Ruang Publik antara Kita dan Kota : Analisis Keterjangkauan dan Perencanaan Taman Baru di Kota Bandung

26 November 2025

By: Aulia Ghita Apriliyan

Ekplorasi Ruang Publik di Kota Bandung bersama Lakuna Kota

Eksplorasi Ruang Publik Kota Bandung bersama Lakuna Kota
"Kota yang tertata bukan hanya tentang garis dan zonasi, tetapi tentang bagaimana ruang-ruangnya menghidupkan interaksi, menghadirkan makna, dan menumbuhkan kebersamaan di antara manusia dan lingkungannya."

Taman Kota dan Wajah Sosial Bandung

Taman kota bukan sekadar ruang hijau di tengah kepadatan Bandung, melainkan cermin dari dinamika sosial warganya. Di ruang-ruang ini interaksi, kreativitas, dan kebersamaan tumbuh mewujudkan identitas kota yang hidup dan inklusif. Melalui taman, Bandung menampilkan wajah sosialnya tempat di mana batas sosial memudar dan warga bertemu dalam kesetaraan ruang. Kota Bandung dengan dinamika kreatif yang tinggi, keberadaan taman kota menjadi semakin vital seiring meningkatnya tekanan terhadap ruang terbuka hijau. Dengan luas wilayah sekitar 167 km² dan populasi mencapai 2,5 juta jiwa, kebutuhan akan ruang yang sehat, teduh, dan inklusif terus mendesak di tengah laju pertumbuhan kota yang padat.

Inisiatif taman tematik yang digagas pada masa kepemimpinan Ridwan Kamil (2013–2018) menjadi tonggak penting dalam menghadirkan kembali taman sebagai ruang hidup warga. Kehadiran taman-taman seperti Taman Film, Taman Musik Centrum, dan Taman Jomblo menandai lahirnya inovasi desain kota yang berorientasi pada pengalaman publik mendorong interaksi sosial, ekspresi budaya, dan rasa memiliki terhadap ruang kota. Namun di balik keberhasilan estetika dan popularitasnya, masih muncul tantangan mendasar yakni sebaran taman yang belum merata, keterbatasan akses bagi kelompok tertentu, serta ketimpangan antara pusat kota dan kawasan pinggiran.

Ketimpangan ini berimplikasi pada beragam aspek, mulai dari penurunan kualitas lingkungan permukiman, keterbatasan ruang interaksi sosial, hingga rendahnya rasa memiliki terhadap ruang kota di sebagian wilayah. Selain itu, perencanaan pembangunan taman seringkali belum sepenuhnya berlandaskan pada analisis spasial yang komprehensif. Padahal, pemetaan pola sebaran penduduk, intensitas penggunaan lahan, dan aksesibilitas transportasi publik dapat menjadi dasar penting dalam menentukan lokasi yang strategis bagi pengembangan taman baru. Pendekatan berbasis data memungkinkan kota mengoptimalkan ruang terbatas yang tersedia, sekaligus memastikan bahwa keberadaan ruang publik tidak hanya estetis, tetapi juga fungsional dan inklusif.

Peta Administrasi Kota Bandung

Oleh sebab itu, analisis spasial menjadi langkah penting untuk meninjau sejauh mana taman kota di Bandung menjangkau wilayah sekitarnya. Melalui pemetaan radius jangkauan taman serta identifikasi lokasi potensial untuk pembangunan taman baru, dapat terlihat kawasan yang telah terlayani dan wilayah yang masih berada di luar cakupan ruang publik. Pendekatan ini memberikan gambaran awal mengenai kesenjangan aksesibilitas taman kota serta potensi pengembangan ruang hijau yang lebih merata di seluruh wilayah Bandung.

