Depok sebagai Dormitory Town: Analisis Spasial Aksesibilitas Transportasi Umum bagi Mahasiswa dan Pekerja

03 Oktober 2025

By: Lossa Chaniago MAPID TEAM

Open Project

Aksesibilitas Transportasi Umum Kota Depok - MAPID Academy Project

Banner Publikasi Aksesibilitas Transportasi Umum Kota Depok

Pendahuluan

Sejak awal perkembangannya, Kota Depok telah diarahkan sebagai kawasan permukiman yang menopang pertumbuhan metropolitan Jakarta. Terletak di antara DKI Jakarta dan Kota Bogor, wilayah ini berfungsi sebagai zona transisi antara kawasan perkotaan dan perdesaan sejak pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1960-an, peran Depok semakin dipertegas melalui konsep dormitory town atau kota hunian, yaitu kawasan yang dirancang untuk menampung masyarakat, khususnya pekerja, yang tidak memiliki akses terhadap hunian di ibu kota (Pramesi, 2020). Selain itu, Kota Depok juga menampung ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ternama, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gunadarma, Universitas Pancasila, dll yang menjadikan aktivitas pendidikan sebagai salah satu penggerak utama dinamika kota ini (Suryana, 2020).

Pertumbuhan penduduk, mahasiswa, dan pekerja di Depok mendorong mobilitas harian yang tinggi. Namun, ketersediaan infrastruktur transportasi umum sering kali tidak sejalan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Keterbatasan akses, ketergantungan pada kendaraan pribadi, serta distribusi halte yang belum merata menimbulkan tantangan bagi kelompok dengan intensitas perjalanan tinggi, khususnya mahasiswa dan pekerja. Transportasi umum yang memadai memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan kota. Oleh karena itu, analisis spasial mengenai keterjangkauan transportasi umum terhadap universitas dan perkantoran di Depok diperlukan untuk menjawab apakah infrastruktur yang ada telah mendukung mobilitas masyarakat.

Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah sebagai berikut:

  1. 1.
    Menganalisis aksesibilitas transportasi umum di Kota Depok berdasarkan parameter pekerja dan mahasiswa.
  1. 2.
    Menyusun rekomendasi berbasis data spasial untuk peningkatan pemerataan layanan transportasi umum yang lebih inklusif dan efisien.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis spasial dengan fitur Site Selection dari platform MAPID untuk mengukur tingkat aksesibilitas transportasi umum di Kota Depok. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan data spasial berupa lokasi transportasi umum, universitas, perkantoran, serta data demografi penduduk berdasarkan kelompok usia produktif.

Pengaturan Parameter dan Pembobotan

  1. 1.
    Parameter dimasukkan ke dalam fitur Site Selection sesuai kategori, seperti terlampir pada Tabel 1.
  1. 2.
    Penentuan bobot berdasarkan tingkat kepentingan relatif tiap parameter terhadap kebutuhan aksesibilitas mahasiswa dan pekerja.
Tabel 1. Parameter Site Selection

Proses Site Selection

  1. 1.
    Sistem GEO MAPID akan menghitung skor aksesibilitas dengan menggabungkan nilai tiap parameter sesuai bobot yang telah ditentukan.
  1. 2.
    Setelah proses selesai, tiap area akan memperoleh skor komposit.

Klasifikasi Skor

  1. 1.
    Skor hasil Site Selection dikategorikan ke dalam lima kelas (Highly Suitable, Suitable, Moderately Suitable, Unsuitable, Highly Unsuitable) menggunakan algoritma MAPID.
  1. 2.
    Kategori ini memberikan gambaran spasial mengenai tingkat aksesibilitas transportasi umum di Kota Depok.

Pembahasan

Aksesibilitas Transportasi Umum Kota Depok menggunakan Site Selection

Hasil Site Selection dari aksesibilitas transportasi umum di Kota Depok dapat dilihat pada Gambar 1.

Hasil Site Selection Akses Transportasi Kota Depok

Adapun hasil pemeringkatan 10 area terbaik berdasarkan Site Selection dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel ini menggambarkan hexagon dengan skor tertinggi, yang mewakili lokasi dengan aksesibilitas transportasi paling baik di Kota Depok.

Tabel

Hasil Site Selection pada platform MAPID menunjukkan adanya variasi spasial yang cukup signifikan terkait aksesibilitas transportasi umum di Kota Depok. Area pusat kota yang meliputi Kecamatan Cimanggis, Pancoran Mas, dan Sukmajaya teridentifikasi sebagai wilayah dengan aksesibilitas tinggi. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan simpul transportasi utama seperti Stasiun Depok, Stasiun UI, Terminal Depok, serta konsentrasi universitas (Universitas Indonesia, Gunadarma) dan perkantoran. Faktor-faktor tersebut menjadikan kawasan ini lebih terlayani oleh berbagai moda transportasi, baik KRL, bus, maupun angkutan kota.

