Analisis Multikriteria dalam Penentuan Prioritas Konservasi Cagar Budaya di DKI Jakarta: Pendekatan Spasial Terintegrasi

25 August 2026

By: Agung Ash

web1

Abstrak

Pengelolaan dan pelestarian cagar budaya kerap dihadapkan pada kendala keterbatasan sumber daya, sehingga menuntut adanya kajian penentuan prioritas yang tajam, objektif, dan akuntabel. Pendekatan konvensional sering kali terjebak pada penilaian subjektif atau hanya berfokus pada satu aspek, seperti tingkat kerusakan fisik semata. Kajian ini mengusulkan model penilaian komprehensif menggunakan pendekatan Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) dengan metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk mengevaluasi prioritas intervensi situs bersejarah di DKI Jakarta. Kajian ini menyintesiskan empat kriteria penentu: Nilai Budaya dan Sejarah (Benefit), Potensi Aktivasi Komunitas (Benefit), Tingkat Kerusakan Fisik (Cost), dan Risiko Ancaman Lingkungan/Banjir (Cost). Untuk memproses matriks keputusan secara geografis, kajian ini difasilitasi oleh instrumen Sistem Pendukung Keputusan (DSS) berbasis WebGIS. Hasil dari kajian ini berupa peringkat prioritas (indeks konservasi) yang memberikan argumen kuantitatif yang kuat bagi pelestari. Melalui pemetaan multikriteria ini, ruang lingkup kajian konservasi dapat difokuskan secara cepat dan akurat, memastikan bahwa alokasi intervensi tidak hanya menyelamatkan fisik bangunan dari ancaman lingkungan, tetapi juga memaksimalkan nilai kebermanfaatan sosial-budaya bagi masyarakat luas.

Kata Kunci: Kajian Konservasi, Cagar Budaya, Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA), Manajemen Warisan Budaya, DKI Jakarta.

Pendahuluan

DKI Jakarta menyimpan lapisan sejarah peradaban yang termanifestasi dalam ratusan situs dan bangunan cagar budaya. Namun, manajemen aset bersejarah di kawasan mega-urban ini dihadapkan pada ancaman eksternal yang agresif. Ketidakmampuan bangunan beradaptasi dengan disrupsi tata ruang, diperparah oleh kerentanan hidrologis (banjir luapan dan rob) serta degradasi sanitasi lingkungan, secara langsung mengancam eksistensi fisik dan nilai pemanfaatan.

Di tengah keterbatasan sumber daya finansial dan teknis, pendekatan konservasi yang sporadis atau digerakkan oleh kepentingan reaktif sesaat tidak lagi relevan. Diperlukan instrumen pengambilan keputusan yang rasional dan terukur.

Kajian ini memecahkan masalah alokasi tersebut dengan mengimplementasikan kerangka Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) menggunakan metode komputasi Simple Additive Weighting (SAW) berbasis WebGIS. Sistem ini mengevaluasi 133 titik cagar budaya di DKI Jakarta dan mengintegrasikan empat variabel utama yang merangkum pilar pelestarian, ekonomi, dan mitigasi bencana: Nilai Budaya dan Sejarah, Potensi Aktivasi Komunitas, Tingkat Kerusakan Fisik, dan Risiko Ancaman Lingkungan/Banjir.

Kerangka Konseptual

Penggunaan kerangka kuantitatif dalam perencanaan konservasi perkotaan mensyaratkan adanya transformasi dari atribut-atribut kualitatif kesejarahan menjadi serangkaian metrik yang dapat dihitung dan diperbandingkan secara komputasional. Dari berbagai derivasi metode MCDA, Simple Additive Weighting (SAW), yang dalam literatur keilmuan sering disebut sebagai metode penjumlahan terbobot linear, dipilih secara khusus karena kemampuannya dalam melakukan agregasi skor dari puluhan hingga ratusan alternatif ke dalam satu nilai preferensi tunggal secara matematis transparan. Transparansi komputasi ini vital bagi akuntabilitas institusi publik dalam memvalidasi penyaluran anggaran restorasi.

Sistem pendukung keputusan ini dirancang berdasarkan empat kriteria independen yang menyeimbangkan idealisme pelestarian, kelayakan sosial-ekonomi, dan kerentanan lingkungan:

