Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

23/04/2023 • Rizky Asa Aulia Trisedya

Point of Interest

Desa Wringinputih


Cultural Heritage dan Saujana Pusaka

Warisan budaya (cultural heritage) adalah segala sesuatu yang membentuk kehidupan sosial masyarakat, tradisi, keterampilan individu sebagai jati diri masyarakat yang terbentuk, berkembang, dan diwariskan secara turun-temurun yang memiliki nilai keunggulan. Warisan budaya terdiri dari 2 komponen, yaitu tangible dan intangible. Budaya teraga (tangible heritage) merupakan segala sesuatu warisan budaya yang dapat diidentifikasi dengan panca indra dan terdiri dari beberapa elemen berupa lanskap, properti masyarakat, objek, hingga produk budaya. Sedangkan, budaya tak teraga (intangible heritage) tidak dapat diidentifikasi dengan panca indra, tetapi wujudnya tidak terlepas dari aset budaya teraga, seperti pengetahuan dan keahlian, dialek lokal, legenda, hingga mitos yang diwariskan secara turun temurun sebagai bentuk ekspresi dari pengaruh tertentu dan cara hidup masyarakat.

Keberadaan suatu ruang yang memiliki perpaduan antara bentang alam dengan evolusi kebudayaan manusia diidentifikasi oleh World Heritage Convention pertama kali sebagai cultural landscape pada tahun 1992. Dalam bahasa Indonesia, istilah saujana pusaka digunakan sebagai padanan kata dari cultural landscape heritage yang mendefinisikan satu kesatuan ruang pusaka alam dan pusaka budaya sebagai hasil dari ekspresi budaya terhadap proses kreativitas kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai keunggulan, seperti bentang alam, tata kehidupan masyarakat, serta nilai budaya dan sejarah, dalam rentang waktu yang luas (Rahmi, 2015).

Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur sebagai Saujana Pusaka

Candi Borobudur sebagai warisan budaya merupakan representasi dari kosmologi cakrawala dalam agama Budhha yang merepresentasikan hubungan antara berbagai elemen dalam alam semesta (Taylor, 2003). Sedangkan, kawasan Borobudur sebagai saujana pusaka dapat dilihat sejarahnya dari proses pembentukan geomorfologi kawasan, keberadaaan dan penataan candi-candi yang membentuk satu garis imajiner dengan Gunung Merapi, hingga kemudian membentuk pola kehidupan masyarakat dalam kawasan Borobudur (Rahmi, 2015). Pemandangan bentang alam budaya yang terlihat memvisualisasikan hubungan yang dramatis antara manusia, waktu, peristiwa, kepercayaan, serta tempat.

Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

Pengelolaan dan pelestarian saujana pusaka Borobudur diupayakan dalam Program Kawasan Pariwisata Strategis Nasional Borobudur oleh PUPR yang dibagi ke dalam lima zona, yaitu Zona I (area candi), Zona II (kawasan taman purbakala), Zona III (area pengaturan tata guna lahan), Zona IV (area pelestarian dan pengelolaan saujana pusaka), dan Zona V (area penunjang). Dalam konteks pengelolaan komponen warisan budaya Borobudur, zona IV merupakan zona dengan elemen paling penting dalam pelestarian dan peningkatan makna yang dapat dimaknai oleh aliran waktu dan tempat. Akan tetapi, fenomena masifnya alih fungsi lahan menjadi bangunan tinggi di sepanjang jalan pendekat dan peningkatan lalu lintas menimbulkan permasalahan dalam manajemen pengaturan bentang lahan budaya Borobudur hingga telah diberikan peringatan oleh UNESCO.

Marak Pedagang Kaki Lima, Unesco Protes Pengelola Candi Borobudur

Borobudur Terancam Dicabut dari Warisan Budaya Dunia, Warning bagi Pengelola

Dengan demikian, perencanaan, pengelolaan, dan pembangunan mengenai Kawasan Saujana Pusaka Borobudur perlu mempertimbangkan dampak dan keberlanjutannya

Desa Wringinputih sebagai Cultural Heritage dalam Saujana Pusaka Borobudur

Desa Wringinputih, Kec. Borobudur, Kab. Magelang, Jawa Tengah merupakan salah satu desa yang berada di Zona IV KSPN Borobudur dan berjarak 2,3km dari kompleks utama Candi Borobudur sehingga tergolong memiliki lokasi yang strategis. Desa Wringinputih merupakan gabungan dari dua desa, yaitu Desa Sukobumi dan Desa Sri Anom. Terletak di dekat sungai Progo dan sungai Tangsi, nama Wringinputih diambil karena adanya kepercayaan masyarakat setempat akan adanya pohon Ringin Berdaun Putih yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit. 

Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

Terdapat beberapa situs kebudayaan di Desa Wringinputih yang berkaitan dengan perkembangan kawasan saujana pusaka Borobudur. Selain itu, pola kegiatan masyarakat setempat bersifat turun-menurun dan memiliki kesan pedesaan yang masih kuat dengan latar belakang lanskap perbukitan menoreh. Upaya pembentukan dan perkembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur menjadikan Desa Wringinputih berpeluang untuk terjadi pembangunan dan ikut berkembang dengan tetap berprinsip pada pengelolaan dan pelestarian kawasan budaya di area buffer dari zona inti sehingga membantu akselerasi pariwisata nasional. Akan tetapi, peran Zona IV sebagai zona pelindung komponen-komponen saujana pusaka Borobudur menjadikan pembangunan yang dapat dilakukan di Desa Wringinputih menjadi terbatas dengan penyesuaian tertentu.

Metode dan Pengumpulan Data

Data primer untuk artikel ini didapatkan dari observasi secara langsung ke lokasi. Sedangkan, data sekunder didapatkan dari berbagai literatur yang tersedia secara online. Overlay komponen aset budaya teraga (tangible) dan budaya tak teraga (intangible) yang membentuk Desa Wringinputih akan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang kemudian akan diketahui peluang pembangunan di kawasan budaya saujana Borobudur, khususnya di Desa Wringinputih.

Aset budaya teraga terdiri dari:

  1. 1.
    situs peninggalan budaya;
  1. 2.
    penggunaan lahan budaya;
  1. 3.
    ekonomi lokal masyarakat; serta
  1. 4.
    saujana yang terlihat dari Desa Wringinputih.

Sedangkan, aset budaya tak teraga yang akan dianalisis terdiri dari: 

  1. 1.
    pengetahuan dan kemampuan masyarakat lokal dalam mengolah lahan pertanian secara turun-temurun, serta
  1. 2.
    pengetahuan dan kemampuan masyarakat lokal dalam mengolah dan memanfaatkan bambu sebagai bahan baku kerajinan.

Komponen Budaya Teraga Desa Wringinputih

Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

Komponen budaya teraga di Desa Wringinputih berupa pola pengolahan lahan yang telah dilakukan secara turun-temurun, situs peninggalan budaya serta arsitektur bangunan lokal, titik-titik saujana yang terlihat dari Desa Wringinputih, dan ekonomi lokal masyarakat yang berkembang akibat pola penggunaan lahan. Desa Wringinputih terletak di antara pertemuan 2 sungai, yaitu sungai Progo di timur dan sungai Tangsi di barat, banyaknya sumber air menyebabkan pertanian menjadi guna lahan budaya turun-temurun sekaligus mata pencaharian utama masyarakat setempat. Komoditas pertanian yang ada berupa padi dan palawija, khususnya singkong. Selain itu, akibat terletak di dekat 2 sungai, praktik penanaman bambu, yang awalnya hanya digunakan sebagai pelindung area sempadan sungai, lama-lama menjadi bahan baku pekerjaan sampingan masyarakat lokal sehingga guna lahan kebun bambu juga mendominasi jenis pola pengolahan lahan masyarakat.

Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

Ekonomi lokal masyarakat diwarnai dengan dengan keberadaan UMKM ceriping dari singkong, hingga kawasan desa wisata bambu. Selain itu, praktik menganyam bambu menjadi produk kerajinan menjadi pekerjaan sampingan sebagian besar masyarakat desa yang kemudian disalurkan kepada pengepul untuk dijual di area wisata candi. 

Situs warisan budaya yang terdapat di Desa Wringinputih berupa 4 sendang, situs Brongsongan, dan makam kyai. Sendang yang berada di desa ini terbentuk dari morfologi geografi dan beberapa mitos cerita yang mengikuti di setiap sendang, yaitu Sendang Kali Gondang, Sendang Kali Sapen, dan Sendang Malih Rupo, serta Sendang Kali Pule. Situs Brongsongan merupakan simbol kesuburan dan tempat yang dulunya digunakan untuk menyepi. Sedangkan, situs makam yang terdapat di desa ini adalah Makam Kyai Simbah Banyak yang merupakan seorang Kaum yang berperan dalam setiap tradisi ritual keagamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

Desa Wringinputih yang memiliki latar belakang panorama perbukitan Menoreh memiliki nilai tambah desa yang dapat dilihat secara langsung dan tersebar di beberapa titik desa.

Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

Selain itu, arsitektur bangunan di Desa Wringinputih masih didominasi oleh arsitektur tradisional untuk menjaga dan pelestarikan kekhasan desa untuk menyangga saujana pusaka borobudur sesuai dengan pengelolaan Zona IV KSPN Borobudur. Pondasi umpak, atap kamung dan limasan, serta adanya tangga berundak untuk mencegah air masuk saat banjir menjadi ciri khas arsitektur tradisional di kawasan saujana pusaka Borobdur.

Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

Komponen Budaya Tak Teraga Desa Wringinputih

Komponen budaya tak teraga di Desa Wringinputih tidak terlepas dari komponen budaya teraganya. Pola pengolahan lahan budaya untuk pertanian menjadikan masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan bertani yang diwariskan secara turun-temurun, seperti pengetahuan pola tanam yang berubah di setiap musim, diversifikasi alami produk tanam, hingga pengetahuan membajak sawah dengan menggunakan kerbau.

Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

Selain menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian utama, masyarakat setempat juga memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengekspresikan kreativitasnya dalam mengubah dari bahan baku bambu menjadi produk budaya, berupa anyaman bambu. Produk budaya tersebut yang kemudian dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat sebagai sumber penghasilan sampingan. 

Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

Di lain sisi, pengetahuan dan kemampuan masyarakat mengenai tata cara mendirikan rumah secara tradisional, seperti adanya tangga berundak untuk mencegah luapan air masuk ke dalam rumah hingga penggunaan pondasi umpak menjadikan arsitektur tradisional di kawasan saujana pusaka Borobudur, khususnya Desa Wringinputih, masih eksis sampai sekarang. 

Pengetahuan dan keterampilan yang diturunkan secara turun-temurun tersebut kemudian yang membentuk identitas Desa Wringinputih yang khas dan memiliki nilai keunggulan seperti saat ini.

Peluang Pembangunan di Desa Wringinputih

Dari penjelasan yang telah dijabarkan di atas, terdapat beberapa titik point of interest yang dapat dikembangkan dan difungsikan sebagai pendukung upaya pembangunan kawasan. Titik-titik tersebut berupa balai ekonomi desa hingga area-area yang memiliki latar pemandangan perbukitan menoreh secara jelas. Letak Desa Wringinputih yang juga strategis dari kompleks utama candi dapat menyuguhkan pengalaman transit khas pedesaan, dari mulai kuliner hingga petualangan, dengan tetap melestarikan wrisan budaya teraga dan tak teraga sehingga menambah nilai ekonomi lokal masyarakat.

Peluang Pembangunan Kawasan Cultural Heritage Desa Wringinputih dalam KSPN Borobudur

Kesimpulan

Pembangunan berkelanjutan yang berprinsip pada pelestarian kawasan cultural heritage Desa Wringinputih sebagai bagian dari saujana pusaka KSPN Borobudur dapat menjadi pertimbangan bagi perangkat pemerintah dan/atau perencana untuk menganalisis lebih dalam mengenai warisan budaya di Desa Wringinputih sehingga tercipta perencanaan pengembangan kawasan yang berkelanjutan. Selain itu, peluang pembangunan di Desa Wringinputih juga dapat dimanfaatkan oleh para investor dan pengembang untuk mengembangkan area transit khas pedesaan dengan mengkolaborasikan unsur-unsur komponen cultural heritage sehingga tidak banyak mengubah lanskap asli desa.

Referensi

Giliberto, F. dan Labadi, S. (2020). Harnessing cultural heritage for sustainable development: an analysis of three internationally funded projects in MENA Countries. International Journal of Heritage Studies, 28(2). 133-146. DOI: 10.1080/13527258.2021.1950026

Rahmi, D. H. (2015). The cultural landscape of Borobudur: Borobudur villages-continuity and change. BOROBUDUR as cultural landscape: local communities’ initiative for the evolutive conservation of Pusaka Saujana BOROBUDUR, Kyoto University Press, Kyoto, 39-58

Taylor, K. (2003). Cultural Landscape as Open Air Museum: Borobudur World Heritage Site And Its Setting. Humanities Research, 10(2), 51-62. DOI:10.22459/HR.X.02.2003.06

Tunirdijo, D. A. (2022).¬†Changing perspectives on the relationship between heritage, landscape and local communities: A lesson from Borobudur.¬†Transcending the Culture‚ÄďNature Divide in Cultural Heritage: Australian National University Press

Data Publications