Ketimpangan Ruang Hijau

Peta Distribusi Taman Kota di Kota Bandung

Hasil pemetaan menunjukkan distribusi taman kota dengan pola yang tidak merata dan konsentrasi tinggi di wilayah pusat kota. Sebagian besar taman berada di Kecamatan Coblong, Sumur Bandung, dan Bandung Wetan, yang merupakan kawasan inti pemerintahan dan aktivitas ekonomi. Berdasarkan data Bandungbergerak.id (2023), lebih dari 80% taman kota berada di tiga kecamatan tersebut, sementara wilayah lain di pinggiran seperti Gedebage, Rancasari, atau Ujungberung memiliki jumlah taman yang jauh lebih sedikit bahkan hampir tidak ada. Hal ini menandakan bahwa distribusi ruang publik di Bandung masih teraglomerasi dan belum merata secara spasial. Pola distribusi ini juga memperlihatkan ketimpangan akses terhadap taman kota, di mana ruang hijau masih lebih mudah dijangkau oleh warga pusat kota dibanding mereka yang tinggal di kawasan pinggiran.

Berikut daftar taman kota di Bandung berdasarkan data dari layer “Pemetaan Aksesibilitas Ruang Publik di Kota Bandung” oleh Donidarmawan Putra Gemilang, Mikail Kaysan, dan Dheamyra Aysha Ihsanti di GEOMAPID. Data ini menjadi acuan untuk memahami sebaran ruang publik dan aksesibilitasnya di Kota Bandung :

Tabel Daftar Taman Tematik di Kota Bandung dengan Fungsinya

Klasifikasi di atas menggambarkan bahwa taman tematik Kota Bandung memiliki fungsi yang beragam mulai dari ruang kreatif, edukatif, olahraga, ekologis, hingga wisata kota. Meskipun secara tematik bervariasi, sebagian besar taman terkonsentrasi di wilayah pusat kota dengan orientasi rekreasi dan kegiatan publik. Sementara taman dengan fungsi ekologis dan lingkungan relatif lebih sedikit jumlahnya dan tersebar di area permukiman.

Mengukur Jangkauan Hijau

Peta Cakupan Pelayanan Taman Kota berdasarkan Radius 1 Km Aksesbilitas di Kota Bandung

Berdasarkan hasil analisis buffer dengan radius 1000 meter terhadap sebaran taman kota di Kota Bandung menunjukkan bahwa jangkauan pelayanan ruang publik belum merata di seluruh wilayah kota. Radius ini digunakan sebagai acuan berdasarkan Badan Standar Nasional (BSN) dalam SNI-03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan juga menimbang Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang terkait Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk jarak ideal taman kota terhadap area permukiman yang masih dapat dijangkau dengan berjalan kaki (walking distance).

Hasil analisis mengindikasikan bahwa sebagian kawasan di Kota Bandung belum masuk dalam cakupan radius pelayanan taman kota eksisting, sehingga masih terdapat wilayah yang tergolong belum terlayani (underserved area) dalam hal akses terhadap ruang terbuka hijau publik. Wilayah yang tidak tercakup oleh radius taman kota tersebut meliputi Kecamatan Sukasari, Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bandung Kidul, Buahbatu, Rancasari, Gedebage, dan Cibiru. Kecamatan-kecamatan ini umumnya berada di bagian barat dan timur Kota Bandung, dengan karakteristik kawasan permukiman padat dan pertumbuhan lahan terbangun yang pesat. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa distribusi taman kota di Bandung masih terkonsentrasi di area pusat kota, sedangkan kawasan pinggiran relatif belum mendapatkan akses yang memadai terhadap ruang terbuka hijau publik.

Temuan ini menegaskan perlunya pemerataan pembangunan taman kota terutama di wilayah-wilayah underserved tersebut. Penambahan taman baru atau peningkatan konektivitas akses menuju taman eksisting dapat menjadi strategi prioritas untuk mendukung pemerataan aksesibilitas ruang publik yang inklusif, sekaligus memperkuat fungsi ekologis dan sosial taman kota di seluruh wilayah Kota Bandung.

Menemukan Titik Hijau Baru

Pendekatan perencanaan taman tematik baru ini menggunakan SINI AI, fitur berbasis kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi lokasi yang paling sesuai berdasarkan parameter spasial tertentu. Analisis ini mempertimbangkan beberapa aspek utama, antara lain tingkat aksesibilitas, kedekatan dengan fasilitas pendidikan, sarana olahraga, serta kondisi demografi yang mencerminkan kebutuhan ruang publik di masing-masing kawasan. Dengan metode ini, proses pemilihan lokasi tidak hanya mengandalkan intuisi, tetapi juga data-driven sehingga hasilnya dapat menunjang perencanaan taman tematik yang strategis dan inklusif.