  • Nilai Budaya dan Sejarah (Atribut Mutlak: Benefit)Menilai signifikansi intrinsik dan narasi historis situs. Semakin tinggi keunikan dan nilai sejarahnya, semakin besar prioritas pelestariannya.
  • Potensi Aktivasi Komunitas (Atribut Mutlak: Benefit)Mengukur kemampuan adaptasi ruang (fungsionalitas) terhadap dinamika masyarakat kontemporer. Keterlibatan komunitas lokal dan potensi ekonomi kreatif berbanding lurus dengan kelayakan investasi publik.
  • Tingkat Kerusakan Fisik (Atribut Dinamis: Cost/Benefit)Kriteria ini menghadirkan benturan paradigma. Jika negara berorientasi pada Efisiensi Anggaran (Efficiency-First), kerusakan parah adalah beban (Cost) yang harus dihindari. Sebaliknya, jika berorientasi pada Urgensi Penyelamatan (Urgency-First), bangunan hancur justru menjadi katalis pendorong prioritas (Benefit).
  • Risiko Lingkungan dan Banjir (Atribut Dinamis: Cost/Benefit)Menilai kerentanan geografis (banjir, penurunan tanah). Sama seperti kerusakan fisik, risiko tinggi dianggap sebagai kerugian pasti (Cost) dalam kacamata investasi jangka panjang, namun menjadi panggilan darurat (Benefit) jika landasan etis kebijakannya adalah melindungi aset yang paling terancam.

Kuantifikasi dan Standardisasi Variabel Kriteria

Mengingat atribut cagar budaya seperti Nilai Sejarah dan Potensi Aktivasi memiliki karakteristik kualitatif yang sulit diukur secara absolut, kajian ini menerapkan metode kuantifikasi berjenjang menggunakan Klasifikasi Skala Ordinal 5 Tingkat.

Setiap objek cagar budaya dievaluasi di lapangan dan diklasifikasikan ke dalam lima kelas intensitas, mulai dari Tingkat 1 (Sangat Rendah) hingga Tingkat 5 (Sangat Tinggi). Untuk memenuhi prasyarat algoritma Simple Additive Weighting (SAW) yang membutuhkan rentang nilai desimal mutlak antara 0 hingga 1, skor ordinal tersebut dikonversi melalui Transformasi Linear (pembagian rasio terhadap nilai maksimum 100).

Skema standardisasi penilaian yang diaplikasikan pada atribut GeoJSON adalah sebagai berikut:

  • Tingkat 1 (Sangat Rendah / Sangat Buruk): Skor mentah 20 ditransformasi menjadi indeks 0.20.
  • Tingkat 2 (Rendah / Buruk): Skor mentah 40 ditransformasi menjadi indeks 0.40.
  • Tingkat 3 (Sedang / Moderat): Skor mentah 60 ditransformasi menjadi indeks 0.60.
  • Tingkat 4 (Tinggi / Baik): Skor mentah 80 ditransformasi menjadi indeks 0.80.
  • Tingkat 5 (Sangat Tinggi / Sangat Baik): Skor mentah 100 ditransformasi menjadi indeks 1.00.

Melalui standarisasi skala metrik ini X-norm = Skor Ordinal / 100 seluruh variabel, baik parameter Benefit maupun Cost, memiliki dimensi bobot yang ekuivalen sebelum diagregasikan ke dalam perhitungan multikriteria. Pendekatan ini memastikan kalkulasi algoritma berjalan secara presisi dan mengeleminasi bias rentang data.

Skenario Komputasi Pembobotan: Menguji Variabilitas Kebijakan

Kekuatan utama dari implementasi metodologi Simple Additive Weighting (SAW) di dalam instrumen WebGIS ini tidak terletak pada satu output matematis tunggal, melainkan pada kemampuannya untuk mengakomodasi berbagai preferensi filosofis pemangku kebijakan. Melalui antarmuka penyesuaian bobot (slider), proses komputasi pada 133 titik cagar budaya dapat diuji melalui berbagai simulasi skenario perencanaan anggaran

Skenario 1: Pembobotan Imbang (Equal Weighting)

  • Formulasi: Seluruh kriteria (Nilai Budaya, Aktivasi, Kerusakan, Banjir) diberikan bobot setara secara komputasional, yakni masing-masing 25%.
  • Rasionalisasi: Skenario ini mewakili pendekatan birokratis yang netral dan teknokratis, di mana nilai signifikansi sejarah, potensi interaksi sosial, tingkat kerusakan fisik, dan ancaman hidrologis (banjir) diasumsikan memiliki derajat dampak yang absolut sama rata dalam pengambilan keputusan.

peta 1

Tabel hasil kalkulasi

Tabel simulasi dengan pembobotan imbang (Aktivasi 25%, Budaya 25%, Fisik 25%, Banjir 25%) menunjukkan perpaduan prioritas antara fasilitas komunal yang masih aktif dan infrastruktur yang sudah terbengkalai. Masjid Luar Batang tetap menempati peringkat pertama (93.8%) berkat konvergensi antara tingginya utilitas sosial dan kerentanan bencana. Namun, masuknya eks-Terminal Bandara Kemayoran dan Menara ATC ke dalam sepuluh besar, meskipun skor aktivasinya rendah, terjadi akibat dorongan skor maksimal (25.0) pada kriteria ancaman Banjir. Secara objektif, hasil ini mendemonstrasikan bahwa skenario pembobotan merata secara otomatis akan menaikkan peringkat cagar budaya yang berada di zona paling rawan bencana dan kerusakan fisik, terlepas dari apakah situs tersebut memiliki nilai kebermanfaatan sosial yang tinggi atau tidak.

