) dalam Guvil et al., (2019)
Kedua yaitu jenis tanah, tanah sebagia media serapan air menjadi salah satu faktor penentu kriteria resapan air. Masing-masing tanah memiliki daya serap dan menahan air yang berbeda. Berikut nilai skor setiap jenis tanah yang ada di Kabupaten Sleman pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Klasifikasi dan Skor Jenis Tanah
Sumber: Dirjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan (1998) dalam Guvil et al., (2019)
Ketiga yaitu penggunaan lahan, faktor penggunaan lahan mampu mempengaruhi daya serap air, semakin banyak vegetasi tutupan lahan maka semakin baik daya serap airnya. Skoring penggunaan lahan ditunjukkan pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Klasifikasi dan Skor Penggunaan Lahan
Sumber: Dirjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan (1998) dalam Guvil et al., (2019)
Data curah hujan yang digunakan merupakan data intensitas curah hujan yang diperoleh melalui MAPID dengan satuan mm/menit. Berdasarkan rentang nilai intensitas pada wilayah penelitian, data kemudian direklasifikasi menjadi lima kelas dengan interval yang seragam dan diberi skor 1–5. Nilai intensitas yang lebih tinggi diberikan skor lebih besar karena menunjukkan semakin besarnya masukan air hujan yang tersedia untuk proses infiltrasi. Skoring curah hujan ditunjukkan pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Klasifikasi dan Skor Curah Hujan
Sumber data: CHIRPS Daily v2.0 Final melalui MAPID
Kemudian dari hasil skoring keempat parametet tersebut, dilakukan intersect untuk melakukan pembobotan. Pembobotan dan skoring berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No.32 Tahun 2009 Tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai. Setiap parameter diberikan bobot masing-masing seperti di Tabel 2.6.
Tabel 2.6 Pembobotan Tiap Parameter
Bobot masing-masing parameter selanjutnya dinormalisasi sehingga menghasilkan total bobot sebesar 100%. Hasil normalisasi menunjukkan bahwa jenis tanah memiliki bobot sebesar 35,7%, curah hujan 28,6%, penggunaan lahan 21,4%, dan kemiringan lereng 14,3%. Jenis tanah memiliki bobot terbesar karena sifat fisik dan permeabilitas tanah menjadi faktor utama yang menentukan kemampuan air untuk meresap ke dalam tanah. Semakin besar bobot suatu parameter, semakin besar pula pengaruh parameter tersebut terhadap nilai akhir potensi resapan air. Dari hasil pembobotan, akan diperoleh nilai indeks dari 0 – 5 yang kemudian dapat dikelaskan dari potensi sangat rendah ke sangat tinggi. Tabel 2.7 menunjukkan pengelompokan menggunakan interval kelas (equal interval) untuk mempermudah interpretasi variasi potensi resapan secara spasial di Kabupaten Sleman.
Tabel 2.7 Nilai Indeks Tiap Kelas Potensi
Analisis peluang lokasi sumur resapan menggunakan metode Site Selection difokuskan pada lima kapanewon, yaitu Depok, Mlati, Gamping, Godean, dan Seyegan. Setiap POI diberikan korelasi positif atau negatif serta bobot sesuai relevansinya terhadap pengembangan sumur resapan. Hasil analisis digunakan untuk memperoleh Top 10 Grid pada masing-masing kapanewon, yang selanjutnya ditinjau berdasarkan potensi resapan air, penggunaan lahan, dan risiko banjir.
Hasil dan Pembahasan
Analisis potensi resapan air di Kabupen Sleman pada penelitian ini menggunakan empat parameter, yaitu kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, dan penggunaan. Keempat parameter memiliki karakteristik yang berbeda dan berpengaruh terhadap kemampuan wilayah dalam menyerap air. Persebaran masing-masing parameter dapat ditunjukkan pada Gambar 3.1. Berdasarkan Gambar 3.1, kemiringan lereng Kabupaten Sleman menunjukkan pola dari curam di bagian utara menuju lebih datar di bagian tengah hingga selatan, sehingga wilayah yang lebih landai cenderung mendukung proses infiltrasi. Jenis tanah didominasi oleh regosol yang berasal dari material vulkanik Gunung Merapi dan memiliki kemampuan meloloskan air relatif baik. Curah hujan menunjukkan variasi spasial, dengan wilayah bercurah hujan tinggi memiliki suplai air yang lebih besar untuk proses resapan. Sementara itu, penggunaan lahan didominasi oleh lahan terbangun, sawah, dan perkebunan. Area bervegetasi cenderung mendukung infiltrasi, sedangkan kawasan terbangun memiliki kemampuan resapan lebih rendah akibat dominasi permukaan kedap air.