Peta Kesesuaian Lokasi untuk Pengembangan Taman Kota di  Underserved area

Peta di atas menampilkan informasi kesesuaian lokasi untuk pengembangan taman kota khususnya di wilayah underserved. Berdasarkan analisis sebelumnya, wilayah-wilayah yang belum terlayani mencakup Kecamatan Sukasari, Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bandung Kidul, Buahbatu, Rancasari, Gedebage, dan Cibiru. Kawasan-kawasan ini menjadi fokus potensial karena saat ini akses terhadap taman kota masih terbatas, sehingga pembangunan taman baru di sini diharapkan dapat meningkatkan pemerataan ruang publik.

Hasil analisis menunjukan tingkat kesesuaian lokasi dengan zona atau area berwarna hijau menandakan lokasi dengan tingkat kesesuaian sangat tinggi untuk pengembangan taman kota baru, sementara area berwarna merah merepresentasikan wilayah yang sangat tidak sesuai untuk dijadikan ruang publik. Pembedaan visual ini mempermudah proses pengambilan keputusan perencanaan spasial, karena secara jelas memperlihatkan wilayah yang berpotensi dikembangkan dan wilayah yang sebaiknya dikesampingkan.

Dengan demikian, hasil analisis site selection berbasis SINI AI yang dikombinasikan dengan analisis buffer tidak hanya memetakan kesenjangan pelayanan taman kota, tetapi juga memberikan arah strategis untuk pembangunan taman tematik baru di wilayah underserved Kota Bandung. Pendekatan ini memperkuat prinsip perencanaan berbasis bukti (evidence-based planning), mendukung terciptanya distribusi ruang publik yang lebih seimbang, aksesibel, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat perkotaan.

Kesimpulan : Peluang dan Pemerataan Ruang Hijau di Bandung

Sebaran taman kota di Bandung menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas publik masih terkonsentrasi di pusat kota, sementara beberapa kecamatan di timur dan barat, termasuk Sukasari, Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bandung Kidul, Buahbatu, Rancasari, Gedebage, dan Cibiru, tergolong underserved area. Kondisi ini menandakan perlunya penataan ruang yang lebih merata dengan menempatkan taman baru di wilayah yang kurang terlayani, sehingga setiap warga memiliki kesempatan yang lebih seimbang untuk mengakses ruang publik. Upaya ini diharapkan dapat mendorong interaksi sosial yang lebih luas, pemanfaatan ruang terbuka yang optimal, dan keberlanjutan lingkungan hidup, sekaligus memperkuat fungsi sosial dan ekologis taman di seluruh kota.

Langkah selanjutnya sebaiknya difokuskan pada identifikasi lokasi strategis dan penguatan konektivitas antar taman, sehingga pembangunan fasilitas baru dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Dengan pendekatan ini, setiap wilayah memiliki peluang yang sama untuk menikmati ruang terbuka hijau, sekaligus mendukung terciptanya kota yang lebih ramah, nyaman, dan inklusif.

Daftar Rujukan

Bandungbergerak.id. (2023). Sebaran Taman Kota di Bandung Masih Terpusat di Wilayah Pusat Kota. Diakses dari https://bandungbergerak.id

Badan Pusat Statistik Kota Bandung. (2024). Kota Bandung dalam Angka 2024. Bandung: BPS Kota Bandung.

Citarum Harum. (2022). Mantap! Hingga 2022 Luas Taman Kota Bandung Capai 2,1 Juta Meter Persegi. Diakses dari https://citarumharum.jabarprov.go.id

Detik.com. (2022). RTH Bandung Masih Minim, Baru 12,25% dari Total Luas Wilayah. Diakses dari https://www.detik.com/jabar/berita

Detik.com. (2023). Dalam Setahun, Warga Kota Bandung Bertambah 20 Ribu Jiwa. Diakses dari https://www.detik.com/jabar/berita

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68.

Putra Gemilang, D., Kaysan, M., & Ihsanti, D. A. (2024). Pemetaan Aksesibilitas Ruang Publik di Kota Bandung. GEOMAPID.