Skenario Alternatif: Fokus Aktivasi Komunitas (Socio-cultural Centric)

  • Formulasi: Bobot ditarik secara asimetris dengan menempatkan supremasi pada Potensi Aktivasi Komunitas sebesar 40%, sementara variabel Nilai Sejarah 30%, Kerusakan Fisik, dan Risiko Banjir masing-masing ditekan menjadi 15%.
  • Rasionalisasi: Skenario ini mendobrak bias pelestarian konvensional. Desain pembobotan ini merepresentasikan arah kebijakan baru yang menyadari bahwa ketahanan sebuah cagar budaya tidak diukur sebatas pada kemegahan wujud fisiknya, melainkan pada kemampuannya merangkul komunitas lokal dan menggerakkan ekosistem sosial-budaya. Fokusnya murni bergeser dari restorasi spasial menuju kebangkitan memori kolektif.

peta 2

tabel sosio-kulural

Tabel simulasi dengan pembobotan sosio-kultural (Aktivasi 40%, Budaya 30%, Fisik 15%, Banjir 15%) menunjukkan bahwa seluruh sepuluh cagar budaya teratas secara konsisten memperoleh skor maksimal (40.0) pada kriteria Aktivasi. Hal ini secara otomatis mengangkat fasilitas komunal dan ruang publik yang masih aktif beroperasi, seperti Masjid Luar Batang di peringkat pertama (96.3%), serta deretan museum dan rumah ibadah lainnya, ke prioritas pelestarian tertinggi. Secara objektif, hasil ini mendemonstrasikan bahwa ketika arah kebijakan difokuskan pada pemanfaatan sosial dan nilai sejarah (total 70%), maka pertimbangan mengenai tingkat kerusakan fisik bangunan dan ancaman bencana lingkungan menjadi faktor sekunder dalam menentukan urutan intervensi tata ruang.

Kesimpulan

Pengelolaan cagar budaya di DKI Jakarta saat ini dihadapkan pada tantangan pelapukan fisik, kerentanan hidrologis, dan keterbatasan anggaran pelestarian. Kajian ini membuktikan bahwa penerapan kerangka Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) dengan algoritma Simple Additive Weighting (SAW) pada 133 objek cagar budaya mampu menghasilkan rasionalisasi evaluasi tata ruang yang akurat. Simulasi komputasional ini memverifikasi bahwa perubahan persentase bobot kebijakan tidak sekadar mengubah angka, melainkan menciptakan realitas prioritas penyelamatan yang saling bertolak belakang.

Kajian ini juga menyingkap bias dalam paradigma konservasi konvensional. Apabila kebijakan tata ruang didorong secara dogmatis oleh "Efisiensi Fiskal", aliran pendanaan hanya akan terpusat pada aset prima yang mapan (seperti kawasan Kotatua), sementara cagar budaya di pesisir Jakarta Utara akan ditelantarkan akibat tingginya risiko beban perbaikan material. Menghadapi jalan buntu pelestarian fisik ini, resiliensi sosio-kultural di akar rumput, sebagaimana direpresentasikan oleh kearifan komunitas lokal di koridor lintasan Ciliwung, terbukti menjadi benteng mitigasi yang esensial. Hal ini menegaskan bahwa ketahanan cagar budaya tidak bisa lagi bertumpu pada restorasi spasial atau perbaikan arsitektural semata, melainkan harus digerakkan melalui aktivasi komunitas lokal secara berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut strategis, instrumen Decision Support System (DSS) berbasis WebGIS interaktif ini direkomendasikan untuk diadopsi sebagai instrumen analitik internal dalam menyusun pedoman tata ruang (infill guideline). Pergeseran kendali navigasi kelembagaan menggunakan sistem ini akan mencabut kebiasaan pemeliharaan cagar budaya yang selama ini bersifat reaktif, menjadi pengambilan keputusan yang proaktif, terukur, dan memprioritaskan kebangkitan ekosistem sosial warga di sekitar kawasan bersejarah.