Berdasarkan keempat parameter tersebut diintegarasikan untuk diperoleh analisis potensi resapan air menggunakan weighted overlay. Jenis tanah diberikan bobot paling tinggi karena karakteristik fisik tanah, terutama tekstur dan permeabilitasnya, berpengaruh langsung terhadap kemampuan air untuk masuk dan bergerak melalui lapisan tanah. Hasil dari pembobotan parameter di Kabupaten Sleman ditunjukkan pada Gambar 3.2. Berdasarkan hasil analisis, potensi resapan air di Kabupaten Sleman menunjukkan variasi spasial dari kelas sangat rendah hingga sangat tinggi. Secara visual, wilayah Sleman didominasi oleh kelas sedang, tinggi, dan sangat tinggi, sedangkan kelas rendah hingga sangat rendah memiliki persebaran yang relatif lebih terbatas dan terkonsentrasi pada beberapa lokasi tertentu. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa wilayah dengan potensi resapan tinggi hingga sangat tinggi memiliki kemampuan relatif lebih baik dalam mendukung proses infiltrasi. Namun, tingginya potensi resapan belum tentu menunjukkan bahwa seluruh wilayah tersebut sesuai untuk pembangunan sumur resapan. Penentuan lokasi sumur resapan tetap perlu mempertimbangkan kondisi penggunaan ruang dan keberadaan objek di sekitarnya.
Analisis site selection difokuskan pada lima kapanewon, yaitu Depok, Mlati, Seyegan, Godean, dan Gamping, untuk mempersempit cakupan analisis pada kawasan dengan perkembangan wilayah yang relatif intensif (Gambar 3.3). AGambar 3.3lakukan menggunakan Point of Interest (POI) dengan korelasi positif dan negatif sebagai dasar penentuan prioritas area pengembangan sumur resapan. POI berkorelasi positif mencakup fasilitas dengan area terbangun dan aktivitas relatif tinggi, seperti supermarket, pasar, perkantoran, hotel, dan perguruan tinggi, yang berpotensi meningkatkan limpasan permukaan. Sementara itu, POI seperti TPA, TPS, depo sampah, pengelolaan limbah B3, SPBU, dan Pertashop digunakan sebagai faktor pembatas karena berpotensi menjadi sumber pencemar tanah dan air tanah. Hasil site selection selanjutnya ditinjau bersama peta potensi resapan air untuk mengevaluasi kondisi fisik area kandidat.
Hasil site selection menghasilkan 10 grid dengan peringkat tertinggi pada masing-masing kapanewon. Secara umum, lokasi prioritas menunjukkan karakteristik yang beragam. Pada kawasan yang lebih terbangun seperti Depok dan Mlati, beberapa grid dengan peringkat tinggi berada di sekitar pusat perbelanjaan, pasar, serta fasilitas pendidikan. Sementara itu, pada Gamping, Seyegan, dan Godean, beberapa grid prioritas juga ditemukan pada kawasan permukiman, pertanian, dan area yang masih didominasi vegetasi. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa hasil site selection sangat dipengaruhi oleh distribusi POI yang tersedia pada masing-masing wilayah.
10 grid prioritas pada masing-masing kapanewon selanjutnya di-overlay dengan peta potensi resapan air. Tahap ini digunakan untuk mengevaluasi kembali lokasi hasil site selection berdasarkan kemampuan fisik wilayah dalam mendukung proses infiltrasi. Dengan demikian, lokasi prioritas tidak hanya ditentukan berdasarkan kebutuhan yang direpresentasikan oleh POI, tetapi juga berdasarkan kondisi potensi resapan airnya. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 3.4.
Hasil overlay menunjukkan bahwa peringkat site selection yang tinggi tidak selalu sejalan dengan potensi resapan air yang tinggi. Hal tersebut terlihat pada Kapanewon Godean. Grid peringkat pertama berdasarkan site selection ternyata mencakup area dengan potensi resapan yang relatif rendah pada sebagian wilayahnya. Artinya, meskipun lokasi tersebut memiliki prioritas tinggi berdasarkan faktor POI, kondisi fisiknya belum sepenuhnya mendukung proses peresapan air. Kondisi berbeda ditemukan pada grid peringkat ketiga yang berada pada kelas potensi resapan sangat tinggi (Gambar 3.5). Namun, berdasarkan interpretasi penggunaan lahan, area tersebut masih didominasi oleh vegetasi. Tingginya kemampuan resapan alami pada kawasan tersebut menyebabkan kebutuhan terhadap intervensi berupa sumur resapan dapat dipertimbangkan lebih lanjut.