Sebaliknya, wilayah barat (Cinere, Limo, Bojongsari) dan selatan (Sawangan, Cipayung, Tapos) banyak yang masuk kategori tidak sesuai hingga sangat tidak sesuai. Hal ini mengindikasikan keterbatasan jaringan transportasi umum di area tersebut, di mana ketersediaan halte maupun akses langsung ke simpul transportasi massal masih minim. Kondisi ini menegaskan adanya ketimpangan spasial antara pusat kota dengan kawasan pinggiran.

Hal ini menegaskan bahwa area dengan aksesibilitas terbaik sebagian besar hanya berada di wilayah tengah dan utara Depok. Ketimpangan spasial ini berimplikasi pada meningkatnya ketergantungan masyarakat pinggiran terutama wilayah barat dan selatan terhadap kendaraan pribadi, yang pada gilirannya berpotensi memperparah kemacetan serta menurunkan efisiensi mobilitas perkotaan secara keseluruhan.

Rekomendasi wilayah prioritas untuk optimalisasi transportasi umum di Depok

Berdasarkan hasil analisis, terdapat dua kelompok wilayah yang perlu diperhatikan dalam strategi optimalisasi transportasi umum di Kota Depok:

  1. 1.
    Wilayah dengan akses tinggi (Highly Suitable–Suitable) Meliputi: Kecamatan Pancoran Mas, Sukmajaya, Cimanggis. Rekomendasi: optimalisasi difokuskan pada integrasi moda transportasi, misalnya konektivitas antara KRL, bus, dan angkutan pengumpan (feeder). Selain itu, peningkatan kapasitas halte dan terminal diperlukan untuk mengimbangi tingginya volume pengguna, terutama mahasiswa dan pekerja.
  1. 2.
    Wilayah dengan akses rendah (Unsuitable–Highly Unsuitable) Meliputi: Kecamatan Cinere, Limo, Bojongsari, Sawangan, Cipayung, dan Tapos. Rekomendasi: prioritas utama diberikan pada perluasan jaringan transportasi umum, seperti penambahan rute angkot atau bus pengumpan, pembangunan halte baru di kawasan permukiman padat, serta integrasi jalur menuju simpul transportasi utama (stasiun KRL dan terminal bus). Upaya ini akan mengurangi kesenjangan spasial sekaligus meningkatkan pemerataan akses bagi masyarakat pinggiran.

Dengan demikian, hasil Site Selection tidak hanya mengungkapkan area dengan akses transportasi terbaik, tetapi juga mengidentifikasi wilayah yang perlu menjadi prioritas intervensi. Optimalisasi layanan transportasi umum di kawasan pinggiran Depok akan sangat penting untuk mendukung mobilitas mahasiswa dan pekerja, serta mendorong terciptanya pemerataan pembangunan perkotaan yang lebih inklusif dan efisien.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut:

  1. 1.
    Aksesibilitas transportasi umum tertinggi berada di wilayah tengah dan utara Depok (Pancoran Mas, Sukmajaya, Cimanggis) yang dekat dengan universitas, perkantoran, dan simpul transportasi utama. Sementara itu, wilayah pinggiran seperti Cinere, Limo, Bojongsari, Sawangan, Cipayung, dan Tapos masih menunjukkan keterbatasan akses.
  1. 2.
    Optimalisasi transportasi umum perlu difokuskan pada dua arah: menjaga integrasi moda di wilayah dengan akses tinggi, serta memperluas jaringan dan menambah rute feeder di wilayah dengan akses rendah agar tercapai pemerataan mobilitas bagi mahasiswa dan pekerja.

Daftar Pustaka

Pramesi, P. N. (2020). Kerja Sama Antar Daerah: Problem Konektivitas Kota Depok Sebagai Penyangga DKI Jakarta Dalam Wilayah Megapolitan Jabodetabek (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS AIRLANGGA).