Sumber

  • Bachtiar, J. A., & Jaelani, L. M. (2017). Visualisasi Peta Cagar Budaya menggunakan Geoportal Palapa pada Kawasan Situs Trowulan dan Gunung Penanggungan. JURNAL TEKNIK ITS, 6(2).
  • Dwiputra, R., Putra, G. H., & Pramesti, K. P. (2026). Analisis Ketimpangan Spasial Pengembangan Ekonomi Kreatif di Kawasan Cagar Budaya Kotatua Jakarta: Pendekatan Tata Kelola Transdisiplin. MONAS: Jurnal Inovasi Aparatur, 8(1), 87-99.
  • Greene, R., Devillers, R., Luther, J. E., & Eddy, B. G. (2011). GIS-based multiple-criteria decision analysis. Geography Compass, 5(6), 412-432.
  • Lovenita, V. C. A., & Rohman, M. K. M. (2023). Optimalisasi Aset Bersejarah: Sebuah Studi Literatur. Jurnal Keuangan Negara dan Kebijakan Publik (Acitya Ardana), 3(1).
  • Survey 2026

Data Publications

Analisis Keterjangkauan Jaringan Listrik Kabupaten Kolaka Timur

Energy

25 Aug 2026

Rizki Amara Putri

Analisis Keterjangkauan Jaringan Listrik Kabupaten Kolaka Timur

WebGIS Analisis Keterjangkauan Jaringan Listrik Kabupaten Kolaka Timur merupakan platform geospasial untuk memvisualisasikan jaringan listrik dan menganalisis keterjangkauan layanan listrik. Platform ini membantu mengidentifikasi wilayah yang telah terlayani maupun area yang masih memiliki keterbatasan akses sebagai dasar penentuan wilayah prioritas pengembangan jaringan listrik.

3 min read

7 view

ORION: Pemetaan Potensi Dark Sky dan Rekomendasi Observasi Astronomi Berbasis Analisis Spasial di Jawa Barat

Tourism

25 Aug 2026

Nawal Syafiq Farihan

ORION: Pemetaan Potensi Dark Sky dan Rekomendasi Observasi Astronomi Berbasis Analisis Spasial di Jawa Barat

Publikasi ini membahas pengembangan ORION sebagai platform WebGIS untuk mengidentifikasi potensi wilayah observasi astronomi berdasarkan Night Sky Brightness (NSB), tutupan awan, dan Road Density. Tahap awal pengembangan difokuskan pada wilayah Bandung Raya sebagai pilot sebelum dikembangkan lebih luas di Jawa Barat.

17 min read

14 view

Tantangan Pengelolaan Sampah di Palembang dan Peran Teknologi WebGIS dalam Solusinya

Environment

25 Aug 2026

Supriyadi

Tantangan Pengelolaan Sampah di Palembang dan Peran Teknologi WebGIS dalam Solusinya

Permasalahan pengelolaan sampah di Kota Palembang semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan penduduk yang mencapai lebih dari 1,7 juta jiwa. Distribusi fasilitas pengelolaan sampah yang tidak merata dan minimnya aksesibilitas informasi spasial kepada masyarakat menjadi hambatan utama dalam optimalisasi layanan persampahan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem WebGIS interaktif bernama EcoMap Palembang sebagai platform peta digital berbasis web yang mampu memvisualisasikan sebaran fasilitas pengelolaan sampah secara komprehensif, melakukan analisis spasial keterjangkauan layanan menggunakan isokron berbasis data jalan nyata, serta mengidentifikasi kebutuhan fasilitas baru pada area yang belum terlayani. Metode yang digunakan meliputi pengembangan WebGIS berbasis Leaflet.js, integrasi data GeoJSON dari SIPSN KLHK, analisis isokron menggunakan MAPID Routing API dan OpenRouteService, serta visualisasi spasial multi-layer dengan Turf.js sebagai pustaka geoprocessing. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa EcoMap Palembang berhasil memetakan 8 kategori fasilitas pengelolaan sampah di 18 kecamatan, menghasilkan analisis keterjangkauan berbasis isokron yang akurat, serta merekomendasikan lokasi fasilitas baru berdasarkan gap layanan yang teridentifikasi. Platform ini diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data bagi Pemerintah Kota Palembang dalam perencanaan infrastruktur persampahan yang lebih efektif dan efisien.

23 min read

51 view

Analisis Lokasi Potensial Pengembangan Creative Hub Berbasis MICE Sebagai Ruang Publik Kreatif di Kota Surakarta

Tourism

10 Apr 2026

Salina Dhiya Zahrani

Analisis Lokasi Potensial Pengembangan Creative Hub Berbasis MICE Sebagai Ruang Publik Kreatif di Kota Surakarta

Kota Surakarta dikenal sebagai kota dengan icon budaya dan aktivitas kreatif yang terus berkembang. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung oleh ruang yang mampu mewadahi interaksi, kolaborasi, dan pertumbuhan ekonomi kreatif secara optimal. Salah satu pendekatan yang dapat menjawab kebutuhan tersebut adalah pengembangan creative hub berbasis MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions).

10 min read

2584 view

1 Projects

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at