Tahap selanjutnya dilakukan dengan menambahkan data risiko banjir sebagai informasi tambahan untuk melihat tingkat urgensi pengelolaan limpasan pada lokasi kandidat. Hasil overlay menunjukkan beberapa grid prioritas berada atau berdekatan dengan kawasan berisiko banjir yang umumnya mengikuti koridor sungai dan meluas hingga kawasan terbangun di sekitarnya. Kondisi tersebut salah satunya terlihat di Kapanewon Depok, yaitu kawasan risiko banjir di sekitar Ambarrukmo yang berdekatan dengan grid prioritas hasil site selection (Gambar 3.6), serta ditemukan pula pada beberapa grid di Mlati, Gamping, Seyegan, dan Godean.
Dengan demikian, penentuan area prioritas mempertimbangkan kebutuhan berdasarkan POI, kemampuan infiltrasi berdasarkan potensi resapan air, serta urgensi berdasarkan risiko banjir. Area badan sungai tetap menjadi faktor pembatas, sedangkan kawasan berisiko banjir di sekitarnya dapat menjadi pertimbangan tambahan dalam menentukan prioritas pengelolaan limpasan.
Berdasarkan keseluruhan hasil analisis, lokasi prioritas pembangunan sumur resapan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu parameter. Hasil site selection digunakan untuk mengidentifikasi kawasan yang memiliki kebutuhan terhadap peningkatan pengelolaan air hujan, sedangkan peta potensi resapan digunakan untuk menilai kemampuan fisik wilayah dalam mendukung infiltrasi. Informasi risiko banjir selanjutnya digunakan sebagai pertimbangan tambahan untuk melihat tingkat urgensi pengelolaan limpasan. Dengan demikian, lokasi yang lebih diprioritaskan adalah grid dengan nilai site selection tinggi, memiliki potensi resapan yang memadai, berada pada kawasan yang membutuhkan peningkatan infiltrasi, serta memiliki keterkaitan dengan kawasan berisiko banjir. Namun, lokasi yang berada pada badan air maupun berdekatan dengan sumber pencemar tetap perlu dihindari meskipun memiliki nilai prioritas yang tinggi.
Hasil analisis ini merupakan identifikasi awal berbasis data spasial sehingga belum dapat digunakan secara langsung sebagai lokasi teknis pembangunan sumur resapan. Penentuan lokasi secara lebih detail masih memerlukan verifikasi lapangan dan mempertimbangkan kondisi setempat, seperti ketersediaan lahan, kedalaman muka air tanah, kondisi tanah, jarak terhadap bangunan dan sumber pencemar, serta ketentuan teknis pembangunan sumur resapan.
Kesimpulan dan Saran
4.1 Kesimpulan
Analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Sleman memiliki variasi potensi resapan air yang didominasi kelas sedang hingga sangat tinggi. Integrasi hasil pemetaan potensi resapan dengan site selection berbasis POI dan informasi risiko banjir memberikan pendekatan yang lebih komprehensif dalam mengidentifikasi kawasan prioritas pembangunan sumur resapan. Hasil ini menunjukkan bahwa lokasi dengan peringkat site selection tertinggi belum tentu menjadi lokasi yang paling sesuai, sehingga kondisi fisik wilayah dan tingkat urgensi tetap perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas.
4.2 Saran
Hasil analisis perlu diverifikasi melalui survei lapangan karena penentuan lokasi sumur resapan masih dipengaruhi oleh berbagai faktor teknis yang belum tercakup dalam analisis ini, seperti kondisi tanah, muka air tanah, ketersediaan lahan, serta jarak terhadap bangunan dan sumber pencemar. Kajian lanjutan diperlukan sebelum lokasi ditetapkan sebagai rekomendasi pembangunan.
Daftar Pustaka
Guvil, Q., Driptufany, D. M., & Ramadhan, S. (2019). Analisis potensi daerah resapan air Kota Padang. In Seminar Nasional Geomatika (Vol. 3, No. 671, pp. 2018-3).
Kamal, M. R. S., Satria, R. A., Pasha, F. G., & Way, B. (2025). Pola dan pemodelan prediksi perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Sleman sebagai wilayah peri-urban. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman, 7(1), 44–58.
Sarastika, T., Saraswati, Y., Triyadi, R. A., & Susena, Y. (2024). Pemodelan prediksi konversi penggunaan lahan berbasis ANN-CA di wilayah peri-urban Kabupaten Sleman. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan, 11(1), 161–173.
Sawitri, Oktaviana and , Drs. Munawar Cholil, M.Si (2019) Analisis Kondisi Daerah Resapan Air di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2019. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.