Suryana, A., & Penutup, D. I. (2020). Globalisasi, Suburbanisasi Jakarta dan Transformasi Sosial Ekonomi Depok. Universitas Indonesia

Data Publikasi

ANALISIS PENGARUH VEGETASI DAN KEPADATAN PENDUDUK TERHADAP SUHU PERMUKAAN  LAHAN DI SEKITAR TAHURA Ir. H. DJUANDA KOTA BANDUNG

Iklim dan Bencana

12 Mar 2026

Salwa Dwi INTERN MAPID

ANALISIS PENGARUH VEGETASI DAN KEPADATAN PENDUDUK TERHADAP SUHU PERMUKAAN LAHAN DI SEKITAR TAHURA Ir. H. DJUANDA KOTA BANDUNG

Pelajari hubungan antara kepadatan penduduk, vegetasi, dan suhu permukaan lahan di sekitar Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, kawasan konservasi penting di Bandung.

22 menit baca

94 dilihat

1 Proyek

ANALISIS KESIAPAN BONUS DEMOGRAFI KOTA BANDUNG: SINYAL INVESTASI JANGKA PANJANG

Perencanaan Kota

11 Mar 2026

Khofifatun Nurrohmah INTERN MAPID

ANALISIS KESIAPAN BONUS DEMOGRAFI KOTA BANDUNG: SINYAL INVESTASI JANGKA PANJANG

Analisis sektor ekonomi potensial dan tipologi wilayah di Kota Bandung memberikan peta jalan bagi investor dan pemerintah untuk optimalisasi momentum bonus demografi dan percepatan pembangunan ekonomi.

37 menit baca

143 dilihat

1 Data

Analisis Lokasi Strategis Coffee Shop di Jakarta Pusat Menggunakan GIS dan QGIS

Makanan dan Minuman

07 Mar 2026

Muh Fiqri Abdi Rabbi

Analisis Lokasi Strategis Coffee Shop di Jakarta Pusat Menggunakan GIS dan QGIS

Abstrak Pertumbuhan industri coffee shop di kawasan perkotaan mendorong meningkatnya kebutuhan akan metode yang sistematis dalam menentukan lokasi usaha yang strategis. Pemilihan lokasi yang tidak tepat dapat mengakibatkan rendahnya jumlah pengunjung serta tingginya tingkat persaingan dengan usaha sejenis. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbasis data untuk mengidentifikasi lokasi yang memiliki potensi pasar tinggi serta aksesibilitas yang baik terhadap pusat aktivitas kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi potensial pembukaan coffee shop baru di wilayah Jakarta Pusat dengan memanfaatkan teknologi Geographic Information System (GIS). Metode yang digunakan mengintegrasikan analisis potensi wilayah dengan analisis aksesibilitas menggunakan pendekatan service area dan overlay spasial. Data yang digunakan meliputi grid potensi lokasi hasil analisis Site Analyst, batas administrasi wilayah, data stasiun transportasi publik, pusat perbelanjaan, serta data coffee shop eksisting. Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pengolahan data spasial, penggabungan nilai potensi lokasi dengan wilayah administratif, pembuatan service area dari stasiun dan pusat perbelanjaan, serta proses overlay untuk mengidentifikasi area yang memiliki kombinasi potensi pasar dan aksesibilitas tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah yang memiliki potensi tinggi untuk pengembangan coffee shop umumnya berada pada area yang dekat dengan pusat aktivitas kota, khususnya simpul transportasi dan kawasan perdagangan. Area yang berada dalam jangkauan service area dari fasilitas tersebut menunjukkan tingkat aksesibilitas yang lebih baik dan memiliki peluang yang lebih besar untuk menarik pengunjung. Berdasarkan hasil pemeringkatan lokasi kandidat, diperoleh beberapa titik lokasi yang direkomendasikan sebagai lokasi potensial untuk pembukaan coffee shop baru di Jakarta Pusat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan GIS dalam analisis lokasi usaha dapat membantu proses pengambilan keputusan secara lebih objektif dan berbasis data, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dalam menentukan lokasi bisnis yang strategis.

9 menit baca

155 dilihat

1 Proyek

Analisis Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Permukiman di Yogyakarta: Pendekatan Multi-Kriteria Berbasis Risiko dan Valuasi Ekonomi

Perencanaan Kota

24 Feb 2026

MAPID

Analisis Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Permukiman di Yogyakarta: Pendekatan Multi-Kriteria Berbasis Risiko dan Valuasi Ekonomi

Jelajahi dampak urbanisasi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagaimana MCDA berbasis GIS membantu menentukan lokasi hunian yang aman, ekonomis, dan berkelanjutan.

35 menit baca

351 dilihat

1 Proyek

Syarat dan Ketentuan
Pendahuluan
  • MAPID adalah platform yang menyediakan layanan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk pengelolaan, visualisasi, dan analisis data geospasial.
  • Platform ini dimiliki dan dioperasikan oleh PT Multi Areal Planing Indonesia, beralamat