Data Publications

silakan hubungi kami melalui Ask OCTO via Aplikasi OCTO atau WhatsApp (+6282)12220404 untuk membantu berbagai kebutuhan dan transaksi perbankan.

Research

23 Sep 2026

Muhammad Labual Alaqil

silakan hubungi kami melalui Ask OCTO via Aplikasi OCTO atau WhatsApp (+6282)12220404 untuk membantu berbagai kebutuhan dan transaksi perbankan.

silakan hubungi kami melalui Ask OCTO via Aplikasi OCTO atau WhatsApp (+6282)12220404 Pastikan hanya menghubungi nomor di atas dan waspada terhadap akun palsu yang mengatasnamakan CIMB Niaga.

0 min read

85 view

Analisis Kesesuaian Lokasi dan Peluang Pasar untuk Ekspansi Gerai HokBen Berbasis Location Intelligence di Kota Surabaya

Food & Beverages

06 Sep 2026

Ridhwan Saputra

Analisis Kesesuaian Lokasi dan Peluang Pasar untuk Ekspansi Gerai HokBen Berbasis Location Intelligence di Kota Surabaya

Analisis site selection ekspansi gerai HokBen di Kota Surabaya menggunakan GIS untuk mengintegrasikan land suitability, market opportunity, demografi, POI, aksesibilitas, dan harga lahan. Hasil analisis QGIS dibandingkan dengan GEO MAPID Site Selection untuk mengidentifikasi area potensial berdasarkan kesesuaian lokasi dan peluang pasar.

24 min read

539 view

Evaluasi Keterjangkauan dan Usulan Rerouting Angkutan Kota Berbasis Location Analytics di Kota Malang, Jawa Timur

Transportation

04 Sep 2026

Meutia Amirotun Nuha

Evaluasi Keterjangkauan dan Usulan Rerouting Angkutan Kota Berbasis Location Analytics di Kota Malang, Jawa Timur

Penelitian ini mengevaluasi keterjangkauan pelayanan angkutan kota di Kota Malang dan menyusun alternatif rerouting berbasis location analytics. Keterjangkauan dianalisis menggunakan buffer 400 meter terhadap jaringan trayek eksisting, kemudian distribusi penduduk pada kawasan permukiman digunakan untuk mengidentifikasi population service gap. Kawasan yang belum terlayani dikelompokkan menjadi 27 cluster dan lima cluster dengan service gap terbesar dipilih sebagai Priority Service Area. Analisis selanjutnya mempertimbangkan jaringan jalan, pusat aktivitas, keterhubungan terhadap trayek eksisting, dan akses transportasi regional untuk menyusun koridor kandidat. Hasil menunjukkan bahwa pelayanan angkot eksisting menjangkau sekitar 616.575 jiwa atau 69,33% penduduk Kota Malang, sementara 272.784 jiwa belum terlayani. Skenario rerouting pada lima kawasan prioritas mampu menambah jangkauan terhadap sekitar 145.101 penduduk sehingga coverage meningkat menjadi 85,64%. Selain itu, 53 dari 56 POI prioritas berada dalam jangkauan pelayanan setelah skenario diterapkan. Temuan menunjukkan bahwa penanganan service gap secara terarah dapat meningkatkan keterjangkauan tanpa harus memperluas jaringan ke seluruh kawasan residual. Hasil penelitian merupakan screening spasial awal yang masih memerlukan validasi teknis dan operasional sebelum implementasi.

26 min read

397 view

12 Data

1 Projects

Analisis Kesesuaian Lokasi Pembangunan Fasilitas Kesehatan di Kota Pasuruan Berbasis Kepadatan Penduduk

City Planning

04 Sep 2026

Adam Sholihuddin

Analisis Kesesuaian Lokasi Pembangunan Fasilitas Kesehatan di Kota Pasuruan Berbasis Kepadatan Penduduk

Pemetaan spasial untuk menentukan lokasi prioritas pembangunan fasilitas kesehatan baru di Kota Pasuruan menggunakan metode Site Selection berdasarkan kepadatan penduduk tahun 2024.

9 min read

360 view

1 Projects

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at