Provinsi Riau merupakan salah satu wilayah penting dalam perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Aktivitas sawit tidak hanya berkaitan dengan produksi dan ekonomi, tetapi juga berhubungan dengan ruang hidup masyarakat, perkembangan desa, penggunaan lahan, serta isu lingkungan. Karena itu, pertanyaan mengenai sawit tidak cukup dijawab dengan mengetahui berapa luas perkebunannya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: di mana perkebunan berada, desa mana yang berada di sekitarnya, dan seberapa dekat hubungan spasial antara perkebunan dengan masyarakat?
WebGIS Riau Palm Impact dikembangkan sebagai pendekatan awal untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sistem menggabungkan batas desa dengan data kebun atau konsesi sawit sehingga hubungan spasial keduanya dapat dilihat secara interaktif melalui tautan https://fabianspramudya.github.io/riau-palm-impact/
Hasil screening awal menunjukkan terdapat 1.837 desa dalam wilayah analisis, dengan 1.016 desa atau sekitar 55,3% teridentifikasi beririsan dengan sedikitnya satu poligon kebun/konsesi sawit dalam dataset. Angka ini menunjukkan luasnya keterkaitan spasial antara perkebunan sawit dan wilayah desa di Riau. Namun, angka tersebut tidak berarti bahwa 55,3% desa mengalami dampak negatif akibat sawit. Angka tersebut hanya menunjukkan adanya keterkaitan spasial berdasarkan data yang digunakan.
Analisis dan Kesimpulan
Analisis dilakukan melalui spatial overlay antara batas desa dan poligon perkebunan/konsesi. Pengguna kemudian dapat memilih satu konsesi sebagai pusat analisis. Sistem membentuk screening envelope hingga 30 km dan mengidentifikasi desa-desa kandidat berdasarkan jaraknya terhadap konsesi.
Setiap desa kemudian memperoleh proximity score. Semakin dekat jaraknya terhadap konsesi, semakin tinggi nilai kedekatannya. Hasil tersebut digunakan untuk membentuk ProvisiProvisional Palm Oil Community Influence Index (POCI-P)ah provisional penting karena POCI-P pada tahap ini baru menggunakan komponen proximity. Kedekatan geografis tidak secara otomatis berarti adanya dampak sosial, ekonomi, atau lingkungan.
Dengan demikian, prinsip utama analisis ini adalah:
Desa yang dekat dengan perkebunan belum tentu memiliki tingkat pengaruh yang tinggi. Sebaliknya, desa yang lebih jauh dapat memiliki hubungan ekonomi atau sosial yang kuat dengan aktivitas sawit. Karena itu, nilai POCI-P sebaiknya digunakan sebagai alat screening untuk menentukan lokasi yang perlu dikaji lebih lanjut, bukan sebagai ukuran final dampak perkebunan terhadap masyarakat.
Rekomendasi untuk Meningkatkan Awareness secara Spasial
Peningkatan awareness dapat dilakukan dengan mengembangkan WebGIS dari sekadar peta menjadi platform spatial awareness.
- Pertama, tambahkan indikator sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan ke dalam POCI. Dengan demikian, analisis tidak hanya mempertimbangkan jarak, tetapi juga karakteristik masyarakat dan kondisi lingkungan.
- Kedua, tambahkan dimensi waktu sehingga pengguna dapat melihat perubahan perkebunan dan kondisi desa dari tahun ke tahun.
- Ketiga, tampilkan evidence coverage untuk menunjukkan wilayah yang memiliki data kuat dan wilayah yang masih membutuhkan verifikasi. Ketidakpastian data sebaiknya ditampilkan secara terbuka, bukan disembunyikan.
- Keempat, kembangkan participatory mapping agar masyarakat dapat memberikan informasi mengenai konflik lahan, fasilitas publik, sumber air, akses jalan, maupun perubahan lingkungan.
Pada akhirnya, pendekatan yang lebih tepat bukan:
melainkan:
Dengan pendekatan tersebut, peta tidak hanya menunjukkan di mana perkebunan sawit berada, tetapi membantu menjawab siapa yang berada di sekitarnya, apa yang perlu diperhatikan, dan di mana investigasi lebih lanjut perlu dilakukan. Awareness spasial dengan demikian menjadi langkah awal menuju tata kelola perkebunan sawit yang lebih transparan, berbasis bukti, dan berorientasi pada hubungan antara aktivitas perkebunan dengan ruang kehidupan masyarakat. (